Bahtiar Gema tahu rasanya di sakiti seperti apa. Terlebih jika itu di khianati oleh orang terdekat. Dan merasa bersyukur bisa bertemu dengan Alara Senja.
Tuhan kalau punya rencana nggak pernah main-main. Selalu lebih baik dari apa yang tak pernah kita rencanakan. Dan memiliki Alara Senja adalah suatu anugerah yang tak bisa Gema lupakan hingga detik ini. Euforianya tak pernah habis hanya untuk memikirkan Alara Senja.
Sehingga tidak terlalu jauh bagi dirinya untuk berbuat menyimpang seperti sebelumnya. Bersama dengan orang yang sama-sama pernah terluka di masa lalunya memang cerita yang berbeda. Karena sama-sama pernah terluka dan lebih selektif dalam menentukan pilihan.
Makanya, ketika Tuhan menyingkirkan beberapa orang dari hidup Gema—yang memang di rasa berpotensi menorehkan luka. Tuhan sudah mendengar percakapan apa yang bahkan tidak bisa Gema dengar. Tuhan melihat perbuatan apa yang orang-orang itu lakukan yang tidak bisa Gema lihat.
Jadi ini adalah jawaban kenapa kecurangan mereka terkuak dalam bentuk pengkhianatan yang terungkap walaupun itu berakhir menyakitkan.
Sebenarnya, apa yang dilakukan mantan istri Gema dulu bukanlah yang terlalu fatal. Mantan istrinya yang bahkan enggan bagi Gema untuk menyebutkan namanya hanya terlalu fokus dengan kariernya dan lupa pada kodratnya; istri serta ibu.
Mungkin Gema juga yang salah. Kenapa menikahi wanita yang menjunjung tinggi kariernya sedang dirinya adalah seorang lelaki yang menginginkan keturunan. Jelas tidak sebanding.
Seharusnya Gema—dulu—tidak grasak-grusuk sewaktu mengambil keputusan.
Seharusnya Gema berpikir dengan jernih dan punya banyak pertimbangan alih-alih mencari opsi pilihan lain. Tapi yang namanya perjalanan hidup, kita mana bisa menebaknya, ‘kan? Jangankan buat nebak, ibarat kata kalau kita nggak menjajaki lebih dulu jalan setapaknya, nggak akan tahu rasanya perjuangan buat sampai ke ujung sana.
Ada kalanya semesta memaksa raga untuk sendirian. Entah dengan cara di kecewakan atau dengan cara ditinggalkan banyak orang. Semua terjadi bukan karena semesta tak sayang. Kiranya itu adalah bentuk peringatan bahwa tidak semua yang di harapkan akan menjadi kenyataan.
Gema meresapi isi pikirannya yang pernah ada dalam posisi sendiri dan sepi. Gema membenarkan bahwa semesta berhak memberi kita ujian entah apa pun namanya.
Kalau di pikir-pikir ya memang benar adanya. Setelah kita di kasih pelajaran yang bisa di petik dari setiap perjalanan, ketika waktunya untuk diam dan kalah pastinya di kasih kesempatan untuk mengintropeksi diri. Untuk kemudian bisa di pertemukan dengan yang lebih layak lagi. Pilihan dan rencana Tuhan selalu jadi yang baik. Katakanlah pengalaman selalu jadi yang terbaik dalam sebuah perjalanan hidup.
“Abang, Ara pengen mie.”
Gema mengangkat kepada dan mengembuskan napasnya. Alara Senja berjalan menuju kursi kerjanya dan berdiri dengan bibir manyun ke depan.
“Mau mie,” ucapnya sekali lagi dan memilin ujung kaos yang Gema kenakan.
“Itu bibirnya kenapa?” Gema letakkan gadgetnya di atas meja dan berdiri.
“Merajuk aku.”
“Soal?” Akhir-akhir ini Gema suka di ajak deg-degan sama sikap Lara yang berubah-ubah. Sedetik baik, sedetik enjoy, eh sedetik berikutnya kayak kesurupan Lucifer. Siapa coba yang nggak senam jantung?
“Mie.”
“Kenapa sama mienya?” Sudah Gema matikan lampu ruang kerjanya dan menggiring Lara untuk keluar. Gema suka keganggu kalau lagi ada kerjaan dan Lara ikut nimbrung. Bukan takut diganggu tapi kesannya kayak Gema yang lagi selingkuh.
“Abang nggak ngasih izin!”
Mengkerut langsung kedua alis Gema. Perasaan sejak tadi Gema nggak ada omongan nolak permintaan Lara, deh. Kok dirinya serasa kena fitnah, ya?
“Kapan Abang bilangnya?” Diam. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Lara. Tapi bibirnya bertambah maju lima senti. “Mau s**u nggak?”
“Tuh, ‘kan!?” tawaran Gema membuat Lara yang hendak duduk jadi batal.
“Mau yang rasa apa?” Gema ambil kotak-kotak s**u di atas kabinet dapur. “Ada vanilla, cokelat, sama strawberry.”
“Mie.” Kekeuh pada keinginannya. Mata Lara mula berkaca-kaca dan berkata, “Abang mau bayinya lahir terus ileran?”
“Loh! Kan yang mau kamu, Ra, bukan dedeknya.” Istrinya kalau di suruh drama memang nggak kaleng-kaleng, sih. Kebanyakan nonton drama jadi ikutan nge-dramain hidupnya.
Susah, susah!
“Yang mau tuh dedeknya, Abang.”
“Tadi kamu bilangnya ‘pengen mie’.”
“Iya, itu maunya si adek.”
“Adek apa kamu?”
“Adek.” Lara cemberut.
“Kamu ada adek?”
“Kamu.”
“Yakin, ya, Ra?” Alara mengangguk dengan semangat. “Ya sudah yuk.” Gema tarik tangan istrinya yang kebingungan. Wajah cantiknya terbengong-bengong begitu tahu ke mana Gema membawanya. “Kamu tuh masih saja gengsi.”
“Apaan, sih, Abang. Ara mau mie.”
Langkah Gema yang tinggal sejengkal lagi hendak membuka pintu kamar langsung urung. Membalikkan badannya dan mendengus kesal.
“Tadi bilangnya mau aku. Sekarang beda lagi. Kamu ngidamnya apa, sih, Yang?”
“Kapan aku bilang mau Abang? Aku dari tadi mintanya mie Abang. Aku lapar, ih.”
“Ya sudah.” Sedatar itu respons Gema membuat Lara mengedipkan matanya bingung. “Abang mau bobok.”
“Abang?” Lara memanggilnya dengan suara lirih hampir mencicit. “Abang kok tega sama aku, sih? Kok gitu sama aku? Sudah nggak sayang aku lagi, ya?”
Nah, ‘kan!
Makin ke mana-mana saja itu pikirannya.
“Abang jahat banget, sih!?”
Gema cuma bercanda dan sedang godain Lara padahal. Tapi kok malah mewek beneran, ya?
“Cengeng!” ledek Gema setelah tubuhnya melingkupi tubuh Lara. “Gitu saja nangis. Ini babynya cewek nih. Masih kecil juga bikin Maminya rusuh.”
“Sok tahu!”
“Abang, ‘kan papinya. Tahu lah, Sayang.”
“Papi apaan yang bikin anaknya ileran.”
“Iya de hiya. Ayo bikin. Kita bikin dedeknya mukbang di dalam perut. Mienya mau di kasih topping apa?”
“Sosis, bakso, sama chicken.”
Beneran mukbang dong anaknya guys.
Karena bagaimana pun, kalau sudah cinta, sesulit apa pun akan menjadi lebih mudah untuk di jalani.
Kalau sudah cinta, pare pahit saja rasanya bisa semanis cokelat.
Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu.
Bagaimana pun, aku sangat bersyukur karena pernah ada di kehidupanmu dan pernah mengisi hari-harimu. Meski pada akhirnya, aku bukanlah seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pendampingmu.
Dari Bahtiar Gema untuk menutup penuh masa lalunya.