"Nikahin gue dong Dit!"
Radit tersedak es kopinya. Siang bolong yang panasnya terik banget, Nora mendatangi kantornya sambil ndagel. Minta dinikahin kayak minta beliin permen yupi.
Dada Radit sampai sakit. Es kopinya keluar juga dari lubang hidungnya. Nora b*****h!
"Lo kalau bercanda tolong pakai otak. Keluar rumah wajib bawa otak Ra."
"Otak gue udah di masak," jawaban paling estetik yang pernah masuk ke rungu Radit. "Gimana? Mau nggak nih!? Kalau mau yok ke KUA."
Perkara nikahin mah gampang. Ke KUA langsung juga gas. Masalahnya adalah apa nggak butuh prosesi lamaran, saserahan alias serah terima manten dan ketemu orang tua buat minta restu?
Hidup Nora memang miliknya sendiri tapi selama orang tua masih bernapas, meminta doa, 'kan perlu. Memang semprul ini perempuan satu. Janda aduhai bohay melehoi yang bikin Radit mabuk kepayang eh sekarang gila betulan.
Rungkad!
"Gue mau nikah sama lo ya Dit!" Belum juga ngomong ini mulut. Kayak ikan aja lama-lama Radit ini. Kebuka tutup doang. Mulutnya beralih fungsi. "Bukan nikah sama orang tua lo atau orang tua gue. Satu lagi." Masih aja nyerocos kayak bebek. Radit berdecak. "Gue kagak nerima penolakan."
Kagak, Radit kagak menolak. Cuma masalahnya Nora bisa waras dikit nggak sih? Untung Radit sehat jadi kagak kaget sampai bikin jantung berdetak. Nggak lucu kalau belum nikah udah mati dadakan.
"Ini minta restu perlu ya Ra."
"Ogah! Gue minta restu langsung cerai besoknya."
"Lah sableng! Cuma berlaku buat lo yang doanya jelek muluk."
"Pokoknya nikahin gue! Kagak ada waktu buat ini itu ya Dit. Lo jadi cowok sat set ngapa! Lo beneran cinta nggak sih sama gue?"
Wah nantangin. Perkara hati Nora membahas segala macam. Radit paling tulus nih di antara semua lelaki yang mendekati Nora.
"Lo nggak lagi bunting kan ya Ra?" Radit garuk-garuk rahangnya yang nggak gatal. "Ya nggak apa-apa lo hamil juga tapi jatah gue ngajakin lo tempur berkurang dong."
"Otak lo cuma s**********n doang!" Nora geplak kepala Radit yang membuat si empunya mengasuh. "Tujuan nikah bagi lo cuma kawin, kawin dan kawin kayak kucing."
"Menikah itu untuk mendapatkan keturunan Ra. Ya kali kita nikah sekadar kertas doang. Rugi dong!"
"Ya kagak rugi juga Bambang! Lo pikir jualan telor diitung untung ruginya."
"Tapi kalau sama lo gue kagak rugi sih Ra. Secara service lo diranjang oke banget."
Nora berdecih. Menggambarkan tentang sosok Radit itu nggak ada habisnya. Selain turunan konglomerat yang punya meubel mewah seantero Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
"Jadi gimana nih, mau kagak nikahin gue? Kalau kagak gue lempar ke kandidat lain! Lo modal dengkul doang banyak bacot."
"Nggak gitu Sayang. Konsep nikah ada aturan dan adatnya. Sebejat-bejatnya gue, gue masih waras buat ngajakin lo nikah dengan cara yang benar. Bukan asal teladung kayak kucing."
Penjelasan Radit cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Nora nggak butuh modelan nikah yang harus minta izin ke para tetua. Yang nikah dia, yang jalanin dia ngapain melibatkan orang luar. Emang dasarnya ini cewek gila, sebaik apa pun saran Radit nggak bakal digubris.
"Gue nikah butuh suami ya Dit bukan butuh restu. Lo sumpah ya kolot banget. Pantas lo kagak nikah-nikah! Cara lo udik banget."
"Lo hidup di belahan dunia mana deh Ra!?" Perseteruan keduanya masih terjadi dan Radit enggan mengendorkan semangatnya soal caranya yang kata Nora udik. "Dulu waktu lo dipinang sama Gema, mantan suami kesayangan lo itu, nggak ada emangnya acara lamaran dan t***k bengeknya?"
"Yaelah masih aja cemburu sama masa lalu." Nora memutar bola matanya malas. "Gue milih lo loh ini eh salah, gue ngajakin lo nikah. Jawaban lo ya atau enggak tapi lo puter-puterin kayak biang lala."
Ya Tuhan! Radit kalau bukan cowok sudah jejeritan. Sayangnya malu juga. Mana dikantornya lagi.
"Gue juga nggak nolak ajakan lo–"
"Ya udah ayo nikah. Ayo nikahin gue." Nora memotong seraya mengusap pipi Radit. Namanya cowok normal sudah pasti langsung lemah.
Radit Wicaksono jika itu bersangkutan dengan Nora Bachtiar semuanya jadi meleleh. Bak margarin terkena panasnya api kompor. Lebur tak berbentuk.
"Gila sih janda seksi satu ini." Radit mengumpat, Nora menang banyak. "Nggak ada habisnya pesona seksinya."
Nora menepuk dadanya sendiri tanda berbangga diri. Tubuhnya langsung berpindah tempat menduduki paha Radit dan mengalungkan kedua tangannya di leher Radit.
"Gue seneng debat kusir sama lo cuma timbang buang-buang waktu adu bacot, kenapa nggak langsung saling pelepasan aja."
"Ini tawaran atau tantangan Ra?"
Nora mengedikkan bahunya. Hidung mancungnya menggesek hidung bangir milik Radit. Lidahnya menjilat permukaan bibir Radit dan menjauhkan wajahnya saat Radit bersiap menerkam.
"Tergantung gimana lo nanggepinnya. Kalau lo anggap tantangan, gue pengen deh di sofa sana." Tunjuk Nora menggunakan dagunya yang lancip. "Kalau tantangan, gue rasa apartemen lo punya view lebih baik di malam hari, pemandangan Jakarta."
"Ini beneran Nora? Nora Bachtiar, 'kan?"
"Lo pikir gue setan?"
"Mungkin lo ketempelan penghuni apartemen baru lo. Gue mesti jaga-jaga dong. Giliran gue jawab iya ayo nikah eh lo kabur kayak dulu itu."
Nora mendengkus keras-keras. Wajahnya cemberut mengundang tawa renyah milik Radit. Jangan diingatkan pun Nora akan ingat dengan sendirinya.
Dulu itu–entah zaman SMA atau kuliah–Radit Wicaksono terobsesi kepada dirinya sampai mau gila rasanya. Di kejar-kejar meski asik juga. Sebelum bertemu dengan Bachtiar Gema dan Radit Wicaksono adalah kandidat paling tepat untuk hidupnya.
Tapi yang namanya masa muda, diikat hubungan seperti tunangan jelas Nora nggak bisa napas. Radit di masa lalu selalu membuat Nora sesak. Lain halnya dengan sekarang yang baru bertemu kembali setelah sekian tahun. Gitu aja langsung celap-celup teh sariwangi.
Nora nggak bohong soal rasa yang dimiliki untuk Radit. Dari dulu sudah tertanam dan merasa nyaman. Bahkan kenyamanan yang diberikan Gema nggak sebanding sama Radit.
Karena gini kalimatnya: cewek jatuh cinta karena apa yang dia dengar sedangkan cowok jatuh cinta pada apa yang mereka lihat. Itu sebabnya cewek suka menggunakan make up dan cowok sering berkata manis.
Yang Nora alami juga demikian. Semasa bersama Radit dulu, Nora memaksakan dirinya untuk tampil cantik. Seiring berjalannya waktu, Radit juga pandai berkata-kata manis untuk menaklukkan hati Nora. Jadilah mereka punya kisah masa lalu yang hanya mereka saja yang tahu.
"Gue benci banget sumpah!"
Radit tertawa terbahak-bahak. Ekspresi wajah Nora masih sama seperti dulu saat kabur dari Radit.
"Gue harus jujur Ra. Rasa lo dari dulu hingga kemarin gue rasain lo lagi itu masih sama. Jadi nggak aneh kalau gue masih sama gilanya kayak dulu. Cuma mbok ya yang waras Ra."
"Apa lagi!? Lo demen banget nyari-nyari kesalahan gue."
"Di mana-mana nikah mesti nemuin orang tua dulu Ra. Gue juga mesti ngasih tahu Emak Bapak dan keluarga."
"Lo ribet ya Dit!" Nora mengembuskan napas yang helaannya mengenai permukaan wajah Radit. "Bisa nggak cukup kita aja yang tahu? Gue nggak mau nikah kayak kebanyakan orang yang ngundang tamu dan ngasih tahu keluarga."
Saraf nih cewek satu! Kok bisa Radit Wicaksono menggilai wanita sekelas Nora Bachtiar?
"Bisa-bisanya gue jatuh cinta sama lo Ra!"
"Kenapa? Nyesel? Mampus!"
"Bukan masalah nyeselnya. Ini mohon maaf, perasaan gue ke lo paten banget dari dulu nyampe sekarang. Sorry, kagak ada lawan nih Bos!"
"Mulut lo dari dulu emang ada gulanya, manis banget. Sumpah, kagak boong. Gue mendadak ngajak lo nikah karena tahu lo dijodohin. Masih demen boong lo mah!"
Mata Radit membulat kaget. Nggak akan Radit pungkiri kalau yang Nora katakan itu benar adanya. Tapi gosip di channel mana yang ngebuka rahasia dirinya dijodohkan? k*****t!
"Lo tahu dari siapa? Wah, nggak seru kalau lo tahu duluan. Padahal mau gue bikin kejutan."
"Nggak mempan sama gue mah."
"Makanya gue mau ngajak lo ketemu orang tua gue. Biar mereka percaya kalau kita udah serius."
"Eh kunyuk! g****k lo dari dulu kagak berubah-ubah. Justru kalau lo ngomong bisa aja kita ditentang. Dih gue ngebet kawin sama lo ya Wak! Jangan gagal kedua kalinya dong."
Eh iya bener juga. Kalau Radit bawa Nora ke hadapan Mama Papanya, bisa gagal total rencana mereka untuk menikah.
"Pernikahan lo jenis bisnis. Petaka banget buat lo. Kapan lagi gue nyelametin lo dari petaka?" sambung Nora dengan sombongnya.
Radit layangkan tatapan bangga dan penuh minat. Mencium bibir Nora lama dan meremas-remas d**a Nora dengan desahan tertahan.
"Jadi menurut lo kita nikah aja gitu?" Nora mengangguk. "Nah kalau misal orang tua gue nentang hubungan kita?"
"Tenang, lo nggak perlu panik atau mikir sejauh itu. Misal pernikahan kita nggak direstui, jawabannya gampang: jadiin cewek yang mau dinikahin sama lo sebagai istri kedua. Gue nggak masalah di madu. Pernikahan bisnis itu lebih mentingin bisnis."
"Gila ya Ra. Makin nggak ngerti gue sama jalan pikiran lo." Radit gelengkan kepalanya. "Ogah banget gue punya bini dua. Lo aja udah bikin gue pening. Ya kali mesti bagi-bagi ke yang lain."
"Dia cuma butuh s****a lo doang sih. Bikin dia bunting dan lahirin anak yang bakal jadi penerus. Kita bisa pacaran sampai puas. Nggak perlu pusing mikir yang lainnya."
Terdengar menggiurkan tapi Radit nggak mau menjamin ke depannya. Bayangannya sudah terlalu curam untuk dua istri. Dan hadirnya seorang anak bikin Radit merinding disko.
Setahu Radit, hubungan perjodohan nggak semuanya berjalan mulus tapi juga nggak berliku. Beberapa pasangan yang menikah hasil perjodohan berjalan langgeng setelah sekian lama bersama. Istilah Jawanya yaitu witing tresno jalaran soko kulino yang artinya rasa suka itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Bisa aja, 'kan Radit lebih mencintai istri keduanya ketimbang Nora.
Mimpi buruk! Antara siap dan nggak siap. Antara mau dan nggak mau. Kayak buah simalakama. Dimakan Ibu mati nggak dimakan Ayah mati. Radit kudu piye?
Radit gelengkan kepalanya. Tidak bisa membayangkan hal-hal buruk terjadi kepada dirinya mau pun Nora. Sadar kalau hubungannya bersama Nora sekadar muara kesenangan tapi Radit juga nggak bisa memutuskan untuk berhenti atau melanjutkan. Intinya hanya sekadar ya. Radit mau tapi juga takut.
Membingungkan.
***
Di jam selarut ini, Prabu kedatangan Mamanya. Wajahnya semringah seolah-olah membawa bahagia yang selama ini dinantinya. Menyusupkan keresahan di hati Prabu yang kepenatan akibat pekerjaan.
"Mosa belum isi?"
Pertanyaan seperti itu rutin Mamanya–Suharti–tanyakan. Prabu hanya menghela napas sebagai bentuk jawaban yang sama seperti yang lalu.
"Sampai kapan?"
"Sampai aku lebih siap dan Mosa lebih menerima kondisi kita masing-masing."
"Kondisi yang gimana yang kamu maksud? Udah mau jalan dua tahun loh Prabu pernikahan kalian."
Suharti memperingati yang sama sekali tidak Prabu gubris.
"Entah dua tahun, tiga tahun, bahkan bertahun-tahun. Aku dan Mosa yang putusin buat ada anak atau enggak. Gimana kalau aku bilang masih ada sisa rasa buat Alara?"
"Mosa cuma b***k seks kamu, gitu?"
Suharti adalah wanita paruh baya yang kolot dan berpendirian kuat. Tidak mudah digoyahkan oleh apa pun kecuali saat Prabu meminta restu untuk menikahi Mosa dan meninggalkan Alara. Alasan yang Prabu berikan waktu itu cukup rasional. Sehingga Suharti yang berketurunan darah biru berpikir ribuan kali untuk meminang Alara.
"Ucapan Mama sarkas banget. Mantu sendiri dikatai b***k seks. Kayak kumpeni aja dikuping aku."
Risiko punya anak bungsu adalah begini. Prabu cerminan Suharti yang omongannya nggak bisa ditandingi. Keras kepalanya melebihi batu. Maunya kudu selalu dituruti. Suharti sudah berkali-kali dibuat mengalah dan mengakui kekalahannya.
"Prabu, Mama butuh cucu."
Yang dirungu Prabu kayak lagi minta duwit 5M.
"Kamu makin berumur."
Walaupun baru 27 tahun. Usia lagi ngembang-ngembangnya. Lagi banyak gejolak dan gairah yang ingin dicapai. Urusan anak nggak begitu Prabu pikirkan. Selama Mosa nyaman dan nggak lebay buat ngerengek minta dibikin bunting.
"Kita udah program hamil kok Ma. Udah berapa bulan jalan, ya aku lupa. Tapi emang mungkin aku dan Mosa belum dikasih kepercayaan buat ngemban tanggung jawab sebagai orang tua, makanya belum ada tanda-tanda."
Suharti mestinya tinggal ngangguk dan ngasih kesempatan buat Prabu menikmati waktunya sebelum jadi Ayah. Tapi bukan Suharti namanya kalau langsung manut.
"Ya Mama minta secepatnya atau udahan ajalah. Siapa tahu Mosa mandul."
Prabu meremas kertas kosong dihadapannya. Membiarkan Suharti melihat aksinya yang sedang menahan amarah.
"Mosa bukan sapi perah yang bisa Mama minta secara langsung. Aku yang tentuin dia harus hamil atau enggak, bukan Mama. Please Ma jangan aneh-aneh."
"Tahu, 'kan Mama nggak suka dilawan?"
"Dan Mama tahu aku kalau aku juga nggak suka diikut campuri urusannya."
"Apa sih yang kamu lihat dari Mosa kalau dia beneran mandul?"
"Apa sih yang Mama harepin dari hadirnya seorang cucu? Aku bisa kasih adopsian ke Mama, selusin bahkan lebih kalau maunya Mama kayak gitu."
"Darah daging kamu! Yang lahir dari perut Mosa dan dari kalian berdua."
"Mama resek. Bikin aku males buat ngomong ke Mama."
Prabu hengkang dari sana. Meninggalkan Suharti yang melotot kesal. Beruntungnya suasana kantor sudah sepi. Sehingga memudahkan Suharti mengikuti langkah Prabu menuju lift dengan suara kerasnya.
"Berani kamu diemin Mama?"
"Kenapa enggak!? Mama udah keterlaluan ikut campur urusan aku sama Mosa. Mama nggak mau denger sekali aja omongan aku dan memperkeruh keadaan. Jangan lebay, Ma. Jangan Mama kira hamil itu gampang. Belum lagi nanti lahiran. Aku bisa bayangin gimana Mosa di masa-masa itu."
"Itu udah kewajiban dia sebagai istri. Kamu pikir gunanya menikah buat apa kalau nggak punya keturunan? Apa kata keluarga besar kita Prabu? Kamu menikahi wanita cacat yang nggak bisa ngasih kamu anak!?"
"Tahu dari mana Mama Mosa cacat?" Suara Prabu nyaring membuat Suharti diam dengan wajah pucatnya. "Aku suaminya, aku yang paling tahu Mosa kayak apa. Aku yang tahu secapek apa Mosa buat nyenengin aku. Aku yang paling paham gimana posisi dia buat putusin hamil demi aku. Aku Ma, aku suaminya dan aku yang paling tahu. Mama dan yang lainnya nggak perlu ikut campur apa lagi sampai capek-capek ngasih penilaian. Nggak perlu anggap aku anak atau keluarga kalau masih nuntut anak dari aku dan Mosa."
Prabu tinggalkan Suharti di depan pintu lift. Berjalan menuruni anak tangga satu per satu menuju lantai di bawahnya.
Tanpa Prabu dan Suharti ketahui bahwa ada Mosa di balik bilik dekat ruangan Prabu. Mendengarkan debat kusir yang Ibu dan anak itu lakukan.
Sedikit senyum yang Mosa tampilkan telah mematahkan ucapan Alara jika dirinya akan di depak dari keluarga Setiawan. Nyatanya Prabu sendiri yang meminta untuk tidak dianggap keluarga oleh mereka jika sampai menyakiti dirinya. Haruskah Mosa menyombongkan dirinya?
Sekarang Mosa tidak harus khawatir soal anak. Kandungannya yang bermasalah bisa Mosa atasi. Mendengar pernyataan Prabu meski tidak secara langsung disampaikan. Mosa sudah punya jalan lain untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Aku lagi beli makan di luar."
Mosa kirimkan pesan teks kepada Prabu. Dan bergegas keluar untuk segera mencari lauk kesukaan Prabu.
"Di mana? Mau aku jemput?"
Mosa tahu kalau Prabu selalu mengkhawatirkan dirinya. Senyum Mosa kian mengembang dan menjadi-jadi.
"Nggak usah. Aku sama temen, bentar lagi balik."
Sudah, Mosa segera menekan tombol lift untuk turun menuju lobi. Setidaknya kisah cintanya tidak akan monoton seperti bayangannya selama ini.
Mosa benarkan kalimat bahwa orang-orang terdekat tikamannya kuat banget. Karena mereka menikam kita dengan jarak yang dekat. Seringkali kita tertipu oleh senyum yang mereka lebarkan. Ada juga di antara mereka yang memeluk kita dengan erat agar belatinya menghujam kian dalam.
Suharti–Mama mertuanya–juga baru saja memberi Mosa hujaman. Kalimat 'udahan aja' terngiang-ngiang ditelinga Mosa. Jika Mosa gelap mata, ada balasan setimpal yang akan Suharti terima. Nanti, kita lihat saja akan sejauh mana Mosa bertindak. Jika masih ikut campur dalam urusannya dan memaksanya untuk hamil.
"Ya udah hati-hati."
Tanda love di akhir kalimat membuat mata Mosa menyipit. Selama itu Prabu, Mosa nggak akan rugi untuk bertindak kriminal.