Setelah semalam berdebat dengan akhir yang cukup menegangkan. Gema dan Lara ketika di sandingkan memang tiada duanya. Perdebatan yang mereka ciptakan menjadi hiburan tersendiri sebelum menu utamanya di buka.
Dan paginya, menjadi waktu paling tepat untuk Gema beraksi. Melihat Lara yang masih anteng bergelung dengan selimut, mata Gema bahkan harus ternoda melihat punggung mulus Lara terekspos. Sayangnya, ada sayatan luka panjang yang terpampang. Tidak Gema masalahkan. Tapi kekepoannya merajai tanpa akhlak.
Sudah beristigfar—suka bikin dosa begini—Gema bisa nyebut. Bergegas bagus dan mengenakan bajunya. Gema arahkan kedua tungkainya menuju dapur. Menilik bahan-bahan apa saja untuk dirinya olah. Biarkan hari ini menjadi milik Gema. Sebelum esok Lara yang beraksi.
“Telur lagi.” Gema mendesah kesal. Kenapa menunya tidak jauh-jauh dari telur. Ya maksudnya—you know what I mean? Sampai gedek Gema di buatnya.
Tapi alih-alih kesal, Gema tetap meraih telur dalam bungkusan mika dan memadu padankan dengan sayuran yang ada. Yeuu, nasi yang semalam masih ada. Sawi hijau segar juga tersedia di rak paling bawah. Mungkin nasi goreng tepat untuk sarapan. Dan Gema bisa membuat roti isi telur sebagai camilan makanan penutup.
Aksi Gema, di rekam baik dalam jejak memori Lara. Perempuan itu duduk manis di meja makan bertopang dagu. Maniknya bergerak seirama dengan iringan kedua kaki Gema. Dan alangkah indahnya makhluk ciptaan Tuhan satu ini. Sayang saja kurang peka.
“Aduh mataku.” Lara memekik kecil saat dengan sopan menurunkan pandangannya.
Serius, Gema meninggalkan akhlaknya di teras neraka. Pagi-pagi dengan cuaca Bogor yang super dingin, ada segumpal daging hidup yang mencetak jelas. Padahal semalam baru Lara cicipi. Dan ini bukan pertama kalinya untuk Gema dan Lara berduel di atas ranjang.
“Cara kerja karma beragam banget, kan.” Vokal Gema menginterupsi dari aksi Lara yang merem melek. Sudah kayak apa saja cui sampai sebegitunya. “Semalam sok-sok gogoakan tahunya minta nambah.”
Ih, Lara malu sekali Gusti di katai gogoakan. Itu tuh kedengarannya kayak yang sesuatu bangetlah istilahnya.
“Penasaran sama masakan Abang.” Setelah berdeham dan kebetulan sudah Gema sajikan hasil karyanya di atas piring. “Enak. Kenapa nggak sering-sering abang masaknya? Perfect.”
Jempol dan jari telunjuk Lara menyatu. Mengakui seberapa enaknya olahan Gema.
“Itu tugas kamu lah. Abang, khusus makan kamu di ranjang tapi.”
Kan, kan mulai. Nggak ada yang lebih bahaya lagi dari ini kayaknya. Gema memang sesavage itu damagenya.
***
Acara sarapan sudah selesai. Dan Lara enggan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya dengan nyaman bergelung di atas karpet berbulu. Menonton serial drama korea kesukaannya sembari cekikikan sesekali.
“Jorok banget, sih, jadi perempuan.” Cibir Gema yang ikut serta merebahkan diri. Menciumi tengkuk Lara tidak peduli meski si empunya berdecak kesal. “Kamu wanginya eksotis banget. Bikin Abang jadi e****s saja pikirannya. Ibadah, sih, Yang.”
Bengek sekali, Hyung!
Risiko sekali punya pacar—anggap saja begitu—yang dikit-dikit minta, dikit-dikit minta. Genap sebulan nikah nanti, melendung perut Lara.
“Apa, sih, Bang. Doyan banget nemplok di aku. Kayak lintah, tahu.”
“Tapi kamu suka.”
“Soal suka tuh suka-suka saja bang. Cewek mana pun juga suka di kekepin abang. Tapi ini abang sengaja banget ganggu aku!”
“Ciee yang hilang fokus.” Gema towel-towel pipi Lara. “Duhh Mario Bros aku. Kamu segemoy ini, Sayang.”
Horor cui. Alara Senja nggak pernah melihat sisi lain dari seorang Bahtiar Gema yang bisa sealay ini. Lelaki duda itu sudah biasa bersikap dingin. Jadi dengan sikapnya yang hangat begini, Lara jadi punya ketakutan tersendiri.
Mendadak ada banyak pikiran yang menggerumuti otaknya. Jangan-jangan selama ini bahkan di saat sudah bersama Alara pun Gema bersikap demikian terhadap perempuan di luar sana. Jangan-jangan memang benar adanya kalau semua cowok itu sama. Atau mungkin Gema hanya penasaran dengan dirinya dan sedang mengambil waktu yang tepat untuk hengkang dari sisinya?
Uhh, itu kan memang bakal terjadi. Lantas kenapa Alara nggak ikhlas ya? Kok rasanya nyesek sih? Kok jadi menye-menye gini, sih? Kan terpenting sudah batal acara perjodohan Alara dengan cowok pilihan bapak ibunya?
“Mikir buruk lagi, kan?”
Aduh, tolong. Lara angkat tangan dengan sikap manis Gema yang begini. Seakan-akan sudah mengenal baik bagian luar dan dalamnya Lara, Gema bisa menebak apa yang sedang Lara pusingkan.
“Wajah kamu kelihatan banget soalnya.” Jedanya setelah mencecap leher Lara. “Kamu overthinkingnya sudah yang parah banget.” Pas ngomong ‘banget’ coba bayangin kelompok Noinsom yang ngucapin. Tahu Noinsom nggak? Oke, skip kalau nggak tahu.
“Padahal abang sudah serius mau nikahin kamu.”
“Kenapa?”
“Kenapa?” Ulang Gema. “Kenapa, ya?” Memeluk tubuh Lara dengan erat dan kedua kakinya menjepit kaki Lara. “Nggak ada. Kamu spesial. Kamu lain daripada yang lain. Kamu ya kamu yang datang ke aku dengan cara unik bin ajaib. Kamu yang ujug-ujug ngungkapin perasaan padahal nggak saling kenal. Kamu yang bikin aku nyaman … terserah kalau mau kamu sangkal. Tapi itu beneran.”
Sisi lain dari Bahtiar Gema dalam setiap harinya makin Alara lihat. Gema menunjukkan jati dirinya di hadapan Lara entah itu dengan kesadaran mau pun tidak. Dan secara bersamaan, Lara menyukai hal yang terjadi demikian.
“Bang.” Panggil Lara merapatkan tubuhnya. “Aku ke kampus kemarin. Banyak cerita yang nggak aku tahu.”
“Apa?”
Alara buat bulatan-bulatan kecil di d**a Gema. Begitu mendengar geraman yang di inginkan, segera Lara jauhkan dari sana.
“Aku pikir, cuma aku yang b****k. Ada cerita yang nggak pernah aku bagi kea bang bukan berarti aku nyimpan rahasia. Aku cuma lagi mempersiapkan diri saja. Takut-takut kalau abang juga bakal lakuin hal yang sama.”
Agaknya Gema geram dengan cara pikir Lara yang seperti ini. Dan terkutuklah bagi si pemilik nama entah itu siapa yang telah menancapkan duri luka di hati Alara.
“Abang tuh sebenarnya marah kalau kamu punya pikiran sependek ini. Nggak semuanya bisa kamu pukul rata cuma karena trauma kamu doang. Ada yang harus kamu beri kesempatan—Abang misalnya—buat ngebuktiin kalau kayak gitu nggak bisa di samakan. Takaran orang ada porsinya masing-masing. Tuhan saja nih ngasih rejeki ke kita dengan manusia yang lainnya nggak sama. Bahkan anak kembar sekali pun, nggak ada istilahnya yang kembar plek-ketiplek. Jadi yang mesti kamu lakuin ya mulai berpikiran terbuka.”
Oh, memang ajib. Yang sudah matang umurnya dan punya pengalaman selalu seyahud ini untuk di tunggangi—ilmunya maksudnya.
“Bingung soalnya.”
“Kenapa?”
“Kok aku bisa selembek ini kalau nyangkut soal Abang.” Andai Alara tahu, Gema bahkan sudah lebih dari lembek. Mungkin lengket atau apa pun itu istilahnya. Sip, pasangan ini sama-sama nggak punya kepekaan.
“Teman-teman aku pada berkembang sesuai dengan cara pikirannya yang terbuka.”
Tahu ke mana arahnya, Gema rangkum kedua pipi tembam Mario Brosnya. Ululu, Alara Senja bisa banget semanja ini di waktu-waktu tertentu.
“Dan itu nggak bisa kamu samakan dengan diri kamu, Sayang. Kamu beda dari mereka.” Ya Tuhan! Gema melihat semu-semu merah jambu. Bahkan wajah Lara mendadak panas. Itu tersalur di telapak tangan Gema. “Kamu … sudah Abang bilang istimewa. Kamu menyimpan sejuta rahasia yang bahkan orang lain nggak mengetahui. Itu rugi banget kata Abang.”
“Kok bisa?”
“Cuma abang yang boleh tahu.”
“Dasar posesif.”
“Wajar. Kamu milik Abang.”
“Abang milik aku bukan?”
“Iya nggak, ya?” Gema pura-pura berpikir.
Cubitan demi cubitan bersarang di perut Gema. Untuk selanjutnya terjadi yang diinginkan sesuai harapan awalnya. Hebat, sih. Mau marah, tapi Lara ingat dosa. Mau nolak, kok sayang di lewatkan.
“Kalau langsung hamil mau?” Mata Lara melotot. Tapi tidak Gema beri protes sebagai jawaban. Yang Gema lakukan justru membungkam bibir Lara meski memberontak penuh kekesalan. “Abang anggap setuju, ya.”
Setuju dari mana? Lara jadi tertekan batinnya karena terus di paksa oleh Gema. Lagian, nikah cuma buat hamil. Jangan! Lara takut berubah jelek.