Jasmine Atmojo memang b*****h!
Bocah 21 tahun itu merecoki Alara untuk kembali ke rumah orang tua Gema dengan alasan ada pasar malam di dekat kompleks. Biasa, menjelang Ramadan begini gebyar pasar selalu digelar. Terlebih setelah dua tahun diserang Covid-19. Segala aktivitas terhambat dan dibatasi.
"Heh kunyuk!" Gema memanggil dengan wajah sengitnya. "Perusak rumah tangga orang, dasar!"
"Apa? Siapa? Aku?" Jasmine menunjuk dirinya sendiri tanpa rasa bersalah dan mencibir Gema habis-habisan. "Tante bukan milik Om doang."
"Ya terus menurutmu milik umum? Saraf!"
"Akui saja Om jangan menyangkal."
Sial! Gema sudah kesal maksimal dan bawaannya ingin misuh-misuh. Melihat wajah Jasmine yang kentara semringah saat menggandeng tangan Alara.
"Terus Om ngapain masih di sini? Katanya ada temu klien di kantor?"
"Kamu ngusir Om?" Jasmine mengangguk mantap. "Minta di tabok kamu, ya!"
"Ada pasalnya, 'kan Nte? Aku ini masih di bawah umur loh. Masih butuh perlindungan."
"Andai kamu hidup di zaman Oma, sudah punya anak selusin kamu mah."
"Om mau aku nikah muda?" Mata Jasmine berkaca-kaca. Ucapan Gema keterlaluan. "Oma!?"
"Lah mewek. Cemen!"
"Oma, Om Gema nyuruh aku kawin."
"Dih ngadu." Gema mengikuti cara Jasmine berbicara. Terang-terangan menunjukkan wajah konyolnya dihadapan Marini.
"Minta modal sama Om kamu dong! Termasuk biaya kehidupan kamu sehari-hari. Jangan mau kalah! Perempuan wajib menang dari lelaki, paham?"
Salah besar. Gema harus menyesal sudah melontarkan kata-kata yang tak berdasar dengan menyuruh Jasmine menikah. Mungkin juga Gema lupa jika Mamanya tidak ada lawan untuk didebat.
"Minta duwit Om!" Tangan Jasmine menodong Gema tanpa basa-basi. Wajahnya menampilkan sejuta kemenangan dan ejekan yang terlukis menjadi satu.
"Kayak minta mainan saja kamu!" Gema mendengkus.
"Buat kawin."
Endasmu itu! Ngomong kawin berasa mau beli santan kelapa di warung sebelah saja.
"Kayak ada saja yang mau nikahin kamu."
"Urusan Om itu. Aku nggak mau nyari jodoh sendiri timbang nanti blangsak hidupnya."
"Risiko pernikahan diri 'kan gitu. Sudah nikah modalnya dari orang tua eh habis nikah juga masih numpang sama orang tua." Gema mengomeli Jasmine yang jelas-jelas dirinya juga bersalah dalam berkata.
"Om kamu nggak sadar diri ya, Jas!" Adalah Alara Senja yang berjalan dari arah dapur membawa nampan berisi minuman dingin serta camilan yang tadi dibawanya.
"Itu juga yang aku pikirkan, Nte. Tante yakin dia suami Tante?"
Pertanyaan macam apa itu? Mata Gema sampai melotot tak percaya. Marini menahan tawa melihatnya.
"Anggap saja dia suami yang tertukar."
Jawaban Alara di luar dugaan. Hampir membuat rahang Gema bergeser dari tempatnya. Istrinya sendiri tidak memberi dukungan sama sekali untuk masalahnya.
Alih-alih membela dirinya sendiri karena jadi bulan-bulanan di mata keluarganya, Gema tidak benar-benar serius menyuruh Jasmine menikah. Tidak, Gema tidak sebodoh itu untuk melepas Jasmine dan menikah dengan sembarang orang.
"Kasihan banget sih Om nggak diakui jadi suami sama Tante."
Dan tawa menggemparkan di seluruh ruangan. Keluarga Gema selalu berkumpul di akhir pekan minus Gema dan Alara yang selalu meluangkan waktu untuk keduanya nikmati. Hari-hari aktif bekerja membuat Gema butuh banyak waktu untuk dihabiskan bersama Alara.
"Katanya mau ke kantor?" Alara duduk di samping Gema setelah tawanya mereda. "Abang mau dimasakin apa?"
"Kita nginep di sini, ya?" Anggukan Alara sudah paten sebagai jawaban. "Ya sudah apa saja."
Gara-gara pasar malam dan Jasmine yang jadi pengrusak. Malam Minggu Gema seakan jadi bencana.
Bedebah!
***
Mosa memberi tahu hasilnya kepada Prabu. Kemarin tidak ada waktu bagi Mosa untuk memberi tahu setelah tahu Prabu sibuk dengan urusan pekerjaannya.
"Nggak apa-apa, kita masih bisa mencoba lagi." Prabu besarkan hati Mosa untuk menerimanya. "Jangan mikir aku bakal marah, oke."
Mosa hanya khawatir. Jalan di depan sana masih panjang dan Mosa tidak tahu apakah harus berpikir positif atau akan hadir hal lain yang tak terduga. Intinya kejutan buruk jika itu yang datang menghampiri, Mosa nggak bakalan sanggup.
"Apa karena pernah punya riwayat menunda untuk hamil makanya jadi agak sulit?"
Ragu-ragu Mosa mengatakan. Takut jika itu menjadi kenyataan yang tak bisa dirinya cegah. Sedetik kemudian kepalanya menggeleng membuat Prabu yang melihatnya tertawa.
"Kamu lucu kalau kayak gitu. Kayak Pikachu."
Mosa cemberut digoda demikian. Tapi Prabu paling tahu cara menghibur dirinya.
"Kita bisa menikmati waktu selama dia belum hadir. Nggak apa-apa. Anak itu titipan, rezeki yang Tuhan kasih buat kita. Andai belum hari ini, saat ini atau mungkin lusa dia belum dihadirkan untuk kita artinya kita hanya perlu memperbaiki diri sama-sama. Dengan belum hadirnya dia di antara kita, kita bisa saling mengeratkan hubungan."
Sejuk sekali, 'kan mendengarnya?
Senyum Mosa tertarik tanpa paksaan. Masuk ke dalam pelukan Prabu dan membaui aroma maskulin sang suami yang bercampur dengan keringat. Terasa menenangkan untuk dihirup dan kepalanya yang rungsing akan berbagai kemungkinan sedikit teratasi sakitnya.
"Aku nggak nyangka bisa nemuin kamu."
"Aku berasa kayak barang rongsokan yang secara kebetulan dipungut."
Perkataan Mosa dan tanggapan Prabu tiada duanya. Sama-sama gila dan konyol.
"Anggap saja iya." Mosa membenarkan. "Barang rongsokan yang berharga," sambungnya dengan cengiran. "Lagian mana ada barang rongsokan yang mewahnya melebihi berlian."
"Kalau gitu …" Prabu lepas dekapannya pada tubuh Mosa. "Kenapa setelah nikah nggak pernah baik sama aku?"
Membahas masa itu bukan sesuatu yang Mosa sukai. Diakuinya bahwa Prabu hanya objek pemuas hatinya semata. Prabu sekadar ambisi Mosa yang harus digapainya agar tidak kalah bersaing dari Alara.
"Kamu jadiin aku bahan taruhan, 'kan?"
Mata Mosa melotot dan tangannya memukul d**a Prabu. Tapi itu benar sehingga Mosa merasa bersalah.
"Harusnya iya aku jadiin kamu bahan taruhan saja. Kan lumayan duwitnya bisa but shopping."
"Durhaka! Suami sendiri dijual."
"Loh, kamu harus tahu. Zaman sekarang ini ada yang jualan suami!"
"Suami sewaan?"
"Suaminya dijual, Sayang."
Prabu dan pipinya menjadi tidak santai kala Mosa memanggilnya sayang. Sudah bertahun-tahun berlalu masih saja sensasinya bikin mau muntah. Respons tubuhnya lebay.
"Kamu gabut! Suami sendiri di bagi-bagi." Bibir Prabu manyun. Mosa cubit dengan tangannya, gemas.
"Suaminya disuruh nyari nafkah."
Kalau ditanya apa yang Prabu suka dari Mosa ketimbang Alara adalah sifat keduanya yang bertolak belakang. Terkesan membandingkan tapi Prabu juga butuh feedback dalam membangun sebuah obrolan yang menyenangkan. Alara menyenangkan, tahu caranya memberi tanggapan dan nasihat tanpa dirinya minta. Namun Mosa bisa menciptakan suasana garing yang membuat keduanya jadi tertawa meski masalahnya sedang genting.
Lalu apakah Prabu merasa sakit hati saat Mosa menjadikan dirinya objek saingan?
Jawabannya tidak. Prabu tidak memikirkan soal perasaannya alih-alih harus memberontak. Di samping Mosa yang menginginkan dirinya, Prabu juga demikian. Jadi keduanya memang sama-sama mau untuk membina hubungan ini.
"Misal, seandainya aku nggak bisa hamil atau mungkin nggak dalam waktu dekat bisa hamil. Kamu bakalan gimana?"
Dahi Prabu berkerut. Pembahasan ini mulai nggak enak untuk diangkat jadi topik. Tapi biar Mosa juga lega hatinya, Prabu memberikan senyum lebarnya.
"Nikah lagi boleh?" Antara minta izin dan sudah niat mau punya madu. Mosa tertunduk lesu lalu mengangguk lemah. "Ya gila aku nikah lagi, Yang!"
"Dih dasar gendeng!" Mosa misuh-misuh mendengar pernyataan Prabu. "Nggak waras!"
"Kamu lebih nggak waras! Kamu doang nih yang nyari pahala dengan cara nyuruh suami nikah lagi. Kalau kabar buruknya kamu nggak bisa hamil, masih ada alternatif lain: adopsi anak. Apa salahnya, sih!?"
Salahnya sih nggak ada tapi Prabu nggak tahu kalau punya anak yang lahir dari rahimnya sendiri dan adopsi jelas beda. Sekilas memang nggak ada bedanya. Sama-sama memandikan, merawat, dan memberi makan serta lainnya. Namun sensasi yang didapat jelas nggak sama.
Mosa ingin egois dengan menjadi wanita sempurna yang seutuhnya. Bukan sekadar cantik dan pintar melayani suami namun juga bisa mewariskan keturunan untuk Prabu.
"Kamu tahu? Aku punya teman yang aneh. Dia cowok dan cuma anak tunggal. Bisa bayangin dong sesayang apa orang tuanya sama dia dan apa yang bakal dia warisin. Nggak cuma perusahaan milik Bapaknya yang jaya yang bakal dia kelola tapi juga butik punya Ibunya yang di tiap kota ada." Prabu tahu yang ada dibenak Mosa sehingga menceritakan kisah ini agar menenangkan jiwa Mosa.
"Jadi keturunan konglomerat belum tentu bahagia loh, Yang. Dia kesepian yang akhirnya minta ke Ibunya buat dicariin seorang teman. Teman yang bukan sekadar teman bermain doang tapi teman yang selalu ada dan bersama dia di hari-harinya. Karena Ibunya sudah nggak bisa hamil, ada masalah dengan hormonnya yang bikin dia sulit hamil lagi akhirnya teman aku ini mainlah ke suatu panti asuhan."
"Senang dong dia ketemu banyak orang di sana. Main bareng anak-anak di sana dan betah banget di sana. Sampai akhirnya dia ngelihat satu anak cowok yang usianya cuma selisih berapa tahun sama dia. Main sendiri di dalam ruangan, nggak ada temannya tapi dia happy. Aku kalau dengar kisah ini agak bikin merinding tapi aku juga ngasih acungan jempol buat dia. Soalnya dia orangnya bisa berbesar hati nerima orang baru buat dia bawa ke rumahnya. Menempati rumah dan berbagi mainan. Rata-rata anak kecil mana mau kayak gitu, Yang. Mereka terkesan egois dan mendominasi semua mainan. Nggak mau berbagi apa lagi saling menerima. Dia sampai minta ke orang tuanya buat ngadopsi si bocah kesepian ini."
Capek juga ngomong panjang lebar padahal Prabu mode kalem. Tetap juga haus.
"Sekali di dekati, si bocah itu nggak mau. Bukan menolak dengan sikapnya yang kasar namun dengan diamnya itu yang bikin orang tuanya hampir nyerah. Terus lama-kelamaan ini bocah mau nerima teman aku dan diajak pulang bareng. Gimana menurut kamu? Nggak semua yang berasal dari adopsian itu buruk, 'kan? Kamu bisa kok menerapkan hidup baik buat mereka yang kekurangan kasih sayang."
"Aku tetap mau jadi wanita sempurna buat kamu."
"Kamu sudah lebih dari sempurna." Prabu elusi pipi kanan Mosa yang membuat si empunya memejamkan mata. "Walaupun semprul!"
Tawa keduanya meledak. Bukan mengatai hanya mencoba jujur.
"Sekarang si bocah adopsi ini sudah sukses. Sudah jadi kepala bagian dari sebuah klinik kesehatan di Surabaya. Nggak sia-sia dia dibawa dari panti asuhan yang sumpek buat dijadiin orang kaya."
Prabu masih mencoba merayu dan Mosa tahu.
"Aku maunya hamil sendiri." Kekeuh Mosa pada prinsipnya.
"Mana bisa!? Kamu mau hamil tetap melibatkan aku, Yang. Dikira wanita ghaib kamu hamil tanpa suami. Bengek!"
"Itu mulut minta banget ditabok, ya!"
"Pakai bibir kamu ya, Yang."
"Gini maksudnya?" Mosa kecup bibir Prabu tanpa izin. "Kenapa?" Prabu bengong merasa dicolong start. "Mau lagi?" Mosa kecup lagi tanpa memberi aba-aba. Prabu mendengkus kesal.
"Kamu kalau mau nyium yang niat dong Yang. Nyium apaan yang sedetik saja nggak ada eh sudah di lepas."
"Bibir punya aku ya suka-suka akulah."
"Kok untung banget kamu Yang."
"Ya dong. Rugi muluk memangnya jualan."
"Nggak adil."
Prabu membalas. Tidak mau tahu tubuh Mosa yang blingsatan saat kedua tangannya Prabu naikkan ke atas. Memegangnya kuat-kuat dan mencium bibir Mosa secara rakus. Prabu raup bibir mungil Mosa dengan tawa yang keduanya kuarkan.
"Ini mana boleh gini! Masa aku disiksa."
"Tapi nikmat, 'kan?" Mosa mengangguk tanpa malu-malu. "Ya sudah nikmati!"
Prabu lanjutkan ciumannya yang berubah menjadi cecapan diseluruh wajah Mosa. Membuat si empu kegelian dan menggeleng ke kanan dan ke kiri. Tetap saja Mosa kalah. Tenaga Prabu jauh lebih kuat.
"Nggak mau tahu, harus ibadah malam ini."
Memangnya Mosa punya pilihan untuk menolak? Prabu kalau sudah nafsu mana bisa ditahan!
***
Alara menerima pesan jika Gema pulang telat. Kliennya agak rewel dan alot. Seingat Alara kasus yang Gema tangani saat ini mengenai perceraian dan pembagian harta serta hak asuh anak. Kadang Alara suka ketakutan sendiri kalau-kalau Gema jadi trauma saking seringnya menangani kasus perceraian.
Pernah Alara lihat di serial TV. Pengacara tidak mau menikah hanya karena sering melihat kasus-kasus orang cerai yang ditanganinya. Menurutnya punya hubungan seperti pernikahan itu ribet dan baginya menikah cuma kertas putih yang dituliskan nama pasangan kita. Tidak sakral dan bisa bubar kapan saja.
"Nte, jadi mau ke pasar malam?" Jasmine nongol dari balik pintu kamar Gema yang Alara tempati.
Malam ini menginap di sini dan esok sore akan kembali ke rumahnya. Gema sudah misuh-misuh tapi sebagai menantu yang baik Alara ingin menyenangkan hati Marini.
"Sudah siap?"
Jasmine mengangguk dan masuk ke dalam kamar Omnya. Melihat sekitar yang masih sama saja dan berakhir di Alara yang sedang mematut diri.
"Aku iri sama Tante."
"Kenapa?" Alara menoleh menatap Jasmine yang memainkan kakinya di karpet berbulunya.
"Om Gema bucin banget sama Tante eh aku yang masih piyik nggak punya pacar."
"Nggak punya pacar atau kamu yang punya kriteria terlalu tinggi?"
"Ih Tante!"
Alara tertawa. Berdiri dari meja riasnya dan duduk di samping Jasmine.
"Kamu bukan tipe cewek ribet kok. Tante rasa gampang saja dapatin pacar tinggal kamunya gimana."
"Aku labil," katanya dengan cengiran. "Cuma kadang doang kepikiran pengen punya pacar karena lihat teman-teman pada punya gandengan. Kadang ogah karena ribet. Nanti dikekang, diatur nggak boleh ini dan ini. Kan sulit!" Jasmine mendengkus menunjukkan kekesalan di wajahnya.
"Kalau gitu kamu juga jadi posesif. Jangan mau diakalin. Dia ngatur kamu gini, bikin aturan yang dia sendiri nggak habis pikir kalau kamu bisa membalasnya. Dia berulah gini, ikutin. Kita kaum cewek jangan mau lemah apa lagi sampai ditindas."
"Kayak Mama."
Sepertinya Alara salah menjawab. Topiknya nggak pas padahal cuma ngasih nasihat.
"Itu beda." Alara tidak tahu masalah secara besarnya. Cuma tahu intinya doang. "Beberapa orang punya prinsip buat nggak mengakhiri hubungannya terlebih itu sebuah pernikahan. Karena adanya anak."
"Ah enggak juga! Buktinya Papa aku berani main mata sama istrinya Om Gema. Pengen tak ulek deh dua manusia itu."
"Nggak boleh dendam ih!" Ama masuk tanpa permisi. Jangankan salam, ketuk pintu juga enggak. "Kamu mah mesti buktiin ke Papa kamu kalau suami kamu nggak kayak dia."
"Asal jangan dapat kayak Om Gema deh. Rungkad aku!"
"Wah, ini si Gema keselek-selek ngomongnya karena mbok ghibahi." Ama ngakak. Jasmine bengek. Alara garuk-garuk kepala.
"Aku suka kasihan lihat Tante Alara yang wajib masakin buat Om Gema. Padahal dia mandiri. Sebelum nikah, selama kuliah sudah jauh dari Oma. Bisa dong dia masak sendiri, nyuci baju sendiri, setrika sendiri dan lakuin apa pun sendiri. Begitu nikah bininya dijadiin babu. Enak banget hidup dia."
"Pandangan kamu tentang rumah tangga masih dini, Jas." Ama nggak bisa ngasih penjelasan panjang lebar karena Jasmine belum sepenuhnya bisa menerima perceraian kedua orang tuanya dan pengkhianatan yang dilakukan Papanya. "Nanti tiba saatnya kamu paham, kamu bakal ngerti dengan sendirinya."
Kalau hidup bisa serba sendiri, nggak akan ada pernikahan. Nggak akan punya keturunan. Hidup ini hambar.
"Yuk berangkat." Alara juga enggan memberi penjelasan. Bukan tidak mau namun memang belum saatnya. "Tante pengen jajanan Korea."
"Kayaknya ada, kemarin aku lihat."
"Ibu hamil kalau ngidam nggak ada lawan."
***
Gema kalau ditanya, takut nggak sih nikah? Jawabannya takut. Terus kenapa nikah? Kalau nggak nikah makin aneh juga. Walaupun nikah nggak nikah itu pilihan masing-masing orang, tapi ini negara berfollowers alias +62 yang mana apa-apa jadi bahan omongan.
Dulu motivasi buat nikah apa?
Nikah mana pakai motivasi sih selain buat beranak pinak. Paling banter biar dianggap laku sama teman setongkrongan. Jadi motivasi nikah karena nggak mau jadi bulan-bulanan kawan.
Dulu sebelum menikah dengan Nora Bachtiar, Gema sering horor membayangkan kehidupan pernikahan. Soalnya yang Gema lihat cuma kasus perceraian dan masalah di dalamnya.
Ada yang kekurangan ekonomi, suami pengangguran, suami tukang selingkuh dan banyak lagi. Peran suami serba buruk dalam kasus-kasus yang Gema tangani seperti saat ini.
Jakarta sudah larut. Jarum pendeknya hampir menyentuh angka tujuh dan Gema tahu hingar-bingar di luar sana membeludak. Ini malam Minggu terakhir mengingat Minggu depan sudah memasuki bulan Ramahan. Dan Gema masih terjebak di kantornya dengan pasangan yang berseteru. Belum menemukan titik terang jalan untuk masalah hak asuh anak akan jatuh kepada siapa.
"Kalau anak-anak sama kamu, bisa kamu bayangin mereka bakal gimana? Kamu itu sebagai Bapak nggak bertanggung jawab dan b***t. Tahunya cuma main cewek doang!" Si istri mencecar dengan sadis. Dadanya naik turun karena emosi.
"Kamu paling benar, gitu maksudnya!? Kamu saja bawa cowok ke rumah di depan anak-anak pakai nyalahin aku segala."
Gema mumet. Sudah dibilang perkara anak akan diurus oleh pengadilan. Mereka masih ngotot ingin menentukan.
"Terus kamu pikir anak-anak mau sama kamu? Hidup bareng cewek kamu itu. Mereka nggak bakalan sudi manggil istri barumu Mama, aku jamin itu!"
Si suami nggak mau kalah.
"Kamu pikir anak-anak mau manggil cowok kamu dengan sebutan Papa?"
Serangan balik dari sang suami mengikuti cara istrinya. Mereka saling membuka aibnya masing-masing. Untung Gema sabar.
"Ada baiknya …" Gema menjeda dan keduanya menoleh. "Biarkan anak-anak kalian yang memilih buat tinggal sama siapa. Dan menurut saya karena mereka sudah besar, bisa paham masalah orang tuanya, beri mereka waktu. Dengan begitu saya nggak perlu mengajukan soal hak asuh."
"Nggak bisa gitu Pak Gema!" Si suami nggak terima. Sampai gebrak meja dan Gema berjengit kaget dalam duduknya. "Anak bungsu saya nggak bisa jauh dari saya."
"Yakin? Dia benci banget sama kamu loh." Istrinya mencibir. "Kamu sih seenak jidat batalin janji buat nonton lomba narinya eh malah asik pergi sama cewek ke bioskop."
"Diam kamu!" Merasa kalah, si suami menyentak dengan suara lantang. "Kamu jadi istri nggak ada baik-baiknya tapi merasa paling hebat!"
"Aku mengikuti yang suami aku lakuin kok. Kamu selingkuh ya aku selingkuh. Aku bukan wanita g****k yang diselingkuhi suaminya malah nangis-nangis minta balikan. Kamu itu siapa? Kalau bukan karena aku cewek-cewek di luar sana mana ada yang mau sama kamu yang kere!"
Wah, ini sih ranahnya sudah beda. Mata Gema membulat kaget. Dipikirnya cuma masalah selingkuh doang. Tahunya membahas masalah krusial perihal materi.
"Terus kenapa kalau aku kere! Kamu saja mau kok."
"Ya itu karena aku buta. Cinta sama kamu yang kere ini. Pak Gema, saya mau perceraian ini dipercepat. Urus semuanya dan saya terima beres."
Baik. Harusnya dari tadi saja memberi keputusan yang begitu. Gema hanya manggut-manggut dan menatap si suami yang sama setujunya.
"Tunggu kabar selanjutnya. Sementara data masuk entry untuk kapan sidangnya, Bapak dan Ibu bisa menanyai dengan siapa anak-anak kalian akan tinggal."
Gema embuskan napasnya lega. Pekerjaannya hari ini usai meski menguras tenaga. Setelah kliennya berpamitan, Gema merenung. Memikirkan perjalanan hidupnya yang jika dibilang mudah ya nggak mudah banget. Susah, tapi Gema berkecukupan. Nanti disangka nggak bersyukur pula.
***
Pulang-pulang dari pasar malam, Alara temukan sang suami rebahan di atas ranjang. Tidur sih kayaknya. Soalnya Alara dengar dengkurannya. Kasihan, ya. Jatah quality time sama bini dan keluarga malah jadi penengah buat masalah keluarga orang lain.
Alara embuskan napasnya. Melepas sepatu Gema yang belum dicopot. Kelihatannya capek. Alara pindahkan kedua kakinya yang menggantung saja nggak bangun.
Alara tinggalkan Gema setelah selesai meletakkan sepatunya di pojokan ruangan. Masuk ke kamar mandi, cuci kaki, gosok gigi dan ganti baju. Alara rebahkan tubuhnya di samping Gema dan mengelusi rahangnya yang berjambang.
"Ngapain?" Gema masih menutup matanya. "Abang belum mandi."
"Nggak usah mandi!" Alara endusi leher Gema. "Nggak bau kok. Sedap malahan. Jangan mandi!" Peringatnya dengan ancaman.
"Ganti baju–"
"Nggak boleh!" Alara belitkan kedua kakinya pada kaki Gema. Mengunci pergerakan sang suami yang hanya dibalas kekehan.
"Tumben banget!"
"Makanya kalau aku bilang jangan Abang harus nurut. Kapan lagi aku baik sama Abang soal nggam perlu mandi."
"Kamu ada maunya, 'kan?" Terka Gema. Alara setelah baik seperti ini akan jadi manusia horor seantero jagat.
"Nggak ada. Abang nggak perlu mandi atau aku nggak mau ngomong sama Abang!"
"Aduh Yang!" Gema melenguh. Dengkul Gema mengenai intinya entah disengaja atau tidak. "Kalau dia bangun kamu belum tentu mau tanggung jawab."
"Tapi mood aku lagi bagus Bang."
"Ini kode ya?"
"Kok kode sih!? Abang pikir ini belanja di toko oren itu?"
"Nggak biasanya–"
"Ini lebih dari biasanya."
"Tapi Abang belum mandi."
"Bentar lagi keringat Abang bejibun."
Betina kalau sudah nafsu nggak tanggung-tanggung maksanya.
"Yakin Yang?" Gema curi kecupan di bibir Alara. "Ini rumah Mama. Kamu hobinya berisik!"
"Hotel yuk Bang!"
Astaga bengeknya. Gema sampai speechless nggak bisa ngomong apa-apa.
"Tapi buang-buang waktu. Janji jangan berisik ya Yang."
"Nggak seru." Alara merengek.
Timbang lama Alara sosor saja Gema. Sudah dari tadi Alara menginginkan Gema. Sampai Gema bingung dan cuma bisa berkedip hendak berbuat yang gimana.
Aneh! Diserang istrinya malah diam kayak patung.
***
Ada sesi cuddle setelah permainan panas yang Gema dan Alara lakukan. Dari tadi Alara sudah menempelkan pipinya di d**a Gema dan terus mengendusi aroma khas suaminya. Nemplok kayak cicak didinding diam-diam merayap–tangan Alara memang ke mana-mana kok. Di atas perut Gema, paha Gema, pusaka Gema dan ke mana saja yang mau dituju tangannya atas perintah Alara.
Yang Gema lakukan?
Diam kayak patung. d***u bak kerbau di cucuk.
"Abang sudah makan?"
"Belum–eh sudah barusan makan kamu."
"Makan nasi Abang?"
"Makan kamu sudah bikin kenyang kok."
"Abang bisa serius nggak?"
"Ini lebih dari serius, Yang." Gema usapi punggung Alara yang polos. "Kamu masak apa?"
"Perkedel sama sayur sop. Kalau di makan sekarang sudah nggak enak. Abang mau aku bikinin nasi goreng?"
"Abang mandi, ya?" Badan Gema lengket oleh keringat.
"Nggak boleh!"
Percuma meminta izin. Gema sudah tahu tabiat istrinya yang jika sedang baik maka jangan akan seterusnya jangan nggak bakalan berubah.
"Abang nggak usah makan deh timbang makan!"
"Ya sudah aku temenin kamu masak kalau gitu."
"Nggak mau!" Dekapan Alara mengerat yang otomatis menggesek putingnya ke kulit Gema.
Rasanya ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan, ada yang ingin dipegang tapi bukan janji.
"Abang lapar Ra."
Alara diam. Sedang menimang apakah harus mengizinkan Gema makan atau tidak.
"Abang kenapa kayak nggak mau dekat-dekat sama aku?"
Alih-alih memberi izin Alara justru memancing perkara.
"Abang bosan sama aku?"
Mulut Gema kayak ikan koi. Sudah kebuka, tertutup kembali.
"Kamu suka banget bikin kesimpulan sendiri Yang. Abang tuh lapar, mau makan masakan kamu."
"Alah bohong! Malas aku sama Abang."
Alara ngambek dan membelakangi tubuh Gema.
Kalau sudah begini, enaknya Gema apain?
"Abang sibuk banget dari siang Ra. Nggak ada waktu buat makan. Kasus orang cerainya yang kali ini bengek banget."
Masih belum ada jawaban. Alara mendengar namun pura-pura tuli.
Gema embuskan napasnya.
"Abang jadi takut kalau suatu saat nanti khilaf." Gema dekatkan tubuh polosnya ke tubuh Alara. Memeluknya dari belakang dan tangannya mengusapi perut Alara yang membuncit. "Jangan sampai deh kita kayak gitu ya Ra. Kok kasihan sama anak-anak kita nantinya."
Terkesan seperti Gema menginginkan anak lebih dari satu.
"Abang nyebelin!"
"Pasar malamnya gimana? Ramai?"
"Biasa saja."
"Tapi senang, 'kan?"
Alara diam. Menarik tangan Gema yang melingkari perutnya untuk dipeluknya.
"Weekend kalau Abang kerja aku nggak suka tapi nggak bisa protes."
"Maaf ya Sayang."
Makin bengek kedua orang ini. Sebentar baikan, sebentar musuhan, sebentar-sebentar begitu.
"Besok mau ke gerai bunga sama Mama. Kayaknya aku tertarik deh Bang buat punya tanaman hias."
"Dirawat sendiri?" Gema akan setuju kalau Alara punya kesibukan lain.
"Jualan."
"Di mana?"
"Online."
"Serius?"
Nggak ada jawaban. Alara juga lagi mikir.
"Entah. Pokoknya aku gabut."
Oke, Gema paham. Nggak mau tanya lebih lanjut. Dijamin besok keinginan Alara sudah lain lagi dari yang malam ini di sampaikan.
Labil!
Bumil ngidamnya nggak kira-kira. Hormonnya bekerja secara sukarela bak kembang api yang meledak-ledak.
Nggak nyusahin kok. Tolong jaga batin suci Gema buat nggak ngomong kayak gitu. Sama aja nyumpahin diri sendiri. Baik kayak, blangsak iya.
"Klien Abang rewel banget?" Gema berdeham sebagai jawaban. "Kenapa Abang nggak makan?"
"Nggak selera."
"Kenapa nggak Abang sempetin buat makan?"
"Sibuk banget Yang."
"Mau jadiin aku janda, ya?"
"Sembarangan!" Gema misuh-misuh. "Kamu tahu kok alasannya."
"Abang kelewat manja."
"Lebih tepatnya nggak bisa kalau bukan masakan tangan kamu."
"Manja!"
"Ketergantungan itu namanya."
"Manja!"
"Rela kalau Abang suka masakan orang lain?"
"Logika dong Bang jangan cuma andelin perasaan Abang doang."
Sehat kagak, masuk rumah sakit iya.
"Makanya sekarang Abang lapar."
"Aku nggak peduli!"
"Hm, kamu gitu." Bibir Gema manyun. "Tega banget."
"Aku barusan digempur Abang. Mending kita bobok."
"Nasi goreng Yang, please."
"Pesan logo M yang gede itu mau nggak Bang? Kayaknya aku pengen makan itu."
"Yuk." Gema bangkit dari rebahannya.
"Pesan Abang."
"Nggak bisa mampir ke hotel dong Yang."
Sialan! Pipi Alara jadi panas. Bersemu-semu merah jambu kayaknya.