Alara pernah berniat untuk nggak menikah. Itu cuma pikiran sesaat yang terlintas saat melihat Prabu dan Mosa sah menjadi suami istri.
Bukannya nggak mau keluar dari kubangan sakit masa lalu. Toh nyatanya sekarang Alara sudah lebih bahagia dari masa lalunya. Menikah, punya suami dengan kadar bucin yang nggak terkira dan menikmati masa kehamilan untuk sebentar lagi menjadi seorang Ibu.
Itu bukti nyata kalau Alara sudah membuka penjara sakit hati yang pernah membelenggu kehidupannya.
"Nikahnya wajib banget hari ini ya Yang?"
Gema berikan segelas s**u hamil rasa Vanilla permintaan Alara.
"Iya. Emang gabut manusia-manusia itu."
Alara nyinyir dan meminum susunya setelahnya.
"Padahal habis lebaran juga bisa, malah lebih afdol." Gema sodorkan sepiring kue kering untuk Alara jadikan camilan. "Bulan puasa kok nikah."
Ramadan baru masuk satu Minggu dan sudah ada yang melangsungkan pernikahan. Urusan masing-masing sih tapi di mata Gema itu hal yang belum pernah dirinya temui. Ini pertama kalinya dalam sejarah dirinya tahu ada yang nikah di bulan Ramadan.
"Kenapa emangnya Bang?"
Alara mah polos-polos gurih. Mitos setenar itu aja nggak tahu.
"Menurut orang dulu, nikah bulan Ramadan itu nggak baik. Walaupun semua hari itu bagus tapi lucu aja kalau ada rame-rame di bulan suci. Ini keluarga dari Papa ya Yang?"
Wiratmo maksudnya. Alara mengangguk dengan mulut ganyem kue kering.
"Keluarga Papa lebih kaku dari kelihatannya. Mereka kalau ngambil keputusan suka bablas dan sesuka mereka sendiri. Menurut mereka bagus ya lakuin nggak perlu dengerin omongan orang lain. Jadi percuma kalau Abang mau ceramah model apa pun juga. Nggak mempan!"
Benar. Nggak ada gunanya. Bachtiar Gema paham betul keluarga Alara meski tidak dijelaskan secara rinci. Jangankan Gema, Alara saja yang bernotaben kenal sama mereka sejak orok juga males buat ikutan ambil suara. Apa lagi Gema yang cuma mantu. Bisa diketawain tujuh hari tujuh malam yang ada.
"Di keluarga Papa–terutama Pakdhe yang anaknya mau nikah ini–ilmu kejawen masih berlaku. Sebelum acara ini digelar, dia udah ngitung berapa jumlah temunya kedua mempelai dan hari apa yang baik buat mereka. Waktu mau ijab nanti pun bakal ada jamnya. Makanya aku bersyukur pas Abang ngelamar aku secara dadakan dan kita yang tentuin tanggalnya sendiri."
Nggak menjamin bukan nggak mau percaya. Tiap orang dan keluarga punya tradisi sendiri. Apa yang mereka anut itu yang bakal jadi pegangan hidup mereka. Alara mah netral saja. Nggak mau yang aneh-aneh.
"Bukan apa-apa Bang. Nena ini, 'kan janda anak satu. Dulu di pernikahan pertamanya semuanya serba sempurna. Mulai dari resepsi pernikahan, acara adat yang lengkap dan ribet, hari dan tanggal yang ikut itungan pokoknya lengkap deh Bang. Ujungnya cerai juga. Itu karena nggak berjodoh. Buat aku pribadi pilihan hari, tanggal dan weton belum tentu jadi jaminan langgengnya rumah tangga."
Ya masalahnya ngomong sama orang yang kolotnya nggak ketulungan, 'kan percuma. Di samping bikin sakit ati, kita bakal di maki-maki. Delisha cuma anak kemarin sore yang kebetulan berpikiran terbuka.
"Abang tahu kora-kora? Pernah naik?" tanya Alara dengan cengiran. "Hidup itu kayak kita lagi naik kora-kora. Kadang melambung tinggi banget. Sekali turun bikin kita takut dan tegang. Aku punya temen. Cara dia menggambarkan perjalanan hidup selalu tepat tapi juga menusuk. Ada kalanya dia bikin kita semangat, ada kalanya juga dia bikin kita down. Karena dia sendiri pernah bilang kalau hidupnya stuck di situ-situ aja. Tapi dia dipandang hebat sama kebanyakan orang. Percaya nggak percaya Abang, dia dianggap pesaing padahal cuma diem doang. Aneh, 'kan?"
Alara ambil kue keringnya lagi. Mengabaikan Gema yang masih berpikir dengan segerumul kebingungan di otaknya.
"Kalau Abang boleh ngomong Ra, perjalanan hidup kamu terbilang unik ya. Kamu dikelilingi orang-orang trouble maker tapi kamu juga dikucuri kasih sayang dari orang yang nggak terduga. Kayak temen kamu ini. Dia mau berbagi pengalaman hidup ke kamu secara cuma-cuma. Jarang aja ada orang kayak gitu."
"Benar. Aku juga ngerasa kayak gitu. Dulu–bukannya aku mau nginget masa pahit ya Bang–sewaktu Prabu lebih suka Mosa, aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku terpuruk sampai aku mikir ngapain aku hidup. Tapi dia dateng buat ngehina aku sampai aku temukan alasan buat apa mati? Dari situ aku ngerti kalau dia lagi ngasih nasihat pakai caranya sendiri. Unik sih Bang walaupun nyelekit."
"Orang yang kayak gitu punya rasa sakit yang bikin dia mati rasa."
Alara nggak menyangkal. Apa yang suaminya katakan itu benar. Pang-pang panggilannya–entah siapa nama lengkapnya–adalah perempuan kuat dan mandiri yang pertama kali Alara kenal sewaktu di kampus dulu. Wajahnya manis, pembawaannya tenang dan cara bicaranya blak-blakan. Nggak sedikit orang yang suka sama dia karena pikirannya yang terbuka.
"Terus kita berangkat kondangan jam berapa Yang?" Gema tengok jam dinding. Waktu menunjukkan 5 lebih sedikit. "Bentar lagi buka, terus tarawih."
"Habis salat aja Bang. Ijabnya, 'kan malem." Gema manut saja apa kata istrinya. "Aku males banget aslinya. Ketemu sama mereka tuh ribet." Alara mendengkus. "Pertanyaan mereka suka nggak ngotak.
"Mau bawa Jasmine nggak?" tawar Gema mencoba memahami inginnya sang istri. "Biar ada temen ngobrol."
"Nggak usah! Disangka nanti Jasmine ini anak Abang lagi."
Dunia perjulidan memang tiada duanya ya, Hyung. Ponakan juga bisa dianggap anak. Nanti anak dianggap istri. Heran.
"Resek banget ya Yang?"
"Banget! Mereka itu mulutnya nggak bisa diem. Ada aja yang dikorek cuma mengandalkan katanya. Konyol banget ngga tuh!"
Modal 'katanya' emang nyakitin guys. Nggak ada orang waras yang suka kehidupannya dikorek. Beberapa orang terkesan menyembunyikan kehidupannya dan luka-lukanya. Lalu ada yang datang mencoba membangunkan ingatan yang sudah dikubur dalam-dalam. Ya jelas ngamuk.
"Aku selalu penasaran sama keluarga Abang," ucap Alara penuh selidik. "Keluarga besar maksudku. Meskipun mereka antusias tapi mereka masih ngasih space biar nggak nyinggung perasaan satu sama lain."
"Yang namanya keluarga itu, 'kan saling melindungi Yang. Apa pun yang terjadi bahkan sekali pun itu salah mereka punya hak untuk melindungi. Jaga-jaga biar orang luar nggak makin bertindak sesuka hati. Kalau salah satu keluarga kena masalah, contohnya Mika yang diselingkuhi kayak waktu itu. Mereka pasang badan bukan buat menghakimi kesalahan suaminya. Mereka terkesan melindungi Mika dan ngasih support."
Gema embuskan napasnya. Dirinya juga punya kisah kelam yang tak bisa dilupakan. Namun bukan berarti untuk diingat.
"Perselingkuhan itu terjadi karena mereka sama-sama mau bukan cuma salah satunya. Mungkin Abang yang kurang memuaskan atau emang gitu jalan hidupnya."
"Abang nggak kecewa?" Alara meringis, antara prihatin dan nggak tahu harus gimana jabarinnya. "Kita punya kisah yang sama-sama nggak enak. Tapi dipertemukan sama Abang bikin aku paham kalau hidup harus berjalan. Aku nggak mau menghakimi soal apakah Abang memberi kepuasan atau enggak. Penilaian orang beda-beda."