Siapa yang bilang kalau Bahtiar Gema mau berbuat seenak jidat terhadap anak-anaknya kelak?
Mustahil!
Memiliki Alara Senja yang datang dengan penuh luka sudah cukup membuat Gema senewen. Gila saja kalau sampai harus mengekang anak-anaknya kelak. Hanya orang tua kolot yang mampu melakukan hal gila semacam itu.
Anak adalah anugerah. Kehadiran mereka di dunia ini membawa berkah yang masing-masingnya telah Tuhan tuliskan. Maka menjaga adalah perbuatan paling aman yang tiap-tiap orang tua tanggung jawabkan.
Jangan di kira Bahtiar Gema haha hihi saja menyoal Alara Senja. Tidak di tuliskan bukan artinya tenang. Tidak di ceritakan bukan maksudnya aman. Gema hanya sedang menunggu gilirannya. Mengambil waktu untuk membuat Lara percaya menuju pelaminan.
Berat. Lebih menyiksa dari tanggungan rindu.
Benar jika Dilan berkata: ‘Biar aku saja. Kamu nggak akan kuat’.
Aku sangat takut kehilanganmu.
Itu yang Gema rasakan setiap harinya.
Lehernya tercekik takut-takut jika Lara kabur dari dirinya.
Bila Lara saja bisa tidak percaya dengannya, maka Gema pun demikian. Bukan ingin membalas, itu hal wajar yang di alami tiap pasangan. Tidak tahu saja rasanya yang kali ini benar-benar berbeda. Tidak sama seperti pernikahan pertamanya yang terbentuk mau sama mau. Lara … cukup berbeda untuk Gema jadikan target kunci kepercayaan.
Pernah gagal membina hubungan rumah tangga di masa lalu. Yang mestinya kita jadikan pelajaran, pengalaman dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bukan artinya dengan itu semua Gema bisa berleha-leha santai. Justru power untuk membina yang kedua kalinya membutuhkan effort super besar. Bukan cuma tenaga dan pikiran, menguras emosi bisa lebih di katakan begitu.
Gema … takut kehilangan Alara Senja. Sampai saat di mana dirinya menyadari bahwa Lara tidak benar-benar menjadi miliknya ketakutan Gema. Karena takutnya, meski bersama, meski hati saling membuka, saling mengetahui isinya, hati Gema bersama Lara dan hati Lara menyertainya. Jadi alih-alih membayangkan itu semua, Gema bersikap defensif untuk segera memiliki Lara seutuhnya.
Gema menuliskan: Aku mencarimu untuk jadi rumah atas segala lelahku menghadang egoisnya dunia. Jadilah tempat untukku benar-benar merasa pulang. Untukku bisa merasakan bahwa di semesta yang terlalu bias dan liar ini, ada tempat kecil untukku bersembunyi.
Coba pikirkan dan resapi. Tidak sedikit orang menilai dunia ini sebuas dan seliar apa lagi Bahtiar Gema yang hanya anak bau kencur alias kemarin sore. Yang nol besar perihal cinta dan kehidupan yang sempurna. Yang nothing without you bila tak berada di sisi.
Gema … hanya ingin punya tempat pulang. Karena terakhir kehidupannya, pulang yang benar-benar pulang adalah kekosongan semata. Mewah namun terasa menghimpit. Terang benderang namun gelap gulita. Luas namun mencekik. Dan tercukupi namun tak bisa di nilai cukup.
“Luka yang menyakitkan itu bukan yang nampak di luar.” Gema bisikkan kata-kata itu untuk Lara yang masih terdiam di tempatnya. Waktu yang mereka buang cukup banyak. Sehingga menunda agenda makan malam dengan spaghetti permintaan Gema. “Namun yang diam-diam, pelan, nggak kelihatan di mana letak lukanya … berasal dari dalam. Itu yang sebenarnya, Ra.”
Jangan sampai kali ini gagal. Gema tak akan tahu caranya seperti apa untuk meyakinkan Lara.
“Abang pernah bilang buat jangan ambil pusing. Apa pun yang terjadi, apa pun alasannya. Bahkan kalau memungkinkan … sekeras apa pun dunia menguji kita, abang nggak punya alasan buat ninggalin kamu. Yang harus kita lakukan cuma saling bergandengan tangan.” Gema angkat tangan Lara. Untuk kemudian di kecup.
“Kita mestinya saling menemani dan melengkapi dengan setia. Jangan peduli sama mulut-mulut yang pernah bikin kamu sakit hati. Mereka nggak berhak memberi nilai kamu buruk atau apa pun tentang hubungan kita. Abang janji buat selalu ada di dekat kamu, Ra.”
Gema tahu kesulitannya. Pun dengan keluarga Lara yang berbuat licik di belakang Gema. Tapi selain cepat-cepat bertindak menjauhkan Lara dari keluarganya, ada banyak susunan rencana yang harus Gema tuntaskan.
Tidak bisa jika seperti ini terus. Atau Lara akan semakin terluka.
“Abang ayo makan.”
Gema tertawa. Kesal sekaligus lega. Hebatnya, sulit untuk bisa marah ke Alara Senja. Terlalu sayang untuk melakukannya.
“Mienya mengembang. Ini gara-gara abang,” gerutunya. “Aku tuh percaya sama abang. Wae abang ceramah panjang lebar!? Doa-doa aku sudah jelas. Para malaikat mengaminkan dengan penuh suka cita. Kalau pun nanti ada hal-hal yang terjadi di luar inginnya kita … Aku maksa buat jangan misahin aku dari Abang.”
Astagfirullah sekali calonnya ini.
Gema sampai terkejut di buatnya. Tidak ada salahnya juga tapi Lara terkesan maksa banget nggak, sih?
Bengek asli.
“Aku bakal jadi orang di urutan pertama yang nguatin abang dengan cinta kita.”
AUW AUW … Gema speechless di tempat. Pipinya panas mendadak padahal kopinya sudah dingin.
“Kamu jadi pintar ngerayu, Ra.”
“Serius woi!”
***
“Lo yang ninggalin dia,” kata Guntur mengingatkan. Cowok berkaos putih polos itu menenggak kembali minumannya. Ingar-bingar musik di belakang tubuhnya tak surut untuk menghujamkan tatapan tajam berdominan muak. “Alasan yang lo gunain pun cukup klasik; bosan. Nggak ada angin, nggak ada hujan lo akhiri hubungan kayak nggak ada salah. Lo bahkan nggak nyesal karena setelahnya—hebatnya juga—lo bawa gandengan yang itu Adiknya sendiri. Gila, sih!”
“Khilaf,” jawab Prabu setengah tidak niat.
“Khilaf mana yang bawa hubungan ke jenjang pernikahan. b*****t banget bacot lo!”
Bukan apa-apa. Dulunya pun tertuang kisah di mana Guntur naksir berat Alara Senja. Sayangnya cuma bisa jagain itu cewek doang sebagai jodoh orang. Miris
“Sekarang baru lo nyesal. Ngelihat dia bahagia sama cowok lain. Lo nggak ada hak buat nangisin penyesalan lo. Asal lo tahu, bukan gini caranya sebuah hubungan yang patut lo jaga. Lo nggak bisa seenak jidat buat balik ke Lara saat lo ngerasa sendiri. Apresiasi lo apa sama Mosa dalam ngejaga rumah tangga kalian?”
Di pikir-pikir lagi, benar juga pertanyaan Guntur.
Apa?
Di mana?
Dan bagaimana?
Rasa-rasanya hubungan Arini dan Prabu lebih kepada hambar. Kosong menjadi dominan dan entahlah. Semuanya terasa ‘ini sudah selesai sejak aku bisa ngerebut kamu dari pemiliknya’. Terdengar seperti bahwa Prabu hanyalah alat untuk pelampiasan ambisi.
“Cinta itu ajaib kalau lo mau tahu. Kadang-kadang ada kekonyolan juga di dalamnya. Namanya isi mana bisa kita tebak. Ya, 'kan? Yang menurut lo baik, belum tentu dia baik buat lo juga. Sama kayak Kuasa Tuhan. Lo nyusun rencana, seapik mungkin. Tapi kalau kata Tuhan nggak bagus, semuanya jungkir balik sia-sia."
“Cuma jangan asal menjudge Tuhan dan rencananya. Kualat, mampus yang ada lo. Di setiap perjuangan lo, sepercuma apa pun hasilnya. Ada yang harus lo ambil. Ada yang harus lo hargai. Perjuangan, pengorbanan dan waktu. Nggak semua orang bisa paham sama konsep kayak gini. Maybe, lo salah satunya.”
Ah, Guntur sekalinya berucap suka yang nyentil ginjal sampai bergetar. Nggak kaleng-kaleng artinya. Nggak yang asal nge-jeplak saja. Semuanya ada takaran yang sekali dengar langsung JLEB. Bangke!
“Gue, kalau nggak ingat kita sohiban nih. Sudah mau gue habisin. Lo gobloknya nggak tanggung-tanggung. Maksudnya, kenapa lo percaya gitu saja sama karangan yang bahkan di situ lo lebih kenal Lara?! Otak lo di mana?
“Semisal gue di posisi lo. Mikir seribu kali. Karena, gue selalu berharap soal cinta yang baik untuk bisa gue kasih ke orang yang tepat. Sayang saja semesta belum ngasih izin dan Tuhan nggak jodohin gue sama Lara. Kenapa?” tantang Guntur. Tahu arti tatapan yang Gema berikan.
“Lo tuh sudah salah, nggak mau ngaku lagi. Wajib musnah sih cowok kayak lo gini. Pegang omongan gue. Dengerin juga. Rubah cara pandang lo dalam ngasih penilaian atau pun pandangan ke orang. Jangan terus melihatnya sebagai kesalahan. Itu kebiasaan yang mesti lo musnahkan. Jangan sampai jadi rutinitas. Selalu ada batasnya antara benar dan salah. Jangan sampai mengabur. Tapi pertimbangkan untuk setelahnya lo pertimbangkan. Nggak semuanya berujung pada kesalahan.”