44

1202 Kata
Aku tidak sekuat yang kamu kira; pura-pura tidak ada kabar. Sebenarnya itu cuma ingin dicari olehmu. Tetapi, nyatanya kamu tak mencari, seolah tak ada rasa khawatir sama sekali Padahal, saat kamu hilang seharian, aku begitu cemas. Kok kamu tidak? Kita sangat berbeda ternyata. Sebelum ini, sebelum Alara Senja hadir kembali—bukan hadir seperti kebanyakan yang di bayangkan. Hadir karena memang Alara Senja adalah anak dari keluarga mertuanya. Yang dalam satu kali pandang sudah mampu meruntuhkan pertahanan Prabu. Prabu pernah baik-baik saja. Prabu tidak berharap banyak pada setiap kesempatan karena sadar soal pilihannya sendiri. Maka, Prabu mencoba untuk mengenali dan mensyukuri setiap pilihannya. Itu rumit, pada awalnya. Namun secara perlahan berangsur membaik. Yang tidak pernah Prabu habis pikir hanyalah Mosa yang berubah sikap setelah pernikahan keduanya di langsungkan. Mosa menjadi sosok yang begitu jauh untuk bisa Prabu sentuh. Mosa menjadi sangat cuek dan dingin sehingga Prabu merasa lelah sendiri. Mosa benar-benar berbeda dari apa yang pernah Prabu kenal sebelum keduanya menikah. Tidak ada rasa khawatir seperti sebelumnya yang Mosa berikan. Tidak lagi ada kata-kata manis seperti yang selalu di ucapkan. Tidak ada sambutan hangat dan pelukan menenangkan kala Prabu merasa lelah dengan aktivitasnya. Sampai akhirnya, Prabu berpikir bahwa, apakah mungkin memang kehidupan sebuah rumah tangga seperti ini? Tapi yang selalu Prabu lihat, dan yang terjadi pada teman-temannya tidaklah demikian. Atau hanya perasaan Prabu saja atau Prabu yang selalu melihat segala sesuatunya dari luar? Faktanya, ada perkataan seperti ini: Fisika itu seperti: Kamu, sulit di mengerti dan di pahami. Sedang kimia itu seperti: Perasaan yang di buat terpikat kemudian di jatuhkan ke jalan yang sesat. Yang jika boleh Prabu simpulkan, itu artinya Mosa tidak benar-benar dengan Prabu. Prabu hanyalah objek kemenangan dari obsesinya. Itu saja dan Prabu sadar diri. “Ayo cerai. Aku mau kita cerai.” “Tiba-tiba banget?” jawaban Prabu santai dan tidak ada ekspresi kaget sedikit pun di wajahnya. Mosa sudah tidak satu kali mau pun dua kali mengajukan cerai seperti ini. “Kok mendadak?” Prabu memang sudah tahu kalau jalan dalam rumah tangganya akan begini akhirnya. “Kamu yang lama. Aku sudah ngajakin dari dulu.” “Duduk dulu, Sa.” Prabu Tarik tangan istrinya dengan lembut di sertai menyelusupkan jari-jari kekarnya ke jari-jari kecil Mosa. Menggenggamnya sejenak dan tidak ada penolakan dari Mosa. “Sudah kamu pikirin?” Prabu ambil pulpen di atas meja. Hendak membubuhkan tanda tangan alih-alih mengulur waktu untuk mendengar jawaban Mosa. “Sudah.” Singkat, jelas, dan padat. “Masih ada waktu buat berubah pikiran. Zaman sekarang, biaya nikah sama biaya cerai masih mahalan biaya cerainya. Kamu nggak mau kita memulai dari awal lagi?” Diam-diam Prabu tidak menginginkan sebuah perceraian. Baginya, pernikahan itu sakral. Prabu tidak ingin hal yang pernah terjadi, harus terjadi lagi untuk kedua kalinya. Karena nyatanya, menjaga tidaklah semudah saat kita mendapatkan. Yang sudah ada, harus di jaga. Sebab, dia sudah membuktikan dirinya setia kepadamu. Jangan justru mencari dan menerima yang baru lagi. Sebab, yang baru memang kelihatan sempurna dan menarik, tetapi belum tentu sesetia dia yang sudah lama bersamamu. Itu yang dulu pernah Prabu rasakan kepada Alara Senja. Jika harus mengatakan sekarang soal sebuah kesetiaan. Alara tetap menjadi pemenangnya. Bagi Prabu, Alara adalah sebuah luka sekaligus obat yang bisa memberikannya penyembuhan. Tapi tidak etis jika harus Prabu suarakan secara langsung. Di samping bukan lagi miliknya, bukan lagi haknya. Prabu sudah menjalani kehidupan atas keputusan yang telah dirinya pilih. Selain itu, harus diingat, bahwa karma orang yang setia, itu akan datang dari orang yang sangat kamu sayangi dan cintai juga nantinya. Prabu sadar bahwa setiap perbuatan selalu ada ganjarannya. Dan apa yang sedang dirinya jalani adalah buah dari hasil masa lalunya. “Aku tahu, aku nggak banyak belajar soal hubungan kita. Aku harusnya sadar ketika kamu ngejauh bukan artinya aku harus menjauh juga. Aku salah, aku akui.” Prabu menunduk masih dengan menggenggam tangan Mosa. Dan tidak ada penolakan untuk apa yang Prabu lakukan. “Aku egois di hubungan kita. Tapi aku bersumpah. Sewaktu ijab dan qabul terucap, yang ada di pikiran aku cuma kamu dan tentang kita. Aku nggak mau ada perpisahan dan lain sebagainya. Bagi aku yang egois ini, pernikahan hanya boleh terjadi satu kali tanpa ada perpisahan kecuali maut.” Ada yang tahu bagaimana perasaan Mosa? Karena sudah di katakan bahwa yang terlihat baik-baik saja belum tentu aslinya seperti itu. Yang tegar, belum tentu sekuat kelihatannya. Semuanya hanya terlihat dari mana dan bagaimana cara kita memandang. Mosa nggak akan munafik kalau dirinya benar-benar tersentuh. Dan di antara itu semua, Mosa bisa merasakan apa yang Alara Senja rasakan dulu. Seorang wanita yang kuat akan mengambil tindakan untuk berhenti mencoba jika dia merasa tidak diinginkan lagi. Dia tidak akan memintanya atau mengemis, dia akan pergi begitu saja. Harga diri adalah segalanya bagi wanita yang kuat dan berakal sehat. Mosa baru saja berpikiran untuk melakukan hal ini. Dan Prabu datang dengan semena-mena—tidak juga sebenarnya. Namun cukup membuat Mosa terkejut. Karena selama ini, Prabu pun terkesan menjauhinya. Tanpa di sadari bahwa diamnya Prabu sedang mencari sebuah jalan. “Aku nggak banyak berharap tapi aku juga nggak bohong kalau aku mau kita tetap bareng.” Sekali lagi dan Mosa masih bungkam. Ingin ada yang di ucapkan namun lidahnya kelu. Kenapa, sih, di saat ada kesempatan untuk ngomong, mulut serasa terkunci? Sebel, deh! “Kamu mau, ‘kan?” Tahu nggak? Selucu apa wajah Prabu waktu minta kayak gini? Mosa sampai menahan tawa karena malu namun juga gemas dengan ekspresinya yang lucu. Persis kayak bocah lima tahun yang lagi memohon minta di belikan lollipop warna-warni. “Aku minta maaf.” Sekali lagi masih Mosa diamkan. Bukan secara sengaja. Mosa hanya ingin tahu sejauh mana kiranya Prabu mencoba untuk memperbaiki. Jika berbicara perkara salah, maka Mosa akan mengakui kesalahannya. Hanya dalam hati saja. Gengsi dong kalau ngomong secara langsung. “Kamu tahu?” Prabu masih melanjutkan begitu melihat Mosa tetap diam tanpa suara. Setelah menghela napas karena terlalu lelah untuk banyak hal yang tidak Prabu ketahui entah apa. “Di dunia ini, ada empat tipe dalam kamu mencintai. Pertama, dia mencintaimu tapi kamu nggak mencintainya. Kedua, kamu mencintainya tapi dia tidak mencintaimu. Ketiga, kamu mencintainya dan dia juga mencintaimu meski kamu nggak sampai akhir. Yang terakhir, kamu nggak cinta tapi harus bersamanya.” “Ini dalam banget, sih.” Mosa membuka suaranya dan duduk beralih duduk di samping Prabu sampai sang empunya kaget. “Tapi aku suka.” “Suka apa?” “Rayuan kamu.” “Aku nggak lagi ngerayu.” Begitu kalau ada emotikon yang bisa Prabu gambarkan. “Aku tuh jujur. Serius nggak mau pisah dari kamu.” “Oke.” “Oke apa lagi? Kamu kalau ngomong nggak jelas!” “Kamu cerewet!” “Kamu bebek.” Suatu saat nanti akan ada waktu di mana aku akan menjadi rindu yang paling menyakitkan untukmu. Dan kamu akan mengingatkanku, lalu tanpa sengaja kamu berkata: Dia perempuan yang pernah kukenal, yang tidak pernah meminta apa pun dariku, dan menerima setiap sisi burukku. Tapi selalu aku sia-siakan kehadirannya karena ketidakpuasanku dan ambisiku tentang wanita yang kukira lebih baik darinya. Padahal kenyataannya dialah yang terindah dan keberadaannya sulit digantikan bahkan sulit untuk dilupakan. Dari Prabu yang penuh sesal untuk Alara Senja yang pernah dirinya buang untuk menggantikannya dengan yang baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN