48

1336 Kata
Rindu tidak di ciptakan oleh jarak tetapi oleh perasaan. Engkau merindukannya bukan karena ia jauh namun karena ia telah ada di dalam hatimu. Kayak kamu yang punya banyak pilihan tapi cuma ngambil salah satu darinya. Itu nggak semua orang bisa. Karena pada dasarnya, ada prinsip yang di pegang; kalau bisa keduanya, kenapa enggak? Kedengarannya memang serakah, sih. Tapi balik lagi ke masing-masing orangnya. Kita nggak mungkin harus menyamakan cara pikir kita dengan orang kebanyakan. Kita juga nggak bisa maksa orang buat selalu mengiyakan semua pendapat kita. Itu juga yang pernah jadi dilema buat Alara Senja. Dulu, jauh sebelum ada di kantor Gema dan jadi asisten suaminya itu. Lara bekerja di salah satu perusahaan kondang dengan posisi jabatan yang cukup membuat para perempuan lain iri. Pasalnya, Lara masuk dengan ijazah SMAnya dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Sedangkan yang ngincar perusahaan itu nggak cuma lulusan S1 mau pun S2. Nggak cuma lulusan dari Universitas yang ada di Indonesia. Namun juga ada yang jebolan Universitas dari luar negeri. Iri dong pastinya? Bayangkan! Gimana bisa Lara ngalahin mereka yang lulusan Universitas kondang dengan dirinya yang masih berstatus sebagai mahasiswa? Lara nyebutnya ini sebagai tantangan, rasa syukur dan kebaikan. Sebagai anak pertama—sekiranya begitu yang tertulis di akta lahir meski tidak demikian—Lara punya tanggungjawab yang lumayan besar. Keluarganya memang tidak kekurangan finansial jika harus di sangkutkan dengan ekonomi. Ayahnya juragan dan Ibunya punya usaha sendiri. Tapi Lara menekan dirinya sendiri untuk bisa mandiri dan jangan terlalu bergantung ke manusia. Bahkan ke mama papanya sekali pun. Berharap ke manusia, ‘kan nggak ada gunanya. Lara memang egois jika untuk dirinya sendiri. Lalu di perjalanan kehidupannya, banyak hal-hal baru yang Lara temui termasuk soal percintaannya. Ada jatuh dan bangun yang tidak Lara bagi kepada siapa pun. Bahkan Prabu saja tidak Lara beri tahu. Karena sudah terbiasa keras dengan dirinya sendiri dan diabaikan oleh keluarganya. Lara memegang prinsip yang cukup kaku, yakni: anggap saja aku sedang baik-baik saja. Karena biar bagaimana pun keadaannya, kamu juga tidak akan mempedulikannya. Tentang bagaimana aku jatuh dan bangun kembali hanya untuk menyembuhkan lukaku sendiri. Sudahlah, biarkan ini menjadi tugasku. Karena selalu menguatkan dirinya seperti itu. Lara jadi punya kebiasaan memendam dan semakin tertutup. Cuma saat ini, yang terjadi tidaklah sama dengan beberapa tahun yang lalu. Saat ini, ada fakta jika dirinya sudah terikat selamanya oleh seorang lelaki duda bernama Bahtiar Gema yang posesifnya akut. Valid no debat! Kayak sekarang contohnya. Lara cuma diam, tapi Gema sudah heboh sepagian. Diam di kira marah. Diam di kira ada sesuatu yang mau di minta tapi Gema nolak. Padahal, ini murni mood Lara saja yang sedang buruk. Sejak bangun pagi tadi, tidak tahu kenapa Lara malas banyak omong. Inginnya rebahan dan mulutnya ganyem camilan. Tapi bosan juga. “Lah, Abang kenapa nggak kerja?” Seingat Lara, tadi Gema merecoki dirinya dengan pakaian rapi khas kantor yang sudah Lara siapkan. Tapi sekarang … tengoklah calon Bapak ini. Memang nggak ada kata-kata yang bisa menggambarkan sikapnya. Lara saja bingung. “Malas,” jawabnya sekenanya. Dan menenggelamkan kepalanya di bantal. “Kamu ngambek, sih.” “Kok aku?” Gema benar-benar playing victim. Bisa-bisanya Lara di katai begitu. “Diam nggak artinya marah, Bang.” “Tetap juga diamnya kamu bikin Abang nggak semangat.” “Lebay Abang mah. Di kira kalau Abang malas kerja gini, kebutuhan makan bisa datang sendiri?! Beras ujug-ujug datang, kopi, teh, gula, minyak goreng, margarin, keju dan semua kebutuhan pokok sandang dan pangan. Abang kira dengan malas bekerja sudah yang paling oke buat nunjukin kalau Abang itu bos, iya?!” Nah … Gema suka nih dengan mode Alara Senja yang kayak gini. Makanya Gema rebut dengan mode diam Lara. Karena kalau di kasih pilihan, lebih suka Lara yang cerewet bin bawel atau Lara yang pendiam. Gema jabanin, deh! Lebih suka Lara yang nyerocos kagak pakai titik koma kayak gini. “Gitu dong, Yang.” Gema bangkit dari rebahannya meski sudah menyatu dengan kasur. “Abang tahu, mood kamu rusak atau apa pun itu yang jadi pengaruh buat nunjukin kalau hormon kehamilan kamu lagi bekerja. Tapi Abang juga paling nggak bisa kalau kamu kebanyakan diam.” Lara mendengkus dan matanya terus bergerak mengikuti Gema yang berjalan santai. Kemeja yang sudah terlepas kembali terpasang. “Ada sesuatu yang mau kamu beli?” Lara menggeleng. “Mau ikut Abang ke kantor? Mana tahu kamu bosan.” Masih menggeleng. “Terus maunya apa?” Embusan napas Gema di tanggapi kedikan bahu oleh Lara. “Abang mau di masakin apa?” “Beli saja gimana? Atau kita lunch bareng? Nanti Abang jemput kamu.” Lara terdiam cukup lama dan berpikir. Yang Gema tebak, istrinya itu sedang mempertimbangkan. Sedang bagi Lara, memang tidak ada salahnya untuk makan di luar. Tapi … “Masak saja, deh, Bang. Nanti Abang pulang. Sok, Abang pengen di masakin apa?” Gema juga terlihat berpikir sebelum menjawab, “gurame goreng pakai sambal asam manis sama tumis kangkung boleh tuh kayaknya, Yang.” “Ara belanja ya sama mbak kalau gitu?” “Mau Abang temenin?” “Nggak usah! Abang kerja saja.” Dan aksi Gema dengan menjawab ‘malas’ memang nggak sia-sia. Perlahan, mood Lara membaik. *** Mencintai atau tidak mencintai, itu jelas pilihan bebas. Tapi jatuh cinta itu bukan pilihan. Bahkan kita tidak bisa memilihnya. Itu suatu kondisi di mana terjadi di luar kendali diri kita. Nah … Pokoknya pagi ini, Gema kebanyakan ngomong nah. Karena banyak hal-hal mengejutkan yang terjadi di luar prediksi dirinya sendiri. Yang pertama soal mood-nya Alara yang di pengaruhi oleh hormon. Lalu yang kedua, begitu sampai kantor, ada ribut-ribut yang Gema kaget. Berangkat-berangkat sudah di suguhi pemandangan kayak gini. Persis kayak tontonan serial di Indosiar. “Ya terus mau gimana lagi?” Kurang paham ada di bagian mana. Namun setelah Gema ikut nimbrung dan memperhatikan apa yang terjadi, Gema sedikit mengerti kalau di kantornya ada yang sedang terkena cinlok alias cinta lokasi dan cinta segitiga bukan segitiga biru, loh ya. “Aku mana tahu kalau kamu ada hubungan sama ini cowok.” Gema juga nggak paham cewek yang barusan ngasih jawaban santai itu siapanya si cowok yang cuma diam doang ini. Timbang masalahnya makin rumit dan menyita waktu pekerja yang lain. Gema hengkang dari kerumunan setelah meminta salah seorang untuk membawa ketiganya ke ruangannya. Karena firma hokum ini adalah miliknya, maka Gema berhak tahu dan memberi solusi serta nasihat untuk setiap masalah yang menimpa bawahannya. Tak terkecuali soal percintaan ketiganya—yang seharusnya tidak dijadikan tontonan umum. “Coba jelasin pelan-pelan dan satu-satu. Mulai dari nama kalian dulu dan ada masalah apa.” Ketiganya diam dan menatap Gema dengan serius. “Saya nggak bakalan marah atau ngambil tindakan yang bikin kalian rugi. Saya mau dengar ada apa dan kenapa.” Sebenarnya, Gema cukup bijak dengan membawa ketiganya ke ruangannya. Karena ingin masalah ini cepat usai menemui titik terangnya. “Saya Oppi.” Vokal seorang cewek yang memakai setelah kemeja army dengan celana kain hitamnya. Rambut panjangnya di cepol ke atas sehingga menampilkan warna rambut dalamnya—lilac. “Saya pacar Romi.” Cowok yang jadi bahan rebutan itu namanya Romi. Dan Gema tahu siapa Romi ini. Tidak mengenal secara mendalam, sih. Tapi cewek mana, sih yang nggak mau sama Romi? “Saya Sani. Saya juga pacarnya Romi.” Cewek kedua yang rambutnya sebahu dengan warna cokelat gelap. “Oh, jadi kalian berdua pacarnya Romi?” Kedua cewek itu mengangguk dengan kompak. Paginya Gema, random banget nggak, sih? “Coba tanya Romi, cewek dia siapa?” “Hah?” “Hah?” Gema menahan tawanya seraya menghidupkan laptopnya. Di sana, terlihat dengan jelas Romi yang gugup dan hanya menunduk. Membuat Gema gemas sendiri. “Ngaku dong, Rom.” Sebagai pengacara muda yang sukses, tidak heran kalau nama Romi banyak di elu-elukan semua cewek. “Jangan jadi pecundang. Ayo, ngomong. Akui kesalahan kamu. Nah, Oppi sama Sani, usai ini terserah kalian mau ngapain Romi, ya. Kalian boleh kembali bekerja.” Dan masalah itu usai sampai di sini. Tanpa harus melibatkan Gema lebih jauh lagi. Zaman sekarang, cewek satu itu nggak cukup, ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN