Kemarin, sempat viral kata-kata kayak gini:
Jangan pernah jadi pelangi buat orang yang buta warna. Terus di jawab, gimana kalau dia nggak buta warna tapi dia bukan pelangi yang ingin dia lihat. Melainkan senja. Kemudian di balas, kenapa memilih senja, sih? Kan cuma ada satu warna. Sedangkan pelangi punya banyak warna. Lalu di jawab, mau sebanyak apa pun warna yang kamu beri, kalau bukan kamu yang dia mau, tetap saja bukan kamu yang dia pilih.
Kalimat di atas, Gema sinkronkan dengan kejadian yang dirinya lihat pagi tadi.
Saat jam makan siang dan Gema pulang. Duduk di meja makan sembari menyendok es krimnya, memandangi Lara yang memasak dan tersenyum sendiri mengingat apa yang telah dirinya jalani hingga sejauh ini.
Bahagia nggak, sih?
Tentu.
Sekarang, siapa yang nggak mau nikah sama orang yang kita jadiin pilihan dan orang yang kita cinta?
Orang nggak normal saja tahu bahwa butuh cinta itu memang penting banget.
“Kenapa senyum-senyum?”
Gema menggeleng dan tersenyum. Mencomot perkedel yang baru Lara letakkan di atas meja.
“Lucu saja, Yang.”
“Apanya?” Lara jelas nggak paham sama apa yang Gema omongin.
“Jadi pagi tadi, begitu aku berangkat. Ada kehebohan di kantor.”
“Klien ngamuk?” Tebak Lara asal. Nggak asal juga, sih. Karena seingatnya dulu, pernah ada yang ngamuk juga gara-gara di ceraikan suaminya tanpa sepengetahuannya. Bikin yang ada di sana kalang kabut buat nenangin.
“Jadi, ada yang cinlok di sana. Cinta lokasi itu loh, Yang.” Lara mengangguk. “Nah ini cara mainnya kurang pintar nih. Nggak pro. Satu lokasi dua orang yang di embat langsung. Mending kalau bisa menyembunyikan. Ini enggak.”
“Terus gimana jadinya?” Lara tuangkan nasi dan jajaran lauk pauk ke piring Gema.
“Abang cuma jadi penengah. Setelahnya balik ke mereka masing-masing. Kadang, orang punya kuasa jadi suka semena-mena. Punya jabatan tinggi dikit, karier bagus jadi sesuka hati mainnya.” Gema ngomel tanpa sadar. “Masa bersyukur nggak bisa.”
“Bukan nggak bisa, Abang,” kata Lara pelan. “Cuma belum saatnya. Yang namanya ujian itu nggak semudah kelihatannya. Manusia nggak bakalan sadar kalau dirinya lagi diuji. Beda sama anak-anak sekolah yang punya jadwal buat lakuin test pra semester, test semester dan bahkan ujian.”
Benar.
Gema mengangguk setuju.
Memiliki orang yang selalu support, menghargai effort, bisa di ajak bertukar cerita tentang keluh kesah dan bisa ngasih solusi adalah suatu anugerah yang patut untuk benar-benar di syukuri dan nggak semua orang bisa memilikinya.
Begitulah Gema menggambarkannya. Tentang perasaan senang dan bahagia yang di milikinya setelah bersama Alara Senja. Memang benar banget, sih. Bareng sama orang yang pernah punya perasaan terluka, hasilnya bisa sedahsyat ini.
“Atau mungkin memang lagi coba-coba,” lanjut Lara. “Kita pun nggak bisa tahu tentang perasaan manusia lainnya, Bang.”
Gema … intinya bangga saja punya Alara Senja.
***
Jangan salah paham dulu. Netizen yang budiman sukanya nyari asumsi sendiri dan bikin kesimpulan yang mengadi-ngadi.
Ini lagu yang pernah hits di era 2015 dan penyanyinya pernah menyambangi Indonesia. Mosa suka saja dengarnya. Suaranya khas meski nggak merdu-merdu amat kayak Taylor Swift, Madison Beer dan penyanyi lainnya. Karena setiap penyanyi punya ciri khasnya sendiri.
Dan lagi, kenapa Mosa mendengarkan?
Di samping sebagai nostalgia untuk lagu-lagu yang tahunnya sudah lewat. Kini, dirinya sedang ada di dalam mobil, duduk di kursi penumpang dengan pakaian santai dan topi hitamnya yang menutupi kepala. Rambut panjangnya Mosa biarkan tergerai.
Dan di sisinya, yang menyupir adalah Prabu. Mereka sedang kencan. Iya benar, 100 untuk muridnya Pak Eko. Ini kencan pertama kalinya untuk mereka berdua setelah menikah. Jangan bilang telat. Semuanya nggak ada kata terlambat kalau memang mau untuk berusaha memperbaiki.
“Kamu lapar?” Mosa menggeleng. “Mau beli camilan?” Sekali lagi menggeleng.
Mosa tahu kenapa Prabu menawari dirinya demikian. Kebetulan di sisi kiri dan kanan jalan memang banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Cuma, memang Mosanya saja yang belum kepengen jajan.
“Kalau pengen sesuatu ngomong, ya?”
Kini, komunikasi di antara keduanya jadi intens. Sekecil apa pun jadi sering di bicarakan. Menginginkan apa pun jadi di sampaikan. Tidak ada yang di pendam sehingga tidak ada yang gerundel di belakang.
“Kalau kita ke Puncak, pasti kejebak macet di akhir liburan gini.”
“Lagian kalau Puncak bosan. Kalau ke Lembang, ‘kan jarang. Belum pernah malahan.”
Sebenarnya, aku tidak tahu sedang mencintai seseorang dengan konsep apa. Tapi satu hal yang aku tahu aku mencintainya terlalu berlebihan.
Mosa membiarkan pikirannya mengambil alih seluruh atensinya. Toh hari ini dirinya akan bersama Prabu selama weekend ini.
Pokoknya tentang apa pun itu konsepnya, Mosa akan membenarkan saja. Tidak mau berdebat panjang lebar. Pikiran Mosa suka tidak benar.
Sampai seseorang pernah bertanya kepada dirinya; kenapa kamu melakukannya? Bukankah mencintai terlalu berlebihan itu tidak baik?
Dan jawaban Mosa dengan sangat yakin, yaitu aku mencintainya secara sempurna dan penuh. Memang bodoh kedengarannya. Tapi aku selalu percaya bahwa apa pun yang aku lakukan pasti akan kembali padaku. Entah dia yang membalas atau bukan, aku tidak peduli.
Maka dari itu, aku membiarkan hatiku mencintainya secara penuh hingga akhir. Tetapi untuk akhir kisah ini akan indah atau tidak, itu semua sudah bukan kendaliku.
Sudah jelas kalau Mosa tidak peduli. Dengan hatinya saja Mosa rela untuk hancur.
"Kita sedang memulai, 'kan?" tanya Prabu meminta kepastian. "Nggak ada kata terlambat dan aku senang kita kayak gini lagi."
Prabu juga merasa bersalah setelah sekian tahun berlalu. Bukankah dulu Prabu terlalu pengecut untuk mengakui semua kesalahannya?
"Aku juga mikirnya gitu," jawab Mosa dengan kepala melihat ke kiri dan kanan jalanan. "Beli ubi bakar yuk."
"Makan di tempat atau di bawa saja?"
"Bawa dong. Makan di tempat mana enak."
"Kalau ada apa-apa dan mau apa pun ngomong, ya. Sekarang kita sedang memperbaiki berarti kita harus mencoba banyak hal biar nggak canggung." Prabu gugup, jujur saja.
"Kamu canggung?" Diangguki secepat kilat. "Kenapa? Kita sudah bareng lama kok. Kenapa bisa kayak gitu?"
"Ini terbilang baru buat aku. Coba kalau kita kayak gini dari dulu. Kita nggak bakalan kayak orang asing, 'kan?"
Mosa tertawa. "Aku nggak kayak gitu. Kamu saja yang parno."
"Kamu si overthinking."
Keduanya saling mengejek dan tertawa bersama.
Andai dari dulu kayak gini. Pasti enak.