50

1275 Kata
Lewat sebuah lagu yang sedang Lara dengarkan, ingatannya melayang pada sebuah nasihat. “Lo nggak bisa dapetin orang yang benar kalau lo belum ninggalin orang yang salah. Karena kadang, lo menjalani hubungan yang toxic tanpa menyadari itu. Dan lo terus berkompromi dengan hal itu. Hal yang seharusnya nggak di kompromikan.” Jadi ketika lo sudah benar-benar nggak nyaman berada di lingkup itu, mundur! Cari tempat baru yang benar-benar bisa menghargai keberadaan lo, yang menyadari betapa berharganya lo. Jangan biarin waktu berharga lo untuk sesuatu yang nggak ngerti artinya berharga. Lara jadi sadar kalau hati pun butuh di mengerti. Nggak sekadar hadir untuk dianggap sebagai sebuah status belaku. Keberadaan kita yang terpenting. Dijadikan berharga oleh perlakuan dan hal-hal yang sederhana. Itu jarang terjadi. Semisal ada yang nanyain, gimana Lara sekarang? Maka, jawaban Lara adalah bahagia. Meski pada awalnya begini; mungkin aku hanya termasuk salah satu dari sekian manusia di dunia yang sudah capek sama semuanya. Dan memilih untuk ngikut saja gimana jalannya Tuhan dan gimana baiknya menurut Tuhan. Bisa juga dibilang pasrah tapi tetap berusaha sebisanya dan berdoa seseringnya. Sudah nggak kepikiran lagi buat sedih-sedihan. Gimana mau sedih kalau di balik rumitnya urusan dunia, yakin saja ada Tuhan yang bantu mengatur semuanya. Dan itu terasa pas untuk Lara syukuri di masa sekarang ini. Berapa kali harus Lara ucapkan syukur memiliki Bahtiar Gema di hidupnya? Sesering yang Lara bisa untuk melakukannya. Lelaki ini istimewa meski banyak hal yang membuatnya terlihat konyol. Ada banyak kejutan-kejutan yang selalu muncul tanpa dugaan. Seperti mala mini contohnya. Ini kebalik! Lara mendumel dalam hati. Yang sering sulit tidur adalah Lara. Tapi Gema yang ingin di manja dengan kepala di usap-usap. Dan terlelap dengan dengkurannya yang halus. Lara senang, sih. Tapi pegal juga ini paha dijadikan bantalan. Astaga! “Abang bangun dong.” Lara merengek. Punggungnya pegal tidur dengan posisi duduk seperti ini. “Abang, ih!” Dan tidak ada respons apa pun dari Gema. Dahlah! Lara rasanya ingin menangis. Hormonnya suka berubah-ubah nggak tentu arah. Padahal cuma kayak gini, tapi bisa banget nguras energi. Ini, 'kan sepele. Cuma suaminya yang sedang ingin di manja. Kenapa coba sampai mau mewek segala!? Ada kok faktor lain yang sedang merasuki pikiran Lara. Ini pun bisa di bilang cukup sepele karena kalau Lara mau, Lara tinggal pulang ke rumah orangtuanya dan beban rindu yang mendadak mengambil alih hatinya bisa terobati. Coba bayangin, gimana sih jadi Lara yang di tuntut serba kuat dalam menghadapi segala sesuatunya sendiri sejak kecil? Ini tentang seorang anak perempuan yang selalu terlihat ceria dan tersenyum lebar dihadapan banyaknya orang. Tentang seorang anak perempuan yang ingin menyerah, namun ada secercah harapan orang tua yang selalu membayanginya. Tentang seorang anak perempuan yang harus menepati janji dirinya sendiri untuk sukses dan mengangkat derajat keluarganya. Tentang seorang anak perempuan yang selalu menangis di malam hari tatkala memikirkan ke mana arah kehidupannya dan apa yang harus dilakukannya untuk sebuah kesuksesan. Lara bekap mulutnya, dan Lara tahan agar suaranya tak membangunkan Gema. Bahkan di saat dirinya sudah menikah pun, bisa-bisanya perasaan masa lalunya yang pahit hadir menghantui. Apa, sih maunya dunia? Alara Senja yang memendam semuanya sendiri, terasa sangat sia-sia. Dam pun menjadi seperti sebuah kesalahan. Diungkapkan juga percuma. Ditahan malah menyiksa dirinya. Menjauh seperti ini, ternyata ada ruang yang namanya rindu dan ada secercah keinginan untuk bertemu. Lara pun terkadang harus iri. Ketika melihat tontonan serial TV dan hubungan anak serta ibu masih baik-baik saja terlebih jika sedang mengandung. Lara juga ingin merasakan hal yang demikian. Lara juga ingin ada mamanya di sini meski itu mustahil. Di usia Alara yang setengah matang ini, bisa menangis adalah suatu keberkahan. Karena di samping sulit mengungkapkan perasaannya, Alara merasakan kehampaan. Alara terlalu keras terhadap dirinya sendiri bahwa tidak boleh melakukan apa pun yang bisa membuatnya rugi di kemudian hari. “Kalau kamu pengen pulang, harusnya kita pulang. Ke rumah orang tua kamu dan lakuin apa yang kamu mau. Kamu sadar nggak, sih kalau nggak adil?” Kedua alis Alara mengerut dan menjatuhkan tatapannya ke bawah di mana Gema menatapnya dengan intens. “Aku kenapa?” “Kamu terlalu egois! Aku sebagai suami nggak punya peran apa-apa di saat kamu punya masalah. Aku suami kamu loh, resmi dan bukan suami kontrak.” “Abang kok baper banget, sih?” Alara usapi rahang kokoh Gema dan keinginan untuk mengecup bibir suaminya secara mendadak muncul. “Aku nggak egois kok.” Gema mendengkus setelah Alara angkat kepalanya usai mengecup bibirnya. “Buat kamu ini kayak bukan apa-apa tapi penting bagi aku karena kita yang akan menjalani semuanya. Jadi tolong, kamu harus bisa berbagi ke aku.” “Abang gimana?” Berganti alis Alara yang mengerut keheranan. “Abang juga belum sepenuhnya bisa percaya ke aku. Ada beberapa masalah tentang gagalnya pernikahan Abang dan aku nggak tahu sampai sekarang. Kejelasannya, lebih tepatnya.” “Aku sudah nutup masa lalu aku. Buat apa? Toh aku sudah lebih bahagia dan aku merasa lebih hidup sejak kami hadir. Ini sudah paling benar.” “Enggak!” Alara menggeleng dan mengangkat kepala Gema agar terbangun. “Aku sering ngerasa curiga dan penasaran.” “Soal?” Alara diam sejenak. Kedua tangannya bersidekap dengan satu tangan di dagunya. “Pernah nggak Abang mikirin dia?” “Keingat iya tapi kalau mikirin Abang nggak pernah secara sengaja harus masukin dia ke daftar pikiran Abang. Kayak yang Abang bilang, yang sudah ya sudah. Abang bukan tipe orang ribet yang harus mikirin masa lalu, Ra.” “Abang terlalu konvensional.” Alara mencibir namun begitu ada ketentraman batin yang Alara rasakan saat tahu Gema—setidaknya untuk saat ini—berbeda. “Realistis, Ra toh nggak penting juga mikirin yang sudah berlalu.” Sekali lagi Alara mencibir. “Di usia Abang yang mendekati angka matang, sedih bukan lagi pengutamaan. Abang lebih banyak bersyukur karena menemui hal-hal yang sebelumnya pernah Abang lewatkan. Nanti kamu bakal rasain apa yang Abang rasain.” “Nggak mau! Aku nggak kawin kontrak atau nikah siri jadi aku nggak mau rasain duduk di meja hijau ataupun jadi janda.” Astaga! Bukan Alara Senja namanya kalau nggak punya pikiran yang aneh-aneh. Beruntung Gema sedikit lebih banyak memahami dan lebih legowo. "Bang, kalau anak kita lahir, siapa yang bakal lebih Abang sayangi?" "Kok tumben?" Kedua alis Gema mengerut heran. "Jawab gih. Abang lebih sayang ke aku atau anak kita?" ulang Lara nggak mau rugi. "Kamu," jawab Gema cepat tanpa pikir panjang. Bukan asal tapi memang ada alasannya. "Terus ngapain Abang bikin aku bunting?" Baik, misuh-misuh ala Lara dimulai. "Keturunan dong, Ra. Abang loh sudah diakhir 30-an, lupa?" "Ya kalau cuma mau sayang ke aku doang, nggak perlu Abang bikin aku bunting. Dikira ngelahirin itu enak!?" "Enakan kawinnya gitu maksud kamu?" "Mulut, heh!" Mata Alara melotot, Gema terbahak-bahak. "Lucu?" "Yang bersangkutan sama kamu semuanya lucu. Gini Yang, aku kasih penjelasan kenapa aku jawab begitu." Gema jeda sejenak. "Pada dasarnya, yang bakalan nemenin aku sampai tua itu pasangan. Anak cuma pelengkap dalam sebuah ikatan pernikahan. Kenapa kamu harus hamil?" Embusan napas Gema mengenai wajah Alara dan sensasi merinding hadir tanpa bisa dicegah. "Wanita dikatakan sempurna saat dia bisa hamil. Secantik apa pun wanita kalau dia nggak bisa hamil maka cacat predikatnya. Jadi aku milih kamu karena kamu yang bakal nemenin masa tua aku." Alara mendengkus karena kikuk. Jawaban Gema tak disangka-sangka membuat degupan jantungnya nyaris copot. Padahal dulu Lara juga punya pacar tapi bersama Bahtiar Gema jantungnya dibikin nggak sehat berkali-kali. "Gombal saja terus!" "Mantan kamu yang sudah jadi ipar kamu itu nggak pernah ngomong pahit kayak tadi, ya?" "Ya! Kenapa bawa-bawa mantan?" "Wah, kamu keluar tanduk, Ra! Lucifer kalah saing nih sama kamu." "b******k!" "Dosa Sayang." "Bodo amat!" Lara berikan senyum mematikannya. "Cinta kamu banyak-banyak." Lara berlagak muntah. Gema ngakak kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN