Mosa sampai lebih dulu. Prabu memberi kabar terjebak macet. Maklum ini jam pulang kerja dan jalanan sedang padat-padatnya. Ada gemuruh di d**a Mosa yang membuatnya menahan tangis. Meski tekadnya sudah bulat tapi tetap saja ada kebimbangan yang melingkupi pikirannya. Ucapan Alara ingin Mosa patahkan kebenarannya. Namun jika Prabu sendiri goyah dan hendak meninggalkan Mosa, apa yang harus dirinya lakukan.
Katanya, manusia dipertemukan untuk sebuah perpisahan. Sudah diatur oleh Tuhan bahwa ada tangis yang akan mengiringi.
Sedangkan bagi Mosa sendiri, hatinya belum sepenuhnya bisa menerima jika itu terjadi.
Selain itu, Mosa membenci karma yang selalu ada di belakang kehidupannya. Kenapa Tuhan nggak izinin dia bahagia? Kenapa cuma manusia-manusia pilihannya saja yang bisa merasakan bahagia? Kenapa Mosa tidak?
Ingat dosa, Mosa jadi ingat masa lalunya dulu. Kalau harus kehilangan Prabu atau dilepaskan oleh Prabu itu, 'kan sudah wajar mengingat caranya yang kotor salam mendapatkan Prabu. Kenapa Mosa harus takut? Apa lagi yang Mosa takutkan? Bukankah Alara sudah pernah jatuh dan berada di bawah? Bukankah Mosa sudah lebih unggul dari Alara yang pernah memohon-mohon kepada dirinya untuk membersamai Prabu? Harusnya Mosa nggak perlu takut.
"Kamu ke mana aja?"
Mosa tersenyum di peluk sehangat ini oleh Prabu. Datang-datang langsung mendapat kehangatan yang nggak terduga. Kalau sampai ini hilang, Mosa bakalan limbung.
"Aku cuma minum soda terus duduk di depan supermarket."
Prabu lepaskan pelukannya dan merangkum wajah istrinya. Dengan sayang, tatapan sayunya sudah cukup memberi penjelasan bahwa ada cinta dan ketulusan di dalam sana.
"Aih, kamu kalau gabut nggak ada obat! Padahal bisa nyamperin aku ke kantor. Biasanya juga gitu."
"Kali ini pengen yang beda. Mungkin besok-besok lagi kalau gabut aku bisa naik kereta lokal. Dari stasiun A ke stasiun B dan semua pemberhentian stasiun."
Mosa nyengir dengan anggunnya. Tangannya membelai kepada Prabu dengan sayang lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Jangan kayak gitu deh Sa. Kamu bikin aku kuatir aja. Aku takut banget tadi kalau kamu kenapa-kenapa."
Gantian Prabu yang mengecup dengan dalam lalu melepaskan saat di rasa pasokan udara menipis.
"Aku lagi nyari kesibukan yang bisa menimbulkan ide. Sejauh ini aku ada kepikiran buat nulis, masak, buka toko kue, toko bunga atau apa pun yang bisa bikin aku nyaman di rumah."
Kembali Mosa kecup bibir Prabu. Kali ini bibir bawahnya Mosa gigiti pelan-pelan membuat si empunya mendekap Mosa dengan erat.
Tangan Prabu sudah berganti turun ke b****g Mosa setelah dari tadi berada di punggung cantiknya.
"Kalau nulis, kira-kira judul apa yang tepat dan isinya seperti apa?"
Mosa letakkan kedua tangannya di d**a Prabu dan menikmati pijatan di bokongnya. Prabu paling tahu memancing libidonya. Bisa gila Mosa kalau nggak langsung tancap ke kamar sekarang.
"Tentang kita, mungkin."
Mosa kembali menciumi bibir Prabu. Atas bawah secara bergantian lalu turun membaui leher suaminya yang wangi. Aroma parfum yang maskulin telah bercampur dengan keringat. Dan desahan Prabu yang lolos lantaran tangan Mosa mengelusi pusakanya dari luar membuat Mosa bersemangat untuk melakukan lebih.
Tidak ada lagi obrolan yang mereka ciptakan. Jawaban Mosa tidak ingin Prabu respons. Kedua kaki mereka saling bergerak menuju ke sofa. Masih dengan berciuman dan kinerja tangan masing-masing demi merangsang hasrat.
Tangan Prabu sudah lebih dulu menyusup masuk ke celana dalam Mosa. Beruntungnya Mosa mengenakan dress di atas lutut sehingga memudahkannya mencari kehangatan di sana. Pun sama halnya dengan Mosa yang bergerak aktif melucuti pakaian serta celaka Prabu.
Di sela-sela aktivitas keduanya yang menyalurkan birahi, Mosa tidak mau memikirkan saran Alara. Mosa tidak ingin Prabu tahu. Mosa tidak ingin keluarga Prabu tahu. Dan lebih dari apa pun, Mosa tidak mau dibuang oleh keluarga Prabu secara sia-sia.
Akan Mosa lakukan apa pun caranya agar Prabu tetap berada di sisinya. Dan akan Mosa tempuh bagaimana pun hasilnya untuk menunjukkan kepada keluarga Prabu bahwa dirinya sempurna seutuhnya.
Jika Mosa dan Prabu sedang melahap 'dinner' ala mereka, maka lain halnya dengan Alara.
Wanita hamil itu sedang ada di dapur setelah mempersiapkan kebutuhan suaminya mandi. Alara ingin membuat nasi goreng. Padahal bisa saja membeli tapi membuat sendiri nampaknya lebih lezat.
Alara keluarkan sosis, telur, suwiran ayam, daun bawang, cabai, bawang merah dan bawang putih di atas meja. Mengupas semua bumbunya satu per satu, pikiran Alara melayang pada ucapan-ucapan Gema beberapa jam yang lalu.
Bahwa katanya sudah bukan urusan Alara lagi perihal apa yang akan Mosa lakukan. Bahkan jika Mosa diceriakan oleh Prabu, tidak perlu Alara memusingkannya.
Namun sayangnya tidak bisa. Alara bukan orang egois yang hanya memikirkan rasa sakitnya saja. Sesakit apa pun luka yang sudah Mosa torehkan, saudara tetaplah saudara. Alara dendam, ingin membalas makanya bertindak sejauh ini dengan mendatangi Bachtiar Gema di ruangannya sore itu. Yang setelahnya justru menyadarkan Alara bahwa itu nggak ada gunanya.
Ucapan Gema memang benar. Rumah tangga mereka milik mereka sendiri. Tentunya Mosa juga ngga mau urusannya dicampuri. Begitu pula dengan Alara.
"Nasi goreng Yang?"
Gema datang dengan rambut basahnya yang belum disisir. Alara hanya mengangguk.
"Kopi Abang di meja." Gema tidak menggubris dan mengambil alih pisau yang Alara pegang. "Biar Abang ulek bumbunya. Kamu bagian masak aja ya."
"Yang enak ya Bang."
"Kapan sih Abang pernah masak nggak enak buat kamu Ra." Gema kecup mata Alara dan berganti turun menuju bibirnya.
"Bang?" Plpanggil Alara setelah meminum susunya. "Abang yakin nggak mau nikah lagi?"
Ini Gema lagi megang cobek dan ulekan. Kalau kalap, Alara bisa kena ulekan sekalian.
"Aku nanya doang ya Bang."
"Abang nggak wajib jawab kalau gitu."
Alara menggeplak lengan Gema yang sedang mengulek.
"Abang ngajak aku ibadah aja nggak aku tolak. Ini istri Abang lagi nanya kenapa nggak Abang jawab!?"
"Pertanyaan kamu nggak bermutu Ra. Berbobot aja kagak ngapain Abang jawab."
"Itu penting Bang." Alara membela diri. Merasa benar menanyakan hal semacam itu. Wanita dengan bagian kekhawatirannya itu lumrah. Gema saja yang nggak peka.
"Bagian mana pentingnya Ra? Kamu pikir nikah berkali-kali itu enak."
"Lah tinggal celap-celup kayak teh apa susahnya Bang!?"
Ya Tuhan betina satu ini. Kok bisa punya pikiran kayak gini!? Berakhlak aja kagak.
"Kamu nggak sopan! Abang ini suami kamu yang kudu dihargai."
"Abang mau di kasih label berapa? Sini aku tempelin ke jidat Abang."
Kudu sepanjang apa lagi usus Gema kira-kira? Ngadepin Alara yang menye kayak gini.
"Abang lagi bawa ulekan loh Ra."
"Terus Abang mau mukul aku pake itu gitu."
"Mau?" Gema tawarkan dan bersiap memukul Alara. Namun yang terjadi adalah hal lain. Sesuatu yang lembab melingkupi dahi Alara. Padahal sudah bersiap Alara sampai merem matanya.
"Abang nggak ada niatan nikah lagi Ra. Apa pun kondisi kamu, apa pun kondisi kita ke depannya. Abang nggak minat sama sekali buat nikah lagi."
"Nanti Abang nyesel. Aku lagi ngasih kesempatan buat Abang nikah lagi. Karena daripada aku dibohongi Abang suatu saat nanti, lebih baik aku ngomong jujur ke Abang."
"Menurut kamu nikah lagi itu memuaskan ya Ra?" Alara diam. Menundukkan kepalanya dalam-dalam seakan tengah mengheningkan cipta. "Ada yang merasa bangga, ada juga yang senang. Bagi lelaki di luar sana punya wanita lain selain istrinya mungkin suatu hal yang biasa. Bahkan terang-terangan ngomong kalau dia punya anak dari wanita lain. Kamu tahu apa yang ada dipikiran wanita saat itu?"
Alara masih diam. Memainkan kancing kemeja Gema seakan-akan lebih menarik.
"Wanita lain lebih memuaskan, ya? Nggak perlu ngasih penjelasan tentang wanita itu seperti apa, namanya seorang istri yang mendengar suaminya dilayani wanita lain pasti sakit. Tapi kamu aneh Yang. Kamu justru ingin berbagi."
"Enggak berbagi Abang. Aku ngasih kesempatan ke Abang sewaktu-waktu pengen nikah lagi."
"Kalau Mosa yang mandul, ngapain kamu yang repot Yang! Dia bukan tanggung jawab kamu. Kebahagiaan dia bukan kamu yang harus mikirin. Urusan suaminya nikah lagi atau enggak, Mosa dibuang sama mertuanya atau enggak kamu nggak berhak ikut campur. Jangan jadi pelangi buat orang yang buta warna Yang. Jangan baik ke orang yang udah bikin kamu hancur. Tapi kamu wajib berterima kasih ke Mosa karena dia bikin kamu bangkit lagi dan punya kehidupan yang layak. Paham!?"
Bak kerbau dicucuk, Alara manggut-manggut. Melepaskan dekapan Gema dan meminum susunya yang sisa setengah.
"Kamu kudu paham artinya selingkuh Yang sebelum nyuruh Abang nikah lagi. Abang juga manusia biasa yang kalau marah logikanya ketinggalan di teras neraka. Begitu kalap Abang bisa ngerusak wanita lain. Kamu nggak perlu Abang kasih tahu kenapa bisa terjadi."
Selingkuh adalah saat pasanganmu tak ada dan kamu berinteraksi dengan lawan jenismu. Bukan lagi soal hati yang kamu jaga namun juga mata.
"Jadi Abang ada niatan nikah lagi nggak?"
Gema nyengir. Mengambil wajan dan menghidupkan kompor. Lain halnya dengan Mosa dan Prabu yang ngos-ngosan. Namun begitu keduanya masih merajut benang-benang saliva dan membiarkan penyatuan keduanya tak terlepas.
"Tumben banget."
Adalah tanya yang tak perlu Prabu ajukan. Membuat pipi Mosa panas dan suasana intens keduanya kian dirubungi api.
"Aku mikirin kamu makanya kayak gini."
"Biasanya nggak mikirin aku?" Prabu cemburu kalau Mosa memikirkan orang lain.
"Mungkin." Mosa hendak bangun dan melepas milik Prabu yang masih di miliknya. Namun tertahan kala Prabu menekan kedua bahunya dan berakhir rebahan kembali. "Lagi?"
Mata Prabu menyipit. Menatap Mosa sungguh-sungguh mencari kebenaran lewat netra beningnya.
"Kamu bohong! Kamu selalu mikirin aku."
"Pede gila!" cibir Mosa. Tangannya membenarkan rambut Prabu yang kusut akibat ulahnya. "Aku nggak punya alasan buat mikirin orang lain."
"Terus?"
Kekepoan Prabu menjadi-jadi. Baginya, Mosa Hutama masih sangat awam untuk dirinya pahami. Prabu belum sepenuhnya mengenal Mosa. Aneh 'kan padahal mereka ini suami istri.
"Tadi ada pasangan beda agama. Ceritanya mereka nggak dapat restu dan pengen kawin lari. Aku mikir, capek nggak sih kawin lari tuh? Ijabnya sambil lari. Kalau penghulunya masih muda mah oke, kuat lari. Lah kalau udah tua? Mengkis-mengkis dong!"
Konsepnya nggak kayak gitu. Tapi Prabu ketawa merasa terhibur.
"Jadi kamu ngajakin aku 'makan malam' yang menunya mewah kayak gini karena dengar bocah percintaannya nggak direstui?"
Daebak! Mosa memang lain daripada yang lain. Bisa banget kepancing dan ngajakin ke atas ranjang karena denger kisah sedih orang lain.
"Kan itu lucu! Kamu aja ketawa kok."
"Nggak aku sangkal Yang. Itu emang lucu. Tapi jangan sampai bikin aku kuatir dong. Kalau mau pergi bisalah ngasih kabar."
Mosa beri senyum termanis sepanjang dirinya menjadi istri Prabu. Perasaannya mulai membaik, pikirannya kembali tenang meski masih ada rungsing yang belum bisa dilerai. Siapa sih yang pengen punya masalah kayak gini?
Sesombong-sombongnya Mosa, hidup bahagia ada dijajaran pertama. Mosa benci ujian karena sejak kecil hidupnya sudah sempurna. Mosa benci berbagi karena sejak kecil Jayanti sudah menomorsatukan dirinya. Mosa juga benci melihat orang lain bahagia sedang dirinya baik-baik saja. Mosa memang sakit. Sebegitu dendamnya pada orang lain padahal tidak pernah hidupnya diusik sama sekali.
"Kalau kita nggak harus punya anak, kamu oke?"
Pertanyaan Mosa mengerutkan dahi Prabu. Kepalanya mundur dan menatapi Mosa sungguh-sungguh.
"Kamu ada masalah?" Bangun dari rebahannya, Prabu tatapi wajah Mosa yang justru semringah. "Bilang aja kalau ada masalah. Aku nggak mau kamu nanggung sendiri."
"Cuma iseng nanya doang loh." Mosa sudah panik. Merubah mimik wajahnya adalah andalannya selama ini.
"Kamu bukan tipe yang ngomong tanpa ada alasannya."
"Terus?" Mosa sandarkan kepalanya di d**a Prabu dan membentuk bulatan-bulatan dengan jarinya. "Aku cuma pengen tahu repsons kamu."
"Kita pernah bahas ini."
"Kapan?" Mosa pura-pura lupa padahal ingat betul kapan Prabu mengatakan soal adopsi anak. "Kamu pikun."
Mosa mengerutkan hidungnya.
"Aku nggak masalah kalau kamu pengen denger itu. Pada dasarnya, menikah dan punya keturunan cuma sekadar pelengkap. Tapi aku lebih butuh kamu. Ada anak atau enggak, kita akan kembali berdua. Kamu dan aku. Anak-anak kita akan menemukan hidup mereka sendiri. Punya pasangan, menikah, membentuk keluarga dan punya anak. Nggak ada yang salah dengan nggak punya anak."
Mosa menghela napasnya. Embusannya terasa berat dan kedua matanya mulai mengabur. Beruntung Prabu tidak melihatnya.
"Suami temen aku marah. Dia terlalu nuntut buat punya anak. Sedangkan temen aku mikir, punya anak itu ribet. Begitu melahirkan dia nggak cantik lagi. Kalau dia diselingkuhi gimana? Itu yang dia pikirin."
"Terus kamu kepengaruh gitu?" Mosa angguki tanpa menutupi. "Dasar!"
Mosa punya alasannya sendiri. Agak konyol tapi jujur Mosa takut kehilangan Prabu. Dalam dasar hatinya Mosa berbisik, apa jadinya dirinya tanpa Prabu?
Dasar b***k cinta tanpa otak!
"Jangan ikut-ikutan omongan orang Yang. Anak itu rezeki dan anugerah. Kita diberi anak karena kita dipercaya. Kalau kita belum dikasih anak, berarti belum saatnya kita mengemban kepercayaan itu."
Jika dibandingkan dengan Alara, hidup Mosa lebih sempurna. Maksudnya tidak diberi luka sejak kecil, tidak dipatahkan sayapnya. Mosa juga sering melihat keharmonisan Jayanti dan Wiratmo. Itu artinya keluarganya sempurna, 'kan?
"Aku suka mikir. Di antara aku dan Alara siapa yang bakal dapat karma?"
Alis Prabu menyatu. Tidak paham kenapa membawa Alara ke topik mereka.
"Papa pernah nikah sebelum sama Mama. Iya sih dasar nikah sama Mama pun ada cinta tapi tetep aja Mama bukan yang pertama buat Papa. Dan Alara bukan anak sulung kayak yang orang-orang kira."
Prabu sudah tahu ini. Sebelum memutuskan bersama Mosa. Tidak tahu juga kenapa Prabu lebih memilih Mosa saat tahu Alara begitu terlunta-lunta hidupnya.
"Aku atau dia–"
"Enggak semuanya!" Prabu menentang keras-keras. "Aku nggak ada minat buat nikah lagi misal kamu nggak dikasih anak. Jadi kamu nggak perlu nanggung karma. Kenapa sih kalian para makhluk berjenis kelamin wanita suka banget overthinking? Nyebelin banget!"
Mosa mendengkus. "Kamu nggak tahu sih rasa takut yang kita alami."
"Aku ini setia."
Faktanya jika iya Prabu nggak bakalan ninggalin Alara dan milih Mosa. Ucapan setia cuma keluar dari mulut orang mabuk.
"Kamu iya, enggak sama keluarga kamu."
"Dia nggak punya hak buat nentuin hidup aku. Aku milih kamu berarti kamu yang bikin aku bahagia."
"Mulut kamu manis banget. Kayak sirup melon warna hijau rasa cocopandan."
Gimana konsepnya? Melon rasa cocopandan. Bisa diabetes langsung.
"Pantes gula mahal," sambung Mosa berdecih.
Prabu abaikan. Nggak peduli sama cibiran Mosa.
"Sa, wanita lain emang memuaskan. Nggak perlu dijelasin kayak apa dia dan gimana dia bikin kita para pria seneng. Itu nilai lebih yang kita nggak dapet dari istri kita. Tapi aku juga mikir soal 'merusak tubuh istri sendiri'. Misal aku punya anak dari wanita lain, kamu kepikiran nggak anak aku bakal nilai aku yang gimana?"
Mosa tidak bisa menjawab. Selain lidahnya yang kelu, otak Mosa kosong. Tidak menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan dari Prabu.
"Selama pernikahan yang dibangun bukan dari perjodohan, itu bukan sebuah petaka. Kalau kamu gagal, bukan berarti aku harus lari ke wanita lain. Aku punya cara buat lampiasin penat aku."
Kita tunggu dan buktikan. Bagian mana yang Prabu ucapkan sebagai kejujuran.
***
Kalau lagi frustrasi, Nora lari ke kelab. Untuk kemudian melampiaskan seluruh perasaan kalutnya pada minuman sampai mabuk. Itu sudah biasa terjadi dan Nora nggak akan heran sama dirinya sendiri. Kadar tolerir pada alkohol yang berlebih Nora abaikan. Pokoknya wajib sampai mabuk agar paginya saat bangun Nora sedikit lupa.
Cuma sedikit lupa nggak semuanya bisa Nora lupakan. Setelahnya Nora akan ngamuk-ngamuk tanpa sebab. Timnya akan kewalahan menangani Nora–bagi orang baru. Lain halnya dengan orang lama.
"Sendiri?"
Nora menoleh ke samping kanannya. Bibir atasnya tersungging mengejek seakan menyiratkan kalimat mata lo di mana? Jelas-jelas gue sendiri dan lo berbasa-basi nanya kayak gitu?
Tidak Nora gubris. Kembali meneguk minumannya langsung dari botolnya, lelaki di sisinya terkekeh. Nora kembali menoleh dengan mata menyipit bingung.
"Ada yang lucu?" tanya Nora dengan kepala mundur ke belakang.
"Kamu," jawaban lelaki itu santai.
"Aku bukan badut."
"Dan aku terhibur. Kenapa kamu secantik ini sih, Ra."
Tawa Nora menggelegar. Beruntung dentuman musik terlampau kencang sehingga pengunjung lain tidak terusik sama sekali. Jari Nora menunjuk lelaki asing tersebut. Wajahnya sudah sangat mabuk dan matanya sayu.
"Itu artinya kamu mau tidur denganku, benar?"
Lelaki itu tersenyum dengan malu-malu. Wajahnya yang putih memerah membuat Nora merasa diberi sambutan.
"Hotel? Apartemen atau …" Kepala Nora menoleh ke berbagai penjuru kelab. Barangkali ada ruangan kosong yang bisa keduanya gunakan. "Di sini."
Lelaki itu hampir menjatuhkan rahangnya. Aktris setenar Nora mau melakukan one night stand di ruang kelab yang ramai dan biasa digunakan orang lain.
"Apartemen." Lelaki tersebut tersenyum manis. "Aku kelihatan bodoh kalau ajakin kamu di sini."
"Kamu punya nyali dan kaya."
Kira-kira akan sampai kapan Nora merusak tubuhnya sendiri saat sedang frustrasi?
Bukankah lucu kalau Nora masih terus mengharapkan Gema di saat ada kehidupan baru yang mantan suaminya jalani. Mestinya Nora juga melakukan hal yang sama bukan malah merusak hidupnya.
Masa depannya masih panjang. Masih ada jalan yang bisa Nora ambil untuk memperbaiki segala kerusakannya.
Emang dasarnya Nora nggak mau memperbaiki diri. Rusak ya rusak. Retak ya retak.
Emang dasarnya Nora nggak mau memperbaiki diri. Rusak ya rusak. Retak ya retak.