Haha lucu tidak, sih?
Lara sedang duduk di balkon dengan secangkir kopi di tangannya. Kepulan asap panas menguap dan Lara menghirup aromanya dengan tenang. Memberi efek lain pada kepalanya yang sakit dadakan. Suasana di dalam rumahnya riuh. Banyak keluarga yang datang untuk membantu dan beberapa diantaranya adalah tetangga.
Karena besok hari pernikahannya, banyak yang harus di persiapkan. Dan 85% untuk semua kesiapan mulai dari sajian, penataan ruangan, dan bahkan dekorasi sudah siap. Lara hanya tinggal duduk dan menunggu esok untuk di dandani. Jangan lupa, Gema sudah geger sejak tadi. Spam chat ke ponsel Lara yang berakhir di nonaktifkan; berisik!
Yang membuat Lara harus terdiam lama memandangi air kolam adalah obrolannya dengan Mosa yang lucu. Lara sampai harus menahan tawa sewaktu berhadapan dengan Mosa dan sekarang justru tersenyum miris sendiri.
Bukan ingin memberi belas kasihan atau berpura-pura simpati. Tapi ternyata seorang Prabu pun tidak bisa mengambil pilihan bijak untuk hidupnya sendiri. Setidaknya melepaskan Alara harus dengan pengganti yang lebih baik lagi bukan malah yang menelantarkan dirinya sendiri.
Kalau bukan bodoh, lalu apa namanya?
Karena bagi Lara saat melepaskan Prabu untuk Mosa. Ada kata-kata yang lara rangkai untuk menjadi sebuah doa. Yang mana isinya:
Suatu saat nanti … akan ada seseorang yang tetap setia menemanimu ketika sedang melewati fase terendah dalam hidupmu bahkan ketika semua orang menjauhimu ia akan tetap duduk disampingmu dan meyakinkanmu bahwa kamu masih tetap berarti di mata orang-orang di sekitarmu.
Helaan napas Lara terhela. Dan satu tepukan cukup mampu membuatnya terkaget.
“Kamu, ih!”
Gema pelakunya. Yang nyengir dan melambaikan tangan bak bocah yang akan di tinggal pergi. Kelakuan Gema absurd sekali. Kalau Lara kesedak kopi gimana? Untungnya lagi nggak di seruput.
“Ngapain, sih?” sungut Lara dan meletakkan cangkir kopinya di meja.
“Kamu matiin HP.”
“Kamu berisik!”
“Aku kuatir.”
“Nggak perlu spam chat juga kali!”
“Nanti spam telepon kamu marah.”
Selalu saja darah tinggi setia kali ngomong sama Gema memang butuh tenaga ekstra yang setara sama makannya kuli; nasi sebakul.
“Kan nggak boleh ketemu.” Lara mengingatkan. “Sudah malam juga, kenapa nggak istirahat?”
“Kangen, sih. Aku lagian mana bisa bobok kalau nggak ada kamu.”
“Alesan saja!”
“Suer, Yang.” Sekarang Gema membentuk dua jari telunjuk dan tengahnya dalam bentuk V.
Gabut parah memang orang ini.
Alara mendengkus dan beranjak bangun dari duduknya. Tanpa sepatah kata lalu pergi membuat Gema bingung.
“Kamu mau ke mana?” Gema buntuti layaknya anak kucing mengikuti induknya.
“Tidurlah. Masa lembur.”
“Terus aku gimana?”
Lara merasa harus menyetok banyak-banyak asupan oksigennya karena terus-terus mengembuskan napasnya.
***
Jika ada yang bertanya, apa yang lebih mendebarkan?
Beberapa orang akan menjawab; saat menunggu sebuah jawaban dan kepastian atau hasil dari Ujian Nasional. Maka untuk Gema berbeda cerita. Yang lebih mendebarkan bahkan lebih parah dari apa pun yang ada di dunia ini adalah, saat mengucapkan sakralnya kalimat ijab kabul. Meski sudah kedua kalinya Gema menikah, tetap saja perasaan mendebarkan dengan jantung yang akan pindah ke lambung menjadi momen yang tak terlupakan.
Dulu, dengan mantan istrinya, Gema tidak merasakan yang sedemikian tegangnya. Tapi sekarang, entah karena Alara Senja yang kecantikannya terpancar atau memang dirinya yang sudah jatuh terperosok terlalu dalam ke diri Lara. Matanya bahkan sampai tak bisa berkedip sedikit pun. Pesona Alara Senja dalam balutan baju putih dengan payet-payet cantik sudah menghipnotisnya.
“Masnya, matanya di kondisikan dong.”
Yang malu mendapat teguran seperti itu justru Alara. Dengan kepala menunduk dalam, Lara juga menahan tawanya. Untuk jangan membuat Gema semakin malu.
“Boleh dinikmati nanti malam,” ujar salah seorang lagi.
Lara bengek sendiri mendengarnya. Ini bahasanya ‘di nikmati’ kayak yang lagi mau buka puasa pakai es campur saja.
