Alara Senja benar-benar mengabulkan keinginannya.
Sore hari di sambut senja begitu memasuki pintu rumahnya, kencang-kencang Lara putar sound di ruang tengah untuk menghasilkan pecahan nada yang menggetarkan. Lagu legendaris dari barat sana sungguh menyihir hatinya yang sejujurnya sedang berbunga-bunga.
Isi liriknya terasa sangat pas sekali. Sehingga sewaktu Lara lantunkan tembangnya, berdebar-debar saja hatinya. Dan tak mau berhenti bertalu untuk jantungnya yang akhlakless.
Sumbernya siapa?
Sudah pasti Bahtiar Gema. Sialan tapi kok terasa sangat benar.
Itulah yang Alara butuhkan dan semua yang Alara inginkan.
Keseluruhan ada dalam diri Bahtiar Gema. Lelaki itu yang selalu Lara idam-idamkan sejak di pertemuan awal. Bahtiar Gema lelaki yang mengambil alih seluruh dunia Lara untuk tidak berpaling kepada siapa pun.
Hanya Gema … Gema … dan Gema.
Jika sudah begini, apa yang bisa Alara Senja lakukan selain pasrah?
Ialah kau tuk tinggal lebih lama sekarang.
Terkabul.
Yang sedari pertama Lara rencanakan untuk kurun waktu tiga bulan. Nyatanya, Gema perpanjang menjadi seumur hidup dalam ikatan pernikahan. Maka, sudah dapat di pastikan tidak ada yang bisa lari ke mana pun baik itu Gema terlebih dirinya.
Meski Alara punya pandangan berbeda mengenai pernikahan. Yang katanya indah, tapi Lara berbelot untuk menyangkal semua definisi arti dari indah itu. Pernikahan bagi seorang Alara Senja tak ubahnya tali kekang untuk membuat satu di antara kita tak bisa berpaling. Sakit, maka akan saling menyakiti. Sedang bahagia … Alara sangsi akan arti yang sesungguhnya.
Dunia pernikahan itu kejam. Ada kalanya senang dan nyaman. Namun seringnya yang terjadi adalah saling melempar batu, menggenggam belati di balik punggung untuk kemudian di hujamkan.
Well … Lara memang sepesimis itu soal pernikahan.
Tapi berubah setelah melihat kehidupan nyata macam apa yang beberapa bulan ini di jalani bersama Bahtiar Gema.
Pernikahan tak ubahnya dengan kegembiraan tersembunyi yang ada di balik hitamnya kopi. Ada step by step guna mendapatkan aroma yang menguar kuat dan kepekatan yang matang sempurna. Maka, merajut tali rumah tangga diiringi dengan berbagai banyak rintangan.
Dengan lengan Gema di sekitar Lara yang seperti pembatas juga seperti udara yang dihirupnya dan membiarkan Gema di dalam menghangatkan tubuhnya hanya karena Gema yang melakukan, Lara tidak keberatan.
Yang ini Lara senyum-senyum nggak jelas. Rasanya, ugh, nggak bisa di jabarkan dengan kalimat. Nggak bisa di lukiskan bagaimana rona bahagianya. Lara senang dan melambung tinggi. Karena Bahtiar Gema menjadi sesuatu yang mudah untuk Lara jamah setiap malamnya, melingkupi tubuhnya dengan kehangatan dan karena Bahtiar Gema … Alara Senja menggila.
Menyerah karena sentuhan dari Gema yang membuatnya tak pernah puas untuk menyelam jauh di lautan.
Ah, sudah Alara ceritakan belum kalau hanya lewat satu kecupan saja, seluruh tubuh lunglai membaur dengan tanah?
Itulah Bahtiar Gema. Tidak heran banyak wanita di luar sana yang begitu menggilai eksistensinya untuk bisa mendapatkan kehangatan.
Sayang, sudah menjadi milik Lara yang artinya tak bileh ada tangan-tangan lain menyentuh miliknya. Seujung kuku saja, jangan harap bisa atau langkahi dulu Brandon—kucing tetangga
Kau bisa menjadi zona nyamanku. Suatu tempat yang kutuju saat aku merasa sendirian. Itulah yang kubutuhkah, semua yang kuinginkan.
Alara ingat untuk membuatkan pesanan Gema. Lelaki itu ingin makan spagetti yang mana Lara tahu tak pernah menjadi favorit Gema.
Mungkin makhluk kecil kesayangan Papinya ini ngidam. Aku nggak mau dia ileran nantinya.
Masuk akal juga.
Maka Lara menggerakkan kedua kaki telanjangnya di area dapur dengan pinggul yang sesekali bergoyang. Mengikuti dentuman irama satu lagu untuk terus Lara putar sampai tak ada kata bosan.
Liriknya pun mengartikan bahwa ini memang paling cocok untuk dirinya nyanyikan. Di mana memang hanya Gema, tempat bagi Alara berbagi dan berpulang. Menumpahkan keluh kesahnya, untuk tinggal lebih lama dengan lengan yang melingkari tubuhnya. Lara tak mau melepaskan momen itu.
Benar-benar tak ada habisnya. Gema membawa perjalanan cinta Alara Senja yang kali ini ke suatu perbedaan yang belum pernah Lara tempati. Gema datang dalam bentuk yang tak ada bedanya. Lelaki normal pada umumnya. Datang menawarkan sejuta kesembuhan dengan memahami apa yang pernah Lara lakoni di masa lalu. Menyentuh tanpa paksaan untuk kemudian tahu bagaimana cara memenangkan hati Lara yang beku.
“Abang mau kopi, Ra.”
“Ngagetin!” Mata Lara melotot. Gema terkekeh. “Dari tadi?”
Di lihat dari santainya Gema berjalan menghampiri dirinya untuk kemudian di peluk, sepertinya memang sudah lama memperhatikan.
“Sejak kamu goyang santai.”
“Bahasamu!”
“Loh, 'kan, benar.”
“Ya nggak perlu kamu jabarkan. Nggak ingat sudah ada bayi di sini. Dia bisa dengar.”
“Gitu, ya?”
“Itu tuh kalau tahunya ngadon doang. Abang mah enak, tinggal lepas, lega. Lah aku?!”
Alara histeris. Dan entah kenapa Gema suka. Kadang, ada saat-saat menegangkan dengan membuat Lara kelimpungan. Lebih endes lagi kalau perempuan itu mulai panik dengan guyonan yang Gema haturkan.
Rasanya, ugh, sesuatu sekali.
“Kan sudah kodrat kamu, Ra buat Abang tunggangin.”
ETA MULUT!
Kenapa nyinyiran Gema kian hari, kian melejit saja sih?!
Heran!
Apa memang begini tabiat duda yang sudah lama nggak terjamah?
“Kurang-kurangin deh bang omongannya. Yang baik-baik gitu maksudnya. Kan nggak lucu kalau anak aku nantinya jadi nggak punya otak pas ngomong.”
“Ketinggalan di lauh mahfudz kali, Ra.”
“Aku serius Abang.” Tekan Lara menaruh keras-keras cangkir yang beradu dengan keramik. “Abang pergi ke neraka deh kalau susah di kasih tahu.”
Apa bedanya kamu dengan calonmu wahai Maemunah!?
“Iya, oke aku ngerti. Nggak lagi-lagi godain kamu. Kamu sudah jadi pemikir berat kayaknya sejak bayinya bersemayam di perut kamu, Ra. Jabanin deh, dia bakal ngambil alih seluruh perhatian kamu ketimbang fokus ke Abang.”
“Itu sumpah atau kutukan.”
“Keduanya, maybe. Tapi abang yakin saja dia bakal lebih nurut ke kamu.” Gema sesap kopinya. Selalu seenak ini dalam segala kondisi.
“Teori dari mana?”
“Abang baca di internet.”
“Nggak semuanya begitu.”
Lahir dari keluarga yang terbilang tidak harmonis, Lara tahu bagaimana yang terjadi sesungguhnya. Tidak semua bisa di pukul rata bahwa anak-anak mereka bisa dekat dengan kedua orangtuanya.
Karena mereka terlahir berbeda-beda dengan berbagai karakter, maka terbagi menjadi bagian-bagian yang terduga. Ada yang mudah mengungkapkan, ada yang lebih suka memendam, atau merasa percuma di karenakan tak ada yang mendengarkan.
Barangkali itu pentingnya komunikasi anak dengan orang tua. Tak melulu soal sekolah dan apa yang mereka kerjakan selama di taman kanak-kanak. Hati tiap-tiap anak berbeda. Ada yang mudah di luluhkan dengan sanjungan, ada yang merasa risih di banggakan atau mereka yang punya kendali untuk menjadi nomor satu.
“Intinya …” Lara tuang saosnya ke atas adonan spagetti. “Jangan paksa anak-anak kita buat ngelakuin apa yang jadi ambisi kita di masa kini.”
Bentar, Gema belum paham. Belum mencerna apa yang Lara ucapkan.
“Apa pun itu, beri mereka peluang untuk mencapai apa yang menjadi kemampuan dan keinginannya.”
“Mereka?” beo Gema bak kerbau di cucuk. Matanya mengerjap dengan Gerakan jari mengitari cangkirnya. “Artinya ada kesempatan dan peluang buat nambah ya, Ra?”
Sebalnya bersama Bahtiar Gema adalah ini. Apa yang Lara sampaikan bukannya di resapi dengan baik-baik justru di tarik kesimpulannya secara kasar.
“Abang paham nggak, sih maunya aku.” Menggeleng. Gema hanya tahu kalau ada keinginan Lara mempunyai bayi lebih dari satu.
Wah … daebak!
Gema suka gagasan ini.
“Oke, aku jelasin.” Akan Lara ambil alih peran di rumah ini. “Jangan Abang halangi apa yang di sukai anak-anak aku, janji.”
Dan janji harus di tepati. Tidak peduli apa pun alasannya, bagaimana pun rintangannya. Janji adalah hutang yang harus di bayar dan tak bisa diingkari.
“Kenapa Abang harus janji?”
“Abang nggak mau?”
Gema pun bisa mengeluh perihal sikap Lara yang modenya suka berubah-ubah. Entah di masa periode atau hormon kehamilan yang saat ini tengah membelenggunya.
“Ra …” panggil Gema dalam sarat penuh tekanan. “Bisa kita bentuk keluarga yang memang seharusnya berjalan? Abang tahu kamu menyimpan trauma bahkan dendam. Abang coba mengenali sisi kesakitan kamu akibat perlakuan tak adil di keluarga kamu. Abang coba gali apa-apa saja yang bisa mengalihkan bahkan jika mungkin kamu harus sembuh. Sayangnya … nggak mudah, 'kan?
“Di saat kamu begitu penuh memikirkan untuk ‘gimana caranya punya keluarga yang sempurna’ atau ‘anak-anakku nggak boleh punya nasib sama kayak aku’. Dari situ kamu baru saja meragukan kesetiaan abang, Ra. Oke, Abang nggak nuntut kamu buat percaya. Terserah.”
Kata keramat itu meluncur keluar. Yang membuat tubuh Lara menegang di tempat. Ketakutan untuk di tinggalkan berseliweran di depan kepalanya. Kedua kakinya lunglai bak jelly.
“Abang memang harus setia ke kamu, Ra.” Ada embusan napas lega yang menusuk rungu Gema. Senyum tipis terukir. Bahagia karena Lara perlahan sudah membuka hatinya. “Makasih.” Cukup dengan ucapan itu, Gema sematkan kecupan di dahi Lara. “Kamu sudah menggenggam balik tangan abang, itu sudah lebih dari cukup.”