Nora akan terus datang ke kantor Gema. Tidak peduli itu pantas dilakukan atau tidak toh sebagian dari para bawahan Gema tahu jika dirinya sedang ada urusan. Rasanya seperti banyak bunga bermekaran dihati Nora sampai senyumnya tidak pudar sama sekali.
Namun hari ini di siang hari yang cukup terik padahal masih musim penghujan, tungkai Nora terhenti di depan pintu ruangan Gema. Ada suara lain yang sangat Nora kenal yang sedang marah-marah kepada Gema.
"Kamu nyari mati?"
Nora tahu betul siapa pemilik suara tersebut. Adalah Marini, mantan Mama mertua yang dari dulu begitu menyayangi Nora.
"Ma." Vokal Gema memberat dan Nora tahu ada masalah serius di antara Ibu dan anak di dalam sana.
"9 bulan kamu diperut Mama dan kamu masih berpikir mau nipu Mama? Kamu waras nggak sih, Ma!?"
Setahu Nora juga, Marini tidak akan mengamuk kalau bukan masalahnya serius. Dan ini pertama kalinya Nora mengetahui Marini marah kepada Gema. Wanita 65 tahun itu tipe seorang ibu yang kalem dengan gaya bicaranya yang halus.
"Mbak, itu sudah lama?"
Nora bertanya pada asisten yang mejanya berada di samping pintu ruangan Gema. Mengecek pergelangan tangannya dan waktu yang Nora miliki sudah terbuang percuma. Jadwal dirinya hari ini padat. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bertemu dengan Gema justru berakhir dengan tubuhnya yang berdiri bak patung di pintu masuk.
"Sekitar 20 menitan Bu." Lula menjawab diiringi senyuman. "Bu Nora bisa menitipkan pesan ke saya kalau tidak keberatan."
Masalahnya pesan yang Nora bawa adalah kerinduan dan keinginan untuk kembali bersama. Nggak waras memang Nora ini. Otaknya sudah tertinggal di dasar neraka sampai-sampai ada pemikiran semisal dijadikan yang kedua oleh Gema, Nora siap. Asal mereka bisa kembali merajut kasih.
"Soal properti yang saya urus gimana?"
"Anu …" Lula jadi bingung dan heran. Seingatnya masalah penjualan dan segala urusan atas nama Nora Bachtiar sudah selesai pekan lalu.
"Ada kendala?"
"Maaf Bu Nora, tapi itu sudah selesai seminggu yang lalu. Berkas-berkasnya sudah diurus dan Ibu tinggal terima beres."
Senjata makan tuan.
Nora betul-betul bodoh melupakan perkara itu. Wajahnya memerah dan Lula yang melihatnya hanya berkedip khawatir.
"Oke terima kasih."
Nora hengkang dari sana meninggalkan kantor Gema setelah melihat pintu ruangan Gema sekali lagi. Suara Marini masih terdengar dan nampaknya belum ada niatan untuk usai. Hanya helaan napas Nora yang terdengar dan kakinya melangkah pergi.
Sepeninggal Nora yang menuju lokasi pemotretannya, Gema pijati pelipisnya. Kepalanya pusing maksimal akibat suara Mamanya yang keras meneriaki dirinya. Itu salahnya dan Gema tidak menyangkal sama sekali.
"Kamu sendiri melihatnya kalau dia berani bermain api dengan suami kakakmu. Bisa-bisanya kamu goyah setelah apa yang Alara berikan selama ini. Bisa-bisanya kamu terkecoh dengan kisah sedihnya yang nggak lebih tragis dari trauma kakakmu. Pikirmu karena siapa Jasmine kesepian? Karena siapa Jasmine harus menikahi lelaki pilihan Mika? Karena siapa?"
Tahu, Gema sangat paham untuk menyalahkan siapa kejadian ini. Gema juga tidak akan menyangkalnya. Tapi yang namanya takdir ingin dibahas sampai rel kereta api di Jawa jumlah penggandaannya bertambah pun nggak akan ada habisnya. Tiap orang punya cara pandang dan kesimpulan yang sederhana bahwa yang lalu biarkan berlalu. Toh kita sudah dipecut oleh tali penyesalan yang tak berujung. Percuma membahas yang sudah terlewat selain membuang-buang tenaga, memangnya retakan yang sudah pecah bisa kembali seperti semula? Kan mustahil.
"Kamu sudah bosan jadi anak Mama?"
"Ma …"
"Kenapa?"
Gema tidak akan pernah melawan Mamanya. Jangankan melawan, menjawab pertanyaan Mamanya saja Gema tidak bisa. Gema bersalah dan akan menanggung akibatnya.
"Jangan sampai Alara tahu atau kamu bukan anak Mama lagi."
"Mama nggak boleh ngasih tahu Alara." Gema khawatir ketika Mamanya membawa-bawa Alara ke masalah mereka. "Aku nggak akan pernah sanggup kalau harus lepasin Alara Ma."
"Harus! Tiba waktunya nanti saat kamu khilaf atau pun sadar, jangan harap bisa bertemu Mama mau pun Alara. Apa lagi anak kamu! Haram bagi kamu mengembuskan napas disekitar cucu Mama."
Itu makin fatal. Gema bisa gila kalau nggak ketemu Alara dan anaknya.
"Mama benar-benar nggak habis pikir sama kamu." Marini belum usai dengan amarahnya. Dadanya ingin meledak-ledak bak kembang api. Rasanya ingin mengamuk dan membanting apa saja yang ada di sini. Namun Marini menahannya.
"Mama tahu dari mana kalau Nora sering ke sini?"
"Zaman semakin canggih. Mama juga nggak buta teknologi."
Marini perlihatkan sebuah rekaman video di mana Nora ke luar masuk ke gedung perkantoran firma hukumnya. Bahkan video hari ini yang baru terekam beberapa menit yang lalu pun masuk ke ponsel Marini.
"Dia pasti terlalu percaya diri hanya karena Nora menjabat tangannya." Marini berdecih. Gema sampai terkejut jika Mamanya bisa bersikap demikian. Kelihatannya kalem tapi bengis juga.
"Hanya karena kamu baik ke semua orang bukan berarti kamu menerima dia. Nora terlalu sombong untuk mengetahui Alara seperti apa. Kamu juga kenapa nggak peka kalau kedatangan Nora ke sini adalah bentuk cemburu dan keinginan untuk kembali bersama kamu?"
Gema sedikit lega saat suara Mamanya kembali normal. Tidak menggebu-gebu seperti sebelumnya.
"Aku tahu tapi aku coba buat nggak gegabah ngambil langkah. Ma, aku hampir goyah, aku akui. Aku salah dan aku menyesal. Tapi aku juga manusia biasa yang nggak bisa memberi penilaian secara langsung saat seseorang itu sedang bercerita ke aku."
"Nora bilang kalau mantan suaminya melakukan KDRT. Dia bahkan harus pergi ke psikiater untuk mengobati trauma dan baru bisa lepas dari obat penenang. Aku hanya hanyut dalam ceritanya membayangkan seolah-olah itu Alara atau mungkin anakku di masa mendatang."
"Terus kamu berpikir kalau yang Alara lalui sebelum ketemu kamu bukan bagian dari trauma dan penyakit? Yang sekarang sedang Jasmine lewati bukan bagian dari proses rasa sakit itu sendiri? Kamu pernah ngecek kondisi Jasmine? Pernah kamu peduli tentang hati dia? Kenapa Alara lebih peka ketimbang kamu. Jangan-jangan yang anak kandung Mama itu Alara?"
Mama dan pikirannya adalah suatu kesimpulan yang tak bisa Gema jabarkan. Rumit dan terlalu berlebihan. Tahu dan sadar kalau dirinya bersalah tapi rasa sayang Mamanya ke Alara berbeda. Baru kali ini juga Gema di caci maki Marini perihal kesalahannya.
"Aku, 'kan anak pungut yang Mama ambil dari tong sampah." Gema mengalah dengan dengkusan.
"Pantas otak kamu pindah ke mata kaki."
Mau sakit hati tapi Mama sendiri. Nggak sakit hati, mulut Marini pedas kayak dicabein 50 kilo.
"Suka-suka Mama deh."
"Ya memang suka-suka Mama dong. Kamu mana berhak ngelarang Mama ngomong ini itu. Wong kamu saja jadi anak nggak tahu diri kok. Sudah tua tapi gampang goyah. Sudah tahu luka masih dibela. Nggak punya prinsip banget hidup kamu!"
"Terus saja deh Ma."
"Mubadzir kalau Mama sampai berhenti di sini. Awas saja pokoknya!"
Marini mengancam dan Gema mengangguk sebagai pengingat.
***
Alara di rumah. Memasak untuk makan siang nanti. Awalnya malas buat bersentuhan dengan dapur. Selain masih dongkol dengan keputusan Gema yang belum mau mengajaknya beraktivitas di kantor. Alara berpikir untuk demo ngambek berharap Gema mau merubah keputusannya. Tapi jantan satu itu menelepon tanpa bersalah dan mau makan siang di rumah. Bodohnya Alara tidak bisa menolak padahal sudah bersuara malas melayani Gema.
Takut dosa dan ingat akan dosa. Begitu saja yang bergaung di kepala Alara. Makanya mau tidak mau Alara lakukan.
"Masak apa?"
Alara terkejut. Suara Gema ada di belakang tubuhnya dengan wajah semringah.
"Baru jam 11." Alara berkata dan kembali berkutat dengan wajan serta kompornya. Orek tempenya belum mengering.
"Sudah kangen sama kamu Yang." Gema mendekat dan memeluk Alara dari belakang. Tidak ada respons apa pun dari istrinya yang menandakan kalau aksi ngambeknya masih berlanjut.
"Kamu kalau ngambek lucu."
"Bukan badut aku tuh."
"Tetap saja lucu."
"Terhibur, 'kan Abang!?" Alara melepas pelukan Gema. Menatapnya sinis yang dibalas cengiran oleh Gema. "Nyebelin!" Alara berdecak dan kembali melanjutkan mengaduk orek tempenya.
"Yang, masih marah soal belum bisa diajak ke kantor?"
Ini kalau boleh mengumpat, masalah soal nggak diizinkan bekerja ke kantor saja bisa runyam. Apa lagi yang lainnya.
"Nggak!" jawaban Alara kelewat cepat. "Sudah malas aku punya urusan sama Abang."
"Kok gitu sih, Yang." Gema berdiri di samping Alara. "Kita ini suami istri loh."
"Yang bilang kita rival siapa? Nggak ada, 'kan?"
Fix! Punya urusan sama perempuan buntutnya bakal panjang.
"Lagian Abang tinggal ngomong jujur kalau di luar sana punya peliharaan baru apa susahnya."
"Maksudnya Yang?" Gema nggak paham. Peliharaan yang gimana yang Alara maksud ini. Anjing? Kucing? Kura-kura? Tapir? Atau apa?
"Abang dong yang paham artinya apa. Aku mah bodo amat misal Abang punya yang baru juga."
"Kamu mulai deh overthinkingnya!" Gema menghela napasnya. Padahal baru saja hendak Gema katakan kalau Alara bisa kembali ke kantor biar nggak gabut.
"Kenapa? Nggak suka?"
"Kamu kenapa sih, Yang? Kok jadi suka nantang gini ke Abang. Abang tuh baru mau bilang kalau mulai Minggu depan kamu bisa ikut Abang ke kantor."
"Nggak perlu deh Bang. Kan aku sudah malas sama Abang. Jadi aku mau ikut Mama ke gerai bunganya saja."
"Kok nggak ada diskusi dulu ke Abang?"
"Penting!?" Alara kesal maksimal dan hengkang dari dapur. "Abang saja nggak pernah diskusi ke aku kalau mau ketemu sama mantan istri. Ngapain aku harus diskusi ke Abang."
"Kamu pasti salah paham, Yang. Ini murni soal kerjaan. Cuma ngelakuin jual beli properti dan nggak ada obrolan apa pun lagi. Kamu dapat info dari siapa, sih!?"
"Nggak penting dari mananya. Abang kalau memang mau balikan sama dia ya sudah sok! Aku kasih izin ke Abang buat nikah sama dia daripada baper sendiri."
Gema embuskan napasnya. Entah dari mana Alara mendapatkan info tersebut. Mamanya tidak mungkin melakukan tindakan yang sembrono yang bakal bikin semua masalah jadi runyam.
"Abang nggak ada niatan buat balikan apa lagi baper, Ra. Abang nggak ada pikiran buat mainin kamu atau apa pun yang kamu bilang tadi."
"Aneh nggak sih Bang kalau urusan sudah kelar tapi masih saling ketemu? Mana ada orang yang ngomongin bisnis harus pakai acara sender-senderan di bahu? Ini bahunya sudah dibagi ke mana saja Bang?"
Gema diam. Tenggorokannya kering. Ludahnya tidak bisa Gema telan sekadar untuk membasahi. Sudah sejauh itu yang Alara tahu dan Gema tidak pernah menyadari sikapnya yang sudah keterlaluan.
"Kamu salah paham Yang." Hanya itu yang bisa Gema katakan. "Abang nggak membela diri. Tapi–"
"Percuma gitu maksudnya?" Gema mengangguk. "Memangnya sejak kapan aku berarti buat Abang? Dari dulu cuma Nora yang penting sampai-sampai Abang takut kalau ketahuan lagi selingkuh sama dia."
"Ra, sekadar curhat doang bukan artinya selingkuh."
"Mau cerai saja nggak Bang? Kayaknya nggak rugi juga jadi janda. Biar Nora bebas berkunjung ke Abang tanpa hambatan."
"Yang."
Gema sudah mengakui kesalahannya namun ucapan cerai yang Alara katakan bukan sesuatu yang bisa Gema terima dengan lapang.
"Aku nggak mau minta apa-apa dari Abang. Tapi bayinya punya aku, Abang nggak boleh ketemu atau nemuin dia."
Alara masuk ke kamar tamu yang semalam dirinya tempati. Mengabaikan gedoran pintu yang Gema lakukan dan hanya duduk di tepian ranjang.
Pikirannya melayang, meresapi ucapannya soal ajakan cerai. Apakah itu benar atau tidak. Tapi Alara sudah siap dengan segala risiko yang akan ditanggungnya. Sejak awal membersamai Gema, Alara tidak takut untuk berpisah.
"Yang, buka dulu pintunya. Kita omongin baik-baik. Sumpah, aku nggak pernah ada niatan buat pisah dari kamu apa lagi harus balikan sama Nora. Yang, please."
Tunggu! Alara hentikan langkahan kakinya yang hendak mengambil tas di atas meja kamar tamu. Ada sesuatu yang Alara ingat jika ini adalah pertengkaran pertamanya dengan Bachtiar Gema sepanjang keduanya bersama.
'Hebat!'
Batin suci Alara bersorak-sorai. Memang gendeng cewek satu ini. Bisa-bisanya bungah kayak memang lotre padahal Gema di depan pintu sudah kalap maksimal andaikan Alara betul-betul minta cerai. Ya kali jadi duda dua kali. Kan nggak lucu.
"Yang!"
Alara tersadar dari lamunannya. Memukul kepalanya pelan dan bergegas keluar kamar. Mengabaikan Gema yang wajahnya pucat pasi.
"Aku nggak bakalan luluh sama muka Abang yang memohon-mohon gini, ya! Abang sudah merusak kepercayaan aku dan aku benci setengah mati sama orang yang suka main seenak jidat!" Alara mendengkus. "Kalau Mama tahu kelakuan anaknya kayak Dajjal gini, aku jamin bakal kena ruqyah Abang!"
Gema nyengir. Alara belum tahu saja kalau Marini baru menghabisi dirinya lewat omelan sepanjang rel kereta.
"Yang, aku cuma kasihan doang bukan berarti aku luluh dan goyah. Aku bayangin itu–amit-amit jangan sampai–misal itu kamu, orang terdekat kita atau lebih buruknya anak kita sendiri. Yang–"
"Dan Abang tahu nggak kalau yang Abang kuatirin bakal terjadi? Itu kembali ke masing-masing orangnya Bang. Misalnya aku yang alami, aku jamin 99% nggak mungkin! Suami aku Abang loh bukan cowok lain. Abang nggak mungkin main tangan dan lain sebagainya. Atau mungkin anak kita, makin nggak mungkin Abang. Abang bisa nggak sih pakai logika yang normal?"
Alara tidak mengenal Nora secara menyeluruh tapi Alara tahu mengapa terjadi KDRT di rumah tangga mantan istri suaminya itu. Alara juga tahu seburuk apa perangai Nora. Jadi tidak heran kalau ada kejadian buruk yang menimpa wanita itu.
"Aku nggak takut jadi janda. Jadi kalau Abang mau balikan sama dia, sok lakuin! Aku capek kalau harus nahan cemburu sama orang yang nggak penting kayak Nora."
"Kamu cemburu?" tanya Gema memastikan. Takut-takut salah dengar. "Abang baru tahu kalau kamu bisa cemburu Yang."
"Harusnya kita impas. Kalau Abang bisa bareng sama Nora, aku harusnya bisa bareng sama cowok lain. Aku masih muda dan cantik. Nggak susah nyari suami baru dan Papa baru buat anak aku nantinya."
Alara lanjutkan langkahnya dari hadapan Gema. Pergi tanpa pamit dan mendadak tubuhnya melayang.
"Kamu nggak boleh keluar rumah! Enak saja ngomongnya. Siapa yang bilang kamu boleh nyari cowok lain selain aku!"
"Turunin Bang!"
"Nggak!"
Alara sudah meronta-ronta dalam gendongan Gema. Sementang tubuhnya mungil, Gema menggendongnya bak karung beras.
"Perut aku kegencet loh ini."
Gema diam. Menaiki undakan tangga satu per satu menuju kamarnya.
"Dia anak aku! Jadi harus aku yang jadi Bapaknya."
"Maksa!"
"Kamu kudu di hukum Ra."
"Bodo amat!"
"Benar, ya! Awas kalau minta berhenti."
"Egois!"
"Kamu juga!"
"Abang sinting!"
"Kamu yang bikin Abang kalap!"
"Itu salah Abang sendiri!"
"Kamu harusnya percaya kalau Abang nggak bakal selingkuh dari kamu!"
"Alah bohong! Buktinya Abang goyah."
Diam. Gema tidak membalasnya. Menarik pintu dan menutupnya kembali setelah menurunkan Alara dari gendongannya.
Alara berdecih. Bersiap mengumpati Gema sebelum bibirnya terbungkam begitu saja. Lumatan demi lumatan yang Gema serangkan melemahkan pertahanan Alara untuk mengamuk. Ditambah tangan Gema yang bergerilya ke seluruh tubuh Alara dan berakhir di kedua dadanya yang padat.
Dalam telapak tangan Gema saat bergerilya tadi, dapat dirasakan bahwa tubuh Alara kian sintal dan berisi. Wajar jika libido Gema melonjak hanya dengan memandangi Alara lekat-lekat. Pesona Alara yang sedang hamil benar-benar membuat gairahnya brutal.
Dan tak ada kata yang bisa dikatakan lagi, percintaan panas di siang hari itu pun terjadi. Gema yang mendesah dan Alara yang menggeram kenikmatan menjadi perpaduan cinta keduanya. Menyuarakan tak ada kata pisah.