Jam makan siang belum usai. Tapi Lara harus melihat drama yang tersaji secara epic di ruangan atasannya. Bukan bermaksud cemburu. Cukup sederhana saja bagi Lara untuk memisahkan mana pekerjaan dan mana yang pribadi.
Namun mendengar bisikan Leha perihal wanita yang ada di dalam ruangan Gema, ada percikan api yang tersulut. Ingin mengakui bahwa itu cemburu, takut kekanakan. Tapi memendam sendiri apa yang dirasakan, juga bukan solusi yang tepat.
“Serius lo ini mantan istrinya?” Leha mengangguk. Bukan Lara yang kepo. Adalah Saras. Datang-datang menyedot es teh s**u bobanya.m. “Gila gengs. Oke bohaylah untuk seumuran 30 tahun.” Oh, masih muda. “Tapi ngapain coba dia datang ke sini?”
“Rujuk kali. Kan pak Gema juga masih melajang. Biasa, duda-janda demen gitu; kawin cerai.”
“Apa bagusnya, sih, ya kayak gitu tuh. Di sangka nyari duwit segampang balikin telapak tangan saja.”
“Orang kaya suka bebas. Nggak ada pandang bulu soal gampang susahnya.”
Benar juga. Lara jadi diam. Mendadak otak Lara beku dan nyalinya menciut. Jika mantan istrinya saja sudah demikian di katakan lewat sosok fisik yang sempurna, lantas bagaimana dengan Lara?
“Lo juga, Ra! Jangan sampai lo jatuh ke pesona pak Gema. Bukan lo yang bahagia malah nyusahin diri sendiri.” Nasihat Saras. “Mengenalmu adalah pencarian tanpa usaha. Sedang membencimu adalah tertatih-tertatihnya aku dalam merelakan. Itu gue baca di salah satu platform online. Isi ceritanya belum gue pahami secara keseluruhan. Tapi gue amanitin ke lo, mending jangan. Sekarang lo oke nih kenal sama cowok, entar sekalinya lo sakit hati, ludes itu dunia.”
Tidak bisa di salahkan juga. Saras hanya memberinya nasihat tapi cukup jleb juga untuk merasuk ke sanubari Lara. Ugh, mendadak perasaan itu datang menghampiri. Di mana kesepian selalu ada bersama Lara dan di kondisi seterbuka ini, bisa-bisanya Lara rasakan hal itu. Nggak ada akhlak sekali nampaknya.
“ETA BOCAH KENAPA MALAH BENGONG DI SINI!? OI, BETINA … DI PANGGIL ATASAN TUH.”
Gusti … kenapa Leha bisa memiliki suara secempreng ini sedang Lara kelemar-kelemer macam lemper basi?
***
“Sudah di ganti?”
“Apanya?”
“Jadwalnya.”
Lara terkejut. Kedua matanya melebar dan bergegas menuju tabletnya. Menggulir setiap agenda dan menatap Gema.
“Ini mau di ganti?” tanya Lara memastikan. Gema mengangguk. “Penting semua padahal. Ke pengadilan, ketemu klien, ngebahas gono-gini—”
“Ada yang harus di rubah. Kamu bisa handle. Abang mesti ketemu Almi, yang tadi itu.” Bibir Lara membentuk huruf O dan hengkang menuju kursinya. “Kamu nggak cemburu?”
“Ngapain?” Tidak tahu saja mati-matian Lara tahan desakan air mata di ujung matanya. Lebay nggak, sih? Dengan masa lalu Bahtiar Gema saja Lara cemburui.
“Katanya cinta.”
“Harus banget?” Pertanyaan itu mencetak ekspresi ejekan dengan bibir menyungging. “Orang dewasa mana paham soal cemburu bang selain menikmati waktu yang di punya.”
“Maksudnya?”
Bibir Lara bungkam sebelum embusan napasnya yang kasar terdengar.
“Nggak ada. Abang mau di masakin apa—”
“Abang kayaknya nggak pulang. Ada—”
“Oke.”
Saling potong nampaknya menjadi kegemaran keduanya hari ini.
***
Yang Alara Senja lakukan hanya berguling ke sana ke mari di atas sofa ruang televisi. Dengan tangan di ponsel dan laptop di meja. Malam ini adalah pelaksaan UAS di kampusnya. Soal dan jawaban di kirim melalui email. Mengharuskan Lara bekerja ekstra dalam mencari jawaban dan memberi analisis kejadian yang sedang gempar.
Aduh, serius. Otak Lara buntu. Nggak bisa mikir barang sekata saja. Rasanya tuh sesuatu sekali sampai tak bisa berkata-kata. Pengen ngebedah ini kepala dan nyari kerumitan yang sudah ruwet di dalamnya.
Gimana, ya, jelasinnya. Ini memang murni Lara yang suka membuat kesusahan. Giliran sudah amburadul, malah pening sendiri.
Kayak yang semacam terlalu mandiri sampai memberi batas dan menutup diri. Ini nggak baik, tahu Lara. Tapi tetap saja di langgar. Mbuhlah!
Sampai ketika dengkusan demi dengkusan Lara hempaskan, telapak tangan besar mengusap kepalanya dengan sayang. Di susul dengan kecupan.
“Kamu sudah makan?”
Untuk sesaat, manik keduanya hanya bertatapan. Dan ada masanya, kita akan tahu isi hati seseorang hanya dengan menatap kedalaman matanya. Itu yang Lara mau pun Gema rasakan. Hanya bertatapan tetapi seolah sedang bicara dalam seribu bahasa.
“Belum.” Lara yang putus tautannya. “Tumben sudah balik.” Melirik ke arah jam dinding berada. Hampir menunjuk di angka sembilan.
“Kopi dong, Ra.”
Enggan berdebat, Lara beranjak. Namun sedetik kemudian tubuhnya terhuyung ke belakang tepat jatuh di atas tubuh Gema.
“Kangen banget sama kamu, Ra,” bisik Gema. Bibirnya berlari menyusuri tengkuk Lara dengan ganas. Hidungnya mengendus ke sana ke mari yang beruntungnya, Lara sudah mandi. “Ini nggak kayak yang kamu bayangin. Nggak ada rujuk-rujukan kalau kamu takut itu. Kita bakal tetap nikah.”
“Abang … Aku nggak bisa napas ini.” Antara malu dan ingin menenggelamkan diri.
“Pikiran kamu gampang banget buat di tebak.” Mampus saja mampus. “Padahal kamu tanya kea bang juga pasti bakal langsung beres. Nggak bikin mood kamu anjlok.” k*****t. Gema betul seratus persen dan Lara ingin segera ke Palung terdalam di dunia.
“Ra … 'kan sudah Abang bilang: kamu beda. Artinya kamu memang lain dari yang lain.” Dah lah STOP! Pipi Lara sudah matang. “Kalau kamu tahu Ra …” Ada banyak hal yang harus aku sampaikan ke kamu. “Abang nggak bisa jauh-jauh dari kamu.”
“Tapi bang—”
“Abang tahu.” Potong Gema cepat.
“Aku sudah sangat mandiri sejak dianggap mampu oleh keluargaku.” Tanpa bisa Gema ucapkan kata-katanya. “Aku pasti naif terlalu ngarep kea bang atau malah sebenarnya aku terlalu nyaman bermimpi buat ada di samping abang.”
Kamu nggak kayak gitu, Ra. Gema merintih sebenarnya-benarnya merintih. Entah mengapa perasaan melankolis menyapanya.
“Jadi, ayo kita tetap konsisten sama apa yang sudah kita jadikan perjanjian. Nggak perlu ada yang kayak abang bilang. Aku yakin, abang pun dalam tekanan yang nggak tahu mesti nyari di mana solusinya.”
Salah, Ra. Kamu salah dan suka menyalahkan diri sendiri.
“Apa sih yang kamu takutin, Ra?” tanya Gema gemas. “Suatu hubungan kalau terjalin tanpa adanya kepercayaan dan manaruh yakin kalau ini bakal berhasil—”
“Aku nggak pernah punya pemikiran kayak gitu.” Bohong! Itu terlukis jelas di kelereng kelamnya Lara. Ada banyak bayangan kenangan yang berseliweran. “Manusia harus sadar lebih dulu sebelum dibuai ekspektasi.”
Di antara banyak hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Satu hal yang hingga detik ini belum sepenuhnya Alara Senja pahami. Tentang sebuah pelukan yang tidak hanya memberinya rasa hangat namun juga tenang. Sialannya, apa yang saat sedang Gema lakukan memberinya jawaban bahwa pelukan lelaki itu lah yang selama ini Lara cari. Bahwa pelukan lelaki itu lah yang menyalurkan perasaan tenang alih-alih merasakan kegusaran tak bertepi.
Bencinya lagi, sejak Bahtiar Gema mengucapkan ikatan resmi semacam pernikahan, bayang-bayang tentang perpisahan amatlah Lara hindari. Termasuk kejadian siang tadi di mana mantan istri Gema datang menghampiri bahkan terjadi adegan pelukan yang tak terelakkan. Rasanya … ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk jantung Lara.
Cara semesta dalam mempertemukan setiap umat-Nya tidak terkira dahsyatnya. Sama halnya dengan Lara yang di pertemukan dengan Gema. Jatuh cinta menjadi ruang rahasia bagi hatinya. Tidak heran ketika bisa dengan sangat lama Lara pendam semua perasaan itu.
“Aku nggak pernah jatuh cinya sebegini hebatnya—sebelumnya.” Adalah Gema yang menghentikan tungkai Lara menuju dapur. “Aku nggak pernah melihat kamu entah sebanyak apa kekurangan yang kamu punya. Yang aku tahu, aku jatuh cinta. Dan menemukan ruang lain di hatiku yang nggak bisa di jamah oleh siapa pun. Cuma kamu, Ra.”
“Abang tuh …” Tubuh Lara berbalik. Matanya menghujam tajam di manik Gema. “Keterlaluan!”
Masalahnya, Lara begitu lemah. Bagaimana jika harapan yang perlahan Lara coba pupus malah semakin mengembang? Sedangkan Gema tidak bisa menjadi rumah tempatnya berpulang. Akan ke mana lagi Lara bernaung?
Keluarganya tidak bisa sekali pun Lara keluhi. Mereka hidup dengan caranya masing-masing dan mendengarkan apa yang Lara sampaikan bukanlah hobi keluarganya. Lara tidak bisa bertindak lebih jauh di saat semua lukanya bahkan belum mengering.