Prosesi acara ijab kabul yang sudah usai, dilanjutkan dengan resepsi. Tidak terlalu megah memang. Hanya di hadiri keluarga dan teman terdekat. Dan yang Gema lihat, lingkup pertemanan Alara Senja pun tidak seluas yang pernah Gema amati. Entah karena apa, Lara hanya mengatakan bahwa tidak perlu mewah dan banyak orang. Penting sudah sah.
Jadi Gema hanya mengikuti. Toh ini pernikahan keduanya.
Karna kuterpuruk sendiri dalam hampa. Dan kau datang merubah cerita. Adalah dari Gema untuk Alara, istrinya.
Nah lagu yang sedang dibawakan oleh penyanyi di atas panggung sana menjadi salah satu tembang hits yang dinyanyikan oleh salah satu bawahan di kantor Gema. Musiknya juga enak meski tidak begitu paham artinya, Gema tetap menikmati.
Isi lagunya benar-benar menggambarkan perjalanan hidup yang sudah Gema lewati sebelum hadirnya hari ini. Karena tidak tahu bukan artinya Gema tidak bisa mencari infonya di internet. Penyanyi Denny Caknan sudah menjelaskan isi dan maksudnya di portal berita.
Wah … isi kepala Gema pas sekali dengan apa yang sedang Gema alami sekali lagi mengguman dan memang benar adanya tebakannya demikian.
Selama beberapa waktu bersama Alara Senja. Kalau di pikir-pikir, bukankah Lara sudah merubah segalanya tentang masa keterpurukannya?
Gema pernah ditinggalkan, pernah juga terjatuh. Dan dihampiri oleh Alara sore itu di ruangannya adalah sebuah anugerah yang tidak bisa Gema lupakan.
Yang awalnya Gema pikir Alara adalah sosok yang gila memang beneran gila. Beneran membuat dirinya kecanduan dan tidak jauh-jauh dari seorang Alara Senja. Gema yang tidak pernah memikirkan bisa menikah untuk kedua kalinya, nyatanya bisa ada di sini hari ini.
Di hari yang paling bersejarah dalam hidupnya untuk kedua kalinya.
Kenapa sangat lama menduda?
Kenapa sangat lama dalam menemukan pilihan?
Kenapa sangat lama dan harus menjalani hari-hari penuh dosa ketika di pertemukan dengan hati yang sudah pas nyatanya bisa terwujud secepat ini?
Ini buka perkara trauma atau apa pun. Mungkin, menutup pintu hati setelah tersakiti dan di kecewakan takkan Gema pungkiri. Namun di kemudian hari, Gema menjadi selektif dalam memilih pasangan. Bukan cuma soal kecantikan dan fisik semata. Tapi yang mau berjuang bersama dari awal hingga akhir.
Menoleh ke sisi kirinya, Lara terlihat cantik meski riasannya sudah berlangsung sejak pagi. Di tambah dengan perutnya yang sedikit buncit, tidak tahu mengapa Gema bangga dan bahagia di saat yang bersamaan.
Ingin mengusapnya, tapi Gema ingat tempat.
Jika takdirnya bersatu bakal bersatu.
Tuhan terima kasih hadirkan penjaga hatiku.
Gema tahu. Dengan terbukanya pintu hatinya untuk Alara Senja maka akan ada yang harus Alara ketahui tentang dirinya yang lain. Yang mungkin suatu waktu, akan menjadi yang sangat menyebalkan dalam pandangan Alara. Membuat Alara misuh-misuh dan kesal maksimal.
Namun juga ingin Gema beri tahu bahwa sekali pun menyebalkan, Gema tidak ingin menjadi orang yang paling merepotkan untuk Alara. Dan itu adalah cara Gema memberi tahu Lara jika dirinya amatlah membutuhkan Alara dan itu salah satu bagian dari cinta.
Bahkan mungkin juga suatu waktu, akan Alara temui dalam diri Gema mengenai amarahnya yang menggebu-gebu dalam menangani sebuah masalah. Dan redanya amarahnya hanya butuh pelukan dari seorang Alara Senja.
Dan diantara itu semua, Gema ingin memberi tahu pada Lara. Dirinya memang semerepotkan itu ketika di sayangi. Dan membutuhkan Lara dalam jangka panjang bahkan untuk selamanya adalah motto dalam hidupnya yang sekarang. Karena Lara memberikan yang selama ini Gema butuhkan. Karena Lara menjadikan Gema ‘dirinya sendiri’ dalam mencintai. Dan karena itu semua, Gema sadari jika dirinya tidak hanya jatuh dalam paras ayu Alara Senja dengan mata yang sayu nan lembut. Namun juga hatinya.
“Ada yang di pikirin?”
“Eh?”
Vokal Lara terlalu dekat dengan rungu Gema sehingga membuatnya terperanjat kaget.
“Dih, ngelamun!” cibir Lara yang langsung menyodorkan segelas es dengan tetesan air di luarnya. “Panas-panas gini abang nggak haus?” Lara sudah lebih dulu meminumnya dengan pelan namun juga sekali teguk langsung tandas. “Malah ngelamun. Mikirin apa, sih?”
Mulai deh jiwa keponya.
Tidak langsung Gema jawab. Mengikuti perkataan istrinya—wah sekarang sudah bisa menyebut Lara dengan kata istri yang membuat jantung Gema berdesir hebat. Dan denyutan di ujung bibirnya tidak mau hilang.
Gema melakukan hal yang sama seperti yang Lara lakukan tadi. Sekali teguk langsung habis.
“Nggak ada,” jawaban Gema pendek yang sukses membuat Lara melirik curiga. “Ih, biasaan kamu. Matanya suka nyipit-nyipit gitu padahal aku nggak lagi ngapa-ngapain.”
“Tapi ngelamun.” Protesan Gema di balik oleh Lara. “Di hari sepanas ini masa.”
“Ya terus kenapa, sih, Sayang?”
“Nggak boleh lah!”
Alara Senja memang selalu bengek dan unik dengan caranya. Makanya tidak heran setelah Bahtiar Gema getol mengorek tentang ‘mengapa dirinya bisa-bisanya jatuh cinta kenapa Alara Senja?’. Ini juga salah satunya. Di mana Gema merasa punya teman untuk berdebat dan nyaman dalam membahas segala hal. Bahkan, hal sekecil apa pun bisa di jadikan topik obrolan oleh keduanya dan meluber ke mana-mana.
Wah gila, sih!
“Kamu mah apa-apa serba nggak boleh, Yang. Gini nggak boleh, gitu nggak boleh. Apa-apa serba nggak boleh.” Gema nyinyir.
“Aku ikutin Abang.”
“Kok aku?” Kadang-kadang Gema lupa kalau Alara Senja membantahnya. Tidak membantah dalam artian yang buruk. Hanya sekadar memberi jawaban akan apa yang Gema ucapkan.
“Abang, ‘kan panutan aku sekarang ini. Enggak nding,” ralat Lara buru-buru. “Abang suami aku yang sekaligus imam, jalan, dan kepala keluarga yang harus bimbing aku.”
Benar, kok. Nggak ada yang salah. Apa yang Lara katakan 100% benar tanpa bisa di debat alias valid. Kebenarannya nggak perlu di ragukan lagi.
“Tapi nggak harus jeleknya kea bang juga dong, Ra.”
“Namanya Abang pemimpin. Harus siap sedia dong sama semua yang dilakuin pasukannya. Salah pun abang harus mau bela.”
Sek, sek. Bentar. Ini, kok makin ngelantur bin random?
Gema nggak mudeng sama sekali dengan apa yang Lara maksudkan. Tapi ya sudahlah ya. Timbang ributnya di sini panas-panas yang nggak yahud, mending simpan tenaga buat nanti malam.
Oke, sip.
Ada tulisan yang di baca oleh puluhan muda-mudi di luar sana, yakni:
Jatuh hati tidak pernah bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus.
Jadi, sekeras apa pun kamu mencoba mencari tahu, tetap Tuhan yang paling tahu. Tetap Tuhan yang sudah menentukan dan Tuhan yang memainkan ke mana arahnya harus di bawa.