Hanya dia …
Ini lagu viral banget ya! Banyak yang ngecover ulang padahal lagu lawas. Di mana-mana banyak yang muter. Di lampu merah, pengamen pada nyanyi ini, Ibu-ibu komplek yang doyan dangdut juga muter ini, bahkan sekarang saat Gema dan Alara pesan makan di warung tenda, si Abang pemilik warung juga muter lagu ini. Emang the best banget ini lagu.
"Kenapa, suka?" Alara angguk-angguk kepala. Lagunya bikin nagih buat didenger terus. "Dangdut nggak ada matinya."
"Emang! Yang mengcover lagu ini wara-wiri muluk Bang. Banyak penyanyi dangdut yang nyanyiin."
"Demam pecah seribu." Gema comot gorengan yang ada dihadapannya. Sembari menunggu pesanannya, Gema ajak mulutnya ganyem.
"Nggak usah resek Abang. Giliran suka nanti repot!"
Lah timbang lagu doang. Suka mah tinggal dengerin jangan dibikin repot. Alara mah kalau ngomong suka aneh.
"Tinggal puter aja Yang. Nggak ada masalah juga."
"Ya kali komedi putar."
Dahlah sulit! Ngomong sama Alara menguras tenaga. Gema jawabnya satu kata, Alara balesnya beribu-ribu kata.
"Yang?" Alara menoleh. Wajahnya mupeng alias muka pengen. Liur Alara nongol diujung bibirnya bikin Gema ngekek. "Dih laper banget ya!? Sama bau masakan aja nyampe ilernya nongol." Gema nyengir mengejek.
"Apa sih Bang gabut banget deh!"
Alara jengkel. Tapi emang iya bener. Bau kepiting asam manis yang lagi di masak sama Mas-mas penjualnya menggoda banget. Perut Alara jadi keroncongan lagi padahal udah diganjel pake burger.
"Kamu sih nyuekin Abang!" Gema manyun. Alara menoleh. "Nggak ngajakin Abang gibah lagi."
Luar biasa! Alara sampai bengong dibuatnya. Suaminya ini memang lain daripada yang lain.
"Gosip apa lagi Bang?" Alara ikutan nyomot gorengan yang ada dihadapannya. Mulutnya sama-sama ganyem kayak punya Gema.
"Apa aja asal itu kisah kamu Yang."
"Kapan punya Abang dong?" Alara nagih. Nggak lucu kalau punya dia doang. Gema cuma jadi pendengar. Kucing juga bisa.
"Kamu, 'kan udah tahu garis besar kehidupan Abang Ra. Kayak ginilah Abang. Mau baik, mau buruk nggak ada yang berubah."
Toh tanpa Gema beritahu, Alara sudah melihat secara menyeluruh kehidupannya. Jadi apa yang mau diangkat buat jadi bahan gibah.
"Egois Abang mah. Sementang aku udah tahu semuanya nggak mau ngasih tahu yang lebih krusial."
"Contoh?" Alis Gema menyatu mendengar protesan Alara. "Sejauh ini, 'kan emang begitu adanya Yang. Ah kamu mah kalau laper suka mau nelen orang."
"Tuh tuh!" Alara sodorkan gorengan bakwan ke mulut Gema yang langsung dilahap. "Kata 'sejauh ini' …" Sumpah Gema meringis kikuk pas Alara gerakkan kedua tangannya membentuk huruf V. Kesannya kayak Gema ini nyeleneh. "Masih ada yang ganggu," lanjut Alara santai.
"Istri akhlakless."
"Bodo amat!"
Alara tolehkan kepalanya ke arah keluar warung tenda. Kedua netra beningnya mendapati pasangan yang sedang berjalan menuju ke warung. Senyum Alara mengejek membuat Gema yang tak sengaja melihatnya jadi horor.
"Lihat apa?" Gema kepo. Dan menyesali kekepoannya setelah melihat siapa yang berjalan ke arah warung.
"Ciee Abang janjian ya!" Alara semringah sekali menggoda Gema. "Pantes mau makan di luar." Cemburunya disembunyikan, Bund! Ada yang ngira kalah saing berabe nanti.
"Murni mau ngajak kamu kencan loh Yang. Sembarangan aja kalau ngomong."
"Tapi kok bisa kebetulan banget ya Bang? Apakah ini takdir?"
Bengek! Cuma ketemu secara nggak sengaja dibilang takdir. Terlalu mendramatisir keadaan memang Alara ini.
"Takdir tuh nggak kayak gitu Yang. Takdir itu yang udah jadi ketentuan buat kamu dan yang harus kamu jalani."
"Menurut Abang kalau ini mah. Ini versiku beda ya Bang. Sorry, kita beda level." Alara tertawa yang membuat Gema bersungut-sungut kesal. "Tapi ini takdir kata aku Bang. Kata aku loh." Tekannya dengan keras. "Gimana perasaan Abang?"
"Kenapa sama perasaan Abang?" beo Gema balik bertanya. Nggak ngerti lagi pokoknya sama jalan pikiran Alara Senja.
"Ketemu mantan istri apa kabar."
Iya betul, itu Nora Bachtiar bersama Radit Wicaksono. Yang dalam pandangan Alara mereka tampak serasi sekali.
"Hati kamu gimana?" Gema balik bertanya. Kedua matanya menyipit penuh minat.
"Hati aku kenapa?" Alara lakukan hal yang sama seperti Gema lakukan beberapa menit yang lalu.
"Aman?" Anggukan kepala Alara sudah cukup membuat Arya paham. "Yakin?"
"Wah kalian di sini?"
Suara Nora nyaring dan riang. Gema dan Alara sama-sama menoleh. Wajah semringah Nora sudah cukup membuat Gema paham jika mantan istrinya itu kelihatan bahagia bertemu dengan mereka. Kayak yang sudah ditunggu-tunggu banget.
"Apa kabar Mbak?" tanya Alara dengan lambaian tangan.
Nora langsung duduk di meja Gema dan Alara dengan senyum lebarnya.
"Baik. Mas Gema gimana?"
Nyeleneh emang ini perempuan. Yang nanya siapa eh balasnya ke siapa. Alara bengek sendiri lihatnya. Wajah Gema kaku maksimal dan malas menanggapi. Panggilan Masnya mesra banget pula. Duh, hati Alara kayak di remas-remas sesuatu. Sakit tapi tak berdarah.
"Kenalin ini Radit Wicaksono, suami aku."
Siapa yang peduli?
"Selamat ya Mbak. Semoga cepet dikasih momongan."
Ada, Alara Senja si manusia unik. Mana pamer pakai acara elus-elus perutnya segala. Bikin Gema meringis kesal. Mau marah kok istri sendiri, nggak marah kondisinya awkward. Gema harusnya sadar sih kalau istrinya memang rada-rada. Nggak kayak istri lainnya yang normal. Mau menunjukkan rasa cemburunya dan takut kehilangan. Alara justru memberinya izin untuk menikah lagi. Surga betulan ini mah pahalanya.
Lain halnya dengan Nora yang awalnya senyum-senyum lebar mendadak sirna. Wajahnya berubah pucat entah karena apa dan Gema yang melihat gelagatnya seakan paham jika ada kejanggalan di antara keduanya.
Bagi Gema yang sudah mengenal Nora Bachtiar, menikah secepat itu bukan sesuatu yang bisa Nora jalani. Melakukannya pasti bisa, cuma pakai kedipan mata semuanya jadi nyata. Tapi ini Nora Bachtiar yang nggak bisa mengalah. Nora Bachtiar yang nggak bisa disaingi dan dikalahkan. Ya pokoknya bagi Bachtiar Gema, Nora Bachtiar punya nilai sendiri di matanya.
"Anak, ya?" tanya Nora menopang dagu. Melihat ke arah Radit yang tersenyum kecil dan memandangi Gema penuh minat. "Tahu nih dia nanti maunya gimana. Aku sebagai yang disumbang s****a manut aja. Dibikin hamil ya hayuk, enggak ya nggak masalah."
Alara balas dengan senyuman juga. Penting nggak penting buat denger penjelasan dari Nora. Alara bukannya nggak bisa menilai tapi untuk pikirannya yang netral, Alara malas mengurusi privasi orang lain.
Beruntungnya kondisi canggung tersebut segera teratasi dengan pesanan yang datang. Gema langsung memakan cumi bumbu hitam keinginannya, Alara mencomot satu dan mulai menikmati kepiting asam manisnya.
"Makan Mbak dan suaminya." Basa-basi Alara menawarkan agar kelihatan nggak ada masalah.
"Mas Gema masih suka cumi bumbu item kayak gini? Dari dulu nggak berubah kayaknya. Ra, kamu kudu pinter masak! Mas Gema ini doyan makan."
Mas lagi, Mas lagi! Panggilan yang Nora lontarkan cukup membuat telinga Alara panas. Sekarang hati Alara kepanasan sendiri. Menilai jika Nora belum bisa move on dari Gema tapi kenapa melalaikan tugasnya sebagai seorang istri?
"Istri saya bukan pembantu yang kudu masak kesukaan saya," jawaban Gema cukup mencengangkan. "Dia saya nikahi, saya jadikan istri karena dia emas dunia yang wajib saya jaga. Selama masih bisa makan di luar, memasak bukan suatu keharusan. Terpokok di sini dia paham dan tahu tugasnya sebagai seorang istri."
Nyelekit banget nggak tuh!? Gema ngomongnya pakai fakta bukan sekadar emosi jiwa yang tertuang. Nora sampai kiceup dan wajahnya makin pucat pasi saja. Lain halnya dengan Radit Wicaksono yang diam anteng bak patung Pancoran. Masa suaminya diem-diem bae bininya disarkasin? Kan aneh!
"Kalau istri adalah emas dunia, wajib hamil ya Mas?"
Alara tersedak es teh. Ya untung es teh. Andai itu air soda, sudah bisa ditebak ke mana jalurnya akan mengalir. Bakalan lebih sakit.
"Kembali ke prinsip masing-masing. Tiap pernikahan punya yang namanya komitmen. Komitmen sebelum menikah bukan sesuatu yang kudu dilakukan. Tapi komitmen setelah menikah, bagi saya yang sudah merasakan, cukup enjoy untuk saya jalani. Hamilnya Alara karena adanya peran dia yang setuju. Dan saya memberi dukungan. Paham, 'kan yang saya maksud? Tapi ada juga komitmen buat menunda kehamilan. Alasannya jelas dan bisa diterima. Lagian pertanyaan kamu rancu. Ati-ati loh, ya."
Gema ambil daging kepiting yang sudah Alara letakkan di piringnya. Mengunyah dengan khidmat, Gema tahu apa maksud pertanyaan yang Radit ajukan. Entah benar atau tidak, Radit hanya sedang memberi pembelaan untuk Nora dan kariernya.
"Saya belum ada niat buat bikin Nora hamil."
Gema mendengkus seraya menyunggingkan senyumnya samar. Semua yang ada di meja tersebut melihatnya. Pun Alara yang menggelengkan kepalanya pelan. Radit sedikit tersinggung tapi yang diucapkannya memang benar nyatanya.
"Selain memikirkan jangka panjang soal karier Nora, saya pikir menjadi orang tua bukan sesuatu yang mudah."
Alara sudah menduga muaranya masih di seputar karier. Pernikahan yang Nora dan Radit katakan–terlepas dari benar dan tidaknya–sekadar tanda tangan di atas kertas. Sisanya fatamorgana.
"Hm, saya butuh keturunan di samping buat ngikat Alara."
Obrolan mereka terkesan pamer soal status nggak, sih?
"Abang."
Panggilan Alara menghentikan kunyahan Gema. Menoleh dan menatap istrinya intens. Ekspresi Gema datar bukan karena panggilan dari Alara melainkan dua orang yang ada dihadapannya.
"Cukup," kata Alara diiringi senyuman. "Abang udah banyak ngomong! Cumi-cumi Abang bakalan dingin dan bikin selera Abang menurun."
"Sejak kapan Mas Gema suka makanan yang masih panas?" Nora ajukan tanya dengan alis yang mengerut. "Aku ingat kalau Mas nggak suka makanan yang masih panas."
"Aku yang ajari Mbak. Emang nggak bagus sih buat kesehatan. Tapi Abang ngikutin aku dan dia ketagihan. Abang abisin, aku pengen es dawet."
"Malem-malem gini?" Gema bergegas menyendok nasi dan cumi-cuminya secepat kilat. "Tadi es krim, sekarang es dawet. Kok jadi suka banget minum es Yang!?"
Gema ngomel, Nora meringis. 8 bulan menjadi istri Bachtiar Gema belum pernah dipanggil semesra itu.
"Anak Abang yang mau."
"Aih, nurutin maunya ini bocil nggak bakalan ada habisnya!"
"Abang mau anaknya ileran?"
Mata Alara berkaca-kaca dengan estetik. Memang ratu drama Alara ini.
"Ya nggaklah. Gila aja Abang nggak nurutin."
Menghabiskan minumannya setelah suapan terakhir nasi dan cumi-cuminya, Gema bertandang membayar. Alara pamitan pada Nora dan Radit yang bengong. Mana pesanan mereka belum jadi pula.
Faedahnya Nora dan Radit gabung ke meja Gema dan Alara apa sih? Selain jadi obat nyamuk dan bahan tawaan Alara.
Alara jangan dianggap pendiam dan lemah lembut. Aslinya kejam makanya bisa ngomong selembut sutra tapi nusuknya sampe ke tulang-tulang.
Sepeninggal Gema dan Alara, Nora banting sendoknya keras-keras. Mengambil alih atensi para pengunjung yang lain sedang Radit ganyem ayam gorengnya dengan anteng.
"Sial!"
Umpatan Nora dibalas kekehan oleh Radit. Yang berganti dengan tawa terbahak-bahak. Beruntung para pengunjung bersikap maklum. Seakan-akan memberi kesempatan pada pasangan palsu itu untuk berbahagia.
"Lo yang g****k atau naif, Ra?" tanya Radit tanpa berdoa. "Gue suami lo?" Tunjuknya pada dirinya sendiri. Mulutnya komat-kamit mengunyah ayam goreng. "Kenapa anda sebodoh itu wahai Nona Nora Bachtiar."
"Sialan!"
Sekali lagi dan Radit tetap tertawa dengan bahagia. Aura kemenangan terpancar jelas di wajah Radit. Membuat Nora mendengkus kencang-kencang.
"Besok lagi pakai strategi. Lo mau perang asal maju doang, ayam juga bisa. Lo yang katanya terlalu mengenal Bachtiar Gema tapi lo kalah sama bocah bau kencur? Yakin lo!?"
Waras dikit dong! Begitu batin Radit Wicaksono bergaung. Mau sakit hati jadi lupa. Soalnya Nora gobloknya nggak ketulungan.
"Bacot!"
Nora masih terus mengumpati yang dilakukan Radit. Tawa yang Radit keluarkan juga belum mereda malah semakin menjadi-jadi.
"Ya lo kalau ndagel nggak pakai otak. Ra, Ra sumpah cuma lo yang aneh bin ajaib."
"Diem deh lo!"
"Lah marah." Radit ngakak. "Keliatan banget kalau lo salah tapi nggak mau ngakuin ketololan lo."
"Berengsek!"
Radit cetak momen lucu ini untuk seumur hidupnya. Bukan cuma Nora yang bodoh tapi juga Radit yang terlalu mau mengikuti permainan Nora.
"Jangan main api, Ra. Seenggaknya kalau lo nggak mau kebakar. Yang lo kejar dari ini semua apa sih? Ambisi? Balas dendam? Atau biar lo puas aja kalau lo mampu bikin dia bertekuk lutut kembali?"
Radit embuskan napasnya setelah ayam gorengnya diletakkan tanpa ada minat lagi.
"Gue juga cinta sama lo. Tapi gue nggak pernah maksa buat lo nerima gue. Lo aja yang terlalu naif buat balik sama Gema lagi."
Nora tertawa sumbang.
"Gue dendam. Sebeken gue kalah sama bocah bau kencur. Kurang gue di mana?"
Radit sadar, ngomong sama Nora selalu berakhir dengan rasa capek yang nggak berujung. Percuma. Ini cewek emang sableng.
"Terserah lo deh."