45

1268 Kata
Alara Senja kalau di tanyain; pernah nggak keingat sama mantan yang notabenenya pernah bareng kamu lama banget. Maka, jawaban Alara adalah; pernah. Dan itu wajar. Kenapa? Karena basicly dia orang yang paling dalam sejarah percintaan. Karena yang paling lama kayak yang punya tempat tersendiri di hati. Sekarang ini lagi trendnya. Lara hela napasnya perlahan dan usapi perutnya yang mulai numbuh benjolan. Bosan dan gabut sebenarnya. Bahtiar Gema nggak main-main soal ucapannya yang mau menguasai Lara buat dirinya sendiri dan di bangunlah penjara yang bikin Lara mau nggak mau harus di rumah. Hanya sesekali bisa keluar rumah. Itu pun dengan Gema. Oke, balik lagi ke tema yang lagi trendnya. Kalau sekarang ini ‘jagain jodoh orang’. Pacaran sama siapa, eh nikahnya sama siapa. Atau, siapa yang berjuang dan siapa yang menikmati. Tapi kalau Lara nggak bakalan kaget, sih. Di samping pernah ada dan mengalami posisi yang seperti itu. Lara lebih kepada ikhlas. Karena ya, kita mana tahu soal takdir dan di takdirkan. Alara mungkin yang terlalu kaku dalam sebuah menerapkan prinsip. Takdir bisa mengubah yang tidak cinta menjadi cinta. Tapi cinta, tidak bisa mengubah yang bukan takdir menjadi takdir. Itulah kenapa kita perlu berdoa; agar ketika kita jatuh cinta kepada yang bukan takdir, ikhlas akan selalu hadir di akhir. Dari kalimat ini, Lara belajar yang namanya sabar dan ikhlas. Tidak serta merta langsung terwujud dengan sekedip mata. Masa hancurnya, masa di khianatinya, dan segala tentang masa lalunya yang buruk. Lara mengingatnya namun bukan untuk berada di tempat. Dengan adanya kondisi yang dirinya alami, Lara tahu bahwa pembelajaran terbaik dari perjalanan hidup adalah pengalaman. “Mikirin apa?” “Ngagetin!” Bersungut-sungut kesal dan menggeplak lengan Gema dengan lumayan kencang. “Biasain masuk rumah tuh salam Abang! Kasihan dedeknya bisa kaget.” “Sudah loh.” Gema membela diri yang memang itu adanya. “Abang dari masuk pintu sampai sini sudah salam, sudah teriak dan manggil-manggil kamu, Yang. Kamu nih yang lagi asik sama pikiran sendiri. Mikirin mantan?” “Iya. Kenapa? Iri? Cemburu?” Lara nggak akan mengelak apalagi menutupi. Apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang dirinya alami, Gema berhak tahu. Karena menikah, buat Lara nggak sekadar soal urusan cinta dan mencintai. Bukan juga soal urusan dua orang yang menyatu dalam hati. Itu klasik dan Lara menilainya wajar terjadi. Tapi ada yang lebih krusial dari itu. Bahwa keterbukaan dalam sebuah hubungan dan saling percaya itu penting. Keterbukaan pun bukan cuma perkara apa yang di butuhkan dan diinginkan. Sekecil ini pun termasuk wajib di sampaikan agar tidak menimbulkan pikiran buruk beserta kawan-kawannya. “Ada yang mengganggu?” Alara Senja wajib bersyukur nggak, sih, punya Bahtiar Gema sebagai suaminya? Yang dewasa dalam bersikap dan tenang dalam menghadapi masalah. “Enggak juga kok.” Lara berikan camilan kue keringnya kepada Gema yang langsung di terima. “Cuma iseng, Bang. Jadi aku habis baca konten di snapgram. Ada yang bikin pertanyaan; punya kenangan apa sama mantan yang ada di daftar perjalanan cinta. Itu doang.” “Abang posesif loh, Ra. Cemburuan juga. Sejak kamu masuk, Abang pernah bilang buat nggak ngasih kamu izin keluar.” “Tahu! Tanpa Abang bilang pun aku tahu Abang cemburunya nggak ada obat.” “Terus?” “Dih ngeselin banget. Kayak yang paling benar saja.” “Loh, jadi Abang salah?” “Ingat! Wanita selalu benar.” “Nggak berlaku ya, Ra sama Abang.” “Abang jual geh.” Memang serandom itu. Makanya Alara Senja merasakan yang namanya rasa beruntung tiada tara. Karena sudah Tuhan gantikan masa kelamnya, rasa traumanya dan segala keburukan tentang hidupnya di masa lalu dengan hadirnya Bahtiar Gema. Yang menutupi segala kekurangannya, dilengkapi dengan kesempurnaan yang Gema miliki. “Aku nggak ada Abang bisa apa?” “Kamu lagi merayu?” “Nyuci.” Jangan di nilai dengan satu tarikan napas bahwa itu sikap yang tidak menghargai. Bukan begitu. Lara membuat apa yang dirinya ucapkan sebagai bentuk ungkapan dan Gema memberikan respons sedemikian rupa agar tidak ada pembahasan lebih mendalam. Loh, kok bisa? Bisa. Gema bukan tidak ingin mendengarkan. Namun, lebih kepada jangan terlalu larut dalam genangan masa lalu. “Orang baru memang akan lebih menarik dan tampak lebih sempurna. Sedangkan yang lama, sudah terasa biasa karena sudah lama bersama-sama. Kita pernah bahas ini sejak awal—kalau Abang nggak salah ingat. Bahwa alasan paling kuat kenapa Abang harus seriusin kamu bukan cuma perkara isi duluan. Tapi, Abang peduli sama masa lalu yang kamu punya dengan sebuah hubungan yang cukup lama. Abang juga punya rasa khawatir, Ra. Abang takut kalau suatu saat nanti kamu berpaling karena terlalu lamanya kita menjalin hubungan.” Gema menjeda dengan embusan napas yang cukup berat. Dan Lara mengelusi lengannya dengan pelan. Menyampaikan pesan tanpa suara bahwa semuanya baik-baik saja. “Tapi, kamu juga harus catat ini. Kalau pilihan Abang nggak salah kali ini. Gagal satu kali sudah bikin Abang paham dan selektif dalam memilih. Bahwa kebersamaan yang cukup lama terjalin adalah bentuk dari sebuah keberhasilan. Dia yang setia dan sayang kepadamu. Karena dia sudah banyak menemanimu dari masa-masa susah hingga sekarang. Sedangkan yang baru, belum tentu sekuat dia saat menjalani hidup denganmu. Lagi pula, orang yang punya hati dan perasaan, nggak mungkin pergi dengan orang lain. Itu kenapa Abang bisa ada di sini saat ini.” “Ini bukan sesuatu yang harus Abang khawatirkan. Aku sama sekali nggak ingat tentang sesuatu yang dulu.” Alara coba yakinkan Gema meski tahu bahwa Gema setenang ini pun tetap punya rasa jedak-jeduk di jantungnya. Alara suka bingung kalau harus menghadapi Gema yang mode kayak gini. Mau di bilang lebay, tak patut. Orang tua, loh dia. Lara masih ingat dosa dan jajarannya. Tapi kalau nggak lebay, terus namanya apa dong? Soalnya Gema diam-diam punya overthinking yang nggak ada akhlaknya. Alasannya? Pernah Alara tanya. Dan jawaban singkat, jelas, bin padat; trauma. Memang, ya! Trauma nggak ada tanggungannya. Sakitnya sedetik, hancurnya nggak cukup semenit. “Abang?” panggil Lara padahal orangnya ada di hadapannya tepat. Bisa-bisanya main teriak saja. “Aku bangga kenal Abang.” Yang langsung menyatu kedua alis Gema dengan lucunya. “Setiap manusia itu bisa berubah. Yang namanya penjahat, nggak selamanya bakal jahat atau pun bakal selalu di nilai jahat. Yang buruk juga nggak selamanya buruk. Semuanya tuh ada kebalikannya tergantung dari kita mau menilainya yang kayak gimana. Nah, sama juga kayak sifat baiknya seseorang. Nggak semua sifat dapat dinilai dengan mata telanjang. Kayak yang Ara bilang tadi; balik ke diri masing-masing. Nyatanya manusia itu punya sifat yang dapat berubah-ubah. Yang nggak bakalan pernah bisa kita tebak sekali pun sama logika.” Ada benarnya juga. Gema merenung mendengar pernyataan yang Alara sampaikan. “Kayak Abang.” “Kok Abang? Kok bisa?” Heboh! “Kita ambil contoh yang paling dekat.” “Lainnya 'kan bisa, Yang.” “Sama Abang saja.” Lara sudah cemberut dan kesal. Gema memang nggak ada akhlak sama sekali. Entah ketinggalan di mana. “Abang mana pernah kepikiran buat cinta sama Ara?” Ini pertanyaan yang cukup ngasih jebakan tapi Gema nggak bisa main setuju saja. Mana tahu habis ini Lara mau ngasih jawaban yang mencengangkan. “Gimana, ya, Ra.” Mengulur waktu. Gema usapi dagunya yang mulai kasar. “Abang nggak pernah punya rencana, jujur nih.” Anehnya Lara tersenyum dengan sangat manisnya. Mendadak Gema sadar kalau istrinya adalah keturunan psikopat yang nyamar jadi cewek cantik. “Itu yang aku maksud sama penjelasan di atas.” Kok nggak marah, ya? Gema bingung di buatnya. “Kok nggak marah, Yang?” “Buat?” “Abang jawab apa adanya loh.” “Kalau abang bohong, Ara makin marah.” Sadar tidak, sih, kalau Lara memanggil namanya sendiri seperti itu bikin Gema gemas?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN