34

1495 Kata
Jalani saja dulu. Begitu yang Lara tuliskan untuk pembuka kalimat utama dalam buku catatannya. Sejak tadi, senyumnya tak luntur. Sejak tadi pula, sampai tak sadar, ada sepasang kelereng bening yang memandangnya penuh minat. Ada sinyal cinta yang terus memancarkan binarnya. Dan sejumput harap mulai di agungkan dalam hatinya. Jangan di umbar ke sana ke mari. Sejatinya, hati itu milik Tuhan. Lagi. Segaris sabit terlukis jelas di kedua sudut bibir Alara Senja. Bahtiar Gema merekamnya baik-baik dalam memori ingatannya. Tak sedetik pun ingin melewatkan apa yang tengah terjadi di hadapannya kini. Sedang Lara, mengingat kira-kira apa saja yang sudah 26 tahun hidupnya jalani. Oh salah, ralat, namun menjelang akhir 27-nya. Astagfirullah sekali, ukhti. Umurnya sudah setua itu ternyata. Dan Lara merasa masih harus bersantai dengan leha-leha. Kecuali sekarang, ada bayi dalam kandungannya. Ah, makhluk kecil itu. Lara namai demikian. Lucu dan unik. Seperti Pikachu dan Mario Bros yang sedang bersanding di ranjangnya. Kembali ke topik. Aduh, pikiran Lara traveling ke mana-mana. Gitu kali, ya, kalau mood sedang yahud. Apa pun syahdu. Perihal hati, semuanya memang milik Tuhan. Bahkan diri kita ini, adalah Tuhan pemiliknya. Sehingga, selain menjaga dan memperlakukan dengan cara yang terbaik. Menjaga menjadi andalan utamanya. Tuhan dan rencananya, sewaktu-waktu tak pernah memberi sinyal ketika hendak mengambil alih. Jadi, jangan sombong apa lagi sesumbar. Nanti kualat. Dulu, Lara pernah berbuat seperti itu. Dan menyesal menjadi ujung tombak yang tak pernah bisa di temukan. Datangnya selalu di akhir. Jika di awal, pendaftaran Namanya. ‘Seberapa besar cinta seseorang, seberapa kuatnya mempertahankan, nyatanya tak akan pernah bersatu bila Tuhan tak menggariskan untuk bersama.’ Contoh nyatanya; dirinya dan Prabu. Sudah berkoar sana sini. Mengklaim diri satu sama lain bahwa ‘kamu milikku dan aku milikmu’ ternyata tidak Tuhan izinkan bergandengan tangan. Maka perpisahan lekas terjadi. Dan tangis menjadi ajang peluapan untuk menumpas segala rasa yang ada. Agar perlahan paham dan sadar; sedang Tuhan persiapkan yang lainnya. ‘Pun sekeras apa pun menolak, kalau dia yang sudah tertulis di sana lauhul mahfudz denganmu, kamu bisa apa?’ Khusus bagian ini, mendadak tangan Lara terhenti. Ada rasa untuk kepalanya mendongak dan secepat kilat di jabah. Memandang ke depan lurus-lurus. Riak mukanya tak terbaca namun melihat Gema yang menatapnya cukup intens … Lara tahu, calon suaminya sedang memperhatikan gerak-geriknya. Untuk itu, sekelebat kenangan muncul . Di awal pertemuan, Lara dan hatinya berdetak tak karuan. Belum mengetahui siapa namanya namun degupan jantungnya bertalu bak genderang perang. Setelah tahu namanya, aksinya menjadi gila berkali-kali lipat. Tidak hanya hati, pikirannya pun ikut senewen. 1x24 jam terus-terusan memikirkan untuk kemudian membayangkan; ah, betapa sangat eksotisnya lelaki ini. Untuk Lara miliki seorang diri. Untuk Lara kagumi tanpa berbagi. Untuk Lara kaga agar tak rusak hatinya. Terkabulnya ialah saat kewarasan menggerus habis totalitas harga dirinya. Lara meminta Bahtiar Gema untuk menjalin hubungan dengannya meski itu hanya ‘kontrak’. Bayangkan itu?! Wanita mana yang seberani itu dalam mengabulkan tekadnya? Untung tak terjadi drama penolakan. Jika sampai ‘ya’ alangkah malunya Lara yang saat itu membimbing telapak tangan Gema untuk mengusap buah dadanya. Astagfirullah! Usap jakun Oh Sehun 50x. “Mikirin apa kamu?” Cepat-cepat Lara alihkan pandangannya. Matanya yang sejak tadi bersirobok dengan milik Gema lekas terputus di tengah jalan. Merasai pipinya yang panas maksimal, Lara yakin terjadi pertumpahan kepiting rebus dengan saos tomat yang merekah. “Nggak ada,” jawaban Lara gugup. Dan Gema tahu itu. “Abang mau makan siang sama apa?” Alihnya. “Biar aku pesenin.” “Makan kamu saja, Ra.” “Yang benar!” Sungut Alara kesal. “Aku pengen ayam geprek.” “Ayam muluk, Ra.” “Bayinya yang minta.” “Adalah?” Sungguh kolot Bahtiar Gema ini. Singkatan sebeken itu saja tidak tahu. “Adek bayi.” “Setelah makhluk kecil, sekarang kamu namai anak aku debay, Ra?” Gema ajukan protes namun tetap cool dan tidak memperlihatkan omelannya yang comel. Karena merusak mood Lara, semboyan senggol bacok terus berlaku. “Nggak ada yang lebih elegan gitu, Ra.” Ya kali … semuanya, Alara bengek dengan tingkah sang calon suami. “Gitu paling bagus.” “Pasaran.” “Pergi ke neraka sana lah, bang!” Apa Gema bilang. “Cerewet banget!” “Lahir nanti, khusus aku yang kasih nama, Ra.” “Terserah.” “Oke, abang mau geprek juga.” “Telat.” “Maksudnya?” Mata Gema mengerjap lucu. Mirip Pikachu yang bangunnya kesiangan. “Pesan sendiri. Aku malas lihat muka abang. Mau muntah bawaannya.” Gema elus dadanya. Definisi sakit tak berdarah demikian dahsyatnya, Bund! Di jamin deh. Jabanin juga; lahir nanti, anaknya bakal plek ketiplek kayak Bahtiar Gema. Nggak ada beda. Sumpah. Serius demi hidung mancungnya Selena Gomez juga. Jabanin pokoknya jabanin. Di perut Lara cuma numpang doang. Penampungan dari calon-calon anak Gema. Kan sayang kalau terbuang berceceran. Usai dengan perdebatan bersama Gema yang sesungguhnya jujur sangat mengasikkan, Lara fokus menulis. Di halaman selanjutnya untuk dirinya tuangkan kata-kata menyejukkan hatinya. Ini salah satu trik di mana cara Lara mengatasi kesakitannya. Agar jangan berlarut-larut dalam kecewanya, Lara buatkan sebuah notes sebagai pengingat. ‘Persetan dengan orang-orang yang hanya menginginkanmu ketika mereka tidak memiliki orang lain.’ Apakah ini pantas untuk Lara gambarkan sebagai keluarganya? Yang memperlakukan dirinya begitu baik di awal sebelum orang lain hadir mengambil alih tempatnya? Lalu, apa fungsi keluarga yang sesungguhnya? Bila melindungi saja tak bisa dilakukan, apa artinya sebuah pernikahan terbentuk? Lara jadi ketakutan untuk memulai. Kepercayaan dirinya tergerus seiring dengan rancuan kata yang di susunnya sendiri. Harusnya tidak terpengaruh. Namun luka yang terlihat kering, nyatanya masih meninggalkan basah kala tersirat air garam; perih. “Nggak perlu kamu pikirin.” Kepala Lara menoleh. Di mejanya sosok Gema masih fokus dengan dokumen yang sedang di bolak-baliknya. Lara pandangi sejenak. Betapa tampannya lelakinya. Betapa gagahnya Bahtiar Gema saat datang ke rumahnya, meminta dirinya dari kedua orang tuanya untuk di persunting. Pantas, jika semua wanita di luar sana amatlah memujanya. Tindakan Gema tidak di ragukan. Semuanya berjalan pelan namun berujung pada keseriusan. Lantas, berbanggakah Alara Senja memiliki dan di miliki oleh Bahtiar Gema? Mereka tidak akan paham bagaimana rasanya di nomor duakan, menjadi selingan, atau pun selingan. It’s so hurt. Untuk membaca apa lagi mendengarnya. Tapi, Lara bertahan sejauh ini untuk kehidupannya yang lebih baik. Lara mungkin bertindak sama seperti pecundang. Lari dari kenyataan dan berakhir dengan pilihannya sendiri. Jika tidak begitu, Lara terus bertanya-tanya, akankah kehidupan baik ada di pihaknya? Lara ingin melanjutkan namun lanjutan tanya yang Gema ajukan membuatnya berhenti. Bola matanya bergerak-gerak. Ada gelisah yang terpancar. Dan kalimat Gema sungguh tiada akhlak. “Nggak apa-apa, 'kan buat kamu cuma punya aku. Cukup, 'kan?” Lelaki lain akan menunjukkan wajah seriusnya jika Tindakan masih di anggap kurang mumpuni. Tapi, lain halnya dengan Gema yang datar maksimal. Terlebih dengan wajah yang kaku dan fokus membaca tiap-tiap isi dokumen. “Aku pernah protes?” Gema menggeleng. Sangat tahu bila Lara amatlah penurut dan penuh pertimbangan. “Aku nggak pernah minta—” “Aku yang mengajukan diri.” Potong Gema secepat gerakan tangannya menutup fail-nya. Kali ini kedua tangannya menyatu dan bertopang dagu. “Aku yang memulai meski kamu yang minta. Kamu tahu, kamu itu konyol.” Berang. Lara bangun dari dudukannya dan berjalan menghampiri di mana Gema berada. “Bayiku.” Teriakan Gema melengking. Menyaksikan kesadisan Alara Senja menghentakkan sebelah kakinya. “Kalau keguguran gimana?” “ETA MULUT! AMIT-AMIT.” Ya maaf. Namanya Gema panik. “Kamu bikin aku berdebar penuh gelisah. Jantung aku merosot dari tempatnya, nih.” “Lebay!” Sentak Lara tak kalah hebohnya. “Lagian abang kenapa sih ngomong kayak gitu segala. Mancing aku banget, nih.” “Sini duduk, Ra.” Gema harus menjinakkan macan kesurupan lebih dulu sebelum pesanannya datang atau malah akan melewatkannya. Biasanya terjadi hal-hal yang bisa di duga sebagai pasangan kalau sudah ada adegan mesranya. “Sini, deketan. Abang pangku, deh. Kangen loh sama kamu, Ra.” Bicit! Cibir Lara dalam hati. Namun tak urung mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Gema. “Kenapa?” Mulai Gema membuka. “Kamu masih ingat soal yang paling nyakitin dari yang sudah nyakitin kamu?” Lara tak menampiknya. “Ra, dengar. Orang-orang baik hanya akan di tempatkan bersama mereka yang baik. Berapa kali abang bilang?” “Jadi … Abang merasa diri Abang ini baik, gitu?” “Anggap saja iya. Abang serius soal banyak hal ke kamu. Rencana kita dan apa yang sudah kita persiapkan.” “Untuk itu, biar Tuhan yang atur bang. Terakhir kali aku ngikutin logika dan hati, semrawut hasilnya.” Baik. Oke. Tahan. Tarik napas, embuskan. Stok kesabaran Gema berkali-kali lipat menchargernya kalau itu tentang Alara Senja. “Patah hati kamu nggak akan lama. Abang jamin itu. Kamu sembuh, dan akan bahagia. Bersama dengan orang yang bisa menghargaimu sebagai satu-satunya cinta, bukan malah salah satunya.” Auw, lucunya. Lara bersenandung Bahagia untuk itu. Mendengar tuturan Gema dan janjinya yang tak di ragukan lagi … seolah lirik Ocean berdengung di kepalanya. Kecupan demi kecupan Lara sematkan di seluruh wajah Gema. Dan bergumam love you sebagai penutup. Cinta segila itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN