17

1315 Kata
Pada akhirnya, setiap manusia memiliki masa di mana untuknya berhenti. Berhenti untuk tidak lagi peduli pada apa yang orang lain katakan. Berhenti untuk tidak lagi mendengarkan bagaimana orang menilai tentang dirinya. Dan berhenti untuk tidak lagi tertarik meyakinkan orang lain tentang bagaimana dirinya. Manusia memiliki kadar jenuh dan muak di dalam dirinya yang tak bisa lagi mentolerir kala orang lain memberinya penilaian buruk. Itu juga yang sudah pernah Alara Senja hadapi. Orang-orang macam itu adalah toxic. Dan sebagai penganut ‘no ribet’ Alara tinggalkan komentar pedas yang mengecam kehidupannya menajdi sebuah angin lalu lekas bergabung dengan debu jalanan. Alara sudah ada di fase persetan dengan semuanya terutama yang terjadi di dalam hidupnya. Terserah pada orang yang ingin menilainya baik mau pun buruk. Itu pilihannya dan benar kata Bahtiar Gema; kita tidak mempunyai wewenang untuk memaksa. Kenyataan yang terjadi adalah mereka hanya menilai orang dari sisi lain cerita gosip. Dan Alara sebagai seorang yang mengalami hal demikian, bersikap bodo amat menjadi jalur teraman untuk mengamankan hatinya. Alih-alih membela diri dengan menyangkal sebuah cerita yang di tujukan pada dirinya, Alara justru kian menyembunyikan diri. Menarik tubuhnya untuk tidak lagi terlibat dengan mereka karena pikirnya, cukup Tuhan saja yang tahu. “Kamu suka salah makai waktu, Ra.” Protes Gema pada akhirnya. Setelah cukup lama bergelung di atas sofa dan bergegas membersihkan diri karena sore kian beranjak. Pukul lima sore di sini sudah sangat gelap. Sehingga lampu-lampu segera di nyalakan. “Abang kalau nggak cerewet sariawan kayaknya.” Seperti selalu. Lara akan mengejek Gema karena itu menjadi hobi barunya. Dalam diri Bahtiar Gema telah Lara temukan sosok-sosok baru yang melengkapi hari-harinya; kakak, teman dan pacar. Astaga! “Mestinya dilakuin pas kita mau bobok. Sambil peluk-peluk dan cium-cium terus terjadilah guncangan yang—sakit, Ra.” Teriak Gema. “Kamu suka banget KDRT!” “Lebay kamu bang. Lagian cocotnya nggak bisa banget sopan. Ini no sensor-sensor club Bang. Yang baca pun ribuan. Sopan kek!” “Kayak kamu enggak saja. Kamu loh masih di bawah abang tapi naudzubillah tingkahnya.” “Tingkah yang mana nih.” Mata Lara menyipit. Tatapannya penuh selidik meminta Gema memberi penjelasan. Jangan sampai Gema mengingatkan eprihal tingkah Lara yang bar-bar dengan membawa tangan Gema ke payudaranya—waktu itu. “Lagian, Ra …” Gema suka gugup kalau di pandang seintens itu oleh Alara Senja. Bening matanya itu damn sekali, Hyung. Bisa-bisa Gema larut menyatu macam gula. Berabe dong liburannya. “Kamu itu berharga.” Ucapkan hamdalah, Bund. “Abang sengaja, kan, mengalihkan topik?!” Tepat sekali Sayang. Suara Gema dalam hati jangan sampai Alara dengar. “Cara buat ngungkapin cinta itu banyak.” Ada yang diam saja namun dalam diamnya juga berjuang. Sebelum kemudian kehilangan tanpa bisa saling memiliki. Rumit. “Tapi kamu datangnya nggak pakai permisi.” Batalkan soal pembacaan hamdalah secara jamaah wahai penghuni bumi. Bahtiar Gema mengingatkan namun dengan cara lain yang lebih halus dan menohok. “Bang …” Di tempatnya Lara sudah menegang dan kikuk. Ini mesti dan wajib banget di bahas lagi, ya? “Kamu lapar.” “Iya pengen makan Abang.” “Abang serius.” “Aku juga serius. Abang sukanya bikin jantung aku nggak tenang. Padahal sudah tahu aku aneh dan abang pun masih nerima.” “Soalnya kamu beda, sih.” “Di mananya?” Jawaban Gema tidak segera meluncur. Dengan satu gerakan yang membawa Lara ke dalam pelukannya dan Gema ngerungkel tepat di d**a Lara. Pikirannya melayang ke awang-awang. Mencoba mengingat-ingat semua hal yang pernah Gema alami sepanjang hidupnya ini. “Abang punya sensasi tersendiri pas nembak cewek ketimbang di tembak cewek.” Cerita Gema. Kepala Alara langsung melihat ke bawah di mana Gema dengan wajah tanpa dosanya menggusel di antara belahan dadanya. Asli nih cowok. Sudah duda. Cakep memang. Cakep doang jemput cewek di panggang buat apaan!? Eh, tapi Gema nggak gitu. Sombong, iya. Songong, oke. Karena apa? Karena dia ganteng dan merasa begitu ganteng. Jadi nggak heran. Jadi ini lah asal muasalnya si duda yang bentar lagi sold out ini kian ngelunjak. Nggak cuma cara ngomongnya yang ringan tanpa beban. Tapi juga otaknya yang sudah ketinggalan entah di s**********n siapa. “Ra, kok diam?” Lara nyengir dan berdeham. “Nggak bohong Abang, Ra. Dari dulu abang ini sudah jadi incaran cewek. Nggak tahu juga apa alasannya. Apa lagi pas status duda Abang sandang. Anak-anak SMA juga pada mau sama Abang.” “Abang tajir soalnya. Punya kerjaan mapan. Dompet tebal. Muka buat diajak ke kondangan juga oke. Mana daddy sugar lagi. Sebulan berapa nih Om?” Goda Lara cengengesan. Asem sekali calon istrinya ini. Sudah mau Gema giling kalau nggak ingat ini bocah yang bikin jantungnya ketar-ketir. Namun di detik berikutnya Gema benarkan apa yang Lara ucapkan. Kebanyakan dari mereka memang membutuhkan uang untuk gaya hidupnya yang tinggi. Mereka mau-mau saja Gema apa-apakan asal setelahnya ada nominal uang yang mereka butuhkan. Dan Gema—anggap saja sebagai pemakai jasa—tidak keberatan dengan banyaknya jumlah yang di transferkan. Intinya sama-sama puas dan mendapatkan apa yang di mau. Juga saling menguntungkan. “Abang pengen libas bibir kamu tapi nanti saja pas memang waktunya sudah tepat Ra. Sekarang kalau bablas, bisa-bisa yang kena potong nggak cuma kuping abang. Kamu nangis tujuh turunan karena hilang masa depannya bareng abang.” Oke, sip. Ternoda dengan sangat-sangat-sangat estetik otak Lara. Langsung terjun ke j*****m dan betah berlama-lama di sana. Bahtiar Gema seyahud ini, Bund. Yakin nggak mau nyobain main sama duda? “Aku mah oke saja bang.” Tantang Lara. “Ra …” Gema enggan menanggapi karena ada yang lebih penting dari ini. “Abang nggak mau ngekang kamu ini itu setelah kita nikah. Sepenuhnya abang percaya sama kamu dan berharap kamu juga lakuin yang demikian kea bang.” Teruntuk masa lalu, sebelum akhirnya benar-benar Gema melupakannya. Izinkan sekali ini saja Gema goreskan ingatan di pikirannya. Terima kasih. Itu saja. Karena dengan itu, Gema bisa kembali bangkit dan percaya diri. Gema tahu sekelam apa rasa sakit yang selalu Alara sembunyikan pun sama dengan dirinya yang tak jauh berbeda. Gema juga tahu serapuh apa Alara soal cinta ketika hanya luka yang di berikan. Lebih dari apa pun, Gema ingin Lara menggantungkan hidupnya hanya padanya. Untuk percaya dan mengandalkan Gema seorang. Karena percaya bagi Alara Senja adalah sebuah harga yang mahal. “Kamu masih menutup diri sejauh kita jalanin hubungan ini. Abang nggak maksa tapi sedikitnya Abang tahu. Ra … nggak semua orang tua sama.” Gema rasakan punggung Lara yang mengencang. Pertanda benar bahwa keluarga menjadi permasalahan utamanya selama ini. “Abang nggak berharap banyak.” Cepat-cepat Gema sudahi pancingan mengenai keluarga ini. Jika ini sesuatu yang deeply untuk Lara ceritakan sekarang, Gema akan menunggu. “Kita cuma perlu saling menjaga agar kepercayaan tetap mengutuhkan kita.” Embusan napas penuh kelegaan terhela di wajah Gema. Berasal dari Lara bersama senyum yang terukir. “Aku nggak suka buka kisah lama. Sudah selesai di jalan yang dulu, ya sudah aku tinggalin. Aku sudah melupakan kenangan pahitnya. Aku sudah menutup keburukan-keburukan yang terjadi. Makanya ini selesai menurut aku. Nggak ada yang bagus dari kisahku. Cuma bareng abang saja mauku bisa di bikin.” Keduanya sama-sama tertawa. “Sekarang aku yakin.” “Apa?” Respons Lara sama cepatnya. “Aku nggak cuma jatuh di matamu tapi juga hatimu.” “Nggak bisa bangkit lagi dong bang.” Receh sekali guyonan Lara. “Hm, jangan ngeluh kalau Abang mulai ngerepotin kamu, Ra.” “Begini saja Abang bikin aku repot loh. Nggak sadar?” Gema menggelengkan kepalanya lucu. Lara berdecak. “Kemarin-kemarin ke mana saja coba. Pingsan?!” “Ngebucin,” jawab Gema asal namun terselip serius di dalamnya. “Kasihan amat.” “Sama kamu tapi.” Alara tertawa terbahak-bahak lalu kiceup setelahnya dan terdiam seribu bahasa. Oh, jantung. Tenanglah. Sebentar lagi kita akan berlayar dan berlabuh di dermaga yang sudah di persiapkan dengan benar. Jangan biarkan badai mengalahkan atau kita takkan pernah sampai ke tepian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN