62

2698 Kata
Endometriosis adalah suatu kondisi di mana jaringan dari lapisan dalam dinding rahim atau endometrium tumbuh di luar rongga rahim. Endometrium dapat tumbuh di luar indung telur atau ovarium, peritoneum, usus dan saluran kemih atau v****a. Setahu Alara, endometrium akan menebal menjadi tempat sel-sel telur menempel sebelum menstruasi. Dan jika sel telur tidak dibuahi maka akan meluruh sebagai darah menstruasi. Penjelasan singkat dokter Anisa sudah cukup membuat kedua tangan dan kaki Alara tremor. Terlebih saat menghampiri Mosa di taman samping klinik yang sepi. "Kamu sok baik." Alara abaikan omongan Mosa dengan ekspresi wajahnya yang kecut. Terserah apa kata Mosa. Alara hanya ingin tahu penjelasannya kenapa bisa sampai begitu. "Kamu nunda kehamilan?" Ngomong-ngomong soal pertanyaan yang Alara ajukan, pengennya ngegas kayak biasanya. Tapi Alara tahan. Kalau boleh jujur, soal Prabu yang dimiliki Mosa mau pun Prabu yang memilih Mosa sudah Alara lupakan. Alara sudah ikhlas dan mendapat ganti yang lebih baik lagi. "Cih!" Decihan Mosa cukup menyinggung perasaan jika itu orang lain. "Jangan peduli soal apa pun yang aku alami. Kita nggak saling kenal walaupun keluarga. Ingat nggak sih kalau aku nggak pernah suka sama kamu?" Siapa juga yang mau melupakan. Mosa penyumbang luka terbesar untuk hidup Alara. Tapi masa lalu biarin saja di situ, di belakang dan tertinggal. Sekarang hidupnya untuk masa depan dengan lembaran baru. Jadi nggak bakal kepengaruh sama omongan Mosa yang terlihat sedang menyembunyikan luka alih-alih untuk marah. "Aku iri kenapa hidup kamu selalu sempurna. Aku sudah hancurin kamu, kamu bisa bangkit. Aku sudah ambil yang kamu punya, kamu bisa dapetin yang lebih layak. Hidup bareng kamu kayak guyonan." Mosa tertawa di saat genangan liquid beningnya mengaburkan pandangan. Alara diam dan memperhatikan. "Secara umum, kondisi kamu bisa diatasi oleh tenaga medis. Selama ada diagnosis–aku rasa dokter Anisa punya pengecekan yang lebih mendalam makanya bisa ngasih tahu kamu hasilnya. Tapi kalau kamu mau uji laboratorium lagi, dokter Anisa bisa kasih rekomendasi yang tepat." Dokter Anisa juga bilang sebelum Alara hengkang dari ruangannya. Bahwa endometriosis termasuk kronis dan bisa bertahan selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Mendengarnya, Alara nggak mau membayangkan kemungkinan buruk yang akan menimpa Mosa. Sebagai sesama wanita, hancurnya Mosa tanpa perlu dijelaskan sudah cukup membuat Alara mengerti. "Kamu tahu apa sih soal hidup aku?" Mosa masih saja ketus namun Alara tidak peduli. "Kamu bisa lakuin perawatan. Lewat obat dengan hormon. Perawatan pendukung bisa kamu lakuin dengan cara memantau perubahan dan membaiknya kondisi. Bedah listrik dan laparoskopi. Ada juga Kauterisasi, Ablasi, Elektrokoagulasi, dan Ablasi endometrial secara prosedur medis. Dokter Anisa sudah ngasih tahu aku. Tinggal kamu mau berusaha atau enggak." Mosa geram dibuatnya. Alara nyerocos tanpa berhenti membuat Mosa kian rendah. "Kamu ngejek aku, 'kan?" "Terserah! Aku ngasih dukungan buat kamu. Satu lagi, jangan sampai Prabu tahu. Orang tuanya juga nggak perlu tahu–" "Kenapa? Karena kamu merasa yang paling kenal mereka? Sombong!" "Hm, aku kenal mereka. Mereka sama sombongnya kayak kamu. Taruhan, begitu mereka tahu kondisimu, kamu bukan lagi bagian dari mereka." Alara boleh nangis nggak, sih? Sejahat-jahatnya Mosa, mengetahui musibah yang dialaminya Alara juga merasa sedih. "Kamu terlalu ikut campur!" "Keras kepala kamu itu–" Alara jeda. Merasa tidak berguna memberitahu Mosa. Menatapi sejenak wajah Mosa, Alara lekas hengkang dari sana setelah mengembuskan napasnya. "Aku bisa kasih rekomendasi yang bagus buat ke rumah sakit mana. Intinya semua balik ke kamu. Kalau kamu happy sama kondisi ini, aku bisa apa." Mosa menggerutu yang masih Alara dengar hingga langkahnya menjauh. Mengumpatkan kata-kata yang Alara tidak mengerti kenapa harus melakukan itu. "Sebagai anaknya Papa, aku iri sama kamu." Alara hentikan langkahnya. Tak menyangka jika Mosa akan mengikutinya sejuah ini. "Aku iri karena Papa selalu banggain kamu. Abai dan cuek nggak menjamin kalau ternyata Papa lebih sayang sama kamu. Papa lebih suka sama kamu yang mandiri, nggak rewel dan bisa lakuin apa-apa sendiri. Sedangkan aku yang sama-sama darah dagingnya–" "Yang sama-sama darah dagingnya …" potong Alara cepat dan memberi jeda. Membalik tubuhnya untuk berhadapan dan melihat ekspresi di wajah Mosa. "Kamu lebih unggul. Pernah nggak kamu mikir gimana rasanya di posisi aku?" Mosa tertawa sumbang yang membuat Alara tersenyum kecut. Benar, tidak ada gunanya memberitahu rasa sakit apa yang sudah kita alami. Manusia nggak akan pernah tahu dan nggak mau tahu tapi berharap dipahami. "Saat kamu sakit, Mama peluk kamu dan Papa ada di sisi kamu. Saat kamu belajar naik sepeda dan takut jatuh, ada tangan Papa yang selalu jadi penyangga. Kamu bisa merasakan hangatnya pelukan Mama, bisa dirawat oleh Mama, bisa tahu rasanya seperti apa elusan Mama. Kamu dapetin semua yang kamu mau tanpa harus kamu minta. Aku cukup berbangga diri menjadi dewasa sebelum waktunya dan mandiri." "Sial!" Umpat Mosa tak terima. "Kamu tinggal sebutin yang kamu mau dan dapetin dalam sekedip mata. Kenapa masih iri dengan orang yang ada dibawah kamu?" Mosa nggak pernah belajar. Buat bersyukur kayaknya hal tersulit yang nggak bisa Mosa lakuin. "Aku peduli karena kita wanita." Sepertinya Alara salah sudah peduli dengan Mosa yang bebal. "Kamu dan aku beda," jawab Mosa angkuh. "Kamu dan hidup kamu …" Mosa menjeda. Hanya embusan napasnya yang terhela lalu melewati tubuh Alara dan berjalan menjauh. Memancing rasa penasaran yang Alara miliki. Tapi siapa peduli? Maka Alara mengedikkan bahunya dan benar-benar hengkang dari tempatnya berdiri tadi. *** Kalau dipikir-pikir, ini Alara nggak tahu ngapain ke kantornya Bachtiar Gema. Nggak tahu juga kenapa sopir taksinya bisa nyampe sini bawa tubuh Alara. Terus bukannya langsung naik ke ruangan di mana suaminya berada, Alara malah duduk di lobi dengan es krim ditangannya. Makin nggak ngerti lagi sama konsep pikiran Alara. "Ibu nggak mau naik?" Resepsionis yang biasa berada di belakang meja langsung menghampiri Alara. Merasa tidak enak padahal Alara cuma duduk sambil nyemil es krim. "Enggak usah Mbak, eh nanti deh saya pikir-pikir dulu." Renata namanya. Alara kenal juga dengan resepsionis ramah ini. Sudah berada di firma hukum Gema jauh sebelum Alara masuk ke sini. "Nggak mau diteleponin Bapak juga Bu?" Renata bertanya sekali lagi yang sudah merasa sangat sungkan. Kesannya kayak nggak sopan ngebiarin istri atasannya duduk di lobi seorang diri. "Ngapain?" Renata mau ketawa sama ekspresi wajah Alara yang alisnya berjengit ke atas semua. "Manusia satu itu pasti sibuk!" Memang sih sibuk. Tapi masa bininya ditelantarin gitu aja. Batin suci Renata menggema. Mana Alara nyebut suaminya dengan kata 'manusia' lah disangka selama ini yang dia nikahi robot kali yak!? "Bu–" "Alah Mbak!" Alara memotong dengan keras. Mendongakkan kepalanya melirik Renata yang nyengir. "Ba Bu Ba Bu muluk dari tadi! Dulu lo Ra Re Ra Re deh perasaan. Gue piting bibir lo nyahok!" Alara nyablak. "Ya nggak enaklah!" Renata ikutan nyablak. "Bisa kena penggal kepala gue." "Penggal ganti." Renata ngakak. Dari dulu omongan Alara nggak pernah berubah. "Lo nggak makan Mbak?" "Belum jamnya anjir. Ngadi-ngadi aja ini orang!" "Ya masa secakep gue turunan setan. Setan paling cantik dong gue." "Ya nggak, nggak kaleng-kaleng percaya diri lo maksud gue." Renata tentang Alara nggak pernah negatif. Alara ramah dan baik. Nggak pernah ninggalin kesan nyelekit pas ngomong apa lagi nyampe nyinggung perasaan lawan bicara. Dari awal kenal Alara, Renata selalu merasa adem. Nggak pernah punya pikiran aneh-aneh walaupun orang lain menilai Alara sesuka hati. "Gue mah bingung. Lo ujug-ujug nikah sama Pak Bos." "Itu gue yang ngajakin. Gue ngelamar Bos k*****t lo itu." Renata mendengkus. Tapi percaya kalau itu benar. Asal Alara yang ngomong, ayam jantan bisa bertelur juga percaya. "Gara-gara lo dia jadi nikah." Renata memberengutkan wajahnya kesal. "Andai nggak lo lamar, dia masih jadi idola para betina di kantor dan klien." "Nah makanya gue ajakin dia nikah. Kalau nggak gitu bakal numpuk dosa dia. Berabe dong Emak Bapaknya disiksa di akhirat nanti." Alara berbicara santai sembari menyendoki es krimnya. Renata nyengir. Garuk-garuk kepala dulu padahal kemarin sore barusan creambath. Alara kalau ngomong suka benar. Nggak pakai tedeng aling-aling. "Lo bawa-bawa agama sementang mau bulan puasa. Please ya Ra, ini gue tukang mokel garis depan. Selama nasi Padang depan kantor selalu buka, selama itu pula gue selalu nyelinap ke sana." "Risiko Mbak. Salah siapa nasi padangnya enak pakai banget! Mana nasinya porsi kuli pula. Gue juga mau." "Jangan puasa ya Bor! Ingat, ada anak di perut lo." Alara mengangguk, meletakkan es krimnya yang telah tandas. "Mbak, gue penasaran." "Apa? Tapi Ra, serius gue masih penasaran gimana judulnya lo bisa ngajakin Pak Gema nikah? Masalahnya lo tahu sendiri nih. Si Ibu–siapa dah nama mertua lo yang cakep itu?" "Mama Marini." Polos banget Alara jawabnya. Tinggal skip malah dijawab. "Misal lo nggak bisa hamil, kandungan lo bermasalah. Amit-amit dulu gih. Lo mau nyuruh suami lo nikah lagi kagak?" Kebingungan Alara masih seputar masalah Mosa. "Kagak pernah berhasil nyuruh Pak Bos kawin. Ini kenapa pertanyaan lo serem bener dah!" "Urusan kawin, dia tiap malam celup sana sini kali Mbak. Lupa apa gimana kalau dia pawang betina di kelab malam?" Alara nyengir. "Gue cuma pengen tahu jawaban lo aja." Saat Alara mengatakan itu, wajah Renata berubah pucat. Seperti ada sesuatu yang menekannya tapi entah apa. Seolah-olah melihat hantu tapi ini siang hari bolong. "Gue kasih d**a kelar itu urusan–aduh-aduh." Alara menolehkan kepalanya saat kupingnya dijewer. Berasa kayak anak kecil aja ini mah. Sejak kapan suaminya ada di sini? Itu pertanyaan yang membuat mata Alara melotot horor. "Abang, lepas! Kalau copot gimana? Ini namanya Abang KDRT loh." "Mulut kamu perlu di kuncir!" Alara meronta-ronta. Jadi tontonan beberapa pasang mata karyawan yang menahan tawa. Mbak Renata dengan tidak sopannya sudah hilang dari pandangan Alara saat kepalanya menoleh ke depan. "Sialan!" "Mulut kamu Del, mulut!" Gema giring Alara menuju ruangannya masih dengan tangan menjewer kuping istrinya. "Sejak kapan kamu doyan mengumpat!?" "Sejak tahu rasa manisnya bibir Abang." Ya Tuhan. Ini nggak lucu tapi Gema mau ketawa. Punya istri low akhlak gini rasanya dugun-dugun–sewaktu-waktu bisa dikasih kejutan nggak terduga. "Ini tempat umum loh Yang." "Hilih!" Alara mencibir setelah bisa melepaskan kupingnya dari tangan Gema. "Aku pernah buka baju diruangan Abang, lupa?" Ya gila kalau Gema sampai lupa. Sampai detik ini pun masih terbayang-bayang. Gara-gara siapa Gema menggila dan maunya nikah sama Alara? "Ngomong sama kamu nggak ada habisnya Yang." Gema usapi telinga Alara. "Ke sini kok nggak ngabarin sih?" "Sengaja." Alara menatap lurus-lurus pintu lift yang memantulkan wajahnya dan wajah Gema. "Nggak ada pikiran sama sekali kalau mau ke sini." "Naik taksi?" Alara mengangguk. Gema gandeng tangan Alara untuk menuju ruangannya. "Mau pesan minum nggak? Makan? Camilan?" "Cokelat." "Moodnya lagi buruk ya?" Alara diam. "Abang bilang dulu ke Riri biar dipesenin." Alara manut dan berdiri di samping Gema yang sedang ngomong ke Riri. "Yuk." "Abang sibuk?" "Baru sibuk. Kamu kenapa?" Alara diam. Duduk di sofa yang biasa untuk para klien duduki. "Aku ketemu Mosa." Alara duduk menghadap Gema yang serius mendengarkan. "Abang kayak tahu banget aku lagi nggak mood." "Istri aku ini, lupa?" Gema cukup peka dengan Alara dan suasana moodnya. "Mau cerita sama Abang nggak?" "Ya terus aku kudu cerita sama Mang Kardi?" Adalah security kantor Gema yang dulu demen guyonan sama Alara. "Abang mau kawin lagi nggak sih?" Alara ajukan tanya seraya menggaruk pipinya dan Riri pas masuk membawa minuman boba yang Gema pesankan. "Mbak Riri apa kabar?" Alara terima minumannya. "Betah, 'kan sama Bapak ini?" "Baik Bu–" "Panggil nama ajalah Mbak! Dulu juga manggil aku nama doang. Jangan sementang aku nikah sama mantan duda ini jadi beda panggilan aku. Masih muda loh aku." Alara nyerocos, Riri canggung maksimal. "Makasih Ri." Itu kode untuk Riri segera hengkang dari sana. "Mosa kenapa?" "Endometrium. Abang nggak mau kawin lagi?" "Kamu mau Abang madu?" Nggak ada jawaban. "Nggak apa-apa kalau mau. Kamu nantangin Abang soalnya." "Rasanya di madu gimana sih Bang?" "Orang gabut wajib banget ngelindur ya Ra ngomongnya?" Alara mendengkus. "Kalau Mosa endometrium–katakanlah nggak bisa hamil. Terus kamu mau ngapain?" "Entah." Gantian Gema yang mendengkus. "Aku kenal keluarga Prabu. Mosa bakal langsung dilempar begitu tahu nggak punya keturunan. Aku pengen jadi jahat. Ketawain dia yang dikondisi kayak gini. Pantes nggak sih, Bang?" Alara masih sakit. Masih menyimpan luka yang bertahun-tahun lamanya belum hilang. Bekasnya masih ada di sana, terlihat jelas menganga. "Yang, karma itu membuntuti kita. Dia ada di setiap langkah kita. Mosa pernah menanam. Hukum tabur tuai itu ada, nyata. Kamu nggak perlu jadi jahat, Tuhan udah ngasih ketentuannya sendiri." "Dari dulu teori paling gampang Bang. Giliran praktik bikin napas ngos-ngosan." Gema elusi kepala Alara. "Abang paham kamu belum ikhlas. Trauma tetap trauma, luka ya tetap luka. Bekasnya masih ada sampai kapan pun. Tapi Ra, coba bayangin. Kita sudah buka lembaran baru, kita sudah melangkah lebih jauh dari masa yang kemarin. Apa nggak rugi kalau kita tiba-tiba noleh ke belakang? Menoleh untuk dijadikan pelajaran sih nggak masalah. Tapi kalau bikin kita stuck di sana, boleh Abang bawa kamu pergi lebih jauh lagi?" Sementara Gema terus menenangkan Alara yang terguncang, ada Nora yang memasang telinga di depan pintu masuk ruangan Gema. Wajahnya mengeras, tangannya terkepal dan kedua kakinya mundur selangkah. Tidak tahu masalah apa yang sedang mereka bahas di dalam sana. Tapi Nora tidak suka. Nora merasa tersaingi padahal itu hal yang wajar dilakukan oleh pasangan. Namun dulu, Nora tidak pernah berbagi masalah dengan Gema. Entah Nora yang terlalu egois atau hubungan pernikahan mereka sekadar di atas kertas semata. Intinya melihat Alara yang bahagia bersama Gema, Nora tidak suka. "Bu Nora ada yang mau disampaikan ke Pak Gema?" tanya Riri dengan sopan. Melihat Nora yang hanya berdiri di depan pintu membuat Riri paham ada sesuatu yang menahan langkah Nora. Nora tidak menjawab. Masih diam dan pergi dari sana. *** Mosa bingung dengan kondisinya saat ini. Harus ke mana langkahnya pergi. Bertahan atau menyudahi. Benar jika Prabu tidak akan mempermasalahkan kondisinya tapi ucapan Alara cukup menyita ruang dipikirannya. Bagaimana jika benar? Bagaimana jika nyata terjadi. Bagaimana jika dirinya harus hengkang dari kehidupan Prabu dan menyaksikan bahagianya Prabu bersama wanita lain. Lebih dari itu, bagaimana jika Prabu tidak mau berada di sisinya saat Mosa harus berjuang seorang diri. Mosa embuskan napasnya. Meneguk minuman sodanya langsung dari kaleng dan menaruhnya kembali. Waktu sudah sore saat mata Mosa berpendar. Menatapi lalu lalang manusia yang kembali dari aktivitas hariannya. Matahari sudah condong ke barat dan Mosa enggan untuk kembali. Mengabaikan getaran ponsel di tasnya, Mosa tahu itu Prabu. "Hidup itu pilihan." Adalah kalimat yang diucapkan oleh seseorang di samping Mosa. Entah itu siapa, Mosa enggan untuk menoleh. "Bukan berarti kita pisah cuma gara-gara beda agama, 'kan?" Konyol lagi. Mosa ingin tertawa tapi menahannya. Sepertinya itu pasangan kekasih yang baru ditolak hubungannya oleh keluarganya. Pacaran beda agama mah uji nyali yang sesungguhnya. "Terus kita mesti gimana? Orang tua kita nggak setuju. Kamu ikut kepercayaanku, orang tua kamu keberatan begitu sebaliknya. Kita emang harus pisah." Si cowok kekeuh untuk menyudahi. Lebih nurut sama omongan orang tuanya timbang perasaannya. Beberapa orang tua suka egois dengan pilihan anaknya. Bukannya bisa memberi dukungan mereka malah menentang habis-habisan. "Aku cinta sama kamu." Si cewek mengungkapkan perasaanya. Terdengar tulus sampai Mosa yang mendengarnya merinding. "Aku juga. Tapi aku nggak bisa sesuka hati ambil keputusan. Kita punya orang tua yang harus kita patuhi." Bagaimana kalau Prabu juga akan begini? Lebih memilih kedua orang tuanya daripada Mosa? Siapa sih Mosa di mata keluarga Prabu. Bisa saja, 'kan kalimat ini keluar suatu saat nanti? "Kita bisa kok kawin lari. Hidup bareng kamu apa pun yang terjadi." Aduh adek! Cinta nggak selamanya indah dek! Begitu cargon yang sedang booming akhir-akhir ini. "Aku nggak mau nyerah." Mendengar itu, mendadak Mosa kembali waras. Seakan ada yang menarik dirinya untuk sadar, Mosa berdiri dari duduknya dan membawa tungkainya menerobos manusia yang berkerumun. Menghubungi nomor Prabu yang sejak tadi meneleponnya dan memintanya untuk segera pulang. Kalau para bocil saja nggak bakal nyerah, ngapain Mosa yang sudah terikat harus menyerah? Kan g****k banget! "Kamu bikin aku kuatir." Prabu diseberang sana suaranya terdengar panik. "Pulang! Aku kangen." Mosa matikan teleponnya tanpa mendengar jawaban Prabu lebih dulu. Tidak peduli jika orang tua Prabu akan mendepaknya. Jika Prabu sudah mengatakan tidak masalah tanpa adanya anak kandung maka adopsi menjadi pilihannya. Semua pengorbanan yang Mosa lakukan nggak boleh sia-sia. Sudah basah dan sejauh ini kalau harus mundur lebih baik Mosa menghilangkan nyawa yang menjadi penghalang ketimbang dirinya yang dibuat menderita. Baik! Tekad Mosa sudah bulat. Mosa tak akan menyerah apa lagi mundur. Jika bisa disembuhkan seperti yang Alara katakan, Mosa akan berusaha. Jika tidak diberikan kesempatan untuk menjadi wanita sempurna, akan Mosa lakukan apa pun caranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN