56

2102 Kata
Jasmine Atmojo berusia 21 tahun. Dia adalah keponakan Bachtiar Gema dari Kakak pertamanya yang bernama Mika Darmawangsa. "Jadi libur hari ini?" "Iya Tante. Ganti hari Sabtu nanti." Jasmine masih melanjutkan studynya di salah satu kampus kenamaan di Jakarta. Dan hari Selasa ini bertandang ke rumah Gema karena kangen dengan Alara. Ponakan Gema satu ini memang sedikit unik. Alih-alih merindukan Omnya yang bernotaben sebagai adik dari Mamanya langsung justru menggilai Alara yang iparnya. "Mau makan apa? Om kamu kayaknya pulang telat jadi nggak usah nunggu dia." Sebelum berangkat pagi tadi Gema sudah berpesan jika jadwalnya hari ini padat. Itu juga terbukti dari lamanya balasan chat yang Gema kirimkan. Alara maklum karena pernah berkecimpung di bawah naungan Gema dan tahu seperti apa kinerjanya. "Masih saja sibuk!" Jasmine berdecak kesal. "Kayak kerja jadi jaminan dia buat ngasih waktu ke anak istri." "Anggap saja tabungan buat lahiran." Seloroh Alara mencairkan suasana panas di wajah Jasmine. "Tapi Tante belum belanja. Cuma ada bahan seadanya doang yang di kulkas." Alara buka kulkasnya dan melihat apa-apa saja yang ada di dalamnya. Cuma kangkung, pakcoy, sawi putih, kol, wortel, tahu dan tempe serta bumbu-bumbu. Perdagingan dan persosisan kebetulan kosong karena semenjak hamil Alara suka ngidam sosis dan ayam. "Yuk Nte belanja." Semangat Jasmine membara melupakan kekesalannya pada Gema. "Nggak yang aneh-aneh sih, Nte. Aku ke sini karena bosan dan kangen sama Tante." Jasmine sedang suntuk dan butuh hiburan. Lebih tepatnya tidak merasakan hidupnya yang akhir-akhir ini monoton. Seolah aktivitasnya cuma ke kampus, nongkrong, mengerjakan tugas dan kembali ke apartemennya. Bukan nggak bersyukur, Jasmine pengen jadi mahasiswa yang ada gunanya di masa mendatang. Namun jiwa malasnya nggak bisa diajak kerja sama. Jadilah kayak gini: mahasiswa kupu-kupu. "Nginap, 'kan?" Jasmine datang di jam dua siang. Meski berada di satu wilayah di Jakarta, tetap saja bakal memakan waktu untuk pulang ke apartemennya. Jadi lebih baik pulang. Jasmine bisa menghabiskan waktunya dengan uring-uringan sendiri nanti. "Enggak deh, Nte. Besok aku ada pertemuan di jam 11 siang. Kalau aku nginep yang ada malas buat ke kampus." "Nggak boleh malas ya anak cantik. Yuk ke supermarket depan. Biar kamu cepetan makan siang." "Aku ngerepotin Tante, ya?" "Enggak sama sekali. Kamu datang ke sini juga Tante senang banget." Alara berjalan menuju kamarnya di lantai bawah. Mengambil jaket dan dompet lalu kembali menemui Jasmine yang duduk di kursi santai ruang tengah. "Pasti bosan ditinggal sama Om kerja. Itu orang mending kawin saja sama dokumen. Punya istri dianggurin." Sepertinya memang sudah ada keturunan di keluarga mertuanya yang hobi mengumpat. Buktinya Jasmine juga senang melakukan hal yang demikian. "Akhir-akhir ini banyak kasus yang masuk yang harus ditangani. Kadang sampai di bawa ke rumah dan Tante bantu. Kalau boleh jujur, Tante pengennya bantu-bantu di sana tapi tahu sendiri, 'kan Om kamu itu kayak apa?" Alara juga ingin memberi tahu perihal pekerjaan Gema yang di kemudian hari akan Jasmine emban. Sayang, Alara masih belum berani menyentuh sisi keluarga Gema sejauh itu. Sudah diajak berdiskusi soal masalah yang mereka hadapi saja Alara bersyukur tiada henti. Jadi nggak mau bersikap ngelunjak, biar Jasmine yang merasakan sendiri nantinya. "Nggak adil memang!" Jasmine kenakan topinya dan berjalan keluar dari rumah Alara mengikuti si empu rumah. "Gimana sekarang?" "Apanya, Nte?" Ngomong-ngomong yang namanya jodoh itu sama. Alara dan Omnya juga demikian. Tidak heran cara mereka bertanya juga sama. "Pacar kamu?" Cuaca hari ini tidak terlalu panas. Jakarta bisa seadem ini sudah yang paling hamdalah banget. Semilir angin sepoi-sepoi membelai rambut yang Alara gerai. Dan awan mendung yang bergerumul siap menumpahkan airnya ke tanah. Cuaca suka berubah-ubah menjelang memasuki musim kemarau. "Entah, belum ada yang cocok. Belum merasa harus mikirin punya pacar alih-alih biar makin semangat." Jasmine lari ke sini karena patah hati eh malah ditanya perihal tambatan hati. Apes! Tapi Jasmine memilih memendam. Ini perasaan yang Jasmine pukul seorang diri. Nggak perlu Tantenya tahu. Toh Jasmine sudah menganggap angin lalu walau sakitnya belum berlalu. "Benar, lagian masa muda nggak melulu tentang pacaran." Alara sudah pernah ada di usia Jasmine. Memiliki pacar di tingkat mahasiswa adalah impian semua orang–tidak juga sih sebenarnya. Tiap orang punya pandangan dan pendapat berbeda. Alara juga punya dulu tapi berjalan sewajarnya. "Selama Mama nggak maksa aku harus punya pacar, aku aman Nte." Mika Darmawangsa di mata Jasmine adalah seorang Ibu yang kaku. Yang kadang suka main perasaannya sendiri tanpa mau melibatkan Jasmine. Seperti contoh yang terjadi beberapa bulan lalu saat Gema menikahi Alara. Usia Alara yang terbilang muda namun matang yang sudah berani menikah membuat Mika terus-menerus membahasnya. Menginginkan Jasmine juga menikah di usia yang Mika patokkan. Padahal Jasmine yang mau menjalani tapi Mamanya riweuh maksimal. Jelas Jasmine belum kepikiran sama sekali. Yang ada di benak Jasmine pendidikan dulu dan bekerja guna membangun kariernya. Sehingga nanti saat bertemu dengan jodohnya, Jasmine tidak direndahkan apa lagi di atur-atur dalam segi apa pun. Karena Jasmine punya pendidikan dan pekerjaan jika sewaktu-waktu suaminya berulah, Jasmine tidak terlalu menggantungkan. Di kira menikah nggak butuh persiapan matang kali ya. Mamanya mah unik. Hanya embusan napas yang bisa Jasmine helakan. Langkah kakinya diiringi obrolan bersama Alara yang lebih banyak Jasmine bengongnya telah membawanya sampai di supermarket Semilir AC menerpa kulit keduanya. Alara bergegas mengambil troli dan Jasmine mendorongnya. "Tante pengen ceri." Jasmine dorong trolinya menuju rak-rak buah dalam kaleng. Mengikuti Tantenya sembari melihat-lihat. "Kamu pengen dimasakin apa?" "Belum kepikiran, Nte." Nggak jauh beda dengan Gema. Sukanya minta dadakan. Alara bukan ingin mengeluh cuma takut kalau-kalau nggak sesuai selera saja. "Tante mau bikin jagung manis s**u keju lagi." Alara menuju corn kalengan dan mengambilnya. "Kamu ambil yang kamu mau nanti Tante masakin." "Oke, Nte." Yang masih Alara lihat Jasmine mengikuti langkah dirinya. Alara biarkan saja. Tiba waktunya nanti kalau Jasmine sudah mantap untuk bercerita akan membuka omongannya. Setelah menjadi istri Gema, sedikit banyaknya Alara paham tabiat keluarga Gema. Mereka keluarga hangat dan penuh keterbukaan. Bagi Alara sendiri yang tidak mendapat sambutan baik di mata keluarganya merasa sangat diterima di keluarga Gema. "Di dunia ini takdir ada beneran nggak sih, Nte?" Ada, bagi mereka yang percaya. Nggak ada bagi mereka yang nggak percaya. Kembali ke masing-masing orangnya." "Aku nggak percaya." "Nggak masalah. Semuanya kembali ke orangnya. Kamu tentunya punya dasar kenapa nggak percaya takdir." Alara masukkan jagung ke dalam troli. Lalu ceri menyusul buah-buahan lainnya yang berkaleng. Saat menoleh ke belakang, Alara melihat raut bimbang Jasmine dan kembali mengabaikan. "Di dunia ini aku nggak tahu apa yang aku suka selain aku harus jadi diri sendiri." "Itu bagus. Kamu punya prinsip." "Tapi aku juga rasain kehampaan yang aku sendiri nggak tahu apa yang aku cari." "Itu wajar karena kamu masih dalam posisi mencari jati diri. Tiba waktunya nanti kamu akan menemukan tanpa sadar." "Aku pengen hidup normal layaknya anak-anak lainnya." "Dan hidup kamu yang nggak normal sedang diincar banyak anak-anak di luar sana." Saat mengatakan itu, Alara sangat santai sehingga Jasmine yang kalut malah menarik kedua bibirnya ke atas. Merasa tenang dan senang saat Alara justru memberinya dukungan dan bukan menghakiminya. "Tante nggak hujat aku?" Pertanyaan Jasmine menghentikan langkah Alara yang hendak berbelok ke rak telur. Tubuhnya berbalik manatapi Jasmine sampai di empunya meringis malu. "Bukan hak Tante buat menghujat perasaan kamu. Kamu punya alasan, kamu punya memegang prinsip dan lebih dari itu kamu sudah dewasa. Kamu punya masalah dan merasakan penatnya cara menyelesaikan. Itu hak kamu dan bukan hak orang lain memberi komentar. Kenapa? Karena kamu yang tahu caranya untuk melangkah." Jasmine masih diam. Matanya saling menaut ke dalam mata Alara. Sedetik. Dua detik. Sampai berubah menjadi menit dan Jasmine tersenyum. "Kenapa nggak dari dulu saja Om Gema ketemu dan nikah sama Tante, sih. Nyebelin!" "Hah?" Alara bingung. Nggak tahu sama anak cewek satu ini. Ajaibnya nggak ketulungan. Jasmine berlalu dengan cengiran. Berjalan mendahului Alara yang wajahnya berekspresi lucu. "Pantas Om suka banget sama Tante." Jasmine berjalan di rak-rak jajaran rokok. Dan entah mengapa ada keinginan Jasmine untuk mencobanya. Sebagai pelepas stres. Tapi ada Alara di sini. Berabe urusannya. "Om kamu bucin banget." "Nggak sadar umur!" Jasmine akan habis-habisan mencibir Omnya. Tidak peduli akan sedongkol apa Alara dibuatnya. "Tapi kamu sayang, 'kan?" Tidak Jasmine pungkiri. Sebagai anak pertama dan perempuan, Jasmine cukup kesusahan berinteraksi. Dan Gema menjadi sosok yang datang sebagai teman–bukan hanya keluarga–yang memberinya dorongan. "Aku pertama kali bisa ngomong dengan bebas tanpa beban, tanpa paksaan itu sama Om. Berasa kayak punya Kakak gitu, Nte. Senang jadinya." Alara tahu. Gema sering bercerita tentang Jasmine sebelum dirinya dipinang dan masuk ke keluarga Gema. "Aku nggak tahu kebanyakan anak pertama bakal rasain kayak yang aku rasain atau enggak. Tapi aku benci dan bersyukur sama keadaan aku." "Kenapa?" Acara belanja keduanya sudah usai. Semua yang diinginkan sudah pindah ke kantong plastik setelah antri di kasir. "Mama terlalu banyak nuntut aku harus begini dan begitu. Aku nggak bisa milih yang aku suka, nggak bisa lakuin yang aku mau. Jadi aku tertekan." Anak itu anugerah tapi tidak semua orang tahu artinya. "Mau aku ajarin biar nggak merasa terkekang banget?" "Ada caranya, Nte?" Alara mengangguk. Jasmine balas dengan senyuman. "Nanti, jangan sekarang. Setelah ini kamu makan. Nanti Tante kasih tahu." *** Sekembalinya dari rumah Alara, Jasmine hanya duduk terdiam di atas sofa ruang tamunya. Netra gelapnya berpendar menyusuri setiap desain ruangan apartemennya. Tidak ada yang benar-benar bisa Jasmine lakukan untuk mengisi ruang kosong di sudut hatinya. Sebenarnya Jasmine kenapa, sih? Patah hatinya kok bikin nyesek gini. Pertama kali bisa jatuh cinta, naksir berat ke cowok eh tahunya sudah ada yang punya. Pengen jadi pelakor tapi bukan skill Jasmine dalam urusan merusak hubungan orang lain. Kan galau! Bentar Jasmine mikir dulu kata-kata bijak yang pantas untuk dirinya sematkan. Kedua tangan Jasmine meraih minuman bersoda yang ada di atas meja dan membukanya. Meminumnya perlahan sembari mengisi kepalanya agar tidak kosong melompong. Sampai detik berlalu menjadi menit belum juga Jasmine temukan solusinya. Eh tapi ada yang Jasmine ingat dan rasanya tetap sama: hampa. Jasmine tidak tahu apa yang sedang dirinya butuhkan dan apa yang ingin dirinya lakukan. Pokoknya kosong semua. "Setiap mengambil langkah untuk maju, kamu tahu nggak kalau ada orang lain yang dipaksa mundur? Maksudnya saat kamu gigih ingin membersamai orang yang kamu suka, ada yang dipukul mundur agar orang itu jadi milik kamu. Atau kamu yang harus mundur. Itu sudah hukum alam." Itu adalah pertanyaan yang diajukan Alara saat berada di dapur. Sesi memasak beberapa jam yang lalu masih melekat di benak Jasmine. Namun hingga tubuhnya berpindah tempat ke sini Jasmine belum sepenuhnya paham maksud omongan Alara. "Kamu nggak akan jatuh hanya karena patah hati." Jasmine tidak mengatakan apa pun soal patah hatinya tapi Alara tahu. "Logikanya, karena kamu kecewa–entah karena kamu sendiri yang membuat hatimu harus kecewa atau ekspektasimu tentang cinta yang menjatuhkan–pada dasarnya jika dia tahu kamu menyukainya dan dia dimiliki oleh orang lain, menjaga adalah jalannya. Contoh kecilnya, dia nggak akan bermesraan dengan miliknya dihadapan orang yang menaruh harap padanya." Ah ini dia yang Jasmine rasakan sejak tadi. Kenapa bodoh sekali otaknya ini. "Hidup terus berjalan. Orang datang dan pergi. Kamu harus lepasin yang nggak bisa kamu raih. Lepas saja, nanti akan Tuhan ganti yang lebih baik lagi." Senyum Alara melayang di kepala Jasmine. "Aku nggak tahu kalau Om begitu terbuka ke Tante," gumam Jasmine tidak jelas. Masih memikirkan bagaimana cara Alara tahu jika dirinya sedang patah hati. Apa mungkin dengan datangnya Jasmine ke sana? Mungkin. Toh selama ini Jasmine baru pertama kali berkunjung ke rumah Omnya. "Anak gadis patah hati?" Adalah isi pesan dari Omnya. Wah alamat dirinya menjadi bulan-bulanan Bachtiar Gema. Jasmine ingin mengumpati Alara tapi sadar jika mereka adalah pasangan suami istri yang butuh keterbukaan. Kan lucu kalau Tante Alara mengatakan Jasmine ke sini numpang makan doang. Jasmine lebih mengenal Omnya seperti apa dan lebih dari siapa pun. "Nggak!" Jasmine balas ogah-ogahan. Demi menghargai waktu yang sudah Gema buang percuma makanya Jasmine beri emotikon senyum pipi merah di belakangnya. "Kalau nggak broken heart nggak mungkin ganti jadwal kuliah." Siapa yang sangka kalau Bachtiar Gema bisa sedetail ini terhadap dirinya? "Aku ponakan Om atau anak Om, sih?" "Ciye yang sudah gede. Yang baru kenal cinta-cintaan terus potek ati." Apa Jasmine bilang soal bulan-bulanan Omnya. Sekarang terbukti. "Dosen yang minta ganti hari Om!" "Bohong dosa lho, ya! Kuliah modal niat dan nyumbang otak tuh harusnya semangat. Jangan banyak tingkah pakai patah hati segala. Kamu sukses nanti para jantan pada antri minta dijadikan suami!" "Demi apa?" "Kalau percaya sama Om detik ini juga kamu murtad." Bengek! "Aku kangen Tante." Jasmine masih berkilah dan menutupi kondisi hatinya. Namun setelah mendapat pencerahan dari Alara, pikiran Jasmine kembali terang. Jasmine letakkan kembali ponselnya di atas meja. Menunggu balasan dari Omnya yang sampai menit-menit berlalu tidak ada getaran di ponselnya tanda pesan masuk. Ya sudahlah. Mungkin mereka sedang bermesraan atau segala sesuatu yang menjurus tentang kehidupan orang dewasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN