68

1243 Kata
Bahagia itu punya temen perjalanan yang sesuai. Karena Alara pernah membersamai orang yang tidak membuatnya bahagia. Karena Alara pernah merasakan tekanan hingga ke dasar hidupnya–hampir bunuh diri. Karena Alara pernah melihat kehidupan yang nggak adil sama sekali tersaji di depan matanya. "Aku pernah bilang ke Abang kalau aku pernah bareng sama cowok yang isinya cuma mau nguasain hidup aku. 24 jam aku harus mau menuruti maunya dan ngikutin caranya. Padahal cara dia jauh dari hidup aku selama ini." Embusan napas Alara terhela. Berhubung esok adalah Sabtu dan Gema libur. Malam ini keduanya nikmati waktu bersama di taman dekat warung tenda saat makan tadi. Alara meminta es cendol dan Gema berikan bersama jajanan lain. Mereka sama-sama mengenang nostalgia saat masa kecil. Kondisi taman ramai, dan suara klakson yang saling bersahutan terdengar bak irama musik yang mengalun. "Hm, Abang inget. Abang pikir kamu cuma sama Prabu." "Aku belajar move on. Ketemu sama orang baru beneran nggak enak, ngulang semuanya dari awal, dari nol sampai tahu kira-kira cocok nggak sama kita. Selaras dan sejalan enggak. Karena yang aku dengar, bersama orang yang tepat sama halnya melakukan sebuah perjalanan. Aku yang introvert dan sulit ngungkapin perasaan ketemu sama cowok yang baik sih secara keseluruhan. Tapi kasar dalam perkataan. Aku dibikin malu dan down." Bagi Gema, punya pasangan bukan artinya bikin kita semena-mena. Kita nggak bisa ngikat kehidupan orang lain meskipun punya makna tersendiri dihatinya. Setiap manusia–yang bahkan belum lahir saja–dia punya hak untuk hidupnya sendiri. "Abang nggak pernah posesif ke cewek kecuali kamu." Alara menoleh. Ekspresi wajahnya songong, yang bikin Gema mendengkus. "Abang cinta banget ya sama aku?" Alara towel-towel pipi Gema. Menyeruput es cendolnya dan tertawa dengan puas. "Ngaku Abang!" tuntut Alara memaksa. "Biar aku nggak ngerasa perasaan aku bertepuk sebelah tangan." "Kenapa mikir yang kayak gitu?" Alara mengedikkan bahu, alis Gema menukik. "Kamu masih mikir Abang mengabaikan perasaan kamu? Katanya nggak cemburu ya." "Siapa yang bilang!? Aku cemburu tapi aku yakin nggak bakalan etis harus mencak-mencak ke Abang. Aku udah dewasa dan Abang jauh lebih dewasa." Bener juga sih. Masa Gema mikirnya jelek banget ke istri sendiri yang sedang menyesuaikan diri dengan umurnya. "Misal kamu nggak ketemu Abang, nggak nikah sama Abang dan berjodoh sama cowok yang posesif ke kamu. Bukan artinya hidup kamu milik dia. Dia belum pernah pacaran kali ya atau mungkin nggak tahu caranya menjalin sebuah hubungan. Kayak yang Abang bilang tadi, di setiap hubungan punya yang namanya komitmen. Kalau dari awal udah nggak jelas gini, ke depannya bakal rumit." Alara mengangguk setuju. Terlebih saat itu kehidupan Alara sedang up and down. Alara butuh seseorang yang lebih dari sekadar memberinya power bukan malah tekanan yang bikin dirinya nyerah total. "Waktu itu tekananku nggak cuma masalah ekonomi Bang. Nggak cuma penyembuhan hati juga. Banyak banget nyampe sesak dadaku." Gema ulurkan tangannya membelai kepala Alara. Mendengar curhatan istirnya tentang masa lalunya membuat Gema paham dan seolah-olah merasakan jika hidup yang Alara jalani tidak semudah kelihatannya. Takdir dan nasib seseorang berbeda-beda. Tuhan juga ngasihnya adil dan nggak pilih-pilih. "Sakit yang kamu rasain itu udah berlalu Ra. Sekarang tinggal senyum dan bahagia yang kamu rasain. Abang emang nggak tahu gimana kamu di waktu itu tapi denger langsung dari kamu Abang bisa rasain sesulit apa perjalanan kamu." Alara malah ngakak. Respons Gema melow banget. "Gimana ya Bang." Alara seruput lagi es cendolnya. "Banyak banget yang mau aku ceritain ke Abang. Abang loh ya yang minta diajak gibah. Tapi aku juga nggak tahu mesti nyeritain mulai dari mana." "Tinggal ngomong loh Yang. Sama suami sendiri ini." "Bentar aku mikir dulu. Baiknya aku nyari topik yang agak ekstrem biar kita enak gibahnya." "Sama kamu kalau nggak bengek nggak seru ya Yang." Gema nggak mau heran sendiri. Biar netizen juga sama keheranan seperti dirinya. Biar tahu kalau istrinya emang unik dari bawaan orok. "Tapi Abang percaya nggak kalau aku bilang sering berselisih sama keluarga besarnya Mama?" Gema cuma diam. Nggak mau ngejawab ya percaya atau enggak yakin. Alara bakal memulai kisahnya tanpa perlu mendengar jawaban Gema. "Keluarga Mama itu banyak. Dulunya Kakek sama Nenek pernah menikah sebelum akhirnya keluar saudara-saudara Mama. Sebagai anak bungsu, Mama terbilang mandiri. Cuma pas awal nikah sama Papa doang blangsaknya. Ya wajar, namanya pengantin baru dan merintis semuanya dari nol." Alara embuskan napasnya. Mengenang masa pahitnya sebelum pindah ke rumahnya yang sekarang bersama Mama dan Papanya. "Saudara banyak dan kita pernah tinggal di satu kompleks. Tahu nggak Abang yang terjadi itu apa?" Gema cuma menatapi Alara yang pandangannya lurus ke depan. "Persaingan. Jiwa Mama itu dagang karena dari Nenek emang asli pedagang. Kayak yang Abang tahu sampai detik ini pun Mama masih dagang dan punya warung yang cukup gede. Tapi Budhe–Kakaknya Mama yang selain Wawak di Bandung itu–pedagang juga. Bedanya dia dagang jajanan, sembako cuma berapa persen nah kalau Mama fokus di sembako. Kalau diceritain tuh rumit Bang. Tapi ini ujian banget buat aku waktu itu. Aku dijadiin tempat keluhan setiap harinya." Gema meringis pilu. Nggak tahu kalau kehidupan Alara semengerikan itu. "Dia ikut jualan apa yang Mama jual. Dia curi pelanggan Mama. Dia jatuhin Mama padahal dia nggak lebih baik. Tukang selingkuh bisa apa sih Bang?" "Budhe kamu tukang selingkuh?" Mata Gema melotot nggak percaya. Sewaktu meminang Alara, seluruh keluarga memang hadir. Tapi Gema nggak tahu yang mana lebih tepatnya sebagai saudara Ibu mertuanya. Tidak itu saja, Alara seolah-olah memberi penghalang agar Gema tidak mengenal keluarga besarnya secara menyeluruh. Miris sekali, 'kan cara Alara lepas dari keluarganya. "Hm, demi uang. Sampai hamil sama anak selingkuhannya. Menjijikkan banget sumpah. Aku pernah diejek temen SMA yang satu kompleks sama aku. Nyesek, nyampe mogok sekolah aku. Untungnya usaha Papa bisa berkembang dan kita pindah ke rumah yang sekarang. Jauh dari saudara-saudara Mama dan nggak mau tahu lagi urusan mereka." Mental Alara udah diolah sejak kecil. Gema nggak sanggup bayangin. "Tapi aku juga nggak suka sama Mama–tindakan Mama lebih tepatnya. Dia nggak pernah mau tahu tentang aku dan kondisi aku. Aku berusaha benci ke Mama tapi aku sadar itu nggak bakalan baik buat aku. Aku juga calon Mama." "Kamu hebat! Bisa bayangin gimana anak-anak kita nantinya kalau dia ada ditangan kamu." "Lebay Abang!" "Aku serius Yang!" Alara kenapa suka banget ngerusak suasana, sih? "Abang kapan pernah bercanda?" Sewaktu bilang ingin Alara hamil, Gema beneran menyumbangkan s****a ke rahimnya. Jadi nggak ada sejarahnya Bachtiar Gema doyan ndagel. "Gimana ya Ra?" Gema garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal. "Abang soal kamu suka berubah-ubah gitu. Abang jadi ikutan labil juga." "Dasarnya Abang yang plin-plan ngapain nyalahin aku?" Enak banget hidupnya. "Ra, jadi kamu pasti nggak enak banget." Gema berucap dengan embusan napas yang kentara berat. Alara menoleh dengan ekspresi wajah yang bisa saja. Nggak ada riak yang bermakna di dalamnya. "Abang nggak punya kisah sekelam kamu." "Abang tahu?" Alara ambil siomay ditangan Gema. "Aku kalau bisa menilai diri sendiri termasuk kurang pergaulan. Aku nggak bebas kayak Mosa karena Mama ngasih aku tanggung jawab lebih daripada anak-anak kebanyakan. Aku yang sepulang sekolah punya jadwal les di hari-hari tertentu, aku yang harus bantuin Mama dan aku yang harus belajar di malam hari. Kalau Abang tahu …" Alara tunjuk kepalanya sendiri membuat Gema mengerutkan dahinya. "Otak aku nggak berkembang. Aku ini bodoh." "Enggak! Kamu nggak bodoh. Kamu itu beda! Bisa nggak jangan menilai rendah diri sendiri? Kamu nggak boleh menilai diri sendiri kayak gitu atau orang lain bakalan ngeremehin kamu." "Itu udah terjadi kok. Aku nggak peduli." "Kamu emang nggak peduli tapi aku nggak terima." "Dih, Abang baperan banget! Jijik aku mah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN