Dulu saat masih kecil, Alara Senja pernah melihat betapa sulitnya kehidupan ekonomi kedua orang tuanya.
Papanya menikahi Mamanya hanya dengan modal cinta dan nekat lari dari rumah lantaran tidak diberi restu oleh Ayah Ibunya. Lalu hiduplah mereka di kontrakan kecil di Jakarta. Alara masih ingat betul seperti apa bentuk rumahnya. Kecil, berdesak-desakan dan kumuh. Namun begitu bahagia selalu menyinari keluarganya. Canda dan tawa selelah apa pun Papanya bekerja dan seletih apa pun Mamanya dalam mengurus dagangannya, senyum itu tak pernah luntur.
Lalu ada masa di mana kedua orang tuanya tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli beras sehingga harus memakan nasi sisa semalam sepiring untuk bertiga. Wiratmo begitu sabar dan telaten menyuapi Alara kecil pun rela untuk memakan sesuap nasi saja.
Alara rindu ke masa-masa itu. Masa di mana keluarganya masih sangat dekat dan erat. Masa di mana Mamanya tidak egois memaksakan keinginannya pada pilihan untuk Alara. Masa di mana hanya bahagia yang Alara rasakan. Tidak ada tangis meski banyak cacian yang menghampiri. Tidak ada sakit meski ujaran kebencian selalu dilemparkan pada keluarganya.
Lalu saat Papanya mulai naik jabatan di perusahaan di mana dirinya bekerja dan usaha dagang Mamanya mulai berkembang. Alara dan keluarganya berpindah tempat di rumah dinas yang diberikan oleh perusahaannya. Keluarganya makin jaya dan lahirlah Mosa. Alara kecil begitu senang akan kehadiran Mosa karena dirinya tidak lagi kesepian.
Hari-harinya menjadi lebih indah dan waktu pulang sekolah menjadi yang paling di nantinya. Kembali ke rumah dan bermain bersama Mosa yang berada dalam ayunan rotan di toko Mamanya.
Jayanti selalu berpesan kepada Alara untuk menjaga Mosa kala ada pembeli yang harus Jayanti layani dan Alara menyanggupinya.
Itu adalah masa bahagia terakhir kali yang masih mengembangkan senyum Alara untuk kemudian memudar dan menghilang seiring berjalannya waktu.
Berawal dari keteledoran Jayanti menempatkan Mosa dipinggir ranjang sedang bayinya itu sudah mulai aktif bergerak. Alara belum kembali dari sekolahnya sedang di luar ada pembeli yang harus Jayanti urusi perihal pesanannya.
Selesai dengan pembeli, tungkai Jayanti berlari dengan kencangnya begitu mendengar tangisan Mosa yang keras. Buru-buru masuk ke dalam rumahnya, Jayanti geram menemukan Mosa tertelungkup di atas lantai sedang Alara berdiri bak patung.
"Kamu jahat banget, sih! Adik kamu masih kecil kenapa bisa kamu jatuhin!?"
Teriakan Jayanti keras. Terdengar mengerikan dirungu Alara kecil. Sudah menggeleng dan menyangkal jika Alara tidak tahu-menahu bagaimana Mosa bisa berada di bawah.
Percuma. Jayanti tidak akan percaya dan mencubit kedua tangan Alara hingga memar. Alara sudah meminta ampun dan Jayanti tidak berhenti sampai di situ saja.
"Jangan lagi nyentuh Mosa! Kamu nggak tahu diuntung."
Sejak hari itu Alara terlalu takut untuk melihat Jayanti. Di mata Alara kecil, Jayanti adalah monster yang menyamar menjadi Ibunya. Sejak hari itu juga, kehidupan keluarganya mulai membaik dan Alara mulai menarik diri dari radar kedua orang tuanya. Hari-hari Alara habiskan di sekolah dan tempat les. Ini seperti pelarian yang paling menyelamatkan dirinya. Wiratmo mendaftarkan dirinya ke beberapa tempat les yang Alara hadiri empat kali dalam seminggu. Dan seiring bertumbuhnya Alara, ada iri dan sakit hati yang mencuat ketika Jayanti begitu menyayangi Mosa dan memperlakukan dirinya dengan sangat berbeda.
Termasuk saat Mosa menginginkan Prabu sedang Jayanti tahu kepada siapa Alara menjalin asmara. Apa pun yang Mosa inginkan akan selalu Jayanti kabulkan. Sedang apa pun yang Alara miliki saat Mosa menginginkannya maka harus Alara berikan. Hidup sudah mengajarkan Alara cara bertahan tanpa mendapat dukungan. Hidup sudah menggempur kedua kaki Alara untuk berdiri setelah bangkit tanpa uluran tangan.
Bagaimana dengan Wiratmo?
Papanya itu ada kalanya hanya menjadi patung namun akan memberikan nasihat-nasihat bijak kepada Alara.
"Kamu bisa mencobanya lebih dulu."
Itu adalah ketika Alara akan dijodohkan oleh lelaki yang tidak dirinya kenal apa lagi sukai. Seminggu setelah pernikahan Mosa dan Prabu berlangsung, Jayanti begitu ingin Alara menikah dengan anak dari temannya. Alara sudah menolaknya namun Jayanti terus memaksanya untuk menerima.
"Kalau Mama sudah bosan dan capek ngurusin aku, bisa ngomong terus terang? Aku nggak bisa nikah sama orang yang aku nggak suka."
Alara melawan untuk pertama kalinya setelah memohon agar membiarkan Prabu tetap bersamanya.
"Kamu itu sudah lebih dari cukup buat nikah. Usia kamu sudah matang! Sudah saatnya kamu menikah, punya anak dan membina rumah tangga!"
"Karena siapa aku nggak bisa nikah sama orang yang aku suka? Karena siapa aku harus berbagi orang yang aku suka? Punya anak? Hah! Tahu apa Mama soal pernikahan zaman sekarang!? Aku bukan perempuan lemah yang harus nurut sama suami dan patuh atas perintah suami. Aku juga nggak bisa nikah hanya untuk ngurus anak."
"Lancang kamu!"
"Mama sehat?" Pertama kalinya Alara berkata sinis kepada Jayanti. Yang langsung didengar oleh Wiratmo dan Erlangga yang baru saja kembali dari bekerja. "Aku nggak bisa nikah karena Mama! Aku nggak bisa jadi diri aku sendiri karena Mama! Aku nahan sakit juga karena Mama demi anak kesayangan Mama! Sialan!"
Umpatan Alara terang-terangan terucap.
"Kamu nggak seharusnya marah kayak gitu ke Mama!?" Mosa datang dengan wajah merah padam.
"Apa sih yang bisa dilakuin anak manja ini selain ngumpet di ketek Ibunya. Tuh Ibu kamu nangis! Peluk gih!"
Alara membalik tubuhnya dan menautkan matanya ke arah Prabu yang menatapnya intens. Senyuman miring Alara perlihatkan yang jelas membuat Prabu tertegun di tempatnya.
"Kurang ajar!"
Mosa berteriak membuat Alara kembali membalikkan tubuhnya ke hadapan Mama dan Papanya.
"Manusia nggak tahu diuntung!" lanjut Mosa dengan d**a naik turun.
"Maksudnya kamu?" Alara tertawa riang. "Harusnya dulu aku bunuh kamu saja! Biar nggak ada kamu di dunia ini. Wajah kamu itu menjijikkan!"
Jayanti syok ditempatnya. Mosa menahan emosi yang membuat wajahnya merah padam. Sedang Alara belagak santai meski kedua kakinya lemas maksimal.
"Salah aku apa sih, Ra?" Mosa bertanya seolah-olah dirinya yang paling tersakiti. Jelas-jelas Alara korban yanh sesungguhnya. "Kamu sekejam ini ngomong sama aku sampai berharap aku mati. Kamu manusia atau bukan?"
Alara berdecih yang lambat laun berubah jadi tawa yang menjadi-jadi. Semua pasang mata yang ada diruangan tersebut menatapnya penuh keheranan. Tatapan mereka tak bisa diartikan secara gamblang. Intinya yang mereka lihat seperti bukan Alara Senja yang sebenarnya.
"Salah kamu itu kenapa harus lahir dan ada di dunia ini sedang kamu pembawa sial! Sejak kamu lahir, aku nggak pernah rasain yang namanya dimanja dan disayang. Sejak ada kamu, tangisan kamu jadi kesalahan aku. Sejak ada kamu, Mama kamu itu manusia yang menjelma iblis. Dan sejak ada kamu, aku nggak punya kehidupan yang mestinya aku nikmati sesuai usia aku. Kayak anak-anak lainnya. Punya mainan dan bisa bermain dengan orang tuanya. Kamu itu harusnya mati, mati!"
"Ya!" Teriak Mosa dengan satu kaki yang menghentak ke lantai.
Membuat Alara menyilangkan kedua tangannya di d**a dan satu alisnya naik ke atas. Tersenyum miring melihat amarah Mosa yang meledak-ledak.
"Aku nggak tahan dengar semua omongan kamu. Sialan!"
"Aku?" Tunjuk Alara pada dirinya sendiri. "Kamu hanya mendengarnya satu kali sedangkan aku mengalaminya seumur hidup. Kamu kenyang dengan kasih sayang dari Mama kamu dan kemewahan dari Papa kamu. Apa kamu tahu aku pernah makan nasi basi saat keluarga ini belum menjadi apa-apa. Papa tahu." Alara menolehkan kepalanya ke arah Wiratmo yang menatapnya sayu. "Aku sering mendengar bahwa anak pertama adalah bukti susah senangnya orang tuanya di awal pernikahan. Bukti bahwa segala sesuatunya dirasakan oleh si anak pertama. Aku menyadari kalau omongan itu benar adanya. Tapi yang nggak aku terima adalah saat Mosa mendapat kebahagiaan lebih dari aku sedangkan aku kalian sia-siakan. Kalian bangkrut, aku yang jatuh bangun membayar utang. Kalian kekurangan, aku yang pontang-panting mencari sokongan. Lalu apa yang Mosa lalukan hingga satu permohonan aku nggak kalian kabulkan? Sekarang, aku meminta dengan sangat untuk dicoret dari Kartu Keluarga. Aku bukan anak kalian lagi."
Alara hengkang dari sana. Tidak peduli dengan teriakan Mamanya yang meminta maaf dan Papanya yang menangis. Alara sudah muak berada di sini. Alara benci terlahir di keluarga ini. Dan Alara tidak menyangka semuanya berubah saat Bachtiar Gema datang kepada orang tuanya meminta dirinya dari Wiratmo dan Jayanti. Alara tidak suka saat harus berhadapan dengan mereka pun dengan fakta jika dirinya harus memiliki wali yakni Wiratmo.
"Mikirin apa?" Vokal Gema berada di belakang tubuhnya. Melingkarkan tangan kekarnya di atas perut Alara dan menggesekkan wajahnya ke punggung polos Alara.
Sejak terbangun dari percintaan panas yang siang ini mereka lakukan, kisah kelam kehidupannya mendadak muncul. Alara hanya dia tanpa bersuara. Menangis saja sudah tidak bisa Alara lakukan.
"Kesal sama Abang!" jawaban Alara membuat Gema kian merapatkan tubuhnya. Bahkan dengan sengaja membiarkan pusakanya menusuk-nusuk b****g Alara. "Bang, ih!"
Rengekan Alara terdengar seperti desahan yang membuat Gema ingin menggahi istrinya sekali lagi. Namun dengan Alara, Gema tidak pernah cukup satu kali.
"Lagi ya Yang."
Alara berdecak. Menolak adalah dosa, tidak menolak … ini sudah ronde yang ke berapa kira-kira?
"Yang?" Gema memanggil dengan suara serak.
Alara tahu jika Gema kembali berkabut gairah.
"Istirahat dulu sih Bang."
"Kan sudah!"
Benar-benar! Gema tidak bisa melewatkan satu momen percintaan dengan Alara setiap ada waktu.
"Kamu itu nikmat Yang," bisik Gema dengan bibir menjilati leher dan tengkuk Alara. "Aku nggak pernah ketagihan kayak gini."
"Gombal!" Masih sempat-sempatnya Alara membalas di saat kecupan demi kecupan berganti menjadi gigitan-gigitan kecil di seluruh tubuhnya.
"Kan yang dulu-dulu masa lalu Yang. Sudah lewat, sudah nggak perlu dikenang."
Tangan Gema bermain di d**a Alara. Meremas dan memilin p****g Alara yang membuat si empunya menahan desahan.
"Tumben banget ditahan? Tadi saja teriak-teriak."
"Ya jangan diperjelas dong Bang!"
"Dih gengsi."
Dan kembali terjadi percintaan panas keduanya di sore hari. b******a sampai puas seolah tak ada hari esok.
Mendesah, berteriak dan menggeram. Sampai mencapai puncak kenikmatan yang membuat keduanya terkulai lemah.
Gema pandangi wajah Alara yang sayu. Mengelap peluh yang menempel di dahi dan mengecupi kedua matanya bergantian.
"Ikut Abang ke kantor ya Yang. Jangan ke gerai bunga Mama. Abang bisa kena bacok nanti."
"Memangnya aku peduli?"
"Yang?" Arya merengek.
"Oh jadi ini sogokan Bang?" Gema nyengir. "Kalau aku tetap nggak mau?"
"Ya tak gempur lagi kamu."
"Kok enak Abang main gempur-gempur saja!"
"Habisnya kamu itu nikmat, Yang. Bikin ketagihan. Sudah pokoknya kamu ke kantor. Abang nggak mau dengar perlawanan!"
Dengkusan Alara terdengar. Percuma melawan Bachtiar Gema. Menang kagak, capek iya.
Dalam hidup setidaknya satu kali kita akan bertemu dengan orang yang amat kita cintai. Namun sosoknya tidak bisa kita miliki walau sekejap, tidak pernah bisa kita genggam walau sedetik dan tidak pernah bisa kita sentuh walau seujung. Itu perasaan yang pernah Alara miliki untuk masa lalunya. Lain halnya dengan Mosa Hutama yang kehidupan baik selalu berpihak kepadanya.
Seakan kelahirannya menjadi penanda kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tuanya, Mosa tidak pernah bekerja keras selama hidupnya. Apa pun yang Mosa inginkan hanya perlu mengedipkan mata dan semua keinginannya terkabul. Apa pun yang Mosa mau akan siap tersedia sebelum matahari terbit dari timur. Mosa hidup dalam kasih sayang yang berlimpah.
"Gimana hasilnya dok?"
Mosa melakukan cek kandungan setelah mengikuti program hamil. Prabu ingin seorang anak dan setelah kesempatan memulai kembali berjalan mulus selama satu bulan ini, Mosa mengabulkan keinginan Prabu.
"Baik." Dokter wanita berusia 45 tahun tersebut menjawab dengan ragu-ragu. Ada kejanggalan yang dirinya temukan namun tidak bisa serta merta memberikan diagnosis yang belum tentu. "Makan masakan yang bergizi dan vitaminnya jangan lupa diminum. Nanti dua Minggu lagi bisa ke sini."
Bernama Anisa, dokter wanita itu ingin mempelajari lebih dulu yang menjadi keraguannya dalam menjawab.
Mosa mengangguk dan hengkang dari sana setelah berpamitan. Meskipun hasil kapan dirinya akan isi alias hamil, memberikan kabar menyenangkan ini kepada Prabu adalah tujuannya.
Sejauh kesempatan kedua mereka jalani, Mosa harus berpuas hati akan keputusan yang akan diambilnya. Terlepas dari baik dan buruknya, Mosa tidak berani berekspektasi terlalu tinggi.
"Kamu jadi datang ke sini?" Adalah Prabu yang menelepon Mosa saat dalam perjalanan.
"Hm, jadi." Mosa duduk di kursi belakang. Sopir utusan Prabu sudah tahu harus ke mana. "Sudah makan?"
"Nasi Padang ya."
Prabu tertawa diujung sana. Dan tawanya yang renyah menularkan sejuta kehangatan dihati Mosa.
"Rendang? Kakap? Ayam? Atau telur?"
"Ayam, dua."
"Wajib banget ini?"
"Akhir-akhir ini aku suka ngidam sama ayam. Bayanginnya saja bikin aku ngiler."
"Gombal!"
Jelas-jelas Mosa belum isi. Masa Prabu sudah ngidam.
"Ini serius Sayang. Aku lagi ngidam ayam. Apa pun jenis olahannya asal bukan ayam kecap, ayam bumbu merah dan ayam-ayam yang diolah dengan bumbu. Wajib ayam goreng."
"Iya oke ayam goreng, dua."
Mosa sudahi percakapan via teleponnya. Senyumnya terus mengembang. Perasaan bungah menyertai setiap hidupnya.
Setiap orang menyimpan lukanya masing-masing. Berusaha mengobati agar tidak membekas. Setiap proses yang dijalaninya kita tak pernah tahu. Namun begitu berusaha untuk tidak membuat bekas lukanya kambuh maka cukup menjadi pendengar. Dan jika tidak bisa berbicara halus memberi nasihat maka jangan berbicara buruk.