Bila saya memilih melepaskanmu, percayalah!
Saya sudah mematahkan seluruh hati saya.
Saya sudah berdebat hebat dengan diri saya sendiri.
Saya sudah melangitkan ribuan doa agar Tuhan menunjukkan jalan selain perpisahan.
Sebelum akhirnya saya terima takdir-Nya, bahwa memang satu-satunya cara adalah rela.
Begitu kata-katanya yang sedang Alara Senja baca. Pun itu terjadi di dunia nyatanya yang mana pagi-pagi sekali menjadi ajang kecanggungan untuk dirinya.
Alara cerita nggak, sih kalau dirinya masih menginap di rumah orangtuanya semalam?
Iya di sini. Di rumah yang sebenarnya nggak pernah Alara sukai. Rumah yang sulu biasa-biasa saja bagi Alara namun sejak insiden ‘berbagi kasih’ yang terjadi langsung merubah suasana biasa menjadi suram. Dan Lara memilih hengkang dari rumah ini untuk mencari kenyamanan lainnya.
Lah sekarang di pertemukan, di hadapkan secara terang-terangan.
Duh! Gusti, kenapa aku di prank?!
Nggak kuat loh hati ini.
Karena dulu itu yang sering terjadi adalah Prabu yang selalu memuji Mosa di depannya.
Coba bayangkan!
Bagaimana perasaan Lara waktu itu saat cowok yang dirinya pacari dan hampir mengajaknya ke jenjang serius malah memuji cewek lain yang meski itu adiknya sendiri. Lara bahkan menekan dirinya sendiri untuk jangan cemburu. Tapi tahu-tahu seperti ini. Di khianati orang terdekat sakitnya tiada terkira cuii.
Kalau Prabu normal, harusnya Prabu memuji tentang dirinya di hadapan cewek lain. Tapi memang Prabu nggak ada otaknya sama sekali. Makanya kayak gitu.
Dan yang sedang Lara hadapi sekarang, meski canggung, ada kebencian yang bercokol di dadanya. Tidak hanya pada Prabu, namun juga Mosa. Yang memasang wajah tanpa berdosanya dan berlagak semuanya baik-baik saja.
Kurang ajar!
Kampret!
Keluarga macam apa yang dirinya miliki ini.
“Mama bingung.” Jayanti Ibu Lara bersuara. Dengan suara yang sedikit bergetar mengundang tanya di kepala Lara. “Nasi goreng masih jadi kesukaan kamu atau enggak. Jadi cuma ini yang bisa ibu masak.”
Memangnya apa yang bisa ibunya siapkan untuk Lara?
Atau setidaknya tahu soal apa yang Lara suka dan tidak Lara suka.
Sewaktu mamanya berkata seperti itu yang seolah-olah hanya bisa menyiapkan nasi goreng padahal di atas meja banyak piring-piring dengan masakan dan lauk pauk enak. Adalah bagian dari peran drama. Pasti mamanya sedang mencari perhatian dari Gema.
Toh sejak kejadian itu, semua ketulusan yang Jayanti berikan, di mata Lara seolah-olah sudah hilang. Yang tersisa hanyalah bayangan hitam bahwa Jayanti memberikan kasih sayang secara tidak adil. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu. Sakit yang Lara pendam masih berasa. Baik Prabu mau pun Mosa sudah mendapat karma. Tapi kok tetap saja nggak mau berkurang rasanya?
“Masih suka kok ma. Lara nggak pernah pilih-pilih makanan.” Adalah Gema yang menjawab. Dengan sigap langsung menuangkan ke piring kosong Lara. Jawaban yang Gema ucapkan pun tidak mengada-ada. Lara suka dengan semua jenis makanan kecuali perdagingan. “Cuma karena kadang Lara rewel, aku nggak tahu ini bakal habis atau malah langsung bikin Lara mual. Aku sudah buatin s**u hangat buat kamu.”
Lara menerima gelas berisi s**u yang sudah Gema sodorkan. Meski dongkol dan tatapan matanya menyiratkan ketidaksukaan. Lara tidak bisa menolak jika itu soal Gema. Seakan-akan memang sudah seperti ini jalan yang Tuhan gariskan. Hanya Gema yang bisa mengerti tentang dirinya bahkan sampai meredam menyoal amarahnya. Tuhan tahu makanya mengirimkan Gema. Begitu kayaknya.
Daebak!
“Kalau lagi hamil muda biasanya gitu.” Jayanti sudah melahap makanannya dengan khidmat meski sesekali mencuri pandang ke arah Lara.
Ada sesal di matanya yang bening. Namun seolah menyadari kesalahan apa yang pernah Jayanti perbuat. Merasa tahu diri bahwa apa yang Lara lalui tidak perlu meminta persetujuan darinya.
Oke. Meninggalkan Jayanti dan segala t***k bengeknya.
Lara meminum susunya hingga tandas dan beralih pada nasi gorengnya. Dari baunya lewat asap yang masih menggumpal, bisa Lara ketahui bahwa tidak ada yang berubah dari rasanya. Pun saat suapan pertama membelai lidah Lara.
Hampir-hampir Lara ingin menangis. Karena meski bagaimana pun, rasa ini dan nasi gorengnya adalah kesukaan Lara sejak dulu. Masakan Jayanti di lidahnya tidak berubah. Asinnya pas, kecap yang di taburkan tidak terlalu banyak, dan pedasnya sesuai dengan selera Lara.
Kenapa?
Itu saja yang Lara tidak sukai. Sehingga sejak semalam rasanya sudah ingin pergi dari sana.
Dan tepukan pelan di atas pahanya oleh tangan Gema, membuat Lara menoleh dengan mata yang berkaca-kaca. Senyum Gema selalu menakjubkan sehingga tanpa bersuara pun Lara tahu jika itu artinya ‘tidak apa-apa’.
“Kebetulan saya langsung kerja.” Gema ambil alih atensi Jayanti dan semua orang yang ada di meja makan. “Jadi Lara ikut pulang.”
Itu yang saat ini Lara butuhkan. Bukan Gema ingin bertindak egois atau pun jahat dengan menjauhkan Lara dari keluarganya. Namun kesehatan mental dan kondisi bayi dalam kandungan Lara adalah prioritasnya yang utama.
“Mama boleh ke sana sesekali?”
Ada apa dengan mata Jayanti?
Lara tahu dan Gema juga tahu. Namun hanya anggukan yang bisa Gema berikan. Yang bisa Gema lakukan pun hanya menunggu sampai Lara siap dan bisa untuk menerima semuanya.
Di pertemukan dengan mantan itu nggak enak, ‘kan?
***
“Aku nggak kerja sama Abang lagi?”
Sedang ada drama nih, guys. Di mana Lara yang sudah sampai rumah, malah terjadi rengekan dan tangan Gema yang di cengkeram Lara kuat-kuat.
Kok ya ada cewek modelan istrinya ini. Kecil tapi tenaganya melebihi Samsons. Oh ya jelas! Nggak heran kalau cetakannya sudah langsung jadi dan berkembang di perut Lara. Lara tuh pokoknya kuat dan hebat luar dalam. Bisa banget bikin Gema senang dan kesengsem.
Oke, balik lagi ke drama yang sedang berlangsung.
Gema longgarkan dasinya. Padahal nggak kencang-kencang amat Lara masanginnya. Rasanya kayak di cekik.
“Besok-besok bisa, Sayang.” Gema halus-halusin dulu kayak gula halus di donat asongan sepuluh ribu tiga itu. “Sekarang kamu istirahat dulu. Nanti—“
“Aku bosan Abang.” Di potong dong tanpa pakai permisi. “Ngapain coba seharian sendirian?”
“Kamu bisa bobok loh, Yang.”
“Abang pikir bobok seharian nggak bikin tulang sakit? Yang ada makin pegal badan aku bang.”
Aduh, jawabannya ada saja. Nggak pernah ada habisnya.
“Nanti Abang telepon.”
“Ngapain coba?”
Ya Tuhan!
Harus bagaimana lagi Gema bersikap?
Galau parah sumpah harus seperti apa ngadepin Lara ini.
“Ikut ya, Bang.”
Tidak ada jawaban. Gema hanya menatapi Lara lamat-lamat. Isi kepalanya penuh. Tidak mau Lara capek. Tidak mau ada bayangan buruk yang mampir di otaknya dan jadi kenyataan.
“Gini saja.” Gema pegang kedua tangan Lara dan menciumnya lama. “Sekarang jam sebelas. Waktunya masak dan bentar lagi masuk jam makan siang. Abang cuma ketemu klien doang, janji. Kamu masak gimana? Abang lagi pengen masak sup ayam lada hitam yang pernah kamu masakin.”
“Nggak mau.”
“Jadi Abang harus makan dari masakan tangan orang gitu?”
“Semalam saja Abang makan masakan orang.”
“Terdesak. Itu kepaksa karena sudah malam banget. Kamu juga capek. Sekarang, ‘kan beda Yang. Kamu ada waktu.”
“Aku sibuk!”
Boleh tidak kalau Gema diam dan nyelonong pergi?
“Sayang, please.” Nggak jadi. Istri modelan kayak Alara Senja ini susah di cari. Di pungut ke ajang pencarian jodoh juga belum tentu ada. Sikapnya yang nyeleneh dan sifatnya yang unik. Gema saja nggak mau bagi-bagi.
Alara itu sukanya di manja. Tanpa ada yang sadar bahkan Lara pun kadang nggak sadar sama kebiasaannya yang satu ini. Beruntungnya Gema bisa peka dan bisa menuruti semua kemauan istrinya.
“Sama tempe mendoan ya.” Karena Lara diam, Gema jamin permohonannya berhasil. “Pakai sambal kecap.” Terus saja Gema melanjutkan semasa Lara terdiam. “Jus jambu.” Dan kayaknya memang sedang di pikirkan. Itu bisa Gema ketahui lewat alis Lara yang sedang menyatu. Kayak ulat bulu.
“Jangan lama-lama janji.”
Nah berhasil!
“Janji.”
Kalau begini ‘kan Gema bisa tenang kerjanya. Bukan nggak mau bawa Alara, tapi yang namanya kandungan masih di awal tuh paham lah ya Bund.
“Hati-hati Abang.” Lara salami tangan Gema.
“Kamu juga.” Yang Gema balas dengan kecupan di kening lama lalu beralih mengecup bibir Lara sekejap.
Rasanya tuh nyesss gitu. Ada yang di pamitin dan mesenin buat hati-hati. Jadi memang seperti ini dunia pernikahan yang orang lain rasakan. Gema baru tahu rasanya.