Gema tidak menyebarluaskan berita kehamilan Lara kepada keluarganya. Di samping ingin menjaga nama baik sang calon istri. Gema tahu harus berbuat apa untuk memberikan bujukan-bujukan atas keteledorannya. Tidak teledor juga, sih. Gema memang sengaja melakukannya demi mengikat Alara Senja agar mau menikah dengannya.
“Kamu ngidam nggak?”
Tubuh Gema memeluk Lara dari samping. Tangan kekarnya mengusapi perut Lara yang rata namun nyata kerasnya. Duh, asli, Hyung. Gema bangga dan deg-degan maksimal. Merasa tidak percaya dengan tindakannya yang ‘wah’ sekali dalam membuahi sel telur Alara Senja.
Catatan: cepat sekali, kan miliknya langsung jatuh hati dengan punya Lara.
Daebak!
Nggak kaleng-kaleng memang bibitnya.
“Enggak ada. Cuma …”
“Apa?” Heboh sekali Gema ini. Sampai-sampai memotong omongan Lara.
Sejak beberapa jam yang lalu. Tahu mengenai kehamilan Lara, Gema lebih banyak antusiasnya.
“Abang bisa nggak, sih ganti parfum?”
“Ini pilihan kamu loh, Yang.” Tidak habis pikir. Apa hubungannya ngidam dengan ganti parfum?
Omo?!
Mata Gema melotot. Jangan bilang kalau ngidamnya Lara justru seputar tentang dirinya.
Artinya: Alara Senja secinta itukah dengan dirinya?
“Iya, tahu. Pengen yang lebih segar saja.”
“Oh, oke. Besok kamu pesan, ya.” Menurut saja. Gema tidak mau merusak suasana hati Lara yang nampaknya 32% persen baik … sisanya status waspada. Macam banjir dan bencana yang mengepung wilayah Indonesia saat ini.
Lain halnya dengan pemikiran yang menggerumuti Alara Senja. Otaknya lebih dominan kepada bimbang namun juga ada senang yang bersemayam.
Bagi Lara, di dunia ini tak ada manusia yang tak berguna. Percaya akan kalimatnya, Lara tahu, semua hal yang di takdirkan untuk saling bersinggungan disebutnya dengan proses. Baik itu proses yang bertujuan untuk memperbaiki atau justru untuk mengeluarkan si manusia yang doyan menyalahkan keadaan. Tuhan … andai manusia lebih mau bersyukur dan mengetahui ini, selalu punya tujuan dengan mengizinkan segalanya yang tengah terjadi. Dan Tuhan tidak memberikan tanpa konklusi yang dapat di pahami.
Embusan napas Lara terhela. Senyumnya terbit meski tipis dan tidak terlihat.
Tahu tentang apa yang selalu Lara impikan sejauh ini?
Setelah di kecewakan oleh keluarganya, dianggap tidak mampu, di banding-bandingkan bahwa dirinya tak lebih baik dari Mosa. Bukan berujung pada trauma yang menggerus rasa kepercayaan diri Alara. Namun lebih kepada tahu caranya bertindak dan memilah setiap kata yang hendak di lontarkan.
Jujur, Lara takut bila harus kembali kecewa. Rasanya, berdamai dengan yang dahulu saja sudah cukup menguras energinya. Membenci benar-benar menguras tenaganya.
Pun begitu Lara tak pernah ingin berhenti memperbaiki dirinya sendiri. Karena tahu membutuhkan sebuah proses, susah pun tetap Lara lakoni. Hingga bertemu dengan Bahtiar Gema.
Yang awalnya untuk sebuah pencapaian semata. Siapa yang menyangka akan sejauh ini hubungan keduanya?
‘Suatu saat nanti dalma hidupmu, akan hadir seseorang yang mencintaimu lebih dari apa yang kamu harapkan. Bersabar dan belajarlah untuk menunggu. Karena terkadang, orang yang sabar menerima kisah cinta terbaik lebih dari apa pun yang pernah di ucapkan.’
Kini, Alara percaya. Sebagian dari mimpinya untuk bersama dengan Gema selangkah lebih maju.
“Jangan stres,” ucap Gema memberi peringatan. Tidak kasar lebih terkesan tegas. “Nggak perlu mikirin yang aneh-aneh. Kamu bisa ambil cuti buat nggak ngantor. Nanti abang—”
“Jangan! Nggak rela aku kalau abang di bantu cewek lain. Di sangkanya aku ini nggak cemburu?!”
Belum selesai omongan Gema, sudah Lara potong bahkan salah.
“Jasmine yang Abang bawa. Kamu—”
“Aku tetap nggak mau. Mau siapa pun itu aku nggak mau. Titik!”
Kok ngeri-ngeri yahud ya, Hyung?
Suka sih dengan perubahan sikap Lara yang seperti ini. Tapi tetap juga nakutin. Sama saudara sendiri bisa-bisanya cemburu. But, it’s okay. Gema takkan ambil pusing perihal itu.
“Jangan capek-capek tapi, ya.” Lara patuh dengan mengangguk. “Kalau ada apa-apa bisa kasih tahu abang.”
Tidak tahu mendapat dorongan dari mana. Dengan cepat Lara masuk ke dalam pelukan Gema. Tertawa di ceruk leher sang pria untuk kemudian menjulurkan lidahnya di area sensitif Gema.
“Sengaja?” tanya Gema.
Lara tak menampiknya. “Abang wangi.”
“Parfum lama ini.”
“Hm, aku suka. Tapi besok wajib ganti.”
Alara paling tahu apa-apa saja yang di sukai dan tidak sukai oleh Gema. Soal parfum, Lara tahu, takkan di buat pusing oleh Gema. Terlebih sekarang ada andalan barunya ‘baby’. Dapat di pastikan, Gema akan lemah.
“Tumben jantung abang kencang banget debarannya.” Lara mengejek. Kembali menempelkan telinganya di d**a bidang milik Gema dan tersenyum bahagia. Rasanya cukup menyenangkan mengetahui bahwa debarannya di sebabkan olehnya.
“Karena kamu ada di pelukan Abang.” Makin-makin saja. Lengkungan sabit di bibir Lara tak mau mengendur. “Makasih, Ra.” Ibu jari Gema mengusap ujung mata Lara yang sudah menarik wajahnya dari dadanya. “Sudah nerima abang yang penuh dengan kekurangan ini.”
“Kekurangan apa? Abang itu sempurna, lupa?”
Gerakan yang Gema berikan di sepanjang pipi Lara memercikkan api untuk menciptakan hal yang lebih b*******h lagi. Hingga ke sudut bibir Lara, barulah Gema berhenti.
“Abang jadi pengen menyembunyikan kamu buat diri Abang sendiri, Ra.”
“Aku juga mau gitu.” Lara meremas baju tidur belakang milik Gema. “Kamu harus sering-sering yoga mulai sekarang. Atur napas kamu buat persalinan nanti. Terus, abang nggak janji bisa lakuin ini dengan secara perlahan.”
Tidak ada protes yang bisa Lara lontarkan. Begitu bibirnya di raup dan terbungkam bersama lumatan-lumatan yang Gema berikan. Tidak ada kata yang tergambar atau kalimat-kalimat yang ingin di rangkai. Hanya ciuman dan Lara terlena setinggi nirwana.
Ada yang meledak di dalam diri Lara. Dan itu berlaku hingg detik ini. Meski sering melakukan sentuhan kulit dengan Gema, nyatanya tak menjamin ledakannya menyebar. Ciuman yang Gema berikan menyebar ke seluruh tubuhnya bahkan memanaskan pipinya.
Di detik berikutnya, lumatan demi lumatan yang cukup rakus berubah menjadi kecupan ringan. Yang memberikan sensasi sengat hilang timbul di permukaan kulit Lara.
Lara semakin meremas baju tidur milik Gema. Sedang Gema sudah menopang tubuhnya dengan satu tangan melingkari tengkuk Lara, dengan ibu jari mengelusi leher Lara.
“Manis.”
Lara melengkungkan jari kakinya jika Gema sudah berkata demikian. Rasanya sangat malu dan rona merah di kedua pipinya tak bisa di sembunyikan setemaram apa lampu di ruangan kamar mereka.
Terlebih saat Gema mulai mengisap bibir bawahnya. Membuat bibir Lara terbuka dan menerima kembali lumatan lebih banyak dari bibir Gema. Kepalanya pusing sendiri dengan debaran sensasi yang menghantam, sekaligus mendambakan lebih banyak waktu untuk momen intim seperti ini.
Sesaat ciuman keduanya terlepas. Gema tumpukan dahinya di dahi Lara dan berbisik, “Nyium kamu pasti kayak gini rasanya, Ra.”
Lara terkekeh. Takut menyinggung perasaan Gema. Namun juga gemas. “Do it.”
“No! Kita belum konsultasi lagi.”
Benar. Gema penuh pertimbangan untuk melakukan keinginannya. Sebesar apa pun kemauan Lara, bila Gema berkata A maka seterusnya akan menghasilkan jawaban yang sama.
Gema mengecup lagi tanpa memutus saliva yang sudah terajut. Bibir Lara terbuka dan kecup basah menyambutnya. Kali ini temponya lebih cepat dengan tangan Gema yang berpindah tempat. Merayap menuju d**a Lara.
Tidak sekali dua kali mereka melakukannya. Namun tetap saja debaran yang di hasilkan tidak berubah.
“Abang nggak bisa berhenti, Ra.” Keluh Gema.
“Dan nggak seharusnya berhenti.” Lara menjawab sebagai provokator.
Gema tertawa. “Kamu mulai nakal.”
“Siapa yang ngajarin?”
“Oke. Abang yang mulai.”
“Nah tuh jangan setengah-setengah makanya.”
“Konsultasi dulu.”
“Sekarang?”
“Besok.”
“Kenapa?”
“Malam, Sayang.”
“Ah nggak seru.” Lara merajuk. Merubah posisi berbaringnya dan kembali tidur menyamping.
“Ih pundung.”
“Bodo amat.”
“Sayang …”
“Diam!”
Sudah! Gema harus puas tidur dengan memeluk Lara. Itu lebih dari cukup daripada tidak sama sekali.
Setidaknya begini lebih baik. Gema menumpukan sebanyak ia berdoa untuk di mintakan lebih kepada Tuhan. Untuk Lara yang bersedia di sisinya. Dan untuk Lara yang tidak pergi jauh dari kehidupannya.
Ini jauh lebih baik untuk semua perjalanan ke depannya.