Tidak ada jawaban dari Gema selain dengan senyuman. Yang membuat Lara merasa tenang. Dan diantara semua ledekan demi ledekan, tiba waktunya untuk mengucapkan janji suci sakralnya.
Gema tegang.
Lara deg-degan.
Namun beruntungnya semua berjalan lancer tanpa ada kendala. Satu kesalahan pun tidak. Dalam hati Lara bersyukur, bahwa ada hikmahnya menikahi duda. Setidaknya ada pengalaman yang Gema miliki dalam mengucapkan ijab kabulnya.
“Nah sudah sah. Sudah boleh di pandang sampai puas, dan di cium keningnya.” Penghulu yang menikahkan mendadak jadi dagelan. Pakai acara kayak begitu segala.
Aslinya mah sudah lebih dari yang pandang memandang. Skidipapap sampai ada hasilnya. Dan Alara nggak pernah nyesal ngajakin Gema skidipapap duluan. Ya bodo amat sama tanggapan orang lain, intinya Alara suka dan Alara nggak ada nyesal setelahnya.
Yang ada ketagihan.
“Tanda tangan di sini.” Vokal pak penghulu kembali mengudara. Menyeret Lara yang sedang asik dengan pemikirannya sendiri. “Jangan kebanyakan ngelamun, Neng.” Memang random sekalilah penghulu yang menikahkah Alara Senja dan Bahtiar Gema ini. “Kesambet mas duda gantengnya, ‘kan sudah.”
Bengek part II, Bund!
Lara cuma bisa senyum-senyum malu kucing tanpa tahu ada yang memandangnya penuh dengan sesal. Ada sorot mata yang menunjukkan luka namun di tutupnya rapat-rapat. Di tepis agar tidak menimbulkan kegaduhan yang lainnya.
Adalah Prabu yang mulai tahu rasanya karma seperti apa.
Adalah Prabu yang merutuki betapa bodohnya dirinya selama ini dan baru menyadarinya sekarang.
Adalah Prabu yang baru tahu bahwa dirinya memanglah tidak sebijak kelihatannya.
Prabu hanya melihatnya secara sekilas bahwa ada kebahagiaan lain yang lebih—saat itu. Nyatanya tetaplah Alara Senja yang bisa membuatnya merasakan bahagia juga tangis secara bersamaan. Nyatanya tetaplah Alara Senja yang selalu merajai hatinya sesenang apa pun Prabu dalam mencapai kehidupan yang diinginkan.
Alara Senja memang sekuat itu dalam memengaruhi kehidupannya.
“Kamu nyesel?” Mosa berbisik dengan pelan. “Kasihan, ya kamu.” Itu memang ejekan. Mosa tidak akan segan-segan menghujat Prabu jika itu menyangkut tentang masa lalunya. “Makanya aku benci banget sama Lara. Eh tahunya dia yang lebih unggul dari segalanya sekarang. Padahal sudah hancur, harusnya hancur jangan malah bangkit.”
Mendengar u*****n Mosa, Prabu bisa tersenyum bahagia.
“Doa-doa yang buruk biasanya berbalik ke si pembuatnya. Jadi kamu cukup menyedihkan dengan doa yang buruk. Tapi balik sendiri ke kamu.”
Mata Mosa menatap tajam Prabu. Bibirnya tersungging dengan pongahnya.
“Kamu sendiri gimana? Ngerasa menderita? Atau malah ikut senang?” Kepala Mosa menunjuk ke depan yang tepat ada adegan di mana Gema mencium kening Alara dengan penuh kasih dan sayang. “Kamu harusnya tahu, sesulit apa kamu menaklukan Alara—dulu. Bukan malah kamu lepaskan demi aku yang nggak pernah berkorban buat kamu. Dari sana, kamu sudah di nilai sebagai seseorang yang bodoh. Kamu d***u dan nggaka ada bagus-bagusnya buat di miliki. Aku saja nyesel kok.”
Prabu tidak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya terkunci dan semua yang sudah Mosa ucapkan berputar bak kaset rusak di kepalanya. Semuanya terasa nyata dan menyakitkan sekarang ini.
Alara yang bahagia, tapi tidak dengan dirinya.
Alara yang tersenyum, tapi bukan untuk dirinya.
Dan itu yang membuat Gema merasakan cemburu sampai tak bisa di tepiskan sedikit pun.
“Jangan macam-macam. Jangan bikin kegaduhan yang bikin kamu makin nyesel!” peringat Mosa. “Aku tahu, kamu bakalan lakuin apa pun buat dapetin milik kamu lagi. Jangan gila!”
Aku pamit karena aku sadar aku hanyalah ilalang diantara ribuan bunga yang turut serta menjamah hatimu. Aku tahu, untuk kembali mendampingimu, aku harus kembali bercermin sementara waktu. Melihat diri sendiri lantas memantaskan diri.
Jika belum juga pantas, kiranya aku harus ikhlas jika akhirnya kita hanya sebatas pernah tanpa berujung sama-sama.
Dari Prabu untuk Alara Senja.