40

1451 Kata
Yang sudah ngepas, bisa berujung lepas. Yang sudah cocok, bisa berujung saling blok. Yang sudah membuat history, bisa berujung sebatas nonton story. Yang sudah merakit cerita, bisa berujung menderita. Ya namanya juga hidup, banyak plot twistnya. Membaca itu membuat Prabu mendongakkan kepalanya. Melihat ke awan dan langit hitam yang bergerumul. Mendung belum tentu hujan. Sama halnya dengan hujan yang tidak selalu disertai dengan mendung. Maka yang namanya hidup, seapik apa pun kita berencana. Tetap Tuhan penentunya. Karena Tuhan yang punya segalanya. Tuhan yang menyusun alur cerita sebelum bermain di panggung dan Tuhan pula yang sudah menentukan endingnya; happy ending or sad ending. Meski berkata percuma karena semuanya ada di Tuhan. Sebagai manusia biasa dan memang sudah selayaknya, pasti hanya bisa mengikuti arusnya. Sayang, sering kali kita lupa kalau arus pun punya jangka harus pelan atau deras. Semuanya tergantung di jalur sebelah mana hendak bermuara. Sebenarnya, kalau di pikir-pikir lagi, memang Prabu yang jahat. Prabu berbuat sedemikian menyakitkan untuk Alara Senja yang sudah berbaik hati menerima dirinya apa adanya. Apa adanya di sini bukan artinya Prabu tidak memiliki apa-apa dan harus di kasihani. Tapi maksudnya adalah Alara bersedia ada untuk bersama dengannya di saat karirnya belum secemerlang ini. Alara sudah menemani Prabu dari titik terendah hingga di atas awan. Dan Prabu dengan konyolnya menyia-nyiakan Alara begitu saja. Prinsip Prabu waktu itu begini: Dirinya sebenarnya peduli bahkan cemas ketika tiba-tiba Alara tidak ada kabar. Itu kesalahannya. Siapa pun akan langsung menghilang mencari ketenangan setelah merasakan kehilangan. Prabu pun rindu jika boleh berkata jujur. Dan saat melihat Alara atau katakanlah saat berpapasan, ada suara yang ingin Prabu utarakan untuk sekadar menyapa ‘hai’ namun kelu di ujung lidahnya. Dan berakhir dengan mendoakan yang terbaik untuk Alara. Karena Prabu memberikan tekanan untuk dirinya sendiri bahwa paham Tuhan sudah menjaga Lara lebih dari sepasang lengan miliknya yang pernah Alara jadikan pegangan. Bukankah Prabu sangat egois soal perasaannya sendiri? Sekarang tinggal sesal yang tersisa. Tapi mau di sesali sedalam apa pun, yang bisa Prabu terima pada akhirnya adalah ikhlas. Karena tahu bahwa ada beberapa hal yang harus dirinya lapangkan dadanya dalam menjalani kehidupannya. Bukan karena Prabu tidak mampu atau pun tidak mau berusaha. Bukan juga menyerah. Hanya saja, Prabu lebih percaya bahwa rasa syukur yang luas adalah pangkal pelepas kesesakan di dadanya. Begitu bukankah yang sudah di pilihkan oleh Tuhan untuknya? Pun dengan yang seharusnya lelaki tahu, bahwa jika perempuan benar-benar mencintai, maka akan dengan sungguh-sungguh selalu mengganggu. Hanya dengan masalah sepele perihal rindu, marah-marah meski tidak tahu seberapa banyak kesalahan kita, dan sangat mampu memaafkan walaupun berulang kali tersakiti. Dan untuk perempuan, lelaki yang benar-benar mencintai kita tidak akan membiarkan kita pergi, dan sesulit apa pun keadaannya, dia akan mempertahankan. Sayangnya Prabu gagal. Yang hanya bisa menghela napas lalu mengembuskannya sekali. Ada nyeri dan sesak. Terlebih di antara itu semua, sesal mendalam sedang bercokol di rongga dadanya. Benar. Di samping Prabu sudah kalah dalam mempertahankan hubungan dengan Alara Senja. Prabu juga mengakui perkataan salah satu temannya kalau; laki-laki memang bisa dekat dengan siapa pun, pacaran dengan siapa pun, bahkan menikah dengan siapa pun. Tapi harus kamu tahu kalau di hati mereka tetap ada satu nama perempuan yang mereka cintai di masa lalu. Yang tidak bisa di lupakan dan akan selalu punya tempat di hatinya. Itu yang saat ini Prabu alami. Yang sedang Prabu jalankan karmanya bahwa Alara sungguh berharga setelah dirinya membuangnya begitu saja. Setelah Prabu memilih yang lain dan bukan sesuatu yang lebih bermakna dari Alara Senja. Lalu bagaimna respons si perempuan baru mendapati fakta seperti itu? “Gagal move on?” Begitulah responsnya. Prabu tidak heran lagi dan lebih cuek kepada Mosa. Karena … ah, Prabu sudah malas membahas lagi. “Sok tahu!” Prabu berdecak dan hendak pergi sebelum terhenti langkahnya karena lanjutan yang Mosa ucapkan. “Tahu dong. Tahu banget malah.” Yang di rungu Prabu terdengar ada getaran luka dari suaranya. “Cinta tuh nggak bisa dibohongi. Mau di sangkal kayak gimana pun juga bakalan kelihatan. Mau di tutupin sekayak gimana pun juga tetap kelihatan.” Prabu tidak ingin menoleh meski ingin. Takut harus jatuh ke dalam jurang yang sama seperti dulu. Mosa tahu kelemahan dirinya dan pintar mencari celah untuk membuat Prabu mau melakukan apa saja. Sedang bagi Mosa, sekali pun sikapnya terlampau cuek dan terkesan tidak peduli. Bukan artinya baik-baik saja. Justru karena bersikap yang demikian, Mosa merasakan sakit yang tidak ada ujungnya. Mosa memendam cemburu yang mana Prabu masih terus berkubang dengan rasa sakitnya dan sesalnya. Perempuan mana yang tidak sakit saat lelaki yang ada di sisinya mengingat masa lalunya? Tanya Mosa, apakah mentalnya masih kuat atau masih ingin bertahan meski sudah lelah dan hampir menyerah? “Kalau kamu tahu …” Ada kelu di ujung lidah Prabu sehingga menjeda ucapannya Wajahnya berekspresi serius dan mencoba menimang apakah perlu untuk di katakan atau di abaikan saja. “Kenapa masih egois?” Pada akhirnya setelah menghela napas panjang, Prabu memilih abai dan mengucapkannya begitu saja. Tidak peduli apakah Mosa akan sakit hati setelah ini. Bibir Mosa tersungging. Tidak apa-apa dan tidak merasakan apa-apa lagi. Mendengar perkataan Prabu yang seperti itu sudah menjadikan dirinya menemukan jawaban dari apa yang selama ini di carinya. Hanya satu; kenapa baru sekarang Mosa mau menyadari? Kematian atau pun kehilangan bukanlah musibah terbesar dalam hidup. Sebab itu adalah takdir yang pasti akan terjadi. Kerugian terbesar adalah apa yang mati dalam diri kita sementara kita hidup. Layaknya Mosa yang masih bisa merasakan jantungnya berdetak dan hidungnya menghirup udara dengan bebas. Namun tidak dengan hatinya yang sudah tidak bisa lagi berekspresi apa-apa. “Oh.” Begitu saja responsnya. Lalu hengkang dari sana. Meninggalkan Prabu dengan kedua alis yang menyatu namun lagi dan lagi lidahnya kelu. Sementara dengan Alara Senja. Yang sedang perempuan cantik itu lakukan adalah menyandarkan badannya di tepian ranjang. Malam semakin larut. Udara dingin yang berembus lewat jendela kaca yang terbuka membelai kulit wajahnya yang putih bersih. “Ini susunya.” “Makasih abang.” Alara langsung meminumnya. Dan yang Gema lakukan adalah memijat pelan kedua kaki istrinya secara bergantian. Istrinya? Oh, itu sudah berlalu sejak beberapa jam yang lalu dari keduanya yang resmi menjadi pasangan suami istri. Desiran darah Gema tiada hentinya kala kepalanya menyebut Lara dengan label istri. Uwihhhh rasanya membagongkan sekaligus membahagiakan. Pantas banyak yang mengatakan menikah itu enak. Walaupun pernah merasakan sebelumnya, tetap saja yang kali ini ada sensasi yang berbeda. “Abang nggak mau makan?” Lara letakkan gelas kosongnya di nakas samping ranjang tidurnya. Hendak menarik kedua kakinya saat Gema tiada henti memberikan pijatan-pijatan kecil. Enak sih, tapi rasanya Lara kayak durhaka banget. “Belum lapar lagi, Ra. Kamu mau makan? Biar abang ambilin.” Tidak ada yang tahu saja kalau seorang Bahtiar Gema bisa sebucin ini dengan Lara. Lara juga sempat bengong saat tahu Gema bisa menjadi sosok lain dari yang sebelumnya dirinya kenal. “Kenyang,” jawab Lara. Dan terjadi kebisuan yang cukup panjang. Lara dengan pikirannya yang berisi tentang Gema. Tidak tentang Gema sepenuhnya, namun soal beberapa perjalanan hidupnya yang sudah dirinya lalui untuk sampai di sini. Sosok pria yang saat ini bersamaku adalah pria yang baik namun sekaligus jahat bagiku. Jahat karena, kenapa tidak dari dulu saja kehadirannya ada di sisinya sehingga aku tidak harus merasakan sakitnya sebuah trauma dan beratnya melepaskan. Baik karena mau bersamaku sampai saat ini. Dia baik karena mau menerimaku dengan kekuranganku. Dia baik karena mau bertahan dalam hubungan ini denganku. Tapi mau berapa kali pun Lara mengeluh, Lara tahu bahwa ini adalah jalan yang sudah Tuhan tunjukkan. Di beberapa kesempatan ketika seseorang ingin mempunyai sebuah hubungan, Tuhan sering kali mengujinya. Tuhan sering kali memberinya sakitnya untuk jatuh namun juga Tuhan memberikannya tenaga untuknya bisa kembali bangkit. Jika di pikir-pikir, bukankah Tuhan sangat baik? “Abang lapar, Ra.” Kepala Lara langsung menoleh. Untungnya lamunan yang sedang mengambil alih pikirannya belum terlalu jauh terseret. Sehingga bisa mendengar rengekan yang suaminya lirihkan. “Kamu mikirin apa, sih?” “Banyak.” Lara langsung menarik kedua kakinya dan mengucir rambutnya asal. “Abang mau makan apa?” “Kamu mau ke mana?” Lah? Loh? Lara cengo sebentar. Ini serius lakinya nanya ‘mau ke mana?’ Mau di tampol pakai sandal takut dosa. “Bikinin abang makan.” “Pesan, ‘kan bisa Ra.” “Yakin?” Masalahnya Gema susah-susah gampang dengan masakan siap saji semenjak Lara getol memasakkan untuk dirinya. “Entar abang nyenyenye alias ngeromet mulutnya.” “Timbang kamu capek.” “Kalau aku, timbang abang yang ribut.” Memang benar. Lara paling malas kalau harus umbrus alias geger dengan Gema. Sudah tidak mau ngalah dan nggak mau kalah. Tapi ya sudahlah ya kalau maunya Gema seperti itu. Lara turuti. “Kamu bobok geh. Nanti kalau datang abang bangunin.” “Oke.” Nurut saja, Bund, nurut. Pahala kok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN