Di mana pun tempatnya. Beberapa orang kesulitan untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Ada banyak pertentangan yang di rasakan dan gejolak di hatinya. Siap meledak kapan pun dan di mana pun.
Tapi coba ubah konsepnya. Alara Senja sudah pernah menerapkan hal ini untuk menekan dirinya sendiri. Ya awalnya memang nggak enak. Di samping nyiksa, sakit hatinya perlahan terus menggerogoti. Tapi Lara sadar, hidup tidak untuk berhenti di sini saja apalagi mundur ke belakang. Karena hidup yang sesungguhnya adalah berjalan ke depan.
Pertama, memaafkan orang lain walau hati tersakiti. Agar tidak terus memikirkannya dan menghambat keberlangsungan hidup. Biarkan semesta yang bekerja atas apa yang telah terjadi.
Sudah Lara singgung di atas bahwa semuanya pun butuh proses. Nggak serta merta menerapkan langsung instan hasilnya. Masak indomie legendaris saja harus ada acara nuang air ke panik, nyalain kompor, tunggu sampai airnya matang—yang muncul gelembung-gelembung gitu—lalu masukkan mienya, tunggu lagi sampai ikatan keriting-keriting itu terlepas barulah masukkan bumbu-bumbunya. Itu baru yang simple. Belum ada tambahan bawang merah, bawang putih, cabai rawit, sosis, telur, dan sayur.
Jadi, semua memang membutuhkan proses. Mau hasilnya bagus, ya sabar. Berdoa dan ikhtiar. Pasrahkan semuanya ke Allah.
Kedua, tanamkan dalam diri bahwa hidup bukan hanya hari ini. Tapi ada hari esok dan hari-hari berikutnya. Dengan demikian, akan senantiasa ikhlas menjalani hidup.
Alara nggak mau banyak komentar soal yang kedua. Ini—menurutnya—kembali ke si pemilik rasa sakit hati. Yang mana, masih menyatu dengan poin yang pertama. Jika poin pertama bisa di terima dan di jalankan dengan sebaik yang kita bisa, poin kedua ini takkan terlalu memberatkan.
Hasilnya?
Kita melihatnya nanti saja. Usaha adalah yang terpenting.
Ketiga, kurangi ikut campur dan mau tahu urusan orang. Pahami kebutuhan diri sendiri.
Di kepoin itu nyebelin bin ngeselin. Siapa pun nggak bakalan suka. Kucing peliharaan saja, pas lagi bobok siang di gangguin juga nggak mau. Sama kayak manusia.
Terakhir, doakan diri sendiri dan orang-orang sekitar.
Intinya, marah boleh, kesal boleh, dan bahkan sakit hati pun boleh. Namun jangan sampai lupa untuk berdoa dan mendoakan. Terlebih doa-doa itu akan kembali kepada diri kita sendiri.
“Wah telur balado.”
Jadi, guys, pikiran Alara bisa kapan pun munculnya. Tidak hanya jika sedang duduk dan menatapi kebun bunganya. Lagi masak kayak gini pun, Lara bisa menjelajah ke mana-mana pikirannya.
“Biasaan Abang, deh.”
Lara suka heran dengan Gema yang ngomongnya pakai nada agak tinggi padahal Lara ada di sampingnya. Nggak mungkin ngejauh apalagi ngilang. Tapi Gema sukanya begitu.
“Ada bakwan jagung juga. Kamu masak jam berapa, sih, Yang?”
Bengek!
Jelas-jelas Lara bangun pagi, salat subuh, bahkan yang jadi imamnya itu Gema. Kok bisa-bisanya tanya masak jam berapa?
“Jam suka-suka.”
“Durhaka loh ini.”
“Bodo amat!”
“Nggak boleh gitu, Sayang. Nanti kalau dedek bayinya dengar, bisa bahaya loh.”
Doyannya nampol Lara pakai kata-kata yang sekali terucap langsung bikin mulutnya terkunci rapat.
“Mandi sana Abang!” Lara mengusir terang-terangan nggak pakai basa-basi. “Bau Abang tuh.”
“Abang sudah mandi loh, Yang?”
“Masa?” Lara endusi d**a Gema yang tetap saja tidak ada aroma wangi seperti harum tubuh Gema biasanya. “Bau gini kok.”
“Ini Abang pakai kemeja sama parfum yang kamu siapin loh.”
Iya, Lara juga nggak lupa. Tapi aneh. Gema bau nggak kayak biasanya yang wangi.
“Abang bau pokoknya.”
Dan hengkang dari sana.
Gema di buat cengo sekaligus bingung.
Ingin di kejar, tapi kata-kata Lara selanjutnya, “jangan dekat-dekat aku Abang!”
Skakmat dong kalau kayak gini mah.
Wes lah, ngalah.
Gema diam bengong di samping kompor dan menunduk lesu.
“Ibu hamil dan hormon anehnya.”
Jangan sampai Gema berucap, ‘nyesal bikin Lara bunting.’
Berabe!
Pamali!
Nggak sopan!
***
Mosa, gini-gini juga punya moral yang bisa di katakan baik. Setidaknya itu cara dirinya menghargai dirinya sendiri dan mencintai dirinya sendiri.
Pernah Mosa baca. Konsep moral film jebolan Disney.
Kenapa Cinderella harus meninggalkan istana sebelum jam 12 berdentang?
Jawabannya, untuk memberi tahu kita bahwa segala sesuatunya memiliki batasan.
Lalu apa yang bisa Mosa petik dari tulisan di atas?
Jika dirinya tidak boleh terlalu serakah jika ingin bahagia. Meski kenyataannya tidak demikian.
Kenapa Putri Tidur harus nunggu 1000 tahun untuk sebuah ciuman?
Untuk ngasih tahu kita kalau true love datangnya nggak secepat yang kita pikirkan.
Apa hubungannya dengan kehidupan Mosa?
Tentu saja ada. Mosa akan dengan senang hati mengakui kalau dirinya cukup senang dan bersyukur secara bersamaan. Sebelum Prabu datang atau bahkan sesudah Prabu datang. Jauh sebelum dirinya berada di sini, di titik ini. Bahwa Mosa menemukannya dengan cara penuh pengorbanan.
Kenapa si cantik Belle, bisa-bisanya jatuh hati sama seorang yang buruk rupa?
Untuk memberi tahu ke kita bahwa cinta akan membuatmu melihat apa yang tidak bisa di lihat dari matamu.
Rupa tidak menjadi jaminan untuk kita bahagia.
Kenapa Ariel rela meninggalkan kerajaannya bahkan rela ekornya hilang demi seorang manusia?
Mana ada cinta tanpa pengorbanan?
Beri tahu Mosa jika ada cinta tanpa pengorbanan.
Bahkan sekelas Jack Dawson saja rela mengorbankan hidupnya untuk Rose Dawson hidup lebih baik lagi di masa depannya.
Kenapa seorang Jasmine bisa-bisanya jatuh hati sama seorang pencuri?
Untuk ngasih tahu kita bahwa kita nggak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta bahkan menjatuhkan hati nantinya.
Pada akhirnya, Mosa kembali pada prinsipnya. Bahwa apa yang sudah dirinya mulai dan apa yang sudah dirinya dapatkan, tidak semudah baginya untuk melepaskan. Dan setelah Prabu membawanya masuk kembali ke dalam kehidupan yang sudah keduanya jalani, memulai dari awal bukan sesuatu yang salah.
Memang terlihat seperti drama. Tapi Mosa juga dengan percaya diri mengatakan kepada Gema jika dirinya ingin terus di sukai olehnya, di cintai olehnya, bahkan Mosa ingin menjadi pendengar, sahabat serta pendamping untuk Prabu.
“Meski bisa saja suatu saat nanti kamu memiliki pilihan untuk tidak lagi menyayangi aku. Aku akan terus mencintaimu, tanpa berpikir bagaimana jika takdirku adalah memiliki untuk kehilanganmu.”
Apa yang Mosa ucapkan ini, hampir sama dengan apa yang Prabu pikirkan.
“Sampai hari ini, aku masih memiliki keyakinan bahwa aku tidak sedang menyayangi hati yang jahat. Meski kita tidak selalu pada langkah yang mudah, percayalah, jika suatu hari nanti kita ada dalam keadaan di luar ingin kita, aku akan tetap bertahan sekuat hati mendampingi.”
Baik Prabu mau pun Mosa, sama-sama saling mengungkapkan. Mencurahkan apa saja yang mereka rasakan. Agar tidak ada beban setelah semuanya ingin di mulai kembali.
“Kamu adalah salah satu alasanku senantiasa bersyukur. Dan akhirnya aku menyadari, bahwa: memilikimu mengutuhkan seluruh jiwaku. Meski aku tidak selalu menyenangkan, kadang membosankan, atau sering membuatmu kesal, namun, aku memohon untuk tetap mendoakan aku untuk bisa terus memiliki takdir mendampingimu. Terima kasih sudah membuatku merasa tenang, hanya karena sebuah alasan; dicintai seseorang.”
Begitu saja, senyum Mosa masih terus merekah tanpa henti. Bahkan setelah berselang hari. Sikap Prabu juga menghangat seperti di awal perkenalan keduanya. Tidak ada lagi sikap saling mendiamkan dan melakukan semua aktivitas sendiri.
Yang ada adalah, saling memeluk, mengecup kala pagi hari, dan pesan-pesan singkat penuh cinta.
Mosa baru sadar, bahwa ternyata mempunyai cinta bisa semembahagiakan ini.