66

2348 Kata
"Abang nggak banyak tahu tentang kamu dan masa kuliah kamu." Bachtiar Gema memutar kemudinya. Keluar dari kawasan perumahannya dan menyatu dengan pengguna jalan lainnya. Malam ini ramai, mengingat besok adalah weekend. Dan Alara mau diajak kencan setelah sekian lama berkutat dengan rumah dan dapur. Itu juga pakai usaha ekstra sampai nangis bombay. Alara dan hormon hamilnya adalah suatu ujian kesabaran. "Nggak penting!" jawaban Alara diiringi seruputan es cokelat boba yang Arya bawakan saat pulang dari kantor tadi. "Mereka manusia membosankan yang punya hobi penjilat." Alara melanjutkan setelah melihat kerutan di dahi Gema. "Pasti Abang bingung, 'kan?" Ya bingunglah. Kan sudah Arya katakan kalau Alara Senja itu manusia unik dengan tingkat kerumitan yang nggak bisa ditebak. "Gini Bang, aku kasih Abang kata-kata yang nusuk tapi itu bener adanya. Orang yang pernah merendahkanku kayak sampah, aku nggak pernah lupa. Mengadu domba satu sama lain, merasa paling bersih tapi nggak mampu beli cermin buat melihat kebejatannya sendiri. Aku pernah dipertemukan sama orang-orang kayak gitu. Makanya aku bilang nggak penting." Gema paham. Jika sudah Alara katakan nggak penting artinya mereka ngasih lukanya nggak tanggung-tanggung. "Berapa kelompok Yang?" Alara perdengarkan suara sedotan yang sedang menyeruput minumannya. Gema terkekeh dengan kelakuan Alara yang absurd. "Awalnya cuma aku sama dia, kita berdua. Terus lama-kelamaan nambah dan udah jadi kebiasaan manusia, kenal manusia baru lupain manusia yang lama. Padahal yang baru belum tentu baik. Oke aja sih buat aku. Nggak rugi kehilangan temen modelan penjilat gitu. Udah murahan, eh banting harga lagi." "Kok bisa?" Gema berhenti di lampu merah dan menurunkan kaca mobilnya. Memberikan uang dua ribuan kepada pengamen. "Abang pernah nggak sih punya pertemanan yang circlenya pamer. Eh tapi kalau cowok nggak kayak gitu ya Bang. Ini baru pertama kalinya buat aku sih Bang." "Kamu belum pernah cerita ke Abang." Gema terkesan menagih tapi halus. Sehingga Alara nggak merasa tertekan. "Si A ini pamer perkara pacarnya yang jadi anak pelayaran dan mau berangkat ke Jepang." Alara ngakak pas nyeritain bagian ini. Gema cuma mesem doang dan lanjut mengemudi. "Bilang kalau tiap bulan selalu di kasih duwit sekian juta, uang kuliahnya dibayarin, jajannya ditanggung, bahkan celana dalam dan bra yang dia pakai aja dibeliin. Istri Abang ini …" Alara menunjuk dirinya sendiri dengan senyuman paling manis. "Wajib Abang sayangi dan syukuri. Aku mandiri dan bisa beli apa pun yang aku mau tanpa mengandalkan orang lain." Gema langsung mengarahkan tangan kirinya membelai kepala Alara. "Abang selalu bangga sama kamu kok." "Nggak cuma itu aja, dia juga pamer pas dibeliin Emas Antam yang viral entah berapa gram. Sampai akhirnya temen yang satunya, yang nggak mau disaingi juga berkoar kalau dia selalu dituruti maunya sama pacarnya. Hebatnya apa sih Bang, baru juga pacar eh udah heboh sana sini. Aku cuma bisa diem. Pamer yang kita punya nggak hasil keringat sendiri itu haram hukumnya bagi aku Bang. Entah aku yang terlalu mandiri atau emang biasa lakuin segala sesuatunya sendiri. Aku pernah kok dikekang sama cowok sebelum ketemu Abang. Jijik aku, risih juga." Gema nggak mau memberi penilaian yang buruk sebelum Alara selesai menceritakan. Diakhir kata yang Alara sampai sempat terbayang-bayang di kepala Gema, andai Alara tidak menerobos masuk ke ruangannya sore itu mungkin nggak ya mereka bareng kayak malam ini? "Aku ketemu sama mereka dan menjalin pertemanan itu kayak lagi nonton sitkom Bang. Mereka ndagel dan unjuk gigi muluk. Kan lucu kalau kayak gitu." Alara ambil sandwich strawberry yang dibawakan Gema. "Abang kenapa pengen tahu tentang temen-temen aku?" Bukan nggak suka, Alara males bahas masa lalu, masa pahit dan masa kelamnya. Udah terkubur di bawah tanah sana. Tapi ini Gema, suaminya. Wajar kalau mau tahu tentang kehidupannya sebelum mereka bertemu. "Cuma mau tahu aja Yang. Abang nggak banyak tahu tentang kamu dan kehidupan kampus yang pernah kamu jalanin. Kesannya aneh aja. Abang pengen chicken wings. Mampir ke sana bentar ya." Alara udah paham bakal ke mana. Jadi manut saja. "Nggak drive thru ya Yang." Alara bisa apa selain manggut-manggut? Nolak maunya suami, 'kan dosa. "Mau es krim." Gema manut saja. Langsung parkir mobil dan turun. Disusul Alara yang berjalan di sampingnya. "Terus mereka jadi apa sekarang?" Pertanyaan Gema kalau didengar orang yang nggak paham maksud omongannya dari awal pasti mikirnya negatif. Selaras dengan sarkastik dan mengandung unsur merendahkan. Tapi aslinya nggak gitu. Murni pertanyaan buat respons sebuah obrolan. "Entah Bang. Mungkin masih sama kayak gitu. Saling pamer ke tempat baru. Penyakit pamer dan hati, 'kan nggak gampang sembuh Bang. Jual diri juga." Alara terkekeh. Kayak ada sesuatu yang ditutupi istrinya tapi Gema menunggu endingnya. Kesimpulan kasar dari Gema adalah kehidupan mereka mewah. Jadi kalau setelah lulus kuliah nggak hidup sesuai kayak cerita mereka ya rugi. Bukannya naik derajat malah anjlok. Walaupun kemewahan yang mereka dapat hasil dikasih pasangannya yang pastinya ada imbal balik. Otak cowok nggak suka gratisan apa lagi sampai rugi. Gema pernah menjalani kehidupan yang seperti itu. Ngajak karaokean cewek lain, ngasih ini dan itu ujungnya ke ranjang hotel. Begitulah kira-kira. "Dikasih barang mewah belum tentu diseriusi, kebanyakan faktanya gitu. Cowok itu kalau ngasih-ngasih tanpa ada maksud tertentu agak blurb ya Yang." "Abang juga berarti." Gema mengangguk. Nggak menyangkal kalau dirinya ke Alara juga kayak gitu. "Aku lebih suka yang jujur kayak gini timbang nyangkal padahal bener." "Nggak ada gunanya buat aku Yang. Kalau kita nggak nikah, hubungan kita simbiosis mutualisme kok. Sama-sama diuntungkan, sama-sama menikmati. Tapi dipikiran Abang bakal nyesel andai nggak bareng kamu. Nggak percaya, 'kan? Abang masih waras Ra." Gema pandangi papan pesan sementara Alara cuma berdiri bak patung. "Mau es krim yang mana Yang?" "Sembarang! Terserah Abang, penting es krim." "Oke." Gema langsung pesan yang dimaui dan diminta Alara. Membayar dengan uang pas dan duduk menunggu pesanannya di buatkan. "Unik banget pertemanan kamu mah Yang." Zaman Gema dulu, berteman dengan para lelaki ya sekadarnya saja. Nggak ada di antara kumpulan Gema ngasih barang mewah. Sadar, kalau kemewahan yang mereka punya hasil keringat orang tuanya. Lain halnya setelah mereka kerja dan mengahasilkan pundi-pundi uang. Kata kasarnya, membeli wanita itu hal yang mudah mereka lakukan. "Kayak tahu campur Bang, semua jenis ada. Yang doyan adu domba, ada. Yang iri, ada. Yang merasa tersaingi sama temen sendiri juga ada. Nggak sehat pokoknya mah." "Eh Ra!?" Alara menoleh saat namanya dipanggil Begitu juga Gema. Belum juga selesai gibahnya, eh datang pengganggu. Seorang wanita seusia Alara dengan baju seragam khas milik outlet kondang andalan anak Indonesia berdiri dengan senyuman. Tatapan Alara agak syok pada awalnya, lalu berangsur-angsur membaik. "Gue pangling. Dari lo masuk tadi gue perhatiin, takutnya bukan lo. Apa kabar?" Alara tersenyum yang di mata Gema terkesan ogah-ogahan. "Baik Ca." Oca namanya. Teman seangkatan Alara yang jadi baru bahan gibah bersama Gema. "Lo apa kabar?" "Baik juga. Lo sama siapa? Abang lo?" Oca melihat ke sisi kiri Alara. Kalau Abang kayaknya nggak mungkin. Oca ingat, Alara ini anak pertama dan nggak punya Abang. Jadi … mata Oca berkedip serasa tersadar akan sesuatu. Mata Gema melotot tak terima. Abang katanya. Ya kali Abang. Iya oke Abang. "Bokap baru gue nih." Alara nyeleneh. Ketawa pelan dan meralat jawabannya. "Daddy sugar gue." Memang g****k bocah satu ini. Kalau ada yang denger dan nggak tahu apa-apa bisa dinilai murahan dong. Tapi memang dasarnya ndagel sih. Nggak mempan mau dikatai model apa juga. "Yang bener anjir!" Oca heboh dan duduk di samping Alara tanpa peduli Gema yang menatapnya penuh tanya. "Gue kagak denger lo nikah." Mata Oca menelisik tubuh Alara dan berhenti di perutnya. "Lo udah isi?" Kesannya kok kayak jijik gitu, ya? Arya antara sensi dan benci. Tanya yang Oca ajukan terkesan merendahkan Alara. "Kan Covid-19, lupa? Nggak boleh ada kerumunan. Iya gue udah isi, lima bulan jalan enam." "Keren! Dulu lo paling pendiem di antara kita semua. Ujug-ujug lo nikah, udah isi bikin gue syok. Dan lo nggak nikah sama si Ketua BEM. Siapa tuh namanya, Arkan. Gila, sih!" "Lah Arkan, 'kan punya lo. Ya kali gue sosor aja. Gue bukan pelakor by the way." Alara menjawab dengan senyuman yang lebar. "Gue sama Abang Gema aja. Kenalin dong, namanya Bachtiar Gema. Abang, ini Oca. Temen aku kuliah dulu." Gema senyumi namun enggan mengulurkan tangannya. "Ra, nama suami lo berat banget. Kayak orang penting dan berketurunan ningrat." Bisik-bisik yang Oca lakukan masih terdengar hingga ke rungu Gema dan ditanggapi oleh Gema dengan garukan dihidungnya. "Emang! Dia ini pemilik firma hukum dan bungsu ahli waris." Alara berbangga diri. Akhirnya bisa pamer secara real ke orang modelan Oca ini. Oca meringis merasa malu dan kalah telak. Wajahnya memancarkan aura ketidaksukaan yang kentara diperlihatkan. "Lo mah horor. Sekali pacaran, gandengannya yang kondang. Kan gue jadi iri gitu yak." "Nah sorry to say Ca, kita nggak pacaran. Langsung nikah dong." "Suhu betulan sumpah." "Lah dikira lo yang cepu." Alara ngakak. "Pacar lo mana Ca? Perasaan dulu sama Abang-abang yang punya dua anak itu, 'kan? Siapa sih namanya dulu tuh. Sat Sat gitu atau siapalah itu. Sati, 'kan yak!?" Alara girang setenga mati bisa bikin Oca malu dihadapan Gema. "Jangan buka kartu anjir. Udah bubaran lama kita. Gue cuma butuh dia buat nemenin skripsian. Pas wisuda, kelar ini cerita. Lo nggak ada temen yang bisa dikenalin ke gue gitu Ra? Atau suami lo mungkin." Siapa anda? Gitu batin suci Alara meronta-ronta. Nggak etis sekali pertanyaan Oca ini. Lebih kepada nggak tahu malu sih. Dan juga, lo murahan banget jadi cewek sampai jual diri demi kuliah. Ke cowok-cowok bahkan lelaki beristri. "Gue sih nggak ada Ca. Abang punya?" Gema berpikir sejenak dan menggeleng setelahnya. "Entar kalau udah waktunya ketemu pasti ketemu. Waktunya nikah pasti nikah." Gema hela napasnya. "Abang ambil pesanan dulu." Oca perhatikan langkah Gema yang meninggalkan meja. Hampir copot dari tempatnya kalau Alara yang melihatnya. "Lo kok bisa sih nikah sama yang lebih tua dari lo Ra? Lo cantik, baik, nggak punya kekurangan juga. Aneh lo mah." "Udah jodoh kali Ca. Cinta mah kagak bisa milih. Katanya jatuh cinta itu bukan suatu tindak kriminal." Soal kehidupan Alara, Oca nggak punya hak untuk ikut campur. Alasan kenapa sejak dulu Alara enggan membuka diri kepada orang terdekatnya adalah mengenai keputusannya yang akan dikomentari. Toh yang akan menjalani Alara, mereka nggak ada suara buat ikut campur. Lagian mulut Oca pernah ngena ke hati Alara. Mungkin nggak secara langsung karena Alara tahu Oca tipe orang pengecut yang cuma berani ngomong di belakang. Tapi Alara adalah korban yang saat overthinkingnya kambuh, omongan-omongan nyelekit di masa lalu bisa naik ke permukaan. "Kalau nggak mampu belanja kenapa harus ngekost!? Bikin orang susah aja!" Itu kalimat sepele yang pernah Oca lontarkan kepada Alara lewat orang lain. Padahal Oca nggak tahu masalah utamanya di mana. Cuma nerima barang doang nggak bikin duwit mereka berkurang. Namanya Alara lagi nggak di kostnya. Wajar kalau orang lain yang nerima. Hobi mereka yang doyan gibah bikin hati orang lain sakit hati muluk. "Udah Yang?" Gema berdiri di belakang kursi Alara membawa paperbag dan es krim pesanan Alara. "Duluan Ca." Alara bangun dari duduknya dan hengkang dari hadapan Oca yang masih menatapnya penuh minat. "Dia yang jual diri demi kuliah." "Ayam kampus dong?" Delisha angguki. "Mukanya songong." Kepala Alara mengangguk sekali lagi. "Abang pikir dia bakal kerja sesuai dengan omongannya yang gede. Tahunya cuma kasir doang." "Nyari kerja susah, ya Bang. Nggak segampang nyari mangsa." "Tetep aja anjlok. Gaya hidup dia amblas karena sombong." "Dia yang pernah ngatain aku nggak mampu belanja tapi ngekost. Abang tahu apa lagi?" Gema menggeleng setelah membukakan pintu mobil untuk Alara. "Nganggap aku saingan dia." Alara tertawa dengan renyah. "Istri Abang ini superior banget loh. Diem doang bikin orang lain panas hati." "Hm, kamu ke Abang juga gitu. Bikin Abang gerah." "Kenapa? Mau buka baju Abang? Apa es teh?" "Nggak gitulah Yang konsepnya. Tapi Abang akuin sih, kamu bisa banget bertahan dengan orang-orang toxic kayak mereka." "Aku nggak menghamba pada satu pertemanan Bang. Aku juga nggak mau menilai dia baik atau buruk tapi lebih kepada menganalisa. Setelahnya oh ya udah, lo cuma orang yang bakal lewat doang di hidup gue." Alara jilati es krimnya. Gema sampai geli sendiri. "Jilatin punya Abang nggak mau Ra. Tapi es krim di puja banget!" "Mulutnya dijaga Bang! Kehadiran pelakor nanti Abang nyahok!" "Ya kamu sih!" Gema fokus menyetir. Kondisi jalanan mulai lengang meski ramai. Suasana hatinya bagus begitu pun dengan Alara. "Denger cerita tentang temen-temen kamu Yang, Abang mikir yang mereka dapat itu apa sampe jatuhin orang lain?" "Buat asik-asikan Bang. Hidup kalau nggak ada tantangan ya hambar. Kayak papan, datar. Itu hak mereka juga." "Tapi lihat muka temen kamu yang bengong kayak gitu Abang jadi pengen ngakak." "Aku juga heran kenapa jadi kasir? Bukan mau merendahkan Bang. Dulu dia pernah bilang paling anti kerja keras. Setiap profesi emang nggak ada salahnya, tapi dia kayak ngejilat ludahnya sendiri. Bagi aku, kerjaan apa pun bentuknya itu wajib kita apresiasi terutama ke diri sendiri yang udah mau diajak kerja sama." "Dewasa banget sih kamu Yang. Nggak semua orang bisa mikir kayak gitu. Mereka kira kalau udah lulus kuliah, punya ijazah nyari kerja jenis apa pun itu gampang kali ya. Aslinya mah ujian baru lagi nungguin. Kayak Mika." Kakak pertama Gema. "Dia anak manajemen yang begitu lulus kuliah lamar sana sini nggak langsung dapet. Berbulan-bulan dia nganggur, lempar lamaran kerjaan ke sana kemari. Sampai akhirnya dapat. Di sebuah pabrik di Karawang, posisi HRD. Coba bayangin Yang, menurut kamu aneh nggak? Tapi karena itu rezeki, Mika jalanin aja. Penting punya kerjaan dan gajian." "Tuhan itu adil. Kita disuruh rasain kerasnya nyari kerja biar pas dapet kerjaan bisa menikmati dan mensyukuri. Karena nggak semua kerjaan itu gampang buat di emban tanggung jawabnya." Gema tersenyum. Alara memang paling pas untuk diajak berbagi dan berkeluh kesah. Sekarang Gema temukan alasan mengapa dirinya bisa secinta itu pada Alara. Karena selain tugas suami mengayomi dan mencintai istrinya, pulang dan disambut oleh rumah yang nyaman adalah impiannya selama ini. "Kamu itu aku setelah aku sadari emang rumah buat aku Yang. Bukan maksudnya aku sering nyari cewek lain di luar sana. Tapi emang kamu yang bikin aku kudu balik." "Abang mau tidur di kolong jembatan?" Dasarnya ndagel ya apa pun keseriusan yang sedang dibahas bakal ndagel juga. "Baliklah Bang. Abang punya bini dan anak yang nunggu. Jangan macem-macem. Insting cewek itu walaupun Abang bilang iya padahal aslinya enggak, kita rasain. Apa lagi Abang selingkuh. Bukan maen jiwa intel kita Bang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN