64

2686 Kata
Jayanti berkunjung ke rumah Alara sore itu. Tanpa Wiratmo disertai bawaan yang cukup banyak. Membuat Alara yang sedang menyirami bunga di taman belakang rumahnya terkejut. Mbak Imas, pegawai baru di rumahnya memberi tahu serta mempersilakan Jayanti untuk menunggu. "Udah dari tadi ya Mbak?" tanya Alara malas. Belum beranjak dari aktivitasnya menyiram bunga, Alara terkesan enggan menemui. "Baru Bu. Udah tak bikinin minum sama camilan." "Mau ngapain ya Mbak?" Lagi Alara mengajukan tanya pada Mbak Imas yang mengedipkan mata kebingungan. "Saya lagi sibuk nih Mbak." Sekali lagi Mbak Imas berkedip. Kali ini diiringi garukan kepala dan ekspresi wajah yang nggak tahu mau ngapain. Mau ngomong takut salah, nggak ngomong eh ini ditanyain. "Menurut Mbak enaknya diapain? Bunganya lagi kering-keringnya kalau nggak saya siramin nanti pada layu terus mati." Mbak Imas cuma pegawai baru yang berada di rumah Bachtiar Gema sekitar dua harian. Seluk beluk rumah belum Mbak Imas kenali apa lagi penghuninya. Mbak Imas cuma tahunya Gema suami Alara dan begitu sebaliknya. Sisanya Mbak Imas nggak tahu. "Mbak?" Merasa dipanggil, Mbak Imas mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk menatapi rumput. Lebih asik sama rumput ketimbang ngejawab pertanyaan Nyonyanya. "Mbak bilang ajalah kalau saya lagi sibuk dan ada urusan yang nggak bisa ditinggal." "Baik Bu." Mbak Imas undur diri dan bergegas menemui Jayanti yang masih duduk di sofa. Wajahnya teduh–namanya Mbak Imas masih baru–khas Ibu-ibu rumahan dan seorang istri. Yang kangen kepada anaknya. "Maaf Ibu, Bu Alara lagi sibuk. Beliau nggak bisa ninggalin pekerjaannya." Jayanti melunturkan senyumnya. Yang rekahannya langsung jadi datar seiring ekspresi wajahnya yang mengeras. Mbak Imas jadi merinding ngelihatnya. Baru kali ini ada orang yang wajahnya kayak gitu. Beruntungnya suara deru mobil masuk ke garasi terdengar. Membuat Mbak Imas menghela napas lega dan mengelus dadanya. Cepat-cepat berlari membuka pintu samping penghubung garasi dan ruang tamu. Gema menatapnya penuh telisik. Peluh Mbak Imas yang sejagung-jagung ada di pelipisnya juga ngos-ngosan kayak dikejar tukang kredit. "Ada tamu Pak." Mulut Gema bak ikan koi. Yang udah kebuka tapi nggak jadi ngomong. Mbak Imas sudah mendahului. "Lha terus Mbak?" Kalau Mbak Imas boleh ngomong jujur, kesan pertama kerja sama Alara dan Gema itu mirip guyonan. Kedua pasangan ini demen ndagel alias bercanda. Ini dikasih tahu ada tamu malah nanya terus. Mbak Imas kalau nggak sadar ini majikannya pengen digeplak aja kepalanya. "Mau ketemu Ibu." Gema cuma ngangguk terus ngambil tasnya di belakang kemudi. "Ibu lagi sibuk nyiram kembang." "Emang tamu siapa Mbak? Tumben loh nggak mau nemuin." Tabiat Alara itu gampang-gampang susah. Gema bukan cenayang, itu yang pertama. Kedua, kalau tamu itu sekiranya bikin Alara nyaman akan langsung ditemui. Nah kalau sudah gini kasusnya, berarti orang ini bukan orang penting atau Alara dibikin nggak nyaman. "Mertua Bapak." Nah sudah Gema duga begini jadinya. Tangan Gema sempat terhenti saat hendak mengambil laptopnya. Namun sesegera mungkin terkendali dan menghadap Mbak Imas. Memberi senyum yang lebar sampai Mbak Imas merinding sendiri. "Dih Mbak mukamu itu loh!" Gema mendengkus dan berjalan mendahului. Mbak Imas mengikuti. "Udah dibikinin minum Mbak?" "Sudah Pak, camilan juga." "Oke. Taruh di kamar aja ya Mbak. Kalau Ibu ada di kamar suruh nyiapin air anget buat mandi." Mbak Imas paham dan langsung tandang. Masuk lewat pintu menuju dapur sedang Gema langsung ke ruang tamu. Begitu masuk, Jayanti berdiri menyambutnya dengan senyuman. Gema berhenti melangkah dan membalas senyuman yang sama ramahnya. Inginnya marah tapi bagaimana pun adanya Alara di dunia ini karena ada di rahim wanita paruh baya tersebut. Masih adanya Alara di sini juga karena pelajaran keras dari wanita tersebut. Mau nggak mau Gema harus berterima kasih pada Jayanti yang membuat Alara bertahan melewati masa-masa sulitnya. "Udah lama Ma?" Gema duduk dihadapan Jayanti. "15 menitan kayaknya. Mama kangen Alara tapi kata Mbak-mbak itu lagi sibuk." Jayanti menjawab yang lebih terkesan mengadu. "Mau tahu juga kondisi kandungannya gimana?" Berharap keguguran nggak, sih? Otak Gema jadi ikutan kotor. Padahal Jayanti cuma nanya kabar doang. "Lagi demam kembang dia Ma. Jangankan Mama, aku aja sering kena kacang kok. Kalau udah sama kembang, dia nggak mau diusik. Kemarin habis check up. Sehat, jenis kelaminnya udah kelihatan." Yang sebenarnya terjadi belum sempat check up karena kabar duka dari Mosa. Alara dibuat kalang kabut dan pergi dari ruangan dokter Anisa. "Mosa juga lagi program hamil." Gema meringis mendengarnya. Ujungnya yang dibahas pasti Mosa. Jangan sampai Alara denger, bisa hujan badai. "Syukur deh Ma kalau udah ada niatan kayak gitu. Aku dan Alara doain yang terbaik aja." Gema bukan Alara yang mau ikut campur. Paham sih kalau Alara cuma kuatir aja. Tapi manusia jenis Mosa Hutama di mata Bachtiar Gema nggak perlu dikasihani. Wong hidup Mosa udah lebih baik dari Alara, ngapain pusing-pusing mikirin orang yang kepalanya kayak batu? "Gema." Gema menoleh. Jayanti menatapnya sungguh-sungguh. "Alara masih marah sama Mama?" "Soal apa Ma?" Kening Gema berkerut. Kalau masalah yang dulu, Gema rasa Alara sudah nggak marah tapi nggak mau punya urusan sama Mamanya lagi. "Prabu." Gema manggut-manggut. Bukan hal penting yang harus dijabarkan. Gema tahu Alara sudah nggak memikirkan hal itu. "Bukan jodohnya, 'kan Ma. Alara udah nggak ngungkit-ngungkit yang dulu kok." Mbak Imas datang lagi. Kali ini kopi, bikinan Alara kayaknya. Dari baunya Gema tahu. "Dari Ibu," ucapan Mbak Imas pelan agar rungu Jayanti tidak mendengarnya. "Makasih Mbak." Langsung Gema ambil dan seruput. "Mama tenang aja. Alara nggak marah lagi." "Mama cuma ngerasa dijauhin." Wajar kalau merasa begitu. "Mungkin Mama juga yang salah." Menyadari dari awal harusnya Jayanti lakukan. Bukan malah menorehkan luka yang kian mendalam. Kalau sudah begini, Gema juga nggak mau ikut campur terlalu dalam. Sudah cukup memberi nasihat kepada Alara untuk menerima dan ikhlas. Sisanya untuk menjalani masa depan lebih baik lagi. "Aku lagi sibuk banget makanya nggak bisa ke rumah Mama dan Papa. Kemungkinan aku bakalan bawa Alara ngantor lagi." "Alara lagi hamil loh." Tahu. Gema lebih paham kondisi Alara ketimbang Jayanti. "Aku udah konsultasi ke dokter. Selama itu bikin Alara enjoy, nggak bakal ada masalah. Beberapa hari yang lalu aku didiemin Alara karena nggak mau ngajak dia ke kantor. Dan setelah aku pikir-pikir lagi, aku emang kesulitan komunikasi sama orang baru." "Cinta banget ya sama Alara." Bukan perkara cinta makanya Gema ajak Alara nikah. Tapi nyaman dan segala yang ada di diri Alara membuat Gema harus memilikinya. Tawa Gema terdengar. Jayanti merespons dengan senyum yang merekahnya. "Pertama melihat Alara …" Aslinya nggak gitu padahal. Maksudnya pas melihat d**a Alara, begitu baru benar. "Aku cocok. Alara juga bilang nyaman sama aku. Sisanya aku pikir sambil jalan. Tapi karena aku pernah gagal, aku nggak mau lepasin Alara gitu aja. Pasti Mama sama Papa kaget, 'kan pas pertama kali aku ke rumah?" Jayanti angguki. "Pikiran Mama waktu itu jelek banget. Apa Alara hamil? Tiba-tiba dilamar kayak gitu dan acara menuju pernikahan nggak ada persiapan khusus." Setelah itu Gema membuat Alara hamil. Begitu saja Alara hampir mau kabur darinya. "Alara pernah nolak aku Ma. Lebih tepatnya lamaran aku ditolak yang akhirnya bikin aku nekat nemuin Mama dan Papa. Siapa sih yang mau lepasin Alara gitu aja Ma? Aku nggak mau jadi bodoh kedua kalinya." "Yang kamu lihat dari Alara apa?" Bagi Gema, Jayanti adalah seorang Ibu yang aneh. Anaknya sendiri dipandang sebelah mata. Pantas jika Prabu kepincut dengan Mosa. Perilaku Jayanti buruk dalam menggambarkan seorang Alara Senja. "Banyak Ma. Segala kekurangan dan kelebihan Alara aku suka. Spesifiknya cukup aku dan Tuhan yang tahu. Baik dan cantik itu biasa, relatif yang semua orang punya. Tapi kerendahan hati dan ketulusan aku bisa rasain. Mama pernah denger nggak sih kalimat bahagia ditangan yang tepat? Nah dari Alara aku membenarkan kalimat itu." Senyum Jayanti kecut. Merasa malu dan kalah. Apa sih maunya Jayanti yang sebenarnya? Heran, anak sendiri kok dijelek-jelekin. "Alara itu bukan sulung yang sebenarnya. Papanya pernah nikah sama wanita lain dan ada anak dari wanita itu." Jayanti embuskan napasnya diiringi senyum tipis yang dipaksakan. "Namanya Mulan. Mulan Wiratmo. Kondang, 'kan? Di saat Alara dan Mosa nggak dapat nama belakang Papanya, dia dapat. Mama iri, kadang-kadang tapi Mama juga sadar kalau Alara dan Mosa lebih beruntung dari Mulan." Kening Gema mengerut. Jayanti paham kalau Gema bingung. Cerita ini membingungkan. Rumit dan nggak masuk akal. "Mulan nggak pernah digendong Papanya. Bahkan mungkin Wiratmo dianggap sudah mati sama keluarga almarhum istrinya. Saat melahirkan Mulan, istrinya meninggal. Wiratmo cuma mengasuh beberapa bulan saja. Setelahnya diambil alih sama Ibu mertuanya. Sempat Wiratmo mau minta Mulan tapi nggak di kasih izin. Begitu bertahun-tahun sampai ketemu Mama dan nikah sama Mama." "Mulan gimana sama Mama?" Jayanti menggeleng yang Gema artikan hubungan mereka baik-baik saja. "Dia sudah menikah dan punya anak. Secara jelas Wiratmo sudah punya cucu. Yang paling terpukul adalah Alara karena dia bukan anak sulung seperti di akta kelahirannya." "Sulung atau bukan aku nggak jadiin itu masalah. Alara sudah ada di sini sama aku udah cukup bikin aku bahagia. Alara mau bertahan sejauh ini setelah banyaknya ujian, aku udah bangga sama dia." "Makasih." Jayanti mengatakan dengan sungguh-sungguh. "Mama merasa bersalah sama Alara." "Yang lalu biarin aja Ma. Alara kuat lebih dari yang Mama kira." Maunya Gema berkata lebih keras kepada Mama mertuanya. Tapi Gema sadar dirinya tidak punya hak untuk melakukan itu. Sedang Alara yang berdiri di belakang tembok pembatas ruang tamu dan ruang keluarga hanya diam. Bibirnya tersungging ke atas. Mendengar obrolan Gema dan Mamanya yang entah bagian mana pentingnya. Mamanya nggak punya kerjaan sampai-sampai membahas masa lalu. Padahal dia yang bikin aku nggak berharga! Dia pula yang merasa bersalah. Cih! Adalah batin Alara yang merasa jijik kepada Mamanya. Mama model apa sih kamu!? Kayaknya di luaran sana modelan orang tua itu banyak tapi yang kayak kamu–sekelas iblis–cuma kamu doang deh. Amit-amit. Alara elusi perutnya dengan mulut komat-kamit. "Mama pamit. Lain waktu Mama mampir ke sini lagi. Usahain pas puasa pertama pulang ke rumah ya. Kita buka puasa bareng." Alara bergegas naik menuju kamarnya. Menunggu Gema yang sebentar lagi akan mandi. Alara siapkan baju santai dan celana untuk Gema. Menuang sabun aromaterapi yang Gema suka untuk mandi seraya memeriksa suhu air. "Sok sibuk kamu Yang." Masuk-masuk Gema mendengkus. Melepas sepatunya dan meletakkan di belakang pintu di mana raknya berada. "Apa sih Bang!" Alara membalas sama sengitnya. "Gabut banget jadi orang." "Nanti Abang durhaka." Gema ciumi bibir Alara. Mendekap tubuh mungil istrinya tanpa menyakiti perutnya. "Masak apa Yang?" "Belum masak." "Makan di luar yuk. Abang pengen makan cumi bumbu item itu." "Ada yang jualan emang? Kenapa nggak dari siang aja telepon biar aku masakin." Alara ngomel dan melepaskan diri dari kungkungan Gema. Merasa kesal dengan sikap suaminya yang mendadak ingin makan di luar. "Sengaja. Lagian pengennya baru banget. Kalau mesti kamu yang masak bakalan lama, keburu laper." "Dih!" Alara geplak tangan Gema. "Ngomong aja kena pelet cewek lain!" "Eta mulut minta di sambal pakai cabe banget ya!" Nyenyenye. Alara balas dengan cibiran penuh ejekan. "Dosa Yang!" "Abang lebih dosa." Gema mendesah pasrah. "Dah Yang makan di luar aja ya. Abang juga pengen jalan-jalan mumpung besok libur dan malam ini nggak punya laporan yang harus digarap. Kamu apa nggak bosen?" Sebosan-bosannya Alara, tetap lebih menyukai rumah sebagai tempat paling nyaman. Di luar Alara kurang percaya diri dan benci jadi pusat perhatian. "Abang pasti nyesel punya istri introvert kayak aku." "Ngapain nyesel?" Gema makin nggak ngerti sama cara pikir Alara yang aneh. Makin hari makin menjadi. Cuma perkara introvert bisa meluber ke mana-mana. "Nggak mau diajak ke mana-mana soalnya." "Kamu mah lucu Yang. Cuma kayak gitu doang nggak ada pemikiran Abang yang kayak gitu." "Terus?" "Terus apa Yang? Jangan bikin Abang gemes deh." Bibir Alara manyun. Kesal melihat repsons Gema yang biasa saja. "Mungkin ini alasan Prabu lebih milih Mosa. Ya ini Prabu bukan Abang. Tapi Ra, Abang heran ya. Seingat Abang kamu pernah ngomong kalau Prabu ngajakin kamu b******a dan kamu nolak. Tapi kenapa kamu ngajakin Abang ngeseks?" Wah, Bachtiar Gema mulutnya luar biasa biadab! Alara Senja harus menyembunyikan pipinya yang panas akibat terbakar. "Abang apaan deh!" Malu-malu Alara hendak kabur dari hadapan Gema namun dicegah lewat tangannya yang ditarik oleh Gema. "Ayo jawab Yang, Abang penasaran sama ini." "Nggak penting banget sih Bang." "Penting. Selama itu ada nama kamu, sangkut pautnya sama kamu, buat Abang itu penting. Ayo jawab! Nggak usah bertele-tele." Kampret banget dong dikatai bertele-tele. Mulutnya butuh saringan baru, fix! "Akunya naif aja. Mikir kalau seks sebelum nikah emang nikmat dan berpikir kalau dia jodoh kita. Emang nyatanya iya sih. Itu aku buktiin sewaktu sama Abang. Bikin aku ketagihan cuma aku masih pakai logika buat jangan melibatkan perasaan. Tujuan aku cuma dapetin Abang bukan nikahin Abang." "Oh jadi kepaksa ya Ra nerima Abang?" "Nggak tahu ya Bang ini paksaan atau bukan. Tapi aku lebih mengartikan terharu. Aku hamil, sengaja nggak ngasih tahu Abang. Udah ada rencana buat lari dari Abang. Tapi aku meleyot juga pas Abang ujug-ujug ngajak nikah dan mau bayi ini buat kita rawat sama-sama. Ini cewek mana yang nggak meleleh Bang. Sekelas p*****r aja bakalan langsung gogoakan apa lagi aku." "Tapi kamu nggak nangis Ra." Dasar perusak suasana. Bisa-bisanya ngasih jawaban yang nggak bisa ditutupi dikit aja. Dibuka semuanya secara gamblang. Memang gendeng manusia satu ini. "Nangis pun Abang nggak perlu tahu." "Masih aja gengsi Ra. Sama suami sendiri ini." "Udah deh Abang mandi. Timbang banyak omong." "Makan di luar ya. Janji?" "Iya janji." Alara kesal maksimal. Tapi Gema membangunkan kenangan kelam yang sudah Alara kubur dalam-dalam. Hari itu, hari di mana Prabu membawa Alara ke puncak milik keluarganya. Hujan turun sesaat setelah tiba di sana. Alara hanya berpikir jika ini liburan biasa seperti yang mereka lakukan. Namun Prabu bersikap aneh dan agak gugup. Sampai usai makan malam dan keduanya menonton film, Prabu keluarkan ponselnya. Menunjukkan satu video di mana pasangan di dalam sana polos tanpa sehelai benang di tubuhnya. Awalnya hanya ciuman, Alara paham ke mana ini arahnya. Lalu berubah jadi lumatan-lumatan yang mengeluarkan suara erangan kenikmatan. Tidak itu saja, tangan keduanya mulai beraksi. Saling meremas milik satu sama lain dan suara erangan yang keluar kian mengeras. "Mau kayak gitu nggak?" tawar Prabu yang menggigit telinga Alara. "Aku belum pernah ngeseks sama siapa pun. Kita, 'kan mau tunangan yang artinya pasti kamu milik aku dan aku milik kamu." Alara anggap itu sebagai rayuan. Prabu bertindak sejauh ini hingga hampir saja Alara terlena jika tidak segera sadar. "Tunangan belum jadi jaminan hubungan kita baik-baik aja, 'kan? Setelah nikah aja. Kita tunggu sampai kita resmi dan tahu seperti apa rasa nikmatnya berbuka." Prabu tarik tangannya yang sudah hampir mencapai d**a Alara. Tersenyum kecut memberi spasi pada tubuhnya yang sejak tadi menempel di tubuh Alara. Alara pikir wajar jika Prabu marah. Sayangnya, sampai kembali ke Jakarta dan aktivitas keduanya berjalan semestinya. Prabu beralih hati pada Mosa, adik Alara sendiri. Hal itu Alara dapati oleh mata kepalanya sendiri saat Prabu membatalkan pertunangan dengannya dan memilih bersama Mosa. Sampai hati Mosa menerima Prabu dan kedua orang tuanya memberikan restu kepada keduanya. Permohonan Alara hanya angin lalu dan mereka tetap melangsungkan acara sakral itu tanpa mau melihat luka yang Alara terima. Kini, mengingat hal itu membuat Alara tertawa. Seakan lukanya sudah terbayar lunas dan Tuhan adil kepada dirinya. Bahagia yang sempat hilang dari mata dan hati Alara telah terobati oleh hadirnya Bachtiar Gema. Sakit hatinya telah lunas melihat Mosa yang sedang dihukum oleh Tuhan. Dan harapannya tentang Mamanya yang akan menyesali sikapnya terhadap Alara sudah Tuhan berikan ganjarannya. Sekarang jika bukan bahagia soal masa depan, apa lagi yang akan Alara tunggu? "Ini yakin Abang pakai ini aja Yang?" Alara mengangguk. "Aku suka Abang pakai baju santai gitu aja. Nggak sumpek." Cuma kaos lengan pendek dan celana selutut. Gema masih terlihat muda meski usianya di akhir 30-an. "Nggak lupa, 'kan kalau Abang pernah jadi incaran sugar baby?" "Nggak! Wong aku aja ngasih izin ke Abang buat nikah lagi kok." Arya salah tempat. Istrinya itu wanita aneh nomor wahid di muka bumi. Nggak perlu minta izin langsung dikasih restu. "Lelaki kalau mau selingkuh nggak perlu di suruh Yang. Mereka bakal pakai naluri buat langsung selingkuh. Wanita lain lebih memuaskan dari istrinya sendiri loh Yang." "Tahu tapi aku nggak peduli. Misal Abang mau kayak gitu, ya sok!" Alara pernah kehilangan. Andai kedua kalinya harus melepaskan, itu bukan perkara yang sulit. "Nantangin muluk deh." Alara memeletkan lidahnya, mengejek Gema dan berjalan mendahului keluar kamar. Bahagia itu sederhana, 'kan? Alara nggak muluk-muluk kok. Cukup bersama Bachtiar Gema dan anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN