54

2158 Kata
Terbangun dengan sorotan mentari itu tidak enak. Mengganggu dan membuat tidur tidak pulas. Itu yang paling Nora Bachtiar benci sejak dulu. Jika sudah tidur, bersatu dengan ranjang adalah hobinya yang tidak bisa diganggu. Tapi mentari pagi tidak pernah mau mengerti. Kepalanya begitu pening saat kelopak matanya terbuka. Melihat ke arah di mana mentari menyoroti wajahnya, sedetik kemudian Nora sadar jika ini bukan kamar di rumahnya. Gorden putih dengan sentuhan mewah juga bukan miliknya pun dengan langit-langit kamarnya. Nora terduduk dengan wajah yang terkejut. Melihat ke arah selimut yang membelit tubuhnya, Nora merasakan tidak adanya sehelai kain pun yang membungkusnya. "Sial!" Terbangun karena mentari dan u*****n pagi menjadi lagu yang tak bisa dipisahkan. Nora hendak menapaki lantai saat sebuah dehaman dari belakang tubuhnya masuk ke rungunya. Semakin berdegup jantung Nora. Pasalnya, semalam Nora pergi seorang diri. Jadi menakutkan karena kini ada napas lain yang bersama dirinya di satu ruangan. Pikiran Nora kembali berkecamuk ke berbagai kemungkinan buruk. Dirinya adalah aktris bersih tanpa skandal kecuali perceraian dirinya. Itu juga terendus beberapa bulan setelahnya. Lalu kini? Jangan sampai ada berita perihal dirinya yang diboyong ke hotel dengan judul one night stand. "Yuk sarapan." Kening Nora mengerut saat lelaki itu hanya melempar senyum padanya. Pakaian rapinya serta rambutnya yang basah sudah bisa Nora tebak jika dia sudah mandi. "Sudah ingat aku?" Mata Nora terus mengikuti pergerakan si lelaki sejak tubuhnya memutar ke belakang. "Kamu nggak pernah berubah, lemah." Artinya dia tahu rahasia lain yang orang lain tidak pernah tahu. "Radit?" Lelaki itu terkekeh saat Nora menyebutkan namanya. Kepalanya yang fokus pada roti serta kopinya berlatih menatap Nora intens. Sekali lagi senyumnya terbit dan Nora membalas dengan dengkusan. "Nggak kangen aku?" "Kamu atau aku?" "Benar, aku yang kangen." Nora berdecih mendengar jawaban Radit. "Kamu berengsek!" "Kamu nikmat." "Sialan." "Itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kenapa kamu masih selalu lemah. Nora, kamu harus jadi wonder woman yang bisa menaklukkan lelaki." "Terserah." Nora hengkang dari sana sedang Radit terbahak-bahak. "Kamu cantik tanpa baju." "Begini maksudmu!?" Nora lemparkan ke bawah selimutnya setelah urung menuju kamar mandi. Dan Radit hanya diam dengan jakun naik turun. Seakan lupa jika Nora tidak bisa diberi tantangan sedikit pun. Nora adalah perempuan dengan kadar kepercayaan diri yang tinggi. Yang saat mengatainya harus b***l maka akan dilakukannya dengan sukarela. Sekarang Radit dibuat kalang kabut. Tubuh Nora berjalan pelan ke arahnya tanpa sehelai kain di tubuhnya. Tubuhnya sintal dan seksi. Radit mengakui keelokan tubuh Nora dan terus memujanya hingga kini. Persetan soal yang lainnya. Radit dibuat gila oleh pesona Nora. "Sarapan yang bagaimana yang kamu maksud?" Nora duduk mengangkangi keperkasaan Radit. Menggeseknya perlahan dengan gerakan s*****l disertai satu tangan yang meremas dadanya sendiri. Nora dongakkan kepalanya mempertontonkan leher jenjangnya dan desahannya lolos tanpa bisa ditahan. "Ini maksudmu?" Radit bungkam seribu bahasa. Kabut matanya berkilat penuh gairah membuat Nora kian blingsatan menggesek miliknya pada milik Radit. "Kenapa? Ini, 'kan yang kamu mau? Kenapa diam." Radit memalingkan wajahnya seraya menelan ludahnya. Kerongkongannya kering lalu kembali menatap Nora dengan tersenyum miring. "Apa arti senyum itu?" Bibir Nora terbungkam dan bunyi cecapan beradu. Radit bawa tubuh sintal Nora ke atas ranjang untuk kembali dirinya gagahi. Senyum Nora yang terselip di sela-sela ciuman keduanya membuat Radit kian kesetanan. "Untuk ini artinya senyum itu." Radit masukkan p****g milik Nora ke dalam mulutnya. Memainkan dengan lidahnya dan menyedotnya kuat-kuat. Percintaan panas itu kembali terulang di pagi hari yang indah. Nora mendesah dan Radit terus menggempurnya. *** Weekend adalah hari kesukaan Gema setelah berstatus sebagai seorang suami lagi dan calon Ayah. Saat kelopak matanya terbuka, yang pertama kali Gema lihat adalah Alara dengan dengkurannya. Dan sewaktu akan terlelap juga Alara yang dirinya pandangi. Jadi hari-harinya berjalan semenyenangkan itu karena hadirnya seorang Alara. Gema tersenyum cerah layaknya mentari pagi ini. Yang sinarnya menerobos lewat celah-celah gorden hendak mengusik lelapnya sang istri. "Mimpi apa, sih kamu?" Sudut bibir Alara terangkat seolah ada sesuatu yang membahagiakan sedang terjadi dalam tidurnya. Mimpi yang selalu hadir di setiap tidur orang membuainya dengan apik agar si empu tidak terbangun. Gema senang melihat senyum yang Alara ciptakan. Di setiap harinya selalu diberkati dengan kejadian-kejadian yang indah. Bersyukur karena Alara yang hadir di sisinya. "Abang nggak bakal mau makan kalau sudah anteng mantengin muka aku." "Selama kamu yang masak, sekenyang apa pun bakal Abang habisin." "Bohong banget, sih Bang!?" "Serius!" Alara tidak ingin percaya tapi ini Gema, suaminya yang super pintar melemparkan gombalan manis. "Untungnya waktu cek kesehatan aku sehat Bang. Bisa diabetes karena omongan Abang yang super manis, 'kan nggak lucu." "Kamu mah nggak bisa diajak romantis, Yang!" "Terus mau ngajak yang lain gitu?" Mana bisa Gema menjawab. Konsepnya sudah maju salah apa lagi mundur. Jika dengan Alara urusannya selalu runyam. Bukan kemesraan di Sabtu pagi yang terjadi melainkan debat kusir. "Kalau anak kita pintar debat, berarti dia keturunan aku sepenuhnya." Gema berkata tanpa beban menyebabkan Alara yang mendengarnya murka. "Kamu pendiam, Yang. Ingat!" Memang nggak salah. Tapi tetap saja itu nggak adil. Yang mengandung Alara, 8 bulan 10 hari di bawanya ke mana-mana bahkan hendak mandi pun. "Apa yang aku makan dia juga makan Bang. Sedang apa yang apa Abang makan dia nggak makan!" Sudah Gema duga akan begini akhirnya. Alara tidak mau dikalahkan jika menyangkut tentang calon bayinya. "Senormalnya kalau bukan tanpa aku Ra dia nggak bakal ada di perut kamu. Itu namanya kerja sama tim." "Iya benar. Kerja sama tim." Senyum Gema sudah merekah bah bunga mawar mekar di pagi hari kala hujan. Namun kalimat lanjutannya tetap membuatnya harus mengelus d**a–bersabar. "Aku yang rasain tendangannya, aku yang tahu perkembangan dia tumbuh dan aku yang jadi pemenangnya." Buset! Gema cuma bisa memutar bola matanya kesal lantaran Alara yang gantian ngakak terbahak-bahak. "Nggak adil!" gerutu Gema masih tidak terima. "Nggak boleh protes!" "Bisa apa Abang kalau sudah semuanya milik kamu, Ra!?" "Ikhlas! Sama istri harus ngalah, Bang." *** Siangnya, saat kembali dari cek kandungan. Gema meminta tumis kangkung dan tempe goreng. Alara masakkan yang beruntungnya semua bahan sudah tersedia di kulkas. "Abang nggak mau mandi dulu?" Pasal masak saja Gema jogrok di meja makan. Matanya ke sana kemari mengikuti pergerakan Alara. "Nggak! Kalau Abang mandi, momen lihatin kamu masak nggak bakal terulang." "Setiap hari aku masak." "Dan nggak setiap hari juga aku lihatin kamu masak!" Debat kusirnya dari pagi sampai siang. Genap satu hari penuh pasangan Gema dan Alara kudu jadi rekor muri. "Biar fresh Bang." "Malas!" "Sabar Gusti. Punya suami macam …" Tidak Alara lanjutkan saat menoleh dan tatapan Gema sedang intens. "Macam apa?" Gema nyengir setelah wajahnya berubah konyol. "Reog." Liburan ini ngakak menjadi tema yang tak terlupakan. Alara sampai merinding dibuatnya kalau-kalau suaminya kena tempel setan. "Bang, menurut Abang menikah karena dijodohkan masuk ke konsep paksaan nggak?" Gema tidak langsung menjawab membuat Alara penasaran dan menolehkan kepalanya. Si empu nama sedang khidmat dengan es kopinya dan keningnya berkerut-kerut. "Tergantung masing-masing orangnya, Yang. Awal mula kenapa ada perjodohan ini gimana dulu? Belum punya calon dan di buru-buru nikah atau memang belum kepengen nikah. Artinya saja sudah beda." "Secara global saja menurut Abang gimana. Karena setahu aku nggak semua orang siap dengan pernikahan." Usia matang untuk menjajaki dunia pernikahan belum tentu menjadikan seseorang mantap memutuskan untuk menikah. Ada banyak alasan kenapa pernikahan di usianya yang sudah matang belum terjadi sedang orang-orangnya sekitar sudah beranak-pinak. Memang, sih kalau kita melihat pandangan orang atau pendapat orang nggak akan ada habisnya. "Oke gini saja, Abang kasih kamu satu cerita. Nggak menjamin kamu dapat jawaban atau Abang bisa menjawab pertanyaan kamu. Tapi pernikahan karena perjodohan, ada yang berhasil ada juga yang enggak. Sejauh ini, yang Abang lihat di masyarakat 75 persen berhasil ketimbang menikah dengan pilihannya sendiri. Sebagai orang tua, sekeras apa pun mereka ke anak-anaknya, ada sisi di mana mereka ingin anak-anaknya menemukan pendamping hidup yang baik." Alara diam. Tangannya bergerak memasukkan bumbu ke dalam tumis kangkungnya. "Ada yang bilang, yang menurut kita baik belum tentu baik begitu juga sebaliknya. Kita nggak bisa menghakimi suatu pilihan orang lain karena pilihan dia bukan ekspektasi kita." "Aku masih belum ngerti Bang." Alara tunjukkan senyum lebarnya sampai gigi putih rapinya terlihat. "Tapi aku punya teman. Kayaknya omongan Abang soal umur matang buat nikah–menurut orang lain–belum tentu bikin dia siap buat nikah. Dia juga di kasus yang sama. Cuma sekarang aku nggak tahu kabarnya." "Nikah itu sakral. Siapa, sih yang mau nikah terus gagal? Siapa, sih yang mau nikah yang duduk berdua di pelaminan sebagai raja dan ratu sehari eh berakhir di persidangan. Semua orang nggak ada yang mau itu terjadi. Semua orang nggak mau garis hidupnya miris." "Benar. Tapi Bang, menikah yang sesungguhnya itu yang gimana?" "Sederhananya adalah menikah tentang sebuah obrolan. Obrolan tentang pendidikan anak, tentang masa depan dan segala sesuatu yang akan terjadi di pernikahan tersebut. Jadi harus ada frekuensi yang nyambung antara kamu dan si dia. Andai kok cara pikirnya nggak sama, gimana ngobrolnya? Juga, istri nggak melulu harus jadi Ibu Rumah Tangga yang tahunya cuma dapur, kamar, dan kamar mandi. Istri punya masa depan yang mana saat sudah menikah pun masih bisa diraihnya. Dan suami nggak bisa memberi beban kepada istri kalau dia harus mengurus anak, mengurus orang tuanya atau mertuanya, karena istri bukan pembantu." Ada banyak alasan kenapa belum siap untuk menikah. Lingkungan dan tindak-tanduk keluarga menjadi pengaruh yang paling utama. "Kamu sendiri gimana?" "Apanya?" Alara letakkan tumis kangkungnya dihadapan Gema. Menunggu jawaban atas pernyataan suaminya. "Kan pernah dijodohin." Mata Alara membulat terkejut. Seingatnya, dirinya tidak pernah membicarakan soal perjodohannya. Alih-alih menyetujui keinginan orang tuanya untuk segera menikah dan dicarikan jodoh. Alara justru mendatangi Gema ke ruangannya dan mengajaknya hidup bersama. Itu ada maksudnya kenapa Alara ingin memiliki Gema walau untuk satu hari. "Dia terlalu posesif dan membatasi aktivitas aku. Abang tahu, setelah menikah aku harus cepat-cepat punya anak dan tinggal bareng sama dia buat ngurus orang tuanya juga." Gema terbahak-bahak karena omongannya beberapa menit yang lalu sesuai seperti yang Alara alami. Bukan ingin menyindir, padahal mulut Gema cuma asal bunyi. "Lucu ya, Bang?" Alara merengut. Menghentakkan sebelah kakinya kesal. Untung tidak kencang, bisa meluruh itu janin. Amit-amit! "Kayak yang Abang bilang tadi, istri bukan pembantu yang harus bisa dalam segala hal. Peran suami itu penting. Makanya Abang bilang pernikahan tentang sebuah obrolan. Di mana ada kerja sama yang harus dilakukan." "Aku nggak mau. Dia ngebet kawin, aku takut!" Lagi, Gema ngakak. Alara abaikan. "Aku pikir aku sudah siap. Sampai akhirnya aku sadar kalau aku lakuin itu atas dasar keterpaksaan. Dan aku paling nggak bisa kalau kebebasan aku direnggut gitu saja." "Sampai kapan pun, yang namanya pilihan dimiliki oleh setiap orang. Menikah atau belum, bukan halangan untuk pasangan membatasi apa lagi sampai melarangnya." "Aku melihat banyak hal soal pernikahan dari orang sekitar. Kebetulan dia cowok yang kasar. Jelas aku yang overthinking punya pemikiran yang lebih. Kalau misalnya aku nggak nurut sama dia, bisa saja dia ngucapin kata-kata yang nyakitin. Misalnya aku mau ini dan dia maunya itu, aku bakal kena omongan kasar juga. Jadi aku putusin buat nggak melanjutkan. Aku sampai mikir Bang, buat apa aku punya ijazah kalau sampai berakhir di dapur? Cuma di dapur ya, Bang. Nggak bisa meraih yang jadi impian aku." Gema mengangguk paham. "Menikah atau punya ikatan sakral bukan artinya merelakan yang jadi mimpi-mimpi kita. Itulah pentingnya frekuensi yang sama demi masa depan." "Beda orang beda pendapat. Abang bisa ngomong segampang itu karena Abang punya takaran yang tepat. Abang bisa ngasih kebebasan buat pasangan Abang, mungkin kayak kumpul dan ketemu sama teman-temannya, memberi izin ke pasangan Abang buat lakuin yang dia suka dan masih banyak yang bisa Abang kasih ke pasangan Abang dalam batas wajar. Tapi sumpah Bang, aku sampai detik ini masih sering bayangin andai aku nggak nikah sama Abang dan nikah sama itu cowok. Bakal kayak gimana nasib aku." Gema terkekeh. Alara dan pemikiran rumitnya tidak bisa terpisahkan. Dan Gema tidak bisa merubah wataknya yang keras. Mana yang menurutnya benar makan akan Alara lakukan. "Aku punya teman. Pasti Abang mikir pertemanan aku ini komplit banget, 'kan karena segala kisah mereka aku tahu. Ya, istri Abang ini pendengar yang baik. Hanya akan memberi saran ketika ditanya dan diam ketika tidak ditanya. Aku pasif Bang, malas punya urusan yang nggak penting. Aku mau kasihan ke dia tapi aku tahu kalau tiap orang nggak suka dikasihani. Jadi aku cuma bisa diam saja. Kisah dia ini antara bodoh dan terlalu percaya. Sembilan tahun menjomblo karena konsisten sama kuliah dan masa depan. Eh sekalinya ketemu sama cowok malah yang berengsek. Cuma morotin duwit teman aku doang." "Modal dengkul doang?" Gema menebak yang langsung diangguki oleh Alara. "Jangan asal percaya. Nggak semua cowok bisa diberi rasa yang tulus kecuali Abang ya, Ra. Kita ini suami istri. Kepercayaan dan saling terbuka wajib kita genggam." "Selama Abang jujur aku nggak masalah. Abang mau kawin lagi bakal aku izinin." "Amit-amit Ra!" Alara ngakak. Gema cemberut. Pokoknya enggak ada pikiran Gema buat nikah lagi. Alara sudah lebih dari cukup. "Asal kamu, Ra. Abang nggak mikirin yang lain." Gema kecup bibir Alara berulang kali. Yang membuat si empunya terkikik geli lantaran tangan Gema yang bergerilya ke bagian-bagian sensitifnya. Dan berlanjut pada aktivitas ranjang yang semestinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN