Pada akhirnya Mosa punya kriteria tersendiri dalam menghadapi rasa sakitnya. Selain mengalah dan sudah berusaha yang dirinya bisa untuk bertahan. Sudah memberikan yang terbaik dari semua kemampuannya, menjadi seorang yang penyabar padahal bukan itu sifat asli yang melekat dalam dirinya. Berpikir positif meski banyak overthinking yang dirinya pikirkan setiap malamnya. Dan semua yang membuat Mosa tidak tenang.
Kalau misal hasil dari yang sudah dirinya perjuangkan selama ini, hingga Mosa temukan lelahnya yang selelah-lelahnya, Mosa ingin beranjak pergi meninggalkan semuanya. Karena tahu akan hadir masanya di mana dirinya harus bertahan untuk segera pergi.
Namun mengingatnya kembali, Mosa sadar bahwa ini adalah jalan yang sudah dirinya ambil. Keputusan mendalam yang sudah merusak semuanya hanya untuk sampai di titik ini. Lalu ingin pergi begitu saja?
Terus, ke mana perginya Mosa yang selama ini amatlah ambisius dan keras dalam mencapai sesuatu?
Mosa juga sedang berpikir. Sedang meraba perasaannya sendiri untuk sampai di mana dan kenapa bisa seperti ini. Mosa seperti tidak punya daya untuk memahami dirinya sendiri. Dan lebih dari itu semua, Mosa lebih suka diam untuk merenung. Padahal tidak seharusnya begitu.
Ada satu waktu di mana Mosa berpikir untuk memperbaiki hubungannya dengan Prabu. Tapi teringat akan semua sikapnya, bukankah Prabu hanya objek ambisinya saya?
Mosa mengejar Prabu hanya karena untuk memenuhi hasrat kepuasannya semata kalau dirinya lebih dari seorang Alara Senja?
“Sudah ketemu alasannya?”
Kepala Mosa terangkat dan mendapati Lara dengan senyumnya yang manis. Mendadak, perasaan tidak suka itu muncul. Mosa sudah menghancurkan Lara namun yang Mosa temui justru kebahagiaan lebih yang Lara dapatkan.
Kenapa, sih?
“Kamu harusnya berubah,” kata Lara yang mengundang kerutan di dahi Mosa. “Nggak seharusnya kamu ngejalanin hidup yang gini-gini saja.”
“Tahu apa sih lo soal kehidupan gue?”
Dan Mosa memang selalu seangkuh itu. Tidak heran kalau Lara harus bersabar penuh ekstra dan santai dalam menghadapi. Beda lagi jika Lara masih Alara Senja yang dulu. Yang akan menyerang dirinya adalah kepanikan dan kegelisahan.
“Ada tiga alasan kenapa seseorang nggak mau lagi cerita soal masalahnya. Atau apa pun yang mereka alami. Pertama …” Lara memberi jeda untuk menelisik ke dalam mata Mosa yang hitam pekat. Ada dendam, ada sakit, dan rasa iri yang tidak pernah runtuh sejak dulu. “Itu nggak berarti lagi buat orang itu. Sudah nggak ada artinya sama sekali. Kedua, nggak penting buat kamu ketahui. Zaman sekarang banyak orang bertanya ‘kenapa’ tapi ada alasan di baliknya. Kenapa untuk peduli atau kenapa untuk kepo. Dan yang terakhir, itu bagian paling sakit buat di ceritain lagi.”
Ngomong-ngomong soal rasa sakit, Lara juga merasakan sakit. Perihal sikap Mosa yang sudah menyakitinya, menjadi pengkhianat untuk dirinya dan bahkan kepada kedua orangtuanya. Yang tidak pernah Lara pahami hanyalah; kenapa mama dan papanya memberikan dukungan untuk Mosa bersama Prabu padahal jelas-jelas Prabu miliknya. Yang sebentar lagi akan naik ke jenjang yang lebih serius.
“Lo nggak tahu apa-apa dan main ngomong seenaknya.” Mosa masih menyangkalnya. “Kayak lo yang paling kenal sama gue.”
“Itu benar kok.” Lara meminum cokelat dinginnya dengan topping keju di atasnya. “Berapa lama kita menjadi keluarga? Lucu kalau kamu menganggap aku rival.”
Sudah Lara lepaskan sejak lama. Sejak Lara memutuskan untuk hidup sendiri, di hari itu juga Lara putuskan untuk tidak meratapi nasib buruknya.
Ada kata-kata seperti ini;
Lucu, ‘kan?
Semesta meminta kita untuk berdamai dengan keadaab, sementara keadaan membunuhmu secara perlahan. Pikiranmu di kacaukan, hatimu di hancurkan, lalu memaksamu untuk ‘hahahihi’ di depan semua orang-orang.
Tapi Alara Senja sudah menjalani fase tersebut. Lara sudah sangat kuat dan menutupi topeng lukanya untuk selalu baik-baik saja.
“Seleksi alam itu nyata.” Lara melanjutkan setelah tidak ada jawaban yang akan keluar dari mulut Mosa. “Siapa pun bisa mencintai kamu, suka sama kamu, dan bahkan dengan bangganya kamu senang karena ada yang kagum serta memuja kamu. Tapi saat kamu terjatuh, itu adalah kesempatan untuk kamu melihat siapa-siapa saja yang tulus dan yang benar-benar tulus ke kamu.”
Jujur, Mosa tidak tahu apa alasan Alara Senja berbicara seperti ini. Bukan tidak ingin memberikan respons yang baik. Mosa diam-diam juga berterima kasih. Namun ini sudah melebihi batasnya bagi dirinya yang kebingungan.
“Dan gue nggak pernah ngerti kenapa lo harus ngomong kayak gini? Kadang, gue bingung sama cara pandang lo tentang seseorang. Di bilang terlalu dini dalam menilai, nyatanya lo nggak bisa dekat sama mereka. Di bilang lo yang open minded, nggak semuanya bisa lo jadikan kenyamanan. Lo nggak bisa, ya, sedikit lebih dekat sama orang luar?” cecar Mosa.
Tanpa Mosa tahu bahwa Lara sudah lebih dulu merasakan yang namanya sakit.
Tahu tidak, sih sewaktu Lara di patahkan oleh Prabu hancurnya Lara seperti apa?
Di luar memang kelihatannya baik-baik saja namun jauh di dalamnya, Lara merasakan kehancuran yang lebih dari berkeping-keping. Lara merasakan gelisah setiap malamnya tanpa ada yang mau memberinya ketenangan. Lara berpikiran buruk setiap harinya tanpa bisa mengalihkannya secara perlahan. Dan untuk bangkit dari itu semua, Lara keluar dari kubangan yang benar-benar sudah membuatnya basah kuyup tanpa satu tangan pun yang mau memberinya uluran.
Orang lain mana ada yang tahu. Di balik kesibukan yang Alara Senja ciptakan, ada rindu yang sangat menyedihkan untuk orang yang bukan lagi miliknya. Namun di balik itu semua juga ada harapan yang diam-diam Lara panjatkan untuk sekadar tahu kabar dari Prabu. Walau mustahil.
“Kamu tahu nggak, kalau cinta itu bukan melepas tapi merelakan. Bukan memaksa, tapi memperjuangkan. Bukan menyerah tapi mengikhlaskan. Bukan merantai tapi memberi sayap.” Lara terdiam sejenak. Mosa juga tidak memberi komentar. Entah sudah muak atau memang sudah tidak ingin bersinggungan dengan Lara. “Terus kamu mau nyerah gitu saja? Setelah yang kamu lakuin ke aku, kamu buat aku nggak berarti. Bikin aku nyalahin diri sendiri dan nilai bahwa aku nggak pernah berharga. Kalau iya, kamu jahatnya nggak ada batas. Kamu sudah hancurin hidup orang lain cuma buat kesenangan kamu doang.” Berganti Lara yang mencecar Mosa.
“Di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan. Lucu kalau kamu nganggap masih kebetulan pas kamu ngerebut apa yang bukan punya kamu. Kamu nyentuh punya orang lain, kamu hancurin hidup orang lain. Wah …” Lara masih terus melanjutkan tanpa peduli apa yang akan Mosa ledakkan sebentar lagi. Bagi Lara, kata-kata seperti ini yang sudah ingin dirinya sampaikan dan baru terealisasi sekarang. “Mosa.” Panggilnya pelan. Mosa menatap dengan tenang Lara yang mulai mengatur napasnya. “Ini sudah di takdirkan sama Tuhan termasuk kamu yang ngambil punya aku. Dari sana aku paham, ada porsi di mana seluruh kehidupan aku terbentuk. Yang baik melatih aku untuk bersyukur. Dan yang buruk melatih kita untuk bersabar.”
Dan Lara berdiri dari duduknya. Hengkang dari sana setelah menatap Mosa sebentar. Tidak ada yang Lara pendam lagi setelah mengungkapkan perasaannya yang bertahun-tahun di pendam. Namun juga tidak ada kelegaan walaupun sudah Lara ikhlaskan. Tidak apa. Setidaknya, kehidupannya yang sekarang sudah lebih dari baik. Tuhan sudah memberikan pengganti yang lebih dari apa yang pernah Lara dapatkan di masa lalu.
Prinsip Lara begini: bila aku sudah memilih melepaskanmu, percayalah, aku sudah mematahkan seluruh hatiku. Aku sudah berdebat hebat dengan diriku sendiri. Aku sudah melangitkan ribuan doa agar Tuhan menunjukkan jalan selain perpisahan. Sebelum akhirnya aku terima takdir-Nya bahwa memang satu-satunya cara adalah rela.
Dan Lara sudah tidak punya lagi alasan untuk berharap.
Lain halnya dengan Mosa yang memandang punggung Lara secara intens. Semakin lama, semakin menjauh, dan semakin Mosa ketahui bahwa Lara pernah rapuh. Bahwa Lara tidak sekokoh dugaannya. Bahwa Lara pernah membawa punggung itu meringkuk untuk menjadi pelukannya. Dan fakta bahwa Lara bangkit sekuat itu, Mosa tahu juga menyesal pernah menorehkan luka sedalam yang tak bisa dirinya ukur.
Dan Mosa menitihkan air mata tanpa bisa menyadari dengan cepat. Jika semuanya sudah terlanjur terjadi.