57

2134 Kata
Sekarang Gema punya nama baru buat ngajakin Alara nana-ninu. Lebih elegan dan kalem, yakni ibadah. Malam itu saat hujan turun membasahi bumi Jakarta, Gema pening maksimal dengan dokumennya di atas meja kerja. Sudah malam, di rumah dan inginnya bermanja dengan sang istri. Namun karena ini bentuk tanggung jawab darinya, Gema tidak bisa abai begitu saja. Secangkir kopi–bukan dua gelas kopi–telah Alara suguhkan. Bersamaan jajaran camilan yang ada di sampingnya. Gema embuskan napasnya sejenak. Kedua tangannya berada di belakang kepalanya. Peningnya luar biasa tapi nggak tahu mau ngapain. Gema sudah buntu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Butuhnya sesuatu yang hangat tapi bukan kopi dan pijatan yang mengenakkan namun bukan SPA. "Abang sudah mau makan?" Gema lirikkan matanya ke atas meja di mana jam digital kecilnya ada di sana. Di antara foto pernikahan dirinya dengan Alara. Jarum pendeknya hampir menyentuh angka delapan sedang jarum panjangnya berada di antara angka 10 dan 11. Di luar hujan semakin deras. Dan keinginan Gema kian menjadi. Ada yang bangun tapi bukan tongkat. Berdiri tapi bukan keadilan. Begitulah kira-kira. Lama memberi jawaban, hanya mata Gema yang berkedip seolah baru menyadari eksistensi Alara pun dengan daster yang dikenakannya. Sopan padahal tapi memang dasarnya Gema lagi pengen dibelai–pusakanya maksudnya–melihat Alara terangsang tanpa sentuhan. Halal kok, 'kan istri sendiri. "Abang!?" panggil Alara dengan tangan melambai-lambai dihadapan wajahnya. "Kenapa bengong?" Gema senyumi dan tatapi wajah Alara dengan intens sekali lagi. Kali ini kedua matanya berhenti di d**a Alara yang entah mengapa kian padat berisi. Padahal jarang Gema usapi apa lagi remasi hanya memegangnya saat terlelap. Kenapa bisa semenggoda itu, ya? Dengkusan Alara menyadarkan Gema dari bayangannya yang nikmat. Hanya bisa nyengir saat Alara merubah ekspresi wajahnya jadi cemberut. "Aku sudah masak loh! Abang niat mau makan enggak!?" Sekali lagi Alara bertanya. Bengeknya, dirungu Gema tawaran untuk makan yang artinya makan malam dengan nasi dan berbagai jenis lauk-pauk justru seperti ajakan ibadah di atas ranjang. Gema nyengir tanpa sebab yang bikin Alara hengkang dari sana. Tahu kok isi pikiran suaminya itu apa. Mau dikatai m***m kok sudah sah, mau dibilang c***l kok sama suami sendiri. Kan bingung Alara. "Kamu masak apa?" "Kebiasaan!" Alara hampir memukulkan spatula ke tubuh Gema kalau nggak segera sadar itu suaminya. "Jangan ngagetin Gusti!" Alara berteriak meluapkan kedongkolannya. "Kan kamu ngajakin Abang makan Yang. Ya Abang buntutin." Tanpa dosa Gema menjawab sembari mencomot ayam goreng di atas piring. "Ayam geprek?" "Ayam kecap!" Ketus Alara menjawab. Sudah jelas-jelas yang diambilnya ayam goreng pakai tanya segala. "Sambalnya mana?" "Di warung!" Masih ketus lantaran kesal. Pokoknya mood Alara rusak karena Gema yang m***m tidak pada tempatnya. Kan ruang kerja Gema bukan tempat umum, yak? "Kamu kalau misuh-misuh gitu pengen Abang kekepin, Ra!" Ini lidah Gema sudah ngerem banget di belakang giginya. Aslinya nggak mau ngomong gitu tapi melihat mood Alara yang anjlok, ya tahan pokoknya timbang gagal nggak dapat jatah. "Bodo amat!" "Abang serius." "Abang tahu yang namanya burung dalam sangkar?" Gema mengangguk seraya memakan potongan kedua ayam gorengnya. "Nah itu aku." Ya Tuhan! Alara masih saja kesal perihal dirinya yang tidak diajak ke kantor. Ya Gema juga masih mikir seribu kali mau bawa Alara ke sana. Suami macam apa yang ngizinin bini kerja di saat sedang hamil? "Banyak! Istri yang diizinin kerja pas lagi hamil. Ini aku di kantor Abang loh bukan jadi Romusha. Kenapa, sih susah banget ngasih aku izin!?" Gema nggak mau di nomor duakan. Itu alasan paling utama sejak dirinya mengikat Alara. Gema tidak mau masa lalunya terulang dan berujung pada kesakitan yang sama. "Ra." Gema ambil ayam gorengnya lagi. "Kita pernah bahas ini. Bukan Abang nggak izinin tapi Abang mampu buat jadiin kamu Ratu di rumah ini. Abang nggak mau kehilangan peran Ra. Abang nggak mau dianggap nggak mampu sampai kamu harus kerja. Kita ini cukup fokus dengan kehamilan kamu, persalinan kamu nantinya dan anak-anak kita. Itu sulit, ya?" Mendadak ada perasaan tak enak menyusup di hati Alara. Kata-katanya pasti keterlaluan sampai Gema bersuara sendu seperti itu. "Aku cuma mau bantuin Abang. Lagian masa depan kita masih panjang Bang. Abang nggak selamanya bisa handle kerjaan sendiri. Sekarang saja Abang sudah pusing, 'kan?" Benar, Gema memang pusing. Tapi Gema tidak mau Alara ikutan pusing juga. Gema tidak mau Alara kelelahan dan stres. "Abang bisa handle kok. Kamu tenang saja." Gema kecup bibir Alara dan mengambil piring makannya. Mengabaikan sejenak rasa sakit di kepalanya dan makan dengan lahap. Justru yang tidak enak hati adalah Alara. Perempuan hamil itu matanya mulai berkaca-kaca yang membuat Gema mengerutkan dahinya. "Kamu kenapa?" Gema mengajukan tanya dengan kecanggungan ekstra. "Abang marah?" Alih-alih menjawab pertanyaan sang suami, Alara balik bertanya. "Marah kenapa, Sayang?" Gema paham. Bukan marah kepada Alara yang mendesak ingin ke kantor melainkan kepada kendali dirinya sendiri yang belum bisa mengizinkan Alara kembali ke kantor. "Nggak biasanya Abang makan sambil diam. Biasanya kayak bebek mulutnya." Mau ketawa kok takut istrinya makin nangis, nggak ketawa kok ini lucu. Gema telan sayurnya bulat-bulat. Meneguk air putihnya dan berkata, "jangankan marah sama kamu, Yang. Abang misuh-misuh ke kamu saja nggak sanggup rasanya." Dih bohong sekali. Biasanya juga Alara diomelin sepanjang kereta api. Pakai segala nggak sanggup misuh-misuh! "Abang cuma lagi mikir, sekiranya kalau kamu ikut ke kantor, ngasih kerjaan apa enaknya. Karena sekarang sudah ada tim yang pegang masing-masing kasus meskipun laporan akhir tetap di Abang." "Nah tuh!" Alara memajukan tubuhnya dengan posisi dadanya disangga meja. Makin naik turun jakun Gema melihatnya. "Aku bisa bantuin Abang selesaiin laporan." "Bisa di rumah, 'kan?" Alara kembali duduk seperti posisi semula. Menyilang kedua tangannya di d**a dan berpikir sedang wajahnya masam. "Ya sudah kalau maunya Abang kayak gitu. Aku malas ngelayanin Abang." Terutama masak yang jadi kelemahan Gema. Yang sayangnya kata 'melayani' dirungu Gema menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjurus pada aktivitas ranjang. Duh, sekarang saja Gema sedang tegang-tegangnya minta di sayang eh Alara pakai acara ngancam segala. Rungkad! "Aku tuh nggak mau kamu capek, Yang." "Sekarang aku juga capek Bang. Gimana dong?" Alara memasang wajah sememelas mungkin. Kedua matanya bak pupil anak kucing yang lucu minta dielusi. Gema jelas lemah. Tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Alara menyerangnya penuh seakan sudah paham Gema secara luar dan dalam. "Ah sekarang aku paham. Abang nggak mau ngajak aku ke kantor karena ada mantan istri Abang, 'kan?" Tapi bukan berarti bisa Alara simpulkan sesimple itu. Nora ke kantor hanya untuk urusan jual beli properti yang dimilikinya. Tidak ada sangkut paut dengan dirinya apa lagi masa lalunya. "Kamu sekarang cemburuan, deh." Salah besar dengan mengatakan seperti ini. Gema tidak tahu kalau perempuan punya cara dan jawaban yang tumpah ke mana-mana asumsinya. "Jadi menurut Abang aku nggak boleh cemburu? Oke!" "Nggak gitu, Yang. Aih, kamu kok susah banget, sih!?" Kenapa? Sudah mulai lelah urusin aku? Sana, balik ke mantan kamu. Dia lebih hebat dari aku dalam urusan apa pun bahkan ranjang sekali pun." "Kamu ngaco!" "Terus kenapa? Nggak mau ngaku atau mau melindungi wanita yang masih Abang cinta?" "Kamu tuh salah, Ra–" "Memangnya sejak kapan aku benar di mata Abang?" Gusti! Semoga hati Gema selalu tabah menghadapi hormon hamil Alara yang sedang mempengaruhinya. Semoga amarah Gema bisa lebih memahami untuk nggak mencak-mencak dan bikin suasana makin runyam. "Abang nggak punya alasan buat balikan sama dia, itu yang pertama. Kedua, tahu darimana kamu kalau dia jago di ranjang? Perasaan Abang nggak pernah cerita deh." Alara mendengkus. Gema menyangkal terus sejak tadi. Bikin amarahnya tertahan di d**a. "Nggak perlu Abang kepo. Sudah, ya Abang beresin sendiri meja dan ini semua. Aku nggak mau lagi berurusan sama Abang." Dan hengkang dari sana. Alara memasuki kamar tamu di lantai bawah dekat pintu ke luar menuju gazebo. Mengunci pintu dan duduk di tepian ranjang. Pikirannya berkelana ke berbagai belahan masa lalu. Kalau ditanya tumben bisa misuh kayak gitu ke Gema. Jawaban Alara tidak tahu. Rasanya ingin marah saja. "Yang?" Alara abaikan dan rebahkan tubuhnya ke atas kasur. Menatapi langit-langit kamar dengan lampu temaram. Membiarkan gedoran dan teriakan Gema menggema di penjuru ruangan. "Besok deh kalau mau mulai ikut ke kantor." Mendengar itu, Alara sudah tidak berhasrat sama sekali. Hanya helaan napas malasnya yang terdengar. "Sekarang buka dulu, ya pintunya." Sayang, Alara sudah memejamkan kelopak matanya dan bersiap menuju alam bawah sadarnya. Melupakan segala penat yang bergerumul di kepalanya. *** Gema hanya sedang goyah. Belum genap usia pernikahannya menginjak angka ketiga bulan, bayangan akan sosok Nora menghantui pikirannya. Lewat cerita perempuan itu yang nampak jelas kesepian dan butuh sosok pengait di sisinya memunculkan jiwa keberengsekan dihati Gema. Tidak dipungkiri sudut hatinya mulai tersentuh. Namun ada logika yang mengajaknya bertarung. 'Harus bagaimana kiranya Gema menghadapi masalah ini?' Keinginan Alara dan tuduhannya yang mengarah pada keberanan seperti sudah terilham. Seakan Tuhan sudah memberitahu Alara tindakan Gema mulai menyimpang. 'Kalau Alara minta pisah gimana?' Gema juga takut kok. Bukan untuk menjadi duda kedua kalinya namun takut kehilangan untuk kedua kalinya. Gema tidak mau mengulang kisah kelamnya dan berakhir pada penyesalan tak berujung. 'Mestinya dulu cukup menerima tawaran Alara untuk tinggal selama beberapa bulan tanpa ikatan. Menjadi partner seks dan bebas melakukan apa saja sesuai waktu yang telah dicantumkan dalam surat perjanjian.' Sayangnya Gema tidak mau melakukan itu. Entah karena apa Gema ingin mengikat Alara dan membuat perempuan ayu itu hamil duluan. Ah sekarang Gema ingat kenapa dulu begitu kekeuh ingin membawa Alara ke dalam kehidupan barunya. Itu karena Gema tidak ingin kalah dari Nora yang membawa lelaki barunya ke hadapannya. "Pacar baruku." Nora tersenyum dengan menawan kala memperkenalkan lelaki berambut cepak berkulit putih dengan hazel mata biru laut. "Dari Amsterdam. Aku kenal dengannya waktu ada pemotretan di sana." Gema tidak bertanya namun Nora berbangga diri memberitahu. "Kamu masih single?" Pertanyaan Nora sedikit menyentil harga diri Gema. "Kamu masih cinta aku, ya? Kapan, sih kamu bakalan move on dari aku. Kan nggak lucu kalau kamu masih mengenang kisah kita seorang diri." Lelaki yang Nora gandeng mana paham bahasa yang Nora lontarkan. Beruntung nggak beruntung tapi Gema hanya membalas dengan senyuman tipis. "Apa pun itu kamu harus maju. Kamu harus lupain aku karena hidup ini terus berjalan. Kamu nggak bisa stuck di sini saja sedangkan aku … Kamu lihat sendiri, 'kan sudah berapa kali aku gonta-ganti pacar?" Nora benar-benar tidak waras. Gema hanya mendengkus tanpa membalas uluran tangan yang diajukan oleh sang bule. "Sendiri bukan berarti masih punya rasa pada masa lalu. Kamu lupa siapa aku? Masa lalu bagi aku masa buruk yang nggak boleh aku ingat. Jadi kamu sudah bukan bagian dari ingatan aku. Kamu sudah terhapus sebelum ketuk palu dilakukan. Semoga bahagia." Sekarang Gema merutuki kelemahan hatinya yang lemah. Goyah hanya karena sebuah cerita sedih. Bukankah Alara sudah mencapai segala ukuran sebagai istri yang sempurna? Alara melayani dirinya dengan baik. Mulai dari bangun tidur hingga terlelap. Menyiapkan pakaian terbaiknya untuk ke kantor, memasak makanan bergizi untuk kebutuhan tubuhnya dan doa-doa terbaik yang selalu Alara sematkan sebelum Gema beranjak meninggalkan rumah. Lalu bagaimana bisa Gema goyah hanya karena sebuah kisah menyedihkan? Toh selama ini Nora bisa melakukannya seorang diri. Sikapnya yang seperti ini apakah artinya Gema sedang selingkuh? "Abang kenapa belum tidur?" "Heh!" Gema terkejut. Alara ujug-ujug sudah berdiri di sampingnya. "Kamu belum tidur?" Kebiasaan! Ditanya balik nanya. "Mau ambil minum." Nyelonong saja Alara menuju dapur. Membiarkan Gema dengan kepala manggut-manggut. "Masih marah sama Abang?" Nyatanya Gema membuntuti istrinya yang sedang meneguk air dalam gelasnya. "Marah kenapa?" Sebenarnya Alara unik juga. Marahnya nggak sampai berhari-hari apa lagi berjam-jam. Jika sudah lewat jamnya atau dibawa tidur, sudah mereda emosinya. "Abang pikir masih marah. Maaf, ya." "Belum juga lebaran Bang." "Wajib banget pas lebaran, ya?" Alara mengangguk. "Ya sudah penting Abang minta maaf. Abang nggak berniat jadiin kamu burung dalam sangkar tapi Abang pengennya kamu fokus sama kehamilan." "Oke." Itu maksudnya sudah selesai ya atau Alara tidak ingin membahasnya lagi? Gema bingung kalau sudah diberi jawaban yang singkat tanpa penjelasan seperti itu. "Ra?" Alara menghentikan langkahnya. Gema hampiri istrinya yang hendak mencapai pintu ke luar dapur. Di peluknya Alara, menciumi aroma shampo di rambut panjangnya, dan mengendusi tengkuknya yang wangi vanilla. "Maaf kalau Abang ada salah." Gema betul-betul meminta maaf atas hatinya yang goyah tapi takut untuk mengakui secara langsung. Alara diam tak memberi respons. Sensasi yang sedang Gema ciptakan tak membawa banyak dampak untuk mood Alara. "Aku bobok ya Bang." Begitu saja Gema merasa kosong. Saat Alara lolos dari dekapannya Gema merasa sedih. Itu artinya Alara menolak dirinya untuk ajak ibadah, 'kan? Apakah Gema akan bahagia jika goyah dengan Nora? Apakah ada jaminan untuknya bahagia jika melepas Alara demi membersamai Nora lagi? Gema memang bodoh padahal semesta tahu perjalanan hidupnya. Semesta juga tahu bagaimana dirinya bangkit dari keterpurukannya. Semesta tahu serumit apa hidup Gema sebelum dipertemukan dengan Alara Senja. Bangkit setelah jatuh, tersenyum setelah menangis, menata kembali hatinya yang pernah hancur dan melangkah walau tertatih. Gema pasti sudah gila! Hanya mendengar penderitaan orang lain hatinya goyah. Mana bukti kalau Bachtiar Gema menganggap Nora Bachtiar orang lain saat dihampiri dan diperdengarkan perjalanan hidupnya yang penuh kesepian saja goyah. Dasar lemah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN