71

2562 Kata
Acaranya meriah. Berjalan dengan lancar walaupun nggak semua orang diundang. Namanya ini pernikahan kedua yang biasanya sering dilakukan diam-diam. Eh nggak juga sih. Tergantung orangnya mau gimana dan keluarganya. Tapi Alara gabut pol-polan. Mulutnya jadi ganyem muluk dari datang ke sini sampai acara berlangsung. Gema? Jangan ditanya. Suaminya itu langsung nyatu sama keluarga besarnya. Nggak juga kalau bukan Papanya yang menyeret Gema ke lingkaran mereka. Sebagai menantu yang baik, Bachtiar Gema jadi manut saja. Gitu aja kepalanya masih tolah-toleh nyari keberadaan Alara yang jelas-jelas nyungsep di tempat sepi. Alara nggak suka keramaian. Jadi sebisa mungkin dirinya menghindar. Cuma basa-basi sebentar dengan keluarganya dan ngumpet di sini. "Ternyata udah isi ya." "Iya, 6 bulan. Mereka tunangan di akhir tahun kemarin. Ini juga mungkin yang jadi keputusan buat dinikahkan sekarang. Kan nggak enak sama tetangga yang lain kalau tahu udah hamil duluan Bu." Alara jadi pendengar para Ibu-ibu tetangga yang bergosip. Mereka berkumpul tepat di belakang tubuh Alara tanpa sadar kalau itu Alara yang bernotaben saudara. "Ini ribet banget loh. Kata Pak Lurah yang nyelidikin suaminya, aneh. Saya jadi mikir, jangan-jangan dia udah pernah nikah." Alara belum menoleh jadi belum tahu siapa si pembicara dan bagaimana rupanya. "Ribet gimana sih Bu? Eh tapi katanya masih single loh Bu! Wong pas tunangan itu yang lamarin Mbaknya. Denger-denger orang tuanya udah cerai atau udah meninggal ya?" "Bilangnya orang daerah Wonogiri Solo sana, Jawa Tengah kali ya. Terus sekarang tinggal di Mijen, Semarang sama Mbaknya. Tapi setelah dilacak sama Pak Lurah nggak gitu temuannya. Dia nggak lahir di Wonogiri tapi Sragen. Mumet, 'kan nyari jejaknya. Itu juga yang saya denger Bu. Tapi kebenarannya belum ada yang spill lagi sih. Sejauh ini cuma Pak Lurah yang masih keheranan tapi dibuat biasa aja." Diam. Alara yakin para Ibu-ibu itu sedang mikir. Menyelaraskan cerita yang beredar, mengorek mana yang benar dan mana yang cuma omongan belaka. Susah emang kalau urusannya sama manusia super julid gini. "Yang saya denger lagi ya Jeng …" Ada jeda lumayan lama setelah panggilan dahsyat andalan. Kayak lagi mikir buat ngomong nggak ya perihal info yang didapatnya. "Dia asli Wonogiri, orang tuanya udah cerai tapi dia tumbuh di Sragen. Saya dengernya bingung sendiri mana yang bener dan mana yang gosip doang. Eh sekarang denger Bapak Ibunya udah meninggal. Punya calon orang jauh emang agak sulit ya Bu." "Simpang siur banget 'kan Bu. Saya jadi agak merinding. Sekarang ini nyari suami nggak kayak kita milih kembang. Asal suka comot, asal bagus ambil. Yang punya anak perempuan makin ketar-ketir sama berita kayak gini." "Bener Bu, saya juga sama kayak gitu. Dilemanya tuh gini, punya mantu deket eh kecium bau busuknya. Punya mantu orang jauh, susah sama asal-usulnya. Di keluarga saya agak susah soalnya Bu perkara riwayat seseorang ini. Pernah ponakan saya mau nikