Namanya Nora Bachtiar, mantan istri Bachtiar Gema yang tiba-tiba muncul di kantor membuat Alara yang siang itu sedang berkunjung terperanjat kaget.
Senyum Nora manis dan tubuhnya yang proporsional menjadi pendukung sehingga Alara minder saat diajak bersalaman. Juga tas ungu berisi peralatan makan membuat Alara ingin mengubur dirinya di rawa-rawa.
Hubungan keduanya bukan yang baik-baik saja namun ini di depan publik di mana sejuta pasang mata memperhatikan interaksi keduanya. Akting Nora terbilang bagus karena dia aktris. Bisa menguasai mimik wajah dan mencairkan suasana canggung yang tercipta. Lain halnya dengan Alara yang untuk tersenyum saja wajahnya kaku maksimal.
"Apa kabar?" Basa-basi Nora bisa diacungi jempol. "Lama nggak ketemu."
Seakan-akan mereka sudah berteman bertahun-tahun lamanya dan baru bertemu hari ini. Lawak, tapi ini memang adanya begini.
"Baik, Mbak gimana?" Alara juga tak mau kalah basinya. Tatapan pasang mata di bilik kerja menjadi sangat penasaran saat Alara tersenyum lebih lebar. Mereka para karyawan Gema juga menunggu bagaimana kelanjutannya. "Mbak Nora makin sibuk jadi wajar kalau kita nggak punya waktu buat ketemu."
Disangkanya akan ada adegan jambak-menjambak dan cakar-mencakar kali ya. No! Alara tahu tempat dan tak mau membuat malu nama besar suaminya.
"Perut kamu juga sudah lebih gede, sedikit. Sudah lebih menonjol dari terakhir aku ketemu." Nora tatapi dengan pandangan iri. Iri juga sesal yang bersemayam. Kenapa dulu dirinya tidak hamil saja?
"Mbak kapan nyusul?" Perasan Nora tidak bisa dijabarkan. Campur aduk namun tidak ingin membuat Gema malu dengan sikapnya yang kasar dan ucapannya yang ketus. "Mbak ada urusan apa? Mau ketemu Bang Gema?"
Nora mengangguk. "Ada beberapa hal yang pengen aku konsultasikan sama Gema. Aku mau jual properti, barangkali Gema bisa bantu."
Bibir Alara membentuk huruf O dan menuntut Nora untuk melangkah bersama dirinya. Beriringan menuju ruangan Gema. Tidak ada obrolan yang tercipta, hanya diam dan membiarkan suara bisik-bisik mengambil alih keingintahuan mereka.
"Manusia hobinya nggak pernah berubah."
"+62 ya Mbak." Alara tersenyum tipis saat menunggu di depan lift.
"Kamu tahan sama omongan tentang mereka?"
"Kenapa?"
Nora kedikan bahunya. Alara masih muda dan lika-liku kehidupan belum sepenuhnya dijajaki. Lain halnya dengan Nora yang benci ketika urusannya dicampuri oleh manusia termasuk akun gosip sekali pun.
"Sebagai publik figur diburu bukan hal aneh, 'kan Mbak? Negara kita luas semisal satu masalah menerpa, kita bisa bersembunyi. Ke tempat yang sedikit primitif, misalnya, menyatu dengan warga dan alam. Aku jamin nggak ada yang tahu. Lain halnya dengan Korea."
Yang Alara tahu melalui internet, Korea negara kecil yang mana kamu bersembunyi pun bisa tercium baunya. Tak heran kalau banyak aktris yang depresi akan satu masalah dan memilih mengakhiri hidupnya. Juga tingkat kematian di sana terbilang tinggi sedang jumlah kelahirannya rendah. Banyak di antara warganya yang memutuskan lebih untuk sukses dibidang karier ketimbang harus menikah. Bukan artinya tidak mau menikah hanya menundanya.
"Aku benci dijadikan bahan gosip. Setengah dari masalah seseorang jika itu menyeret namaku, aku benci. Sekali pun publik figur, aku nggak suka ada di layar televisi dengan berita yang buruk atau apa pun itu namanya."
Nora tersenyum miring pun dengan Alara yang melakukan hal demikian.
Entah siapa di antara keduanya yang terlalu terbuka dalam berpikir dan singkat kala memandang sebuah masalah. Intinya, baik Alara mau pun Nora tidak memiliki kesamaan.
"Loh?"
Alara tersenyum saat pintu lift terbuka dan Gema berdiri membawa map serta laptop.
"Kok nggak telepon kalau mau ke sini?" Mata Gema cuma fokus ke Alara meski tahu ada Nora di sampingnya.
"Kejutan." Alara berkata dengan ceria yang dibalas senyuman oleh Gema.
Nora cemburu melihatnya. Interaksi Gema dan Alara mesra meski ada eksistensi dirinya di sana. Persis obat nyamuk yang lagi nemenin Kingkong dan anaknya berbincang.
"Aku bawain kesukaan Abang. Terus tadi ketemu Mbak Nora di bawah."
"Oh." Gema melirik sekilas ke arah Nora–tidak tertarik. "Ya sudah ayo masuk."
"Abang mau ke mana?"
"Foto copy. Biar nanti Abang kasih ke Riri." Sekretaris sementara Gema. Nanti kalau Alara sudah mau ke kantor, Riri akan kembali ke bagiannya. "Ada urusan apa?"
"Jangan ketus! Kita nggak lagi dihadapan Hakim."
Gema berdecak, Alara menggeleng. Membuka tas makannya dan menyiapkannya untuk makan siang Gema.
"Pengacara di Jakarta banyak kenapa datangnya ke sini!?"
Nora mendengkus keras. Membuat Alara yang asik menata makanan di meja menoleh dan mencubit paha Gema.
"Aduh, sakit Yang! Kamu makin hari makin doyan KDRT ke aku."
Sekali lagi Nora cemburu melihatnya. Kali ini iri dihatinya yang mengguncang tidak bisa Nora tepiskan. Ada sejuta keinginan untuk Nora melakukan apa saja namun entah apa. Seolah lelaki yang sedang menatap istrinya bukanlah Bachtiar Gema yang pernah dikenalnya.
"Yang sopan dong, Bang. Gini-gini juga Mbak Nora tamu. Pengantar rezeki buat kita."
Gema abai dan memilih makan. Menikmati masakan istrinya sedang Nora hanya mengembuskan napas.
Sesal yang tumbuh dalam diri Nora terasa sangat terlambat. Berpisah dari Gema rasanya keputusan yang salah. Harusnya dulu Nora bisa memperlakukan Gema sebaik Alara. Harusnya Nora bisa menghargai dan menghormati Gema sebagai suami dan kepala keluarga dalam rumah tangganya. Dan seandainya dulu Nora bersikap layaknya Alara, akankah ada keturunan yang hadir di rahim Nora?
Gila!
Bayangan Nora terlalu jauh. Angan pada masa lalunya tidak pantas sama sekali untuk dilakukan.
"Abang nggak sopan!" tegur Alara pura-pura buta dengan aktivitas lahapnya Gema memakan masakannya. "Nggak profesional banget jadi orang. Ada klien bukannya diurus, diutamain malah makan! Perut muluk perasaan yang jadi prioritas."
"Kan jam makan siang ini. Salah Nora datangnya nggak bikin janji. Lagian perut urusan nomor dua, kamu baru prioritas Abang, itu yang benar."
"Jadi besok lagi kalau bikin janji bisa?"
Ya mampus saja! Nora bakal ambil kesempatan selama itu ada.
Gema seolah lupa siapa Nora Bachtiar. Nora tidak bisa ditantang atau makin menjadi-jadi. Terbukti sekarang ini.
"Oke, besok ke sini lagi." Nora sudah berdiri, hendak melangkah ke luar.
"Sekarang saja!" Secepat kilat Gema letakkan peralatan makannya. "Saya nggak mau kita punya urusan panjang. Demi istri dan kesehatannya yang sedang hamil."
Tubuh Nora menegang. Merinding dan ada tusukan kawat berduri yang menyusup ke dalam tubuhnya. Punggungnya panas seolah terbakar sengatan api.
"Aku pengen jual apartemen aku. Aku mau ngurus itu."
"Jadi?"
Alara mencubit perut Gema.
"Yang sopan Bang?"
"Abang harus sopan yang gimana lagi, sih Ra!?"
"Kasih tahu syaratnya dong Bang!? Gitu saja nggak tahu."
"Bukan masalah nggak tahunya, Ra. Ini maunya Nora gimana juga Abang belum tahu. Cuma ngomong mau jual properti tapi nggak jelas yang gimana maksudnya."
"Syaratnya apa saja?" Nora kembali duduk dan melerai pasangan itu debat kusir.
"Dokumen-dokumen penting seperti perjanjian jual beli, down payment, kelengkapan dokumen, sertifikat hak milik, dan akta jual beli kamu siapin. Perlu saya kasih penjelasan lebih? Terutama di kelengkapan dokumen itu ada lokasi, izin mendirikan bangunan, dan kelayakan unit apartemen. Jangan lupa minta KTP dan KK ke pembeli kamu. Sisanya nanti bisa diurus sama salah satu karyawan aku."
Firma Hukum milik Bachtiar Gema tidak melulu selalu dirinya yang menangani. Ada banyak pengacara lulusan sekolah hukum dari universitas kenamaan yang masuk ke sini.
Nora embuskan napasnya dan kembali berdiri.
"Terima kasih," ucapnya dan berlalu.
"Abang keras banget!"
Nora masih bisa dengar suara Alara yang kembali mengomeli Gema.
"Soto buatan kamu enak deh, Ra."
Dan Nora tidak pernah mendapat pujian seperti itu dari Gema selama menjadi istrinya. Nora saja tidak becus dalam urusan dapur kecuali pelayanan memuaskan diatas ranjang.
Cemburu masih pantas tidak, sih untuk Nora lakukan sedang statusnya dengan Gema sudah berakhir bertahun-tahun silam?
Mengambil kembali Gema dari sisi Alara, apakah mungkin untuk Nora lakukan?
***
Sampai ke luar dari gedung Firma Hukum milik Gema, pikiran Nora masih berkecamuk. Tubuhnya hampir limbung jika tidak ada tembok untuk dijadikan topangan. Sorot matanya kosong dan hampa. Nora tidak tahu harus ke mana lagi hidupnya. Rasanya hambar, kosong dan menjadi sia-sia.
Pencapaian demi pencapaian yang sudah Nora dapatkan soalah tak ada apa-apanya. Seakan kehilangan Gema di masa lalu bukanlah hal yang aneh namun melihat mantan suaminya bahagia dengan perempuan lain, Nora cemburu berat.
"Kamu aneh Nora."
Bisikan itu berdengung di kepalanya.
"Kamu melepaskan namun ingin kembali membersamai. Kamu lucu Nora."
Senyum miring Nora muncul. Dadanya berdegup kencang. Kepalan tangannya mencengkeram erat.
"Dia milik kamu di masa lalu bukan masa sekarang."
Siapa yang peduli?
Jika Nora bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya maka akan Nora lakukan.
Hamil?
Penurut?
Menjadi istri rumahan?
Baik, Nora bisa melakukan itu semua. Nora hanya harus melepaskan kariernya, menurunkan egonya, bukan begitu?
Kenapa selera Gema rendahan sekali?
Seharusnya Gema mencari yang sesuai dengan stratanya bukan yang biasa saja seperti Alara.
Menikah hanya untuk menjadi pembantu dan pelayan suaminya?
Wah …
Nora mendongakkan kepalanya. Giginya menggigit bibirnya. Urat malunya sudah putus rupanya. Sampai-sampai berpikir ingin bertindak sejauh itu.
Harusnya Nora meminta maaf atas kesalahan dan penyesalannya bukan menjadi arogan seperti dulu.
Kehilangan Gema sudah menjadi pertanda bahwa mendapatkan sesuatu akan kehilangan sesuatu. Nora tidak pernah sadar tentang yang namanya perasaan. Bahwa perasaan sama seperti awan. Di mana awan kumulus bisa menjadi awan sirus. Awan sebesar lapangan pun bisa pecah dan menyebar. Perasaan sama halnya dengan gunung es. Ada orang yang sifat aslinya sama seperti kesan pertama, ada juga yang butuh waktu lama untuk mengenalnya secara keseluruhan layaknya puncak gunung es.
Intinya yang ingin Nora sampaikan ialah sadar diri bahwa perannya telah selesai. Apa pun itu isi kisahnya tentang dirinya dan Gema di masa lalu, mereka tidak pernah sampai dalam mencapai puncak gunung es.
Jika Nora dengan segunung sesalnya maka Alara sedang dalam mood yang baik. Malamnya dilalui dengan tontonan serial baru bersama Gema yang mengerjakan beberapa dokumen. Camilan dan minuman bersoda sudah tersedia di atas meja.
"Abang." Alara baru teringat sesuatu. Jari-jarinya yang bekas popcorn langsung dijilati. "Aku tadi ketemu teman aku."
"Habis dari kantor siang tadi?" Gema letakkan tabletnya dan fokus mendengarkan obrolan yang akan Alara bangun.
"Iya, teman SMA. Kita nggak akrab sih cuma dia tiga tahun berturut-turut jadi ketua kelas."
"Cowok?" Wajah Gema sudah masam maksimal andai Alara ketemuan sama cowok walaupun itu temannya.
"Cewek. Ini agak mengejutkan setelah 10 tahun nggak ketemu." Alara menjeda dengan dahi yang berkerut. "Abang percaya nasib seseorang nggak, sih?"
"Kenapa? Ada yang aneh sama teman kamu?"
"Dulu dia juara satu terus selama sekolah. Dari keluarga terpandang. Kayak gini Bang …" Alara praktikkan telapak tangannya berbalik. "Takdir buatan Tuhan semudah membalikkan tangan kayak gitu. Aku agak kaget dan nggak nyangka."
"Sudah nikah?" Alara menggeleng. "Terus?"
"Kalau aku bilang nasib aku jauh lebih beruntung dari orang lain, aku sombong nggak Bang?"
Gema tidak bisa langsung memberi jawaban. Ada yang Gema pertimbangkan mengenai pertanyaan istrinya.
"Aku pikir aku punya jalan hidup yang paling terjal. Pernah nunda buat kuliah, kerja sambil kuliah bahkan jadi tulang punggung keluarga waktu bisnis Mama sama Papa kolaps. Tapi pas aku lihat teman aku ini, ternyata ada yang lebih berat jalan hidupnya. Aku terkesan nggak pernah bersyukur sama nikmat Tuhan."
"Abang pernah dengar kalau seberat apa pun masalah kita, masih ada yang jauh lebih berat dari kita. Tapi kita nggak bisa mengukur seberapa beratnya beban kita dan beban orang lain. Abang kurang setuju kalau kayak gitu."
Alara juga setuju. "Ditambah dia dipaksa nikah sama keluarganya. Dijodohkan."
"Masih zaman ya Yang jodoh-jodohan gitu? Kalau cocok sih nggak masalah nah kalau enggak itu bisa berabe dan berakhir dengan perceraian."
"Dia pendiam padahal tipe yang pandai dalam berpendapat. Kenapa dia nggak bisa nolak atau ngasih pendapat dia tentang perjodohan ini. By the way dia kabur dari rumah, Bang."
"Serius?" Alara mengangguk. "Kamu bisa bantu dia kasih support kok. Abang nggak melarang kalau kamu minta izin untuk itu. Perjodohan di mata Abang itu kolot banget Yang. Karena menikah harus yang satu frekuensi. Karena menikah tentang menciptakan sebuah obrolan. Tentang masa depan, tentang pendidikan anak dan tentang kehidupan di masa tua. Kalau dari awal saja sudah nggak cocok, bagaimana bisa membicarakan masa depan?"
"Kesimpulan aku kenapa dia sampai kabur pastinya itu cowok bukan seperti kriteria yang dia mau Bang. Mungkin kasar, mungkin terlalu mengekang dan nggak bisa ngasih dia kebebasan. Dia nggak bercerita secara spesifik tapi dari sorot matanya aku tahu dia butuh dukungan bahwa tindakan dia ini benar."
"Terlepas dari benar dan salah, dia berhak memilih jalan untuk hidupnya. Nggak salah kok. Anggap saja dia sedang mencari ketenangan untuk kehidupannya. Untung kamu nggak sampai kabur ya Yang. Aku tahu sih kamu juga tertekan sama kondisi waktu itu."
"Tahu dari mana, Abang?"
"Abang gitu loh!"
"Sombong banget, Bang."
"Sama kamu mah wajib, Yang."