42

1422 Kata
Alara pernah diberi nasihat oleh teman semasa kuliahnya dulu. Bahwa katanya, sepatu yang ketika kamu kenakan ternyata menyakiti kakimu, berarti bukan ukuranmu. Begitu pun tentang apa pun yang hilang darimu, Tuhan akan mengembalikannya padamu dengan bentuk yang berbeda dan yang lebih baik. Dan mencintai diri sendiri itu, adalah bagaimana tentang memahami. Jika dirimu tidak perlu menjadi sempurna untuk tetap menjadi baik. “Kamu tidak butuh tempat yang indah, yang kamu butuhkan adalah sosok yang menjadikan semua tempat indah.” Alara Senja merasakannya. Setelah sebelumnya mencoba lepas dan mengikhlaskan. Ada yang hadir lebih dari kata indah untuk hidupnya. Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Yang tanpa lara duga-duga untuk bisa sampai di titik ini. “Ibu mau masak apa?” “Sup ayam Mbak sama mendoan.” Adalah mbak Mar. Yang sudah ada di rumah ini sebelum Lara dan Gema menempatinya. “Tak bantuin ya, Bu?” Lara tidak menolak. Membiarkan Mbak Mar mengerjakan sebagian dari tugasnya. Jika sampai menawarkan bukankah artinya ada rasa sungkan yang Mbak Mar rasakan? “Ayamnya di rebus langsung ya mbak. Biar nanti kaldunya di bikin kuah sop.” Alara yakin Mbak Mar sudah tahu. Tapi tahu nggak sih rasanya canggung? “Iya, Bu.” Dan juga cara Mbak Mar memanggil dirinya itu formal banget. Padahal Lara jauh di bawahnya. Yang nggak harus di panggil dengan ‘Ibu’. Lara malu. “Mbak?” panggil Lara pelan. Tangannya sambal mengiris bawang merah dan bawang putih di atas telenan. “Ya bu?” Nah, 'kan lagi. Gitu saja terus. “Bisa nggak jangan manggil ‘Bu’? Aku sungkan.” Lara mulai dengan dari dirinya untuk bersikap santai supaya Mbak Mar mau ikutan santai. Ada keraguan sebelum menjawab. “Sudah prosedur, Bu. Nggak enak kalau mau pakai bahasa yang santai.” “Biar gaul kita mbak.” Lara bercanda. “Aku masih muda loh, Mbak. Di panggil ‘Bu’ entar orang-orang nyangkanya yang sudah tua saja.” “Asal jangan tua-tua keladi ya, Bu.” Seloroh Mbak Mar. “Gitu dong.” Lara suka dan mulai ada yang nyambung di antara dirinya dan Mbak Mar. “Aku tuh ngga ribet mbak. Sama aku anggap saja kayak teman sendiri. Mbak bisa cerita ke aku misalnya ada masalah atau minta saran dari aku ketika punya problem yang nggak bisa di pecahin. Eh! Sama saja nggak, sih?” Begitu tersadar baik Lara mau pun Mbak Mar sama-sama tertawa. Dan suasana canggung yang sejak semula tercipta berangsur luntur. Bagi Lara, menciptakan suatu hubungan dengan siapa pun bukanlah hal sulit bagi dirinya. Walau kesannya dingin dan cuek, Lara tetap punya sopan santun untuk bisa memiliki hubungan dengan beberapa orang baru. Manusia mana bisa hidup tanpa manusia lainnya, 'kan? Kecuali yang nggak sadar arti sosial dan arti manusia yang sesungguhnya. Nggak heran. Hanya membatasi, itu saja. Jadi Lara tidak mau terlalu dekat namun juga tidak mau terlalu menjauhi. Sewajarnya saja. Karena apa? Pernah dengar atau baca suatu kalimat nggak, kenapa beberapa orang memilih menjadi orang baik? Bukan memilih seperti yang menjadi kemauannya. Namun lebih kepada karena dunia pernah memperlakukan dia dengan buruk sehingga dia tidak ingin orang lain merasakan apa yang pernah di rasakannya. Nah kadang, cara pikir manusia juga unik. Menurut Lara, kalau dirinya sudah di buat sakit oleh masa lalu terlebih jika dunia pernah berlaku buruk padanya, ya semuanya akan terasa biasa saja. Seperti katanya tadi; sewajarnya. Nyatanya yang berlebihan memang nyakitin. Pun masih banyak manusia yang tidak tahu diri bahkan balas budi. “Mbak Mar anaknya berapa?” Lara berani bertanya begitu karena melihat ada cincin yang melingkar di jari Mbak Mar. “Kampungnya jauh?” Gema pernah cerita kalau Mbak Mar ini dari Garut. Itu juga bukan Garut Kota letak desanya. Masih masuk lagi. Lara juga kurang paham. “Dua,” jawab Mbak Mar yang meninggalkan nada sendu di suaranya. “Kalau sama Garut masih ada satu jam lagi, Bu.” Loh! Masih belum ketinggalan. “Eh! Anu … anu.” Bingung dan gelagapan jadi satu. “Pelan-pelan saja mbak.” Lara tertawa sendiri. “Aku paham kok. Pasti sulit banget.” “Enaknya manggil apa ya Bu.” Lara letakkan pisaunya dan mengangkat tangannya ke dagu. “Nama juga boleh mbak.” “Nggak sopan!” Asli, Lara ngakak sendiri. Ngerjain Mbak Mar ternyata seenak ini. “Ya pokoknya senyamannya Mbak saja mau gimana dan mau manggil apa. Terus itu di sana sama siapa Mbak? Sama bapaknya?” Karena Gema tidak bercerita apa-apa soal keluarga Mbak Mar. Cuma dari mana asalnya. “Sama neneknya. Ibu saya. Bapaknya sudah meninggal satu tahun yang lalu.” Duh! Pantas kok tadi ada suara sendunya. Ternyata ini. Dan Lara merasa bersalah sudah mengangkat topik yang salah untuk di jadikan bahasan. “Maaf ya, Mbak. Aku nggak tahu.” “Nggak apa-apa, Bu. Itu sudah takdir, nasib saya dan anak-anak.” “Belum kepikiran mau nikah lagi mbak? Maksudnya buat bapaknya anak-anak.” “Enggak, Bu. Saya mending fokus kerja, biayain anak-anak buat kerja. Kalau mikirin suami nanti malah repot sendiri.” Iya juga, sih. Dalam bayangan Lara pun pasti ada yang namanya menambah soal momongan. Nggak mungkin menikah tanpa punya keturunan yang baru walaupun sudah ada anak sekali pun. Begitulah kehidupan; people come and go. Kalau ada yang datang, berarti harus siap menerima untuk ada yang pergi. Kalau ada yang pergi, berarti harus siap menerima untuk ada yang datang. Sederhananya seperti itu. Makanya Alara Senja selalu punya prinsip. Yang mana sudah dirinya utarakan bersama Bahtiar Gema dan bisa sampai di titik seperti sekarang ini. Sampai sudah ada di ikatan pernikahan yang bersyukurnya tanpa ada drama lagi. 1. Sebelum mencintaiku, kamu harus melepaskan semua orang yang pernah ada di masa lalumu. Lara tahu ini sedikit egois. Memaksa Gema untuk melupakan traumanya dan menjadikannya sebuah pelajaran dari pengalaman hidup. Namun meski begitu, Lara juga tidak bodoh-bodoh amat untuk mau maju dengan nekat menggaet Gema. Lara tidak main-main saat mendatangi ruangan Gema dan menawarkan apa yang sudah dirinya pendam sejauh ini. Alara pikir akan di tolak mentah-mentah. Ya, hanya awalnya. Lalu beralih ke arah yang lebih serius dan berakhir seperti ini. Bukankah itu artinya Gema sudah berusaha? 2. Kalau kamu bosan dan ingin mencari yang lain kabari aku. Kamu nggak perlu berselingkuh. Tahu nggak respons Gema apa? Jadi, sewaktu Lara mengatakan ini, Lara berikan alasan yang jelas, singkat, dan padat kepada Gema. Mencak-mencak, sih awalnya. Tapi langsung kicep dan setuju. Bukan setuju untuk izin selingkuh. Melainkan berkata; Aku nggak sama dengan masa lalu kamu dan aku nggak bisa di samakan dengan apa pun yang sudah membuat kamu terjatuh. Perempuan mana yang nggak meleleh dan lumer? Sekeras Alara Senja pun bisa klepek-klepek coy. 3. Perlakukan aku sebagaimana kamu ingin di perlakukan. Kalau kamu tulus, aku akan membalasnya dengan sepenuh hati. Keunggulan Alara Senja ada di sini. Tidak heran kalau sampai Prabu berselingkuh darinya dan memilih Mosa. Kalau ini antara nggak bersyukur sama serakah. Adik-kakak di embat. Beruntung sekali bertemu dengan Gema yang punya masa kelam kurang baik sehingga sama-sama belajar. 4. Jangan pernah berbohong. Sekecil apa pun kebohongannya, lebih baik jujur. Satu kebohongan kecil, memanggil kebohongan lainnya. Yang tentunya lebih besar dari awalnya. 5. Kalau kita sedang bertengkar, jangan pernah mencari kenyamanan pada lawan jenis selain aku. Aku benci itu. Alara di ledek habis-habisan oleh Gema karena ini. Lara akui bahwa dirinya posesif. Setelah hadirnya Gema, Lara ingin memiliki Gema untuk dirinya sendiri. Dan sudah itu saja. Lara sedang memprotektif dirinya sendiri. “Harumnya nyampe ke depan sana.” Tahu-tahu sudah ada yang memeluk dan mencium Lara dari belakang. Menoleh ke sisi kirinya, sudah tidak ada mbak Mar di sana. Oh pantas ngacir. Ada manusia satu ini yang datang. “Kok cepat.” “Nggak jadi ketemu klien.” “Kenapa gitu?” “Kangen sama kamu, sih.” “Dih, lebay!” “Sumpah, Yang.” “Halah. Ketemu terus tiap hari juga ujungnya bosan.” “Enak saja.” “Lihat deh nanti.” “Kok nantangin, sih?” “Suka-suka aku dong.” “Kamu resek!” “Baru tahu, ya? Kasihan!” Lara suka sekali menggoda Gema seperti ini. Ada perasaan senang dan puas yang menyatu. “Duduk, gih. Aku siapin bentar lagi. Mau jus apa?” “Apa saja. Masakan kamu selalu aku suka.” Jika kamu cukup ikhlas mengucapkan selamat tinggal dan memaafkan orang yang telah mengkhianatimu, hidup akan menghadiahkanmu kebahagiaan. Setidaknya kalimat di atas sudah pernah Gema niatkan dalam hati dan Tuhan membalasnya dengan yang sedemikian baiknya. Punya Alara Senja untuk masa depannya. Ada calon anak yang selama ini Gema idam-idamkan kehadirannya. Dan semua yang pernah hanya bisa bayangkan, kini menjadi kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN