Alara punya pikiran yang lebih buruk dari bayangannya. Entah bisa disamakan dengan overthinking atau tidak tapi menurut dirinya sendiri itu menakutkan.
Pagi ini, Alara iseng berbelanja di kompleks perumahan. Yang tidak biasanya Alara lakukan namun karena ingin sedikit mengenal lingkungan di mana dirinya tinggal dan berjalan-jalan sebentar.
Dokter kandungannya selalu berpesan untuk sesekali berjalan kaki. Itu baik untuk kelancaran persalinannya nanti.
"Tapi itu serius ya, Bu?" tanya si Ibu berbaju kuning. Keponya maksimal.
"Jadi ceritanya dulu sebelum pindah ke sini, Bapaknya itu tukang mabuk. Tiap mabuk datanglah semua teman-temannya ke rumahnya. Saya tuh mikir, kenapa itu bocah ada di dalam rumah. Kenapa nggak pergi dulu." Si Ibu berambut cepol antara semangat dan kasihan.
Wajahnya berekspresi unik yang Alara sendiri tidak bisa menebaknya. Apakah bahagia, kasihan, atau memang obrolan semacam ini sudah jadi konsumsi publik bagi Ibu-ibu rumah tangga yang ditinggal suaminya bekerja.
Meski begitu, Alara belum paham apa yang mereka ceritakan. Sembari memilih sayuran segar yang tersaji di gerobak si Mamang, Alara hanya diam menjadi pendengar. Tapi bau-baunya bukan cerita yang bagus. Firasatnya berbisik seperti itu.
"Namanya juga bocah, Bu. Mungkin takut atau pas Bapak dan teman-temannya mabuk itu kondisinya sudah malam. Jadi nggak memungkinkan buat dia pergi ke luar."
"Saya kepikiran sama Ibunya yang jadi TKW di luar negeri. Demi keadilan dan kesejahteraan masa depan anaknya, Ibunya sampai nyari duwit jadi babu di negara orang. Hidup nggak ada yang tahu jalannya."
"Kasus ini sudah masuk jalur hukum," kata si Ibu berbaju ungu yang berada persis di samping Alara. "Tapi ngomong-ngomong soal menang atau kalah, hasilnya ditutupi."
Alara menoleh dengan wajah tercengang. Pasti serius sekali jika sudah masuk ke jalur hukum. Eh tapi Indonesia sekarang apa-apa lewatnya jalur hukum. Sindiran yang bernada guyonan saja bisa di masukkan berkasnya ke pengadilan buat proses. Antik pokonya mah.
"Dia sempat minder setelah kejadian itu."
"Aduh, Bu siapa yang nggak mau minder kalau pernah jadi korban p*******n! Siapa pun orangnya pasti bakal minder."
Ibu-ibu di sini berjumlah empat orang. Dan Alara tidak mengenal nama di antara mereka semua.
Mendengar kata 'p*******n' saja badan Alara merinding dan panas. Pikiran Alara jauh terbang ke antah berantah. Selama ini Alara selalu takut menonton dan membaca berita tentang p*******n. Lalu sekarang rungunya mendengar sendiri tentang berita tersebut.
Dunia Alara gonjang-ganjing.
"Saya pernah ngasih tawaran ke dia buat saya bonceng. Itu dari gerbang kompleks depan. Ya Allah, di tolaknya Bu-ibu. Dia kayak yang ketakutan."
"Dia pasti terguncang."
"Lebih dari apa pun itu, mental dia sudah di rusak secara keseluruhan. Ke depannya kalau dia masih baik-baik saja, dukungan keluarga dan orang sekitar cukup terpenuhi. Cuma takutnya adalah kalau sampai orang picik memanfaatkan kondisi tersebut."
"Diperkosa lagi gitu maksud Bu Ing?"
Oh namanya Bu Ing, entah siapa lengkapnya. Alara menoleh saat si Ibu berbaju ungu sampingnya mengangguk.
"Kita nggak bisa positif terus, 'kan Bu? Kita nggak tahu bakal kayak gimana ke depannya. Intinya saya pribadi juga nggak menyangka bocah 15 tahun yang lagi mekar-mekarnya sudah rusak sama memori buruk di hidupnya."
Dan obrolan pagi itu terus berlanjut hingga Alara berikan lembaran merah untuk membayar sayurannya. Tak lupa berpamitan setelah melemparkan senyum.
"Istrinya Pak Gema cakep. Wajahnya adem kalau di pandang sayang nggak banyak omong." Bu Ing berkomentar saat tungkai Alara baru beberapa langkah.
"Istri idaman, Bu. Cakep luar dalam dan nggak banyak cing-cong."
Senyum Alara mengembang seraya tangan bebasnya mengusap-usap perut buncitnya.
"Terberkahilah kamu, Nak. Kalau memang masih rezeki kita, firma hukum Papi kamu berjalan mulus, kita bakal tinggal di kompleks ini sampai kamu lahir dan tumbuh."
Mentari pagi yang sudah tinggi, membawa langkah Gema cepat-cepat untuk sampai rumah. Gema akan berangkat ke kantornya sebentar lagi dan Alara baru menyiapkan roti bakar dengan segelas kopi sebagai sarapan.
"Senyum kamu cerah banget dari sana." Gema sudah berdiri di gerbang masuk membuat Alara kaget. "Dari sana wajah kamu berbinar-binar. Kamu lagi jatuh cinta sama siapa?"
"Tuduhan atau aku harus jujur?" Alara menaik turunkan kedua alisnya menggoda Gema.
"Serius!" Gema berdecak sebal. "Kamu nggak boleh jatuh cinta selain sama Abang!"
"Kenapa? Abang kok jadi posesif gini, sih! Nakutin banget deh."
"Abang suami kamu loh, Ra! Lucu kalau kamu jatuh cinta sama cowok lain!"
"Kalau dia lebih hot dari Abang dan hati aku kepanasan masa nggak boleh? Abang saja lirik sana lirik sini kok."
"Kapan?"
"Dih pura-pura pikun lagi."
"Pokoknya nggak boleh kalau nggak sama Abang. Kita nikah resmi kok bukan nikah yang ada jangka waktunya apa lagi kawin kontrak."
"Konsepnya adalah karena Abang sudah tua dan …" Alara melirik ke arah perut Gema yang sedikit membuncit. "Paham, 'kan maksud aku?"
"Ini kamu yang bikin loh!"
"Aturan dari mana aku yang bikin perut Abang berisi. Yang selama ini–tiap malam–selalu bangunin aku dan ngajak ibadah itu Abang, loh. Nih buktinya."
Alara membalik badannya dan menunjuk perutnya yang buncit.
"Kamu milik Abang!"
"Dih maksa!"
"Harus! Kamu nggak bisa dibiarkan sendiri atau keluyuran tanpa ngajak Abang. Kamu ilang, Abang kesusahan."
Yakin?" Alara letakkan kantong berisi sayuran di atas pantri. Meneguk segelas air mineral yang Gema sodorkan. "Abang mah banyak bohongnya. Jelas-jelas yang selalu dilirik cewek itu Abang. Aku mah sudah bunting mana mau yang ada."
"Ada. Mantan kamu itu masih baper tiap lihat kamu."
"Oh jadi Abang cemburu sama dia?"
"Enggak!"
"Artinya iya." Alara keluarkan sayur caesimnya dan menatap Gema yang berwajah kesal. "Bang, tadi sewaktu belanja Ibu-ibu di sana pada bergosip. Entah aku yang baru tahu tentang tetangga baru kita atau justru aku yang pendatang baru di sini. Anaknya diperkosa."
Gema hentikan kunyahan pada tempe tepungnya yang membelai lidahnya.
"Yang anaknya masih SMP itu?" Alara mengangguk. "Sudah lama tapi kapan tepatnya Abang lupa. Kenapa?"
Helaan napas Alara terembus. Pikirannya kembali membayangkan yang tak sepatutnya dirinya jelajahi. Alara sulit melupakan tentang kejadian buruk yang dirinya dengar mau pun dilihatnya.
"Aku kasihan. Masa mudanya ludes dengan kenangan buruk. Aku mikirin soal mental dia."
"Sekarang sudah lebih baik. Abang pernah ngobrol sebentar sama Ibunya sebelum jadi TKW di negeri orang. Biaya ke psikolog yang nggak murah, mengembalikan perasaan takut dan mindernya sama besarnya dengan penyesalan yang Ibunya punya. Sampai Ibunya bilang: kalau saya cerai, berapa biayanya?"
"Sampai begitu?"
Gema mengangguk. "Abang nggak bisa jawab. Lidah Abang kelu dan kepala Abang buat geleng atau mengangguk juga nggak bisa. Tapi setelah itu Ibunya mikir kalau dia nggak mau ngasih trauma yang lebih gede lagi ke anaknya. Cukup satu kali hancur dan rusak."
"Katanya kasusnya masuk ke pengadilan Bang?"
"Benar. Tapi kalah dan menangnya nggak ada yang tahu."
"Aku …" jeda Alara membuat Gema mengerutkan keningnya. "Punya kenangan buruk tentang pemerkosaan."
"Bukan kamu tapi orang lain, benar?"
"Aku lihat dengan jelas. Dengan mata kepala aku. Untungnya aku bisa nahan suara dan nggak bikin mereka curiga."
"Mereka?" ulang Gema.
"Waktu aku SMA, menjelang Ujian Nasional. Sekarang aku mengartikan entah ini p*********n atau suka saling suka. Tapi tindakan mereka brutal. Teman aku bunuh diri."
"Pikiran kamu melayang ke mana-mana?" Alara mengangguk. "Kamu merasa bersalah karena nggak laporin masalah ini ke sekolah atau jadi pembela pas kasus ini masuk ke ranah hukum." Alara angguki sekali lagi. "Bukan salah kamu, Ra. Kamu juga punya pilihan. Kamu membuka suara, hidup kamu yang nggak aman. Kamu diam atau pun tidak, hasilnya tetap sama. Apa yang kamu lihat di hari itu selalu terbawa hingga detik ini. Bukan salah kamu, Sayang."
"Kalau anak kita perempuan, Abang bakal gimana?"
Namanya juga berlebihan. Gema harus lebih banyak memahami.
"Kamu mau Abang yang gimana? Orang tua lelaki dan perempuan itu beda."
"Harus Abang jaga."
"Oke."
"Nggak boleh bebas."
"Tapi nggak memberi penekanan."
"Abang harus sayang sama dia."
"Abang lebih sayang kamu."
"Abang!"
Gema nyengir. Mengecup bibir Alara cepat dan berbisik, "oke."
***
Sore hari saat Gema baru saja sampai rumah. Alara dengan riang menyambut dengan pelukan. Membuat Gema kebingungan dengan sikap istrinya.
Hari ini nampaknya Alara sedikit berlebihan. Tapi Gema diam saja tidak mau merusak mood yang sedang Alara rasakan.
"Abang makan siang pakai apa?"
"Nasi Padang. Kebetulan lagi pengen itu." Gema ambil segelas air yang Alara sodorkan. "Pengen pulang makan masakan kamu tapi takutnya kamu ngomel."
"Kan mending beli daripada Abang bolak-balik. Capek dan buang-buang waktu."
Alara berjalan menuju kulkas dan mengambil jelly buatannya. Mengiris untuk porsi pas bagi Gema dan memberikannya.
"Padahal kalau buat Abang, selama itu demi kamu nggak jadi masalah."
"Besok saja aku ke kantor Abang. Abang mau dimasakin apa?"
"Abang nggak ada request khusus. Selama itu masakan kamu, Abang makan." Gema sendok jellynya dan memakannya. "Bau ikan asapnya mengundang selera."
"Abang mandi dulu!"
Kaki Gema yang hendak membuka tudung saji terhenti. Alara dengan tatapannya yang penuh memerintah tak bisa dikalahkan bagaimana pun caranya.
"Oke."
Gema mengalah bukan kalah. Itu juga yang sering Alara lakukan untuk dirinya. Sehingga akan sangat egois jika Gema menentang apa yang istrinya perintahkan.
Pernikahan kedua yang Bachtiar Gema jalani bersama Alara Senja bukan sekadar menikah dalam sebuah ikatan status. Lebih daripada itu, Alara benar-benar menghargai dan menghormati dirinya sebagai seorang suami. Alara menganggap dirinya ada dan selalu dibutuhkan. Wajar jika Gema semakin menggantungkan kehidupannya pada Alara.
Meskipun banyak orang mengatakan bahwa pernikahan itu ribet, Gema tidak akan terpengaruh oleh kalimat tersebut. Bagi Gema menikah adalah suatu perintah–itu sudah dijelaskan dalam sebuah dalil di Kitab Suci Al-Qur'an. Dan sebagai kita manusia untuk bisa memiliki keturunan guna menyempurnakan kehidupan.
"Oh, ya?" Gema membalik tubuhnya dan melihat Alara yang sedang menuangkan es batu ke dalam es kopinya. Gema tatapi sejenak kegiatan istrinya dan berhenti di perutnya yang membuncit. "Kamu nyaman di sini?"
"Kenapa?" Alara angkat kepalanya seusai potongan terakhir es batu masuk ke dalam gelas. "Aku nggak ngerasa aneh dengan rumah ini."
"Lingkungannya maksud aku?" Alara menggeleng. "Yakin? Kalau merasa nggak nyaman, kita bisa pindah ke apartemen aku."
"Aku nggak pernah aneh-aneh dan Ibu-ibu di sini juga nggak resek. Entah kalau nanti tapi sekarang ini aku ngerasa nyaman."
"Oke. Pokoknya bilang kalau memang ada yang bikin kamu nggak nyaman. Aku nggak mau kehamilan kamu jadi terkendala sama omongan atau gosip yang ada di sini."
"Di sini sering ada gosip apaan memang, Bang?" Alara 'kan manusia gabut yang doyan memperpanjang obrolan.
"Misalnya Sayang."
"Aku pikir sudah ada yang kejadian, Bang."
"Nah yang tadi pagi kamu dengar itu 'kan salah satu bukti dunia pergosipan, Yang." Gema gemas dibuatnya. Mau dicipok sampai habis rasanya.
"Kalau Abang nanya ke aku soal rumah impian aku bisa ngasih tahu. Tapi sejauh ini aku nyaman. Lebih tepatnya aku pengen berbaur juga dengan orang lain dan masyarakat. Lucu kalau nanti aku sudah jadi orang tua nggak bisa bimbing anak-anaknya buat bermasyarakat."
Alara tahu ukuran yang tepat untuk dirinya sendiri. Introvert bukan artinya harus memberi batasan dan menjadi anti sosial.
"Selama belum Abang izinkan masuk ke tempat kerja lagi, mungkin aku bisa gunain waktu buat mengenal orang sekitar. Tapi kalau sudah gabut ya tolong pungut aku, Bang."
"Bahasa kamu, Yang! Memang seperti apa hunian impian kamu, Yang?"
Gema bertanya sembari membelai kepala Alara.
"Di desa mungkin, Bang. Menyatu dengan alam, punya kebun yang bisa kita urus dan kita tanami sayuran. Makan dari hasil bumi yang kita tanam dan menikmati teh bersama saat senja. Lagian Abang nggak mungkin mau ngurus kerjaan kantor muluk. Gunanya punya anak buat apa kalau nggak kita warisi ilmu buat mengelola yang sudah kita bangun? Ya aku nggak berharap banyak, Bang. Itu cuma angan-angan doang kok."
"Kalau ada umur panjang bisa kita wujudkan Yang."
Alara mengangguk. Intinya nggak memaksa harus dijadikan nyata cukup mengatakan saja.
"Jasmine gimana?" Gema tiba-tiba teringat dengan ponakannya. "Katanya sudah mulai aktif kuliah."
"Kan sudah selesai libur semesternya, Bang."
"Dia itu nggak boleh kenal cowok selain yang dari Mamanya."
"Egois!" Jujur Alara mengatai Kakak iparnya. "Ketemu Mbak nanti mau aku omelin."
Herannya juga, cuma Alara yang bisa bikin Kakak pertamanya kiceup. Mika Darmawangsa memang lain dari yang lain.
"Dia dari dulu keras kepalanya nggak ada tandingan. Papa saja kalah."
"Kayak Abang yang paling nurut saja. Abang itu lebih-lebih malahan."
"Kenapa jadi kena ke aku sih, Yang!?" Gema nggak terima dirinya disamakan dengan Mika. Sudah jelas Kakaknya itu paling keras kepala. Dijedotin ke batu, batunya yang minta maaf.
"Dih nggak merasa kalau dirinya keras kepala." Alara masih mencibir.
"Mulut kamu mah selain terasa pas buat dicium dilumat juga enak, Yang."
"Dasar c***l!"
"Sama istri sendiri itu halal. Sudah sah pula."
"Lalu apa konsepnya dengan mulut aku Abang!?" Ada-ada saja kelakuan suaminya ini.
Gema tertawa. Senang membuat Alara sekesal ini.
"Abang nggak mau bilang kisah kita sama Yang tapi kita punya kasus yang nggak jauh berbeda. Kamu dengan adik kamu, aku dengan kakak ipar aku. Apa kita ini sudah ditakdirkan berjodoh?"
Mungkin–Alara hanya membatin. Kalau dijawab langsung Gema suka besar kepala.
"Orang gagal dipertemukan dengan yang gagal juga agar bisa saling memperbaiki."
Gema optimis dengan cara pikirnya yang seperti itu. Sudah yakin jika pilihannya paling benar.
"Tuhan adil kok Bang sama setiap umatnya."
"Kalau nggak gitu nggak bakalan ketemu kamu Yang. Ada untungnya juga kamu masuk ke ruangan Abang sore itu. Kenapa nggak dari dulu coba?"
"Dih ngarep banget kayaknya."
"Sama kamu nggak ngarep mah rugi, Yang."
Nyenyenye! Alara nyinyir sekali lagi.