53

2096 Kata
Kabar duka itu datang. Di subuh yang dingin saat semua kelopak mata masih terpejam. Guyuran hujan semalam yang menjatuhi bumi Jakarta membuat mata-mata kian terlelap. Termasuk Alara Senja yang masih terbuai mimpi. Terbangun karena getaran ponselnya, Alara raih masih dengan mata yang terpejam. "Halo." Tidak ada sahutan dari seberang. Membuat kening Alara mengerut dan segera bangun terduduk. Menyingkirkan lengan kekar Gema yang melingkari perutnya. "Halo." Sekali lagi Alara bersuara dan belum ada tanda-tanda mendapat jawaban. Saluran teleponnya masih tersambung saat Alara jauhkan dari telinganya lalu menempelkannya lagi. Hendak menyapa namun urung saat suara dengan isakan pilu berkata, "Wawak nggak ada." Alara belum paham, belum mengerti apa maksudnya dengan kalimat 'Wawak nggak ada'. Nggak ada karena pergi dari rumah atau mengunjungi anaknya yang lain yang berada di kota orang. "Meninggal, tadi jam 2 dini hari di rumah sakit Permata." Isakannya semakin terdengar sampai Alara bingung ingin menjawab apa. Lidah Alara kelu, suaranya tertelan ditenggorokan. "Sekarang di mana?" Liquid bening Alara mengucur tanpa henti. Satu tangannya yang bebas menghapusnya dengan kasar. "Habis ini mau langsung ke sana." Rahasia Tuhan yang tak menjadi jamahan manusia adalah: jodoh, mati dan rezeki. Tidak satu pun manusia–yang bahkan mengaku punya ilmu dan mendapat mimpi dari Tuhan langsung–tahu perihal ini. Hanya saja, dalam kasusnya kali ini, Alara merasa belum siap. Tahu jika waktu menjemput Wawaknya yang sering sakit-sakitan akan segera tiba tapi Alara lupa untuk menyiapkan diri, meluaskan hati dan berlirih ikhlas melepaskan. Arogannya Alara ialah merasa bahwa masih ada waktu yang tersisa yang akan dirinya lalui bersama Wawak. Mungkin saat anaknya lahir ke dunia nanti. "Kamu kenapa nangis?" Alara bahkan tidak sadar kalau dirinya sedang menangis. Tahu-tahu air matanya mengalir dan pipinya basah total. Sudah dielap sedemikian kasarnya juga terus mengucur. "Ada yang salah?" Gema tepuki punggung istrinya. Masih belum mengerti ada apa dan sebisanya menenangkan. "Ada yang kamu pengen?" Hanya gelengan yang Alara berikan. Isakannya menjadi lain halnya dengan tatapan matanya yang sayu. Demi apa pun Alara belum siap sama sekali. Alara belum bisa untuk melepaskan Wawaknya yang berperan penting dalam tumbuh kembangnya. "Abang bisa antar aku ke Bandung?" Dalam hati Gema hanya berucap, "ngapain?" Namun tak bisa mengeluarkan suaranya. Seakan ada masalah besar yang sedang Alara alami. Gema mengangguk lekas memeluk Alara. Menyalurkan kehangatan agar istrinya tenang dan menceritakan apa yang terjadi. "Berangkat sekarang?" Alara mengangguk. "Kita siap-siap." Gema turun dari ranjangnya. Memakai kaosnya yang bercecer dilantai lalu mengajak Alara melakukan hal yang sama. Bersiap dalam waktu singkat, tidak banyak yang bisa Alara bawa. Intinya ingin cepat sampai Bandung untuk melihat Wawak kesayangannya yang terakhir kalinya. *** Wak Atik namanya. Berumur 66 tahun yang kata orang sudah bonus dari umur yang sebenarnya. Alara sudah sampai Bandung di saat mentari pagi menyinari bumi Pasundan tersebut. Beruntung kemacetan belum terlalu padat sehingga dengan mudah mencapai rumah Wawak. Tratak dan kursi sudah dipasang bahkan bendera kuning pralambamg duka pun sudah berkibar di depan rumahnya. Alara memasuki rumah yang penuh dengan para palayat. Ada Mama dan Papanya, lalu Mosa dengan suaminya. Alara abaikan meski mereka menatapnya. "Kronologinya gimana?" Alara bertanya pada si anak bungsu yang subuh tadi meneleponnya. Prawira Sukandar namanya. Usianya 18 tahun dan baru semester satu di universitas kenamaan di Bandung. "Muntah," jawabnya singkat. Senyumnya terukir menandakan kalau Wira sudah lebih dari tenang. Lebih daripada itu, Wira senang Alara dan suaminya datang. "Jam 1 tadi di bawa ke rumah sakit dan jam 2 nggak ada. Mama nggak kasih pesan apa-apa kecuali aku yang harus jadi orang benar." Alara tertawa. Prawira selalu bisa memberinya hiburan. Tidak peduli tempat dan waktu. "Hm, harus jadi orang sukses. Jangan bikin Wawak susah di sana." "Berarti aku bikin Mama susah terus selama ini?" pertanyaan Wira tak bermutu. "Kamu kapan nggak bikin Wawak susah?" jawaban Alara juga tak berakhlak. Gema yang di sampingnya mendengarnya harus menahan tawa. Dua orang ini kalau sudah bertemu nggak pernah bikin suasana canggung. Segenting apa pun masalahnya, asal ada Alara dan Wira, mendadak jadi panggung sitkom. Meski begitu, Gema tahu alasan kenapa keduanya harus bersikap demikian. Seakan sudah klop satu sama lain, ibarat ada janji yang tak terucap. Tidak ada yang boleh terpuruk sesedih apa pun suasananya. Tidak ada yang boleh menangis terlalu lama seduka apa pun kondisinya. Gema juga tahu kenapa Alara harus seterpukul ini. *** "Dulu waktu aku SMA, Bandung jadi kota favorit aku. Di saat semua anak seusia aku lebih suka Jakarta yang katanya lebih gaul dan melejit. Bandung nggak bisa aku tinggalin gitu saja. Di sini aku punya hidup yang normal. Aku punya orang yang menghargai kehadiran aku, menyambut aku pas pulang sekolah dan ngajarin aku buat banyak hal tentang hidup. Wawak nggak sekadar Wawak. Aku menganggap dia kayak Mama, Kakak, dan sahabat. Hidup jadi anak pertama tanggung jawabnya berat." Alara sandarkan kepalanya di bahu Gema kala malam tiba. Udara dingin Bandung selalu jadi hal yang Alara tunggu. Sejuk dan damai. "Hm, aku tahu." Alara sudah pernah cerita. Membeberkan secara perlahan siapa dirinya kepada Gema. "Aku nggak bosan dengerin. Aku tahu itu kenangan indah yang kamu punya." "Makasih." Alara tidak punya banyak teman dan tidak dekat dengan Mama Papanya. Sehingga sulit baginya untuk membuka diri kepada orang lain. Beruntungnya Gema bisa sabar dan tahan menghadapinya. "Abang orang paling sabar yang pernah aku temuin." "Karena itu kamu mau nikah sama aku?" pertanyaan Gema tidak sepenuhnya salah dan Alara mengangguk dengan cengiran. "Berasa kayak pelarian kamu nih." "Ya nggak gitu juga Bang konsepnya. Mulutnya kalau ngomong nggak pernah disaring pakai filter." Gema terbahak-bahak. Senang membuat Alara bersungut-sungut kesal. "Aku kelihatan durhaka, kayaknya." Tidak demikian di mata Gema tapi apa pun itu, jika Alara sudah melibatkan perasaannya bukan perkara mudah untuk dihadapi. "Kamu nggak seharusnya menilai diri sendiri rendah. Di dunia ini, ada alasan kenapa kita nggak nyaman dengan keluarga kita. Bukankah orang terdekat yang lebih mudah menyakiti kita?" "Hm, Wawak nggak pernah maksa yang aku mau. Tiap aku konsultasi ada masalah apa, apa yang aku mau, apa yang aku suka dan apa yang nggak aku suka dia selalu ngasih dukungan. Alih-alih melarang dia punya caranya sendiri." Ada beberapa orang yang memperhatikan dengan cara mengabaikan. Ada yang diam-diam mencintai. Cara orang berbeda. "Kamu coba deh memaafkan." Toh untuk apa menyimpan luka? Kita hanya akan terjebak dalam masa lalu. "Tahu kalau yang sudah tertoreh menjadi luka bukan perkara mudah untuk disembuhkan. Tapi masa lalu ada jauh di belakang kita sedang masa depan berada tepat di depan mata." Bukan tidak ingin, hanya Alara belum siap untuk mencobanya. Bukan enggan melakukan, yang namanya luka tetaplah luka. "Nantinya kamu akan lebih bahagia. Tanpa kamu duga apa lagi sadari." "Aku sering berbagi sama Wawak. Dalam hal apa pun. Dia yang tahu aku nangis dan cuma dia yang lihat aku nangis setelahnya Abang." Tahu tidak yang dilihat Gema apa? Senyum Alara meski ada sejuta luka di matanya. Begitu saja Gema tidak ingin meninggalkan apa lagi ditinggalkan. "Aku nggak bakal lepasin kamu." "Wawak yang selalu ngasih aku harapan pas aku jatuh. Jadi kalau aku boleh jujur, aku lebih ngerasa jadi anaknya Wawak ketimbang Mama sama Papa." "Aku nggak bakal bikin kamu nangis. Nggak aku izinin air mata kamu netes." Seakan itu pasti. Seakan memang sudah seperti itu takdirnya. Alara hanya bisa membalas dengan senyuman. Dengan begitu Gema akan merasa tenang. Sedang garis Tuhan tidak selalu berpihak pada tiap-tiap manusia. Intinya adalah, Alara pernah berada di masa sulit yang tidak bisa dirinya tangani sendiri. Lewat Wawaknya, Alara belajar untuk tangguh. Alara belajar untuk bangkit lagi setelah jatuh. Alara tahu caranya bertahan meski menyerah selalu terlintas di benaknya. "Abang kalau ngomong penuh janji kayak gini malah bikin aku merinding disko. Aku mau percaya takutnya kelewat berharap eh jatuhnya sakit. Nggak mau percaya, Abang ini suami aku. Posisinya serba salah, 'kan Bang?" Alara tersenyum dalam dekapan Gema yang dibalas dengan kencang. "Abang juga takut sendiri buat ngasih kepastian tapi setidaknya Abang berusaha." "Abang punya rencana buat anak kita?" "Contohnya?" "Pendidikan dia, mungkin." Gema berpikir sejenak. Jika memang diizinkan, inginnya Gema ada anaknya yang melanjutkan firma hukum miliknya. Tapi Gema juga tidak bisa memaksa semisal anaknya ingin merambah ke dunia yang disukainya. "Abang bisa ajak dia sesekali buat belajar kalau memang punya keinginan ada yang warisin firma Abang. Perlahan saja sih." "Abang juga belum yakin sepenuhnya Yang. Mana tahu dia punya bakat lain yang lebih menonjol. Dunia hukum nggak selalu dipandang enak. Ada juga yang menganggap profesi itu kotor." "Tergantung orangnya. Nggak semua profesi itu membawa dampak yang merugikan. Kalau kita tahu caranya bekerja dalam aturan yang baik dan SOP yang dijalankan benar, aku rasa nggak ada yang aneh." "Iya, tapi beberapa orang menilai pekerjaan seorang pengacara itu mirip preman." "Masuk ke sebuah persidangan sudah jelas membutuhkan biaya banyak Bang. Nominal yang kita minta 'kan sesuai request klien. Naik ojek saja pakai tarif, masa sewa pengacara handal gratis. Pemikiran dari mana itu?" Gema tertawa. Gemas dengan cara pikir Alara yang sederhana. "Itu kalau kamu Yang. Lain halnya dengan orang lain." "Kalau gitu kita mesti punya besan yang mumpuni dan sama derajatnya dengan kita. Biar nggak ada penilaian buruk satu sama lain." Anak belum lahir tapi sudah membahas soal besan. Oke, Alara Senja memang yang terbaik. "Atur saja, Yang atur. Abang cuma jadi bagian ngasih persetujuan saja. Nggak mau ikut campur soal hati dan pilihan." "Jangan ngasih dia larangan kalau dia nggak tertarik di hukum, oke." Gema mengangguk pasrah. *** Benak Nora rungsing. Segala macam permasalahan bertumpuk jadi satu di dalamnya. Memecah kewarasan yang selama ini Nora bangun. Hatinya juga gelisah. Nora terus membandingkan dirinya dengan Alara. Apa bagusnya Alara. Kenapa bisa Gema mencintai bocah tengik seperti Alara. Apa karena Alara hamil? Jika begitu persoalannya, Nora juga bisa memberikan keturunan untuk Nora. Apa sih bagusnya!? Begitu seterusnya sampai wine dalam gelas dan botol dihadapan Nora habis. Ah, mungkin Nora lupa jika dirinya sejenis manusia yang selalu tidak pernah puas. Atau Nora memang tidak suka dikalahkan dalam berbagai hal. Padahal Gema sudah bukan miliknya. Seyogyanya karena itu kesalahan Nora sendiri yang memilih menjadi pengkhianat. Nora pandangi gelas kosongnya. Tersenyum miring dengan berbagai u*****n yang memenuhi isi kepalanya. "Setelah pisah sama kamu," kata Nora dengan mata sayu. "Kenapa aku yang semakin hancur. Kenapa kamu lebih bahagia setelah berpisah dari aku." Nora gengsi mengatakan menyesal tapi memang begitu kondisinya. "Aku nggak mau kalah! Apa sih bagusnya dia? Gema, Gema …" lirihnya memanggil. "Kamu berengsek!" Move on, itu saja yang belum bisa Nora lakukan. Jika move on perkara mendapatkan pasangan baru maka Nora sudah lebih dulu mendapatkannya. Namun move on di sini memiliki proses di mana dirinya masih bertanya-tanya soal takdir dari Tuhan dan belum bisa memaknai arti penerimaan. Dan Nora tidak bisa melakukan itu semua. Hingga detik ini Nora masih meratapi apa yang sudah terjadi. Yakin? Nora tidak mempunyai keberanian untuk itu. Tidak ada ketetapan terbaik yang Tuhan berikan kepadanya alih-alih mengakui kesalahannya. Yang menjadi miris adalah karena Gema sudah lebih dulu menerima dan bangkit dari keterpurukannya sedangkan Nora masih berkubang dengan rasa sesalnya. "Berengsek!" Sekali lagi Nora mengumpat. Sampai hadir sosok lelaki tak dikenalnya berdiri dengan tatapan penuh telisik. "Siapa?" tanya Nora yang sudah benar-benar mabuk. "Aku nggak butuh teman untuk tidur malam ini." "Nora? Nora, 'kan?" Yang langsung duduk dihadapannya tanpa di minta membuat Nora mengerutkan keningnya. "Apa aku seterkenal itu?" Pamor Nora tidak diragukan lagi. Sebagai model siapa pun akan mengenal wajahnya. "Kamu siapa?" Tunjuk Nora yang hampir menjatuhkan kepalanya ke meja. "Kamu hidup kayak gini sekarang?" Pertanyaan itu terselubung makna merendahkan. Entah rungu Lara yang salah atau memang kesadarannya mulai menghilang. "Kamu nolak aku demi menikahi pengacara itu dan hidup kamu nggak lebih baik dari aku. Gila, Tuhan kalau ngasih karma ke manusianya nggak tanggung-tanggung." "Nolak kamu?" Mata Nora mencoba di buka dan menggelengkan kepalanya agar sedikitnya bisa sadar. "Karma, huh?" Lirihnya berucap. Mungkin benar jika Nora sedang dihukum oleh Tuhan. Tapi apa harus sekejam ini? "Hm, karma. Kamu terlalu angkuh ke aku waktu itu. Wah, kamu menyia-nyiakan hidup kamu yang katanya berharga." "Kamu siapa?" Nora bertanya sekali lagi setelah lelaki dihadapannya terus mencecarnya dengan berbagai kalimat yang dirinya sendiri tidak pahami. "Aku bagian dari masa lalu kamu yang pernah kamu hina." Nora mengerjapkan matanya dan coba menyadarkan dirinya sendiri. Mengingat-ingat tentang semua hal yang pernah dirinya lewati dan hasilnya tetap nihil. Lelaki dihadapannya ini tampan dan tinggi. Wajahnya cerah penuh karisma. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, Nora tahu jika dia punya pengaruh dan nama yang tidak bisa dipandang sebelah mata. "Kamu tampan." Senyum Nora menggoda. "Tapi terlalu bertele-tele untuk mengatakan siapa kamu." "Dan kamu masih sama saja seperti dulu. Mengeluhkan ingatan kamu yang payah." "Aku nggak harus mengingat kamu kalau kamu bukan sesuatu yang harus aku ingat." Lelaki itu menyugar rambutnya. Tersenyum dengan bibir naik ke atas. "Nora, Nora. Baiknya aku nikmati kamu lebih dulu sebelum menjadikanmu milikku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN