Ini tentang Nora Bachtiar yang membawa serta Radit Wicaksono ke dalam hidupnya. Sebenarnya sudah terjadi sangat lama namun kembali terjalin saat one night stand yang mereka lakukan secara berulang. Eh, namanya bukan lagi ONS karena dilakukan berkali-kali. Tapi intinya Nora menyeret Radit ke lingkaran setan yang nggak ada habisnya.
Nora itu sudah rusak sejak SMA dan Raditlah pelakunya. Berawal dari keisengan dan rasa ingin tahu yang tinggi. Jiwa muda yang membara dan gairah yang membakar. Radit rasai Nora dalam keadaan yang sadar pun Nora yang menerima Radit dengan terbuka.
Kedua sejoli ini di masa mudanya nggak punya kata berhenti untuk ambisi dan kesenangan yang mereka lakukan. Nora yang naif dan Radit yang berkata perihal cinta. Satu padan yang tak terpisahkan.
Nora ingat pertengkaran yang keduanya lakukan pasti berujung pada permainan panas di atas ranjang. Nora juga heran mengapa harus seperti itu. Tapi seakan sudah terikat dengan kuat, Nora tidak bisa menolak pesona Radit yang mematikan kala itu.
Katanya, "Kamu terlalu sayang buat aku lepas."
Pipi Nora bersemu merah bak jambu. Bunga-bunga bermekaran di hatinya dan ribuan kupu-kupu beterbangan dari perutnya. Tanpa tahu jika Radit seorang posesif yang ingin mengikat Nora dalam hubungan yang lebih serius.
"Tunangan?"
Kedua orang tua Nora tersenyum. Senang mendengar kabar yang telah Radit dan kedua orang tuanya sampaikan.
"Kami nggak susah-susah lagi mikirin jodoh buat kamu. Tahu, 'kan kalau keluarga kita dan keluarga Wicaksono berteman baik?"
Nora amat sangat tahu. Kedua orang tuanya merupakan rekan kerja yang telah lama menjalin hubungan. Tapi tunangan?
Kepala Nora pening dadakan. Punya hubungan khusus dan diikat secepat ini bukan gayanya sama sekali. Nora masih punya cita-cita dan angannya tinggi. Mimpinya harus tercapai bagaimana pun caranya. Dan tunangan bukan sesuatu yang Nora harapkan.
"Aku nggak mau ya Ma, Pa."
Kedua paruh baya itu melenyapkan senyum yang menghiasi wajahnya. Nora dengan tegas mengatakan keberatannya.
"Aku bakal nikah kalau emang udah saatnya aku nikah. Mama pikir aku siap? Papa pikir aku nggak punya impian dan cita-cita? Aku anak Mama dan Papa, please, jangan buat aku mikir aku ini nggak berharga di mata kalian."
"Kalian cuma tunangan."
Siska, Mama Nora memaksa. Wajahnya panik namun masih bisa disembunyikan. Masih ada harapan yang Siska gantungkan untuk putrinya mau menikahi Radit Wicaksono. Lagi pula, siapa sih yang nggak tahu keluarga Wicaksono?
"Ya, cuma tunangan–menurut Mama. Tapi aku yang paling tahu siapa Radit dan gimana dia."
"Kalian udah dekat dan nggak perlu nyari kandidat lagi."
"Karena dia turunan konglomerat, gitu maksud Mama? Jangan dikira aku nggak tahu isi pikiran Mama."
"Nora!" Pramono Bachtiar–Papa Nora berteriak. "Jaga omongan kamu! Ini Mama kamu bukan temen kamu."
"Aku anak kalian bukan bahan taruhan!" balas Nora lebih keras. "Bilang kalau udah nggak sanggup hidupin aku. Aku bisa hidupin diri aku sendiri."
"Jangan lancang." Pramono menggebrak meja. Membiarkan kegaduhan melingkupi meja makan yang sudah mereka pesan membuat para pengunjung melihat drama yang mereka ciptakan. "Jangan sombong! Kamu hidup dari uang Papa dan semua yang kamu punya dari Papa–"
"Ya aku akui semuanya dari Papa. Itu bentuk tanggung jawab Papa sebagai orang tua. Dan aku punya tanggung jawab buat diri aku sendiri. Ini hidupku, aku berhak menentukan sama siapa aku hidup dan menikah. Bukan kalian yang tentukan."
Nora hengkang dari sana. Kekesalannya memuncak. Radit sialan membawa namanya ke dalam masalah yang paling dirinya benci. Hanya karena melakukan seks bersama dan berulang-ulang bukan berarti Nora sudi diikat dalam sebuah hubungan.
Bedebah!
"Dulu nolak aku, kabur dari aku. Dih, dasar bocil!" cibir Radit seusai makan di warung tenda. "Eh sekarang ngebet ngajak kawin."
"Nggak mau nih!" Nora menantang dengan pandangan mata yang menusuk. "Lo udah makin tua bukannya makin nyenengin tapi ngeselin lo berlipat-lipat."
"Yakin gue ngeselin? Tapi lo mintanya berkali-kali deh Ra. Kayak ketagihan–dari dulu lo kalau ngeseks sama gue pasti minta nambah."
"Sialan!"
Radit terbahak-bahak. Puas bisa mengalahkan Nora dan egonya yang tinggi. Sifat gengsian Nora ini wajib dirubah biar nggak ada halangan buat keduanya ngobrol nyablak.
"Pengen gue katain rakus, sayangnya gue juga ketagihan sama punya lo. Dari dulu banget Ra tapi lo nggak pernah sadar sama yang gue rasain."
"Penting?"
Kalau cowok lain wajib sakit hati. Sayangnya Radit Wicaksono nggak gampang tersinggung. Kalau udah Nora Bachtiar yang ngomong, setajam silet juga terdengar manis dirungu Radit.
"Lebih penting lagi seks sama lo."
Radit juga blak-blakan perkara ucapannya. Nggak peduli kalau Nora bakal mendengkus dan mencaci maki dirinya.
"Gue udah ngomong dulu sama lo." Radit angguki meski nggak tahu omongan yang mana yang Nora maksudkan. "Pernikahan buat gue cuma sekadar tulisan di atas kertas. Ganti status lo lajang jadi sudah kawin dan gue istri lo. Sisanya nggak ada yang lebih penting dari kesenangan buat gue."
"Tapi lo nikah sama Bachtiar Gema yang jadi mantan suami lo." Radit mencibir Nora terang-terangan. "Dan lo cemburu sama bocah bau kencur yang kebetulan lagi bunting anaknya Gema–nampung s****a Gema lebih tepatnya. Jadi di mana logikanya pernikahan cuma tulisan di atas kertas buat lo?"
"Absurd lo?"
Nora kalah telak makanya kesal maksimal.
"Lo juga ngajakin gue nikah, ngebet banget malah. Oke buat kesenangan lo tapi aneh nggak sih kalau dadakan kayak gini? Sadar Ra, jangan karena lo kalah saing lo jadi nggak waras."
Tawa Radit membahana. Mengalahkan bisingnya kondisi lalu lintas di luar sana.
"Gue serius soal minta dinikahin sama lo. Tapi kalau lo nolak, gue bisa nyari yang lain."
Alasan Nora meminta Radit menikahinya karena perkara finansial. Bukan maksudnya Nora miskin dadakan dari dunia modeling tapi Nora butuh sosok suami yang bisa dirinya andalkan di masa tua nanti.
"Gue ada nolak lo emangnya?" Kedikan bahu Nora membuat Radit mendengkus. "Lo emang ratunya nyebelin ya Ra! Seenak jidat lo narik ulur hati gue."
"Dih baper. Nggak banget sih lo Dit. Jijik tau nggak!"
"Urusannya sama lo apa ya?"
Anjir! Nora ngakak dibuatnya. Radit kalau marah lucu juga.
"Dit." Setelah tawanya reda Nora memanggil dengan lirih. "Dulu motivasi lo ngajak gue tunangan apa? Sorry bukannya gue nyesel kabur dari lo atau nolak ajakan lo. Gue cuma penasaran."
"Gengsi lo nggak pernah turun Ra. Kadar egois lo setinggi gunung. Tapi gue akui gue suka sama lo yang apa adanya." Radit malah meracau panjang lebar. "Karena gue takut kehilangan lo."
"Lo naif ya Dit."
"Lo juga Ra. Tapi lo masih nggak sadar diri."
"Buat apa? Selama itu lo gue nggak harus jadi orang lain."
"Ah, jadi waktu nikah sama Gema lo jadi orang lain?" Nora diam, Radit belai kepala Nora dengan satu tangannya yang bebas. "Gue nggak nyangka lo bisa selingkuh." Radit menyatakan kejujurannya. "Kayak lo ada masalah apa sampe ngehianatin pernikahan lo sendiri. Lo kurang puas sama suami lo atau suami lo yang terlalu sempurna dan lo tertekan atau ini cuma mainan buat lo. Itu yang sering ada di benak gue."
"Lo penguntit?" Radit angguki. "Sialan!" Nora benci tapi ada rasa dihati yang menghangat. "Lo tau tapi nggak nemuin gue. Itu yang lo sebut cinta?"
"Tabu ngomongin cinta sama lo. Gue nggak mau memaksa kehendak orang yang nggak mau sama gue."
"g****k lo mah!" Nora mengumpati terang-terangan. "Benci banget gue sama lo."
"Maksudnya lo terlalu cinta sama gue, ya 'kan?"
Nora selalu kalah dengan Radit–lemah lebih tepatnya.