55

2037 Kata
Setelah membahas perihal pernikahan jalur perjodohan kini Alara ajak sang suami membicarakan soal menjadi janda. Coba bayangkan sesabar apa Bachtiar Gema dalam menghadapi mood istrinya? Sabar saja sudah tidak cukup. Weekend ini mereka benar-benar free di rumah. Gema bisa merasakan masakan istrinya di sela-sela liburnya seperti ini. Dimulai dari cek kandungan ke dokter dan makan siang bersama lalu menghabiskan sisa waktu dengan serial yang sedang trending. Sore usai mandi dan beli jajan di taman kompleks rumah, Alara menyelonjorkan kedua kakinya di atas paha Gema yang langsung di pijat-pijat pelan. "Jadi janda itu gimana sih, Bang?" Gema berdecak kesal. Pertanyaan sang istri nggak bermutu. Dari pagi sampai sore pembahasannya bikin rungsing. "Siapa juga yang mau jadi janda, Yang!" jawaban Gema sudah ngegas dan ketus. "Abang nggak boleh kasar. Ini istri Abang bukan lawan Abang di persidangan." "Celaka banget aku punya istri yang pintar mendebat suami." "Harus bangga, 'kan Bang? Istri yang bijak adalah istri yang tahu dan pintar menempatkan posisi." "Biar apa?" Alara yang gantian berdecak. Meletakkan ponselnya menggantinya dengan jagung manis bertabur keju untuk masuk ke dalam mulutnya. "Abang nggak sadar?" Alara melihat alis kanan Gema menukik ke atas. Namun matanya masih berfokus pada berita yang di baca ponselnya. "Abang bilang kita harus satu frekuensi." Konsepnya nggak begitu. Gema mau bengek rasanya tapi ini Alara Senja. "Kali ini yang kamu lihat apa sih, Yang?" Bagi Gema, melihat kasus perceraian dengan angka tinggi bukan tidak mungkin membuat beberapa kalangan berpikir panjang untuk menikah. "Orang-orang suka lupa bahwa ujian terberatnya adalah setelah menikah. Bukan saat hendak menikah dan memikirkan pestanya. Mereka terlalu happy mengadakan resepsi sampai lupa babak baru menanti." Embusan napas Alara membuat Gema paham ada yang dipendam istrinya. "Beberapa kali aku melihat pernikahan yang awalnya baik-baik saja, berjalan mulus dengan ujian yang sewajarnya. Aku punya pemikiran sederhana di mana menikah tidak sekadar melayani suami dengan baik dan mempersiapkan diri menjadi calon ibu. Yang aku lihat, pertama tentang kondisi ekonomi yang masing-masing pasangan berbeda. Tidak kekurangan, tidak juga serba mewah. Takarannya sudah diatur oleh Tuhan. Lalu ada yang serba mewah tapi tidak ada bahagia di dalamnya. Ada pengkhianat semacam perselingkuhan yang tersembunyi." "Kamu kepikiran lagi?" "Enggak. Tapi Tante punya kisah menyedihkan soal pernikahannya dan nggak semua keluarga bisa speak up soal masalah yang rumah tangganya hadapi." "Memberi tahu atau tidak, pasti ada alasan di dalamnya." Kisah ini mulai membosankan. Gema tidak suka pembahasan mengenai kehidupan rumah tangga milik orang lain. Bukan tidak mau melihat dan menjadikannya pelajaran. Namun Gema juga manusia biasa yang hati dan pikirannya bisa rungsing juga. "Nikah siri, punya anak dengan selingkuhannya dan tempramental. Aku jadi bayangin sekuat apa hati yang harus menghadapi tindakan seperti itu. Abang tertekan banget, ya sama aku?" "Kenapa?" "Mungkin aku ngajakin Abang ngobrol dengan topik yang nggak enak sama sekali. Alih-alih membahas masa depan kita, aku justru menyeret Abang ke pembicaraan yang nggak berguna." "Ini tentang masa depan." Gema tidak suka memberi kesimpulan mentah-mentah. Selama bisa untuk diolah, akan Gema lakukan bagaimana pun caranya. "Obrolan kita, pembahasan kamu dan ketakutan pada trauma yang kamu punya. Itu semua Abang jadikan pegangan bahwa ada batas untuk kita marah. Lagian Yang, istri itu pengabul doa-doa suami. Nggak akan dikabulkan doa seorang suami kalau masih menyakiti istri. Nggak akan lancar rezeki suami kalau masih membuat istri meneteskan air mata. Itu pesan dari Mama sebelum Abang mempersunting kamu." "Lingkungan aku nggak sehat banget kayaknya." Yang Alara lihat beragam. Tidak hanya dari keluarganya sendiri. Contoh terdekatnya adalah Papanya. Yang sudah pernah menikah dan menyembunyikan putrinya sendiri. Jika Alara boleh jujur, hingga detik ini luka akibat tahu kalau dirinya bukan si sulung yang sebenarnya cukup mengejutkan. Itu sudah lama terjadi tapi masih jadi momok menakutkan untuk Alara melihat Papanya bersama kehidupan masa lalunya. Belum lagi Mamanya yang diam menerima dan memendamnya seorang diri selama hampir 25 tahun. Pantas jika Alara merasa keluarganya tidaklah sehat. "Dan kamu bisa mengambil keputusan besar yang kamu sendiri nggak menyangka akan berada di titik ini, benar?" Kepala Alara mengangguk. Merasa diberi dukungan oleh suaminya. "Dalam pernikahan soal pengajuan cerai ada banyak masalahnya, Yang. Tapi orang yang mempertahankan pernikahannya meski sudah tahu itu gagal, Abang salut." "Kenapa?" "Mereka punya banyak pertimbangan. Khususnya salah satu pihak mau mengalah dan menganggap hal ini lumrah terjadi. Jika sudah ada anak, mereka akan berpikir tentang bagaimana kehidupan anak-anaknya. Karena dari segi usia yang masih butuh bimbingan dari kedua orang tuanya lalu harus hidup terpisah dari keduanya, bukankah itu menyakitkan?" Ah, sekarang Alara tahu kenapa Tantenya lebih memilih bertahan. Setengah gila melihat Tantenya disakiti, kini Alara pahami arti sebuah bertahan meski dilukai berulang kali. *** "Bisa-bisanya!" Nora marah dan mengumpati tindakannya sendiri. "Nikmati Ra, nikmati!" Radit menjawab dengan santai seraya mengupas kacang kulitnya. "Berengsek!" "Mulutmu manis Ra saat aku melumatnya. Sesuai dengan u*****n yang kamu keluarkan!" "Ya!" "Astaga!" Tersebar ke karpet hotel semua kacang kulit milik Radit. Dengkusannya mengartikan kekesalan mendalam lantaran kesukaannya diganggu. "Muak aku lihat muka kamu!" "Kamu gabut deh, Ra." Radit nyengir dengan santainya. Mengambil bungkus kacang kulitnya yang masih utuh dan mulai mengupasnya. "Oke, yang pertama salah memang aku. Tapi Ra, rasa kamu itu benar-benar nikmat sampai aku masih terbayang-bayang. Lagi dan lagi aku terbuai olehmu Nora. Wah." Nora bersidekap masih dengan tubuhnya yang polos. Sekali tarik saja, dijamin tubuh telanjangnya akan langsung terpampang di depan Radit. Dan kesekian kalinya dalam hari ini percintaan panas keduanya akan terulang. "Kedua …" Masih Radit lanjutkan kalimatnya saat Nora terus memasang wajah masamnya. "Itu murni kesalahan kamu. Aku ini normal Nora. Saat kamu goda, jelas aku menerimanya. Lagi pula kita sama-sama tidak dalam ikatan serius dengan siapa pun." Radit tunjukkan kedua tangannya yang polos bahwa dirinya tidak dimiliki oleh siapa-siapa. "Aku mabuk tapi kamu jelas menggunakan kesempatan dalam kesempitan." "Seperti kataku tadi, aku normal Nora. Aku menerimanya karena memang aku menunggu. Gimana? Aku masih oke, 'kan?" "Sialan!" Radit tertawa terbahak-bahak. Puas membuat Nora terdiam. "Kenapa si pengacara itu menceraikan kamu di saat rasamu masih sungguh menggairahkan?" Dari dulu Radit tahu bahwa Nora pandai dalam urusan ranjang. Jauh sebelum Nora menikah dengan Bachtiar Gema, Radit adalah pemimpin di percintaan mereka. "Sayang banget wanita secantik kamu dikalahkan dan digantikan oleh bau kencur." "Apa maksudmu?" "Jangan pura-pura." Radit gelengkan kepalanya. "Aku tahu semuanya. Nora, aku lebih mengenalmu daripada siapa pun di dunia ini." "Sombong!" "Kamu ingin aku melakukan apa?" Nora Bachtiar diam. Netra matanya menatap ke dalam kelamnya mata milik Radit Wicaksono. Pria dihadapannya ini bukan sembarang orang yang bisa Nora sepelekan. Nora juga tahu kehidupan macam apa yang Radit jalani dan ambisi apa yang Radit ingini. "Entahlah." Kepala Nora melihat ke luar jendela kamar hotelnya. Mentari sore sudah kembali ke peraduannya. Weekend ini dirinya habiskan dengan beronde-ronde percintaan. Perasaannya senang dan puas namun belum cukup menyenangkan dahaganya untuk kembali memiliki Bachtiar Gema. "Aku tahu kenapa kamu harus bersusah payah masuk ke kantor Gema. Cara kamu terlalu kuno." Memangnya apa lagi yang bisa Nora lakukan selain beralasan menjual beberapa properti yang dirinya miliki. "Seharusnya kamu langsung mengatakan kepada Gema kalau mau ngajak balikan." "Endasmu itu!" "Ketahuan! Kamu punya rencana untuk itu. Aku tahu sekarang." "Sialan!" "Mulut-mulut yang sering mengumpat itu memang nikmatnya tiada tara. Dahsyat nan mematikan." Nora tidak peduli dan kembali membawa tubuhnya ke atas ranjang. *** Ini tentang kedua orang tua Alara Senja. Yang malam ini duduk berdua ditemani seekor kucing kesayangan mereka. Rumahnya sepi karena kedua putri mereka telah menikah dan memilih hidup terpisah dengan mereka. "Makan ini." Jayanti sodorkan tangannya yang berisi makanan khas untuk kucingnya, Mochi. "Kamu lagi hamil lagi, 'kan?" Entah kesepian atau memang mengajak ngobrol hewan peliharaan menjadi suatu keharusan. Mochi adalah jenis kucing Persia berwarna peach yang mendatangi rumahnya setiap harinya. Awalnya Jayanti tidak paham maksudnya apa. Namun lama-kelamaan menarik hati Jayanti untuk mengopeninya. "Makan yang banyak biar sehat kamu dan bayi-bayimu." Suara sang suami ikut menimpali. Jayanti tersenyum kecil sedang tangan satunya mengelus kepala Mochi. "Ada kabar apa tentang Alara?" Wiratmo tumben-tumbenan bertanya. Alih-alih menyesali sikapnya kepada Alara yang tidak pernah adil selama ini. "Dia baik-baik saja." Seakan sudah tahu maksud jawaban dari istrinya bahwa Alara tidak memberi kabar selain mereka yang mengabarkan terlebih dahulu. "Itu salah kita." Wiratmo tutup korannya. Sudah malam pun koran hari ini tetap akan Wiratmo baca jika belum usai. "Sudah bikin Alara nanggung beban ekonomi pas kita lagi susah, jodohin dia sama lelaki yang dia nggak mau eh sekarang masih sok perhatian nanyain kabarnya. Di pikir-pikir kita ini lucu ya, Ma?" Jayanti tersenyum kecut. Masih asik dengan tangan yang memberi makan kepada Mochi. "Mochi makin hari makin lucu. Sejak hamil tiap tak gendong berat banget." Bukan tidak mau mengomentari yang menjadi sesalnya sang suami. Jayanti tidak ingin menangis menyesali perbuatannya. "Kita juga edan bikin Mosa nikah sama Prabu. Padahal kita tahu Prabu pacarnya Alara eh kita nerima lamarannya. Orang tua macam apa kita ini." Seolah alam sedang menghukum pasangan suami istri ini. Untuk terus berkubang pada sesalnya seumur hidup. "Terus kita bisa apa, Pa? Mama lebih percaya kalau Gema bikin dia bahagia. Nanti, akan tiba waktunya Alara mendatangi kita dengan wajah berseri penuh bahagia. Tunggu saja." "Kamu sok tahu!" Wiratmo mencibir dengan senyuman. "Aku ibunya, aku yang melahirkan dia." "Aku yang membimbingnya untuk bisa berjalan dan berdiri tegak tapi aku juga yang membuat kakinya terseok-seok kala dewasa." "Pa, Alara sudah bahagia dengan pilihannya. Kalau di pikir sekali lagi, ada benarnya juga saat dia nolak kita jodohkan. Dia punya mimpi yang harus diraih, dia punya ambisi yang harus digapai. Mama tahu andai perjodohan itu masih berlanjut, Alara akan lebih frustrasi. Dia masih bernapas dan menikah meminta restu kepada kita saja Mama sudah sangat bersyukur Pa. Kita jadikan ini pelajaran, ya." "Rumah ini makin sepi." "Kenapa nggak Papa panggil Mulan ke sini?" "Jangan cari perkara Ma." "Mama juga butuh teman untuk ngobrol. Kayaknya kita bisa akur kok. Bukankah selama ini itu murni kesalahan kita karena menyembunyikan fakta? Papa sudah jujur ke Mama soal masa lalu Papa. Itu bukan aib, tapi menunggu waktu untuk Alara menerima. Mungkin itu juga yang bikin Alara bersikeras untuk tinggal di luar rumah. Papa nggak lupa, 'kan kalau Mulan juga anak Papa?" Mendengar penuturan istrinya Wiratmo terdiam. Fokus matanya hanya menatapi tiap baris kalimat di dalam koran yang tertulis namun tidak bisa membacanya. Memang benar yang Jayanti katakan. Mulan juga istrinya dan ada darahnya yang mengalir di dalam tubuh Mulan. Tapi apakah itu keputusan yang bijak membawa serta Mulan ke dalam rumahnya? Tidak! Wiratmo ragu untuk itu. Entah mengapa perasaanya tidak enak. "Dia juga butuh Papa." Jayanti masih membujuk namun Wiratmo sudah yakin dengan keputusannya. "Kita cukup begini saja. Papa sudah tenang dan nggak mau mengulang di urusan masa lalu." Wiratmo hengkang dari sana membuat mulut Jayanti yang hendak berkata kembali terkatup. Dalam benak Jayanti hanyalah perasaannya yang egois. Berpikir jika Wiratmo masih memiliki perasaan untuk wanita masa lalunya. Sudah bertahun-tahun dan tidak ada perubahan. Jayanti merasa diasingkan. Lain halnya dengan Wiratmo yang sudah mengubur cintanya dalam-dalam. Wiratmo cukup berpuas hati memiliki Mulan. Sudah diterima oleh Mulan dengan tangan terbuka saja sudah sangat bersyukur bagi Wiratmo. Tahu apa yang selalu Wiratmo lakukan untuk dirinya sendiri dalam memberi hukuman? Dulu, Wiratmo selalu berpikir bahwa dirinya adalah orang tua yang gagal. Dalam segala hal Wiratmo tak pantas disebut sebagai Ayah. Bahkan saat melihat Alara seperti tak dianggap oleh Jayanti, yang Wiratmo lakukan hanya diam. Padahal adanya Wiratmo adalah untuk membela dan melindungi Alara bukan malah memberinya rasa sakit yang sama. Menyesal yang tak berujung menjadi pilihan Wiratmo demi membayar rasa sakit yang Alara miliki. Wiratmo benar-benar b***t untuk putrinya Alara Senja yang berharga. Wiratmo benar-benar b******n tak bisa mendampingi Alara dalam masa-masa sulitnya. Lebih dari apa pun Alara terlalu banyak berkorban untuk keluarga ini. Seandainya ada pilihan yang lebih baik, membersamai Mirna adalah yang ingin Wiratmo lakukan. Cukup bersama Mulan, keluarga kecil yang dalam bayangan Wiratmo bahagia selalu menghampiri tidur di malam harinya. Sayang, takdir Tuhan tak terlalu berpihak padanya. Bukan tidak mensyukuri hanya meminta. Mirna pernah bertanya sebelum keduanya berpisah: kenapa kita tidak berjodoh? Wiratmo tidak bisa memberi jawaban yang artinya telah melepas Mirna detik itu juga. 'Karena tahu bahagia saja tidaklah cukup.' Yang hanya bergaung dalam hati Wiratmo. Tumbuh menjalar bersama sesal yang tak berkesudahan. 'Karena kita tidak berjodoh. Karena bukan aku yang bisa menggenggam bahagia bersamamu.' Miris. Seperti itu hari-hari Wiratmo. Lagi pula, siapa sih yang mengharapkan sebuah perpisahan? Setiap orang juga maunya menikah bersama orang yang dicintainya. Sayang, jodoh Wiratmo adalah Jayanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN