61

2538 Kata
Seorang introvert seperti Alara ini cuma peduli sama masalahnya sendiri. Bukan maksudnya egois tapi orang introvert adalah yang ketika punya masalah nggak mau orang lain tahu dan nggak mau tahu sama masalah orang lain. Dia menciptakan dunia yang masuk ke dalam ranah zona nyamannya. Jadi nggak aneh kalau banyak introvert yang circle pertemanannya itu-itu saja. Nah ternyata di mana pun tempatnya itu sama. Di wilayah tempat tinggalnya bersama Gema, Ibu-ibu tukang gosip ada. Sekarang di rumah mertuanya juga ada. Parahnya, gerai bunga di mana Marini mengembangkan bisnis kecilnya selama pandemi justru jadi markas pertemuan buat bergosip. Tempatnya juga strategis. Bukan strategis karena akses jalan masuk melainkan jalan bagi para penghuni untuk lewat. Jam baru menunjukkan pukul 11.00 lebih sedikit. Siang hari yang panas teriknya meresap sampai ke tulang di hari Minggu nan cerah ceria. By the way Minggu depan sudah memasuki Ramadan. Mungkin pikiran mereka ini hari-hari menjelang taubat sebelum puasa. "Nikah siri?" beo seorang Ibu berbaju biru laut yang Alara nggak tahu siapa namanya. Dandanannya kalem kayak Ibu-ibu pada umumnya. Pakai kaca mata dengan rambut di keriting kasar. "Iya! Lagi hamil gede pula. Komplek kita lama-lama tercemar karena ada si ini." Si Ibu pemberi informasi menggebu-gebu. "Di jamin deh bakal ada yang ngontrak di sini lagi." Marini yang berada di tengah-tengah mereka pasrah. "Banyak orang ngontrak Bu. Kalau cuma nyalahin si ini doang bisa kena amuk entar kita. Dikira mencemarkan nama baiknya walaupun busuk sih." Tawa di antara para Ibu-ibu itu menggema pun dengan Marini yang ikut serta. Alara sih anteng semprotin bunga-bunga dalam pot. Sesekali matanya melirik melihat interaksi mereka yang kompak dalam dunia perghibahan. "Bisa nih mereka ngebangun sebuah komunitas lambe turah di sini." Suara Mbak Ama mengejutkan Alara hingga berjengit. Si pelaku cuma nyengir nggak punya salah dan ikutan menyemprot bunga-bunga lainnya. "Mama kelihatan bahagia banget pas ngumpul sama teman-temannya." "Asli! Mama mantan Ratu gosip." Mbak Ama semangatnya mengobar. "Tapi gitu-gitu juga Mama nggak pernah ngebuka aib anak-anaknya. Haram hukumnya bagi dia ngomongin keburukan anak. Cukup dia yang dengar keburukan anak orang lain tapi anak dia kudu berharga dan dihormati." Alara jadi iri. Marini bertolak belakang dengan Jayanti–Mamanya. Yang demen membandingkan dirinya dengan anak-anak yang lainnya. "Mama kalau ngurusin kita aslinya frustrasi berat." Ama lanjut ngoceh, Alara jadi pendengar. "Tapi gitu-gitu juga kalau ada yang ngejelekin kita dia nggak terima. Coba bayangin Ra! Keluarga kita harmonis tapi urusan hati morat-marit." Benar juga. Alara keluarganya nggak sehat, tapi sekali nemu suami modelan kayak Gema. Keluarga Gema nggak kaleng-kaleng dalam urusan menjaga. "Aku pernah dengar Mbak. Suami baik, mertua rungsing. Giliran suaminya yang nakal, mertuanya yang baik. Tuhan ngasih ujian jalannya lewat mana saja. Biar kita sadar buat bagi-bagi kebahagiaan ke orang lain juga." Ama setuju. Nggak semua hubungan yang kita jalin hasilnya buruk. Berhasil tidaknya tergantung bagaimana kita melihatnya. "Aku iri sama Mbak Ama dan Mbak Mika. Mama adil banget ngasih takaran kasih sayangnya. Bisa ngasih petunjuk buat tiap masalah yang Mbak alami. Aku kadang mikir, aku ini seorang anak bukan, ya?" Alara tertawa. Bukan meratapi nasibnya atau sedang pamer soal sakit hatinya. Alara sudah biasa menerima perlakuan buruk dari Jayanti sejak kecil jadi tidak ada bedanya saat dirinya beranjak dewasa. "Kalau dulu waktu sama Wawak enak. Kita diomelin sesuai porsi kesalahan kita setelahnya diberi wejangan kalau ini nggak boleh kita ulang. Melarang tapi ngasih solusi jadi kita nggak bingung." "Kamu harus mengapresiasi diri kamu sendiri. Buat sudah bertahan sampai sejauh ini kamu lebih dari baik. Hidup ini bosenin Ra kalau nggak punya masalah." Ama bukannya nggak mau ngasih tanggapan lebih dalam. Cuma nggak mau bikin adik iparnya sedih dan mengingat masa-masa buruknya. Kita hidup buat hari ini dan masa depan. Masa lalu biarkan saja di belakang. "Kalau di pikir-pikir, masalah yang kita punya nggak bisa dianggap paling berat di saat ada yang lebih kewalahan." Alara punya teman yang masalah keluarganya lebih komplit. Lahir dan besar di luar nikah, di olok-olok sana sini dan dicampakkan sama pacar sendiri. Jika dibandingkan dengan hidup Alara yang bisa lepas dari keluarganya, rasanya itu jauh lebih baik. "Pak RT kenapa nggak bertindak tegas sih?" Si Ibu berbaju putih yang baru datang membawa sayuran dalam kantong plastik nimbrung. Gila ya, komunitas ghibah bisa punya jaringan luas. Radar 5 meter saja bisa didengar. "Lah kan Pak RT dapat bagian juga Bu. Dia minta izin ngontrak di sini ngasih amplop duluan." "Mama diam doang tumben." Mbak Ama nyengir bikin Alara celingukan. "Sudah tobat kayaknya." Anjirlah, sama Emak sendiri begitu amat. "Pokoknya mah kalau nggak ada kerja sama nggak bakalan bisa itu orang pada masuk ke sini. Lama-lama lingkungan kena di susupin sama pendosa." Ibu berbaju merah yang sejak tadi jadi pendengar angkat bicara. Bikin Ibu-ibu yang lain mengangguk termasuk Mama Marini. "Mau protes, ini wilayahnya Pak RT. Kagak protes, kita yang dibikin resah." Menurut Alara nggak ada masalah sih perihal mereka yang tinggal di sini. Urusannya masing-masing tapi memang dasarnya Ibu-ibu ini demen nyari bahan ghibah ya begini akhirnya. "Dengar-dengar ini laki sudah punya bini dan anak. Entah di Sulawesi atau di Jawa. Kalau beneran begitu, terlantar dong anak dan istrinya!? Kok tega benar!" "Namanya doyan bercocok tanam Bu. Apa lagi dia merantau, ada yang cocok dikit langsung hantam. Sudah luas buang." "Wah kalau gitu ceritanya dia nggak cuma nabur satu s****a. Dia ke mana-mana nih nanam benihnya." Ama dan Alara menahan tawa mendengar gosipan para Ibu-ibu yang kian meruncing. Istilah yang mereka pakai pun kayak anak-anak zaman sekarang. "Ya wes intinya kita nggak usah ikutan! Kalau ada apa-apa sama mereka serahin ke Pak RT. Kita mah tinggal tutup mata terus lanjut bobok." Anggukannya serentak menandakan kalau mereka semua setuju. Ngapain juga pusing-pusing mikirin dosa orang lain. *** Diam-diam Alara suka nangis. Saat sendiri dan nggak ada Bachtiar Gema di sampingnya. Nangis sendirian jadi momen yang Alara tunggu kalau Gema sudah berangkat kerja. Bukan mau pamer atau meratapi nasibnya. Alara cuma sedih. Gimana ya bilangnya? Dibilang sulit, Alara takut kualat. Kan hidupnya sudah lebih dari baik. Dibilang senang, mana ada manusia hidup happy muluk. 50:50 paling tepatlah buat dijadiin gambaran. Alara masih bisa senang, masih bisa juga nangis kayak gini. Inikan hari Minggu. Gema sedang jogging bareng beberapa ponakannya. Alara usai menyirami bunga di gerai Marini langsung masuk kamar. Perasaannya sedih dan air matanya jatuh begitu saja. Alara nggak suka jadi cengeng tapi apa boleh buat. Selama Gema belum pulang Alara mau nangis sampai puas. Dulu Alara sempat berpikir untuk tidak menikah. Setelah Prabu memilih Mosa, perasaan putus asa membumbung tinggi dihati Alara. Percuma menikah, percuma membina rumah tangga. Semua itu palsu seperti keluarganya yang harmonis di mata orang lain namun retak di dalamnya. Alara sudah takut sebelum mencoba. Tapi Alara juga berpikir tidak mungkin untuk hidup sendiri selamanya. Ada yang Alara butuhkan seperti bahu untuk bersandar, telinga untuk mendengarkan dan kedua tangan untuk pegangan. Dan menemukan Gema yang tidak pernah Alara duga, menjadi bagian syukur tersendiri dalam hatinya. Waktu itu pikiran Alara bukan menikah. Hanya sekadar membuat kenangan untuk jejak terindah dalam hidupnya. Besar harapan Alara agar bisa hamil dan memiliki anak. Setelahnya akan Alara rawat dan besarkan seorang diri. Nekat sekali, 'kan pikirannya? Itu karena Alara sudah putus asa. Alara sudah menyerah pada kehidupannya. Ini hormon kehamilan ngasih pengaruhnya nggak baik banget deh! Alara diajak nangisin masa lalunya dikala keputusan ikhlas sedang dijalani. Sialan! Alara elap ingusnya. Menyudahi tangisnya dan beranjak membasuh muka. Hidung mampetnya bikin Alara misuh-misuh dalam hati. "Kenapa Yang? Flu?" Keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan Gema yang berdiri di pintu kamar mandi. Kebiasaan lamanya nggak pernah berubah. Untung Alara sigap dan nggak kepleset. "Parang harganya berapa Bang?" Gema meringis. Paham maksud istrinya. "Maaf Yang, refleks." "Mau punya madu?" "Janganlah, Yang. Satu saja sama kamu." Satu aja bikin mumet ya kali nambah. Di kira punya bini dua tuh surga dunia banget kali ya! Neraka yang ada, kerak neraka lebih tepatnya. "Abang mau sarapan sekarang?" Alara belum menyiapkan yang ingin Gema makan. "Mau aku kupasin apel?" "Nggak mau pulang aja Yang?" Bukan Gema nggak suka di rumah orang tuanya. Cuma kurang bebas saja ingin berbuat apa. Sudah biasa hidup sendiri membuat Gema terbiasa dengan yang namanya kebebasan. "Abang ada kerjaan dadakan lagi? Tapi mampir ke supermarket dulu ya. Aku nggak punya bahan makanan buat dimasak nanti." "Oke. Tapi kalau capek mending take away aja nanti. Soal belanja dan isian kulkas bisa Abang pesenin online." Alara tidak suka dengan gagasan yang Gema usulkan. Lebih puas memilih sendiri meski jaminan belanja online cukup memuaskan pelayanannya. "Besok 'kan kamu check up." Gema berkata lebih dulu sebelum Alara membantah. Lebih tepatnya mengingatkan tentang jadwal periksa kandungan. "Oh ya? Aku lupa Bang." Sudah Gema duga. Nggak heran kalau Alara betah di sini. "Abang tahu, kamu kesepian banget di rumah. Maaf ya kalau Abang ngasih batasan. Padahal kalau kamu belum Abang nikahin, bisa bebas kerja dan ke mana pun yang kamu mau." Gema usapi pipi Alara membuat si empu memejamkan kelopak matanya–keenakan. Sebelum akhirnya Alara mengangguk dan tersenyum. "Nggak gitu konsepnya kalau aku Bang. Aku gabut, aku butuh teman, iya aku akuin. Tapi yang Abang omongin entah benar atau enggak, aku ini labil. Abang nggak lupa, 'kan?" Contohnya tadi. Nggak ada angin, nggak ada hujan Alara nangis sesenggukan. Cuma karena ingat masa lalu bersama keluarganya. "Mungkin sudah jadi pilihan beberapa orang. Ada yang setelah menikah masih bekerja, memilih mempertahankan kariernya di sela-sela mengurus suami dan anak. Ada juga yang fokus membina rumah tangganya agar hasilnya lebih baik. Semua itu tergantung pilihan masing-masing orang Bang." Mungkin iya Alara sempat tidak mau menikah. Atau hamil saja dengan Bachtiar Gema tanpa ikatan pernikahan dan hidup sendiri bersama sang anak nantinya. Tapi membayangkan seandainya itu nyata terjadi, Alara merinding. Sudah dibilang dirinya ini labil. Belum ada satu jam sudah berubah lagi pikirannya. "Tadi ada gosip apa Yang?" Gema bertanya setelah menerima kaos bersih pemberian Alara. "Tadi Abang lewat kayaknya seru banget." "Biasa Bang. Mau di kompleks lingkungan kita atau di sini sama aja." "Ada yang aneh?" Alara mengangguk. "Kompleks sini dari dulu banyak pendatang. Kan masih ada tempat kosong yang belum ditempati pembelinya jadi dikontrakin." "Iya terus ada yang kawin siri. Ceweknya bunting." "Tujuan dari menikah memang untuk hamil kali Yang." "Ya memang! Tapi maksudnya tuh hamil dengan status pernikahan yang jelas. Bukan nikah siri, kawin kontrak atau hamil hasil minjemin rahim. Abang tuh nggak paham ranahnya perempuan tapi berkomentar! Di protes nanti nangis." "Ih kamu kali Yang tukang nangis. Kamu cuma nggak diizinin ikut ngantor aja mewek. Ngancem segala mau ke rumah Mama. Ribet tahu punya urusan sama Mama Yang." "Mulutnya minta ditabok!" "Pakai bibir kamu ya Yang." Gema naik turunkan kedua alisnya. "Itu enak dan lezat melebihi apa pun Yang." Alara mendengkus. Memasukkan baju kotor Gema ke dalam wadah untuk di laundry. "Abang, aku pengen makan ikan asap." "Di mana belinya Yang?" Gema tenggak air mineralnya hingga sisa setengah. "Biar Abang beliin." "Ke pasar, masak sendiri deh Bang." "Aduh Yang …" Gema pengen sambat. Alara doyan banget main-main ke dapur. "Abang nikahin kamu bukan buat dijadiin tukang masak Yang. Kamu sadar nggak sih kalau Abang suka kuatir tiap kamu ke dapur?" "Kenapa?" Mata Alara berkedip bak orang d***u. "Pertama kamu hamil, kedua dapur itu berbahaya. Licin, ada gas dan lain sebagainya. Selebihnya Abang nggak mau kamu capek." "Jangan lebay Bang! Yang bilang nggak bisa makan kalau bukan aku yang masak iya siapa? Demit!?" Berganti Gema yang mendengkus. Melihat wajah Alara dengan tatapan sayu penuh permohonan. "Dih, mukamu Bang. Kayak nggak diajak ibadah sebulan!" "Yang!" Gema mengerang kesal. "Ya sudah ayo ke pasar. Sekalian pulang terus masak. Kamu besok ke rumah sakit–" "Aku sendiri saja. Abang nggak perlu antar." "Abang senggang Ra." Urusan ke pengadilan sudah Gema serahkan kepada Haikal, tim yang baru dirinya bentuk khusus turun lapangan. "Nggak percaya Abang free. Bang, aku itu mantan asisten Abang. Aku tahu kesibukan Abang di setiap harinya tanpa perlu lihat jadwal. Sambil merem juga aku tahu Abang harus ke mana hari ini, jam ini sampai sore nanti. Jadi nggak perlu Abang ikut!" "Kamu jadi suka nantangin Abang." Gema mengembuskan napasnya. "Abang ngerasa b***t jadi suami nggak sigap." "Bodo amat! Aku nggak dengar." Alara hengkang dari sana. Pergi ke luar membawa baju-baju kotornya dan memberikan kepada tukang laundry yang menjemput ke rumah Mama Marini. *** Begitu sampai di klinik kandungan, Alara menunggu antrian. Tidak biasanya Alara menunggu di saat dirinya sudah mendaftarkan jadwal temu sejak semalam. Gema tidak ikut mengantar. Suaminya itu mengalah dan enggan merusak mood Alara yang bagus. Sembari menunggu, Alara mengambil buku-buku tentang kehamilan yang ada di sampingnya. Mengambilnya dan membacanya dengan saksama. Mengingat-ingat soal tanda-tanda menjelang kelahiran. Dijelaskan juga tentang kontraksi yang terjadi beberapa jam sebelum kelahiran. Intinya buku yang Alara baca sama persis seperti yang dirinya ketahui lewat artikel di internet. Saat hendak membalik ke halaman berikutnya, pintu ruangan dokter Anisa terbuka. Menampilkan senyum dokter paruh baya yang masih ayu itu. Alara membalasnya. Meletakkan buku bacaannya dan berdiri menuju ke pintu. Langkah Alara terhenti seketika melihat siapa yang tengah berpamitan kepada dokter Anisa. "Cek kandungan juga?" Mosa bertanya tak lupa dengan senyumnya. Namun ada sendu yang tertangkap di sana. "Hm." Alara hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Mari." Dokter Anisa meminta Alara untuk masuk ke dalam ruangannya. "Kita bisa konsultasikan di pertemuan berikutnya. Vitaminnya jangan lupa di minum dan tetap jaga kesehatan." Mendengar itu kedua alis Alara berkerut. Seakan ada yang tidak beres sedang terjadi namun entah apa. Tatapan Mosa juga kosong kala melihat perut buncit Alara. "Tadi Pak Gema nelepon." Dokter Anisa kembali duduk di kursinya setelah mempersilakan Alara duduk dan bersiap mengecek tekanan darah Alara. "Kalau hari ini USG, Pak Gema minta dicetakkan foto bayinya." Alara ling-lung sendiri. Perasaannya bergejolak tak enak. Semacam kawat berduri meremas jantungnya. Tidak biasanya Alara merasakan yang demikian. "Dia … kenapa?" tanya Alara tanpa sadar. "Siapa?" Dokter Anisa menuliskan tekanan darah Alara di buku catatan kehamilan milik Alara. "Tekanan darahnya normal. Bayinya diajak happy terus ya jangan sampai stres." "Mosa …" Dokter Anisa hentikan tangannya yang hendak mengetikkan resep di layar laptopnya. "Kamu kenal Mosa?" Kepala Alara mengangguk. "Program hamil tapi hasilnya belum sesuai harapan." "Kenapa?" Ini pribadi dan rahasia. Dokter Anisa nggak boleh membeberkan sekecil apa pun masalah yang dimiliki pasiennya. Tapi melihat wajah Alara yang pucat pasi dan keringat mengucur dari dahinya, dokter Anisa tahu ini penting. "Endometriosis." Napas dokter Anisa terembus. "Jaringan dari lapisan dalam dinding tumbuh di luar rahim." Liquid bening Alara luruh tanpa perintah. "Dan sindrom ovarium polikistik. Hormon estrogen dan progesteron nggak seimbang." Alara menangis dengan suara kecil. Bukan masalah miliknya namun Alara bisa merasakan sakitnya. "Bukan nggak bisa tapi sulit," dokter Anisa. "Mosa punya riwayat menunda kehamilan." Apalah artinya menjadi seorang wanita jika tak bisa memberikan keturunan pada suaminya. Apalah artinya menjadi seorang wanita jika mengandung saja sudah tak bisa diharapkan. Melihat Alara yang terpukul, dokter Anisa bingung pun merasa bersalah. "Terus gimana?" Pertanyaan Alara tidak dokter Anisa pahami. "Prabu gimana?" "Belum tahu–" "Jangan dikasih tahu." Alara memotong dengan cepat membuat dokter Anisa mengangguk patuh. Alara tahu seperti apa keluarga Prabu. Mereka keluarga gila yang mengharapkan kesempurnaan untuk setiap hal. Mosa bisa mati bunuh diri jika kesulitannya hamil diketahui oleh mereka. "Rahasiakan masalah ini. Apa pun yang terjadi jangan biarkan orang luar tahu." Bukan bermaksud menjadi pahlawan. Alara hanya ingin melindungi Mosa. Bagaimana pun mereka lahir dari rahim yang sama. Meski tidak diperlakukan dengan adil dan setelah apa yang Mosa lalukan pada Alara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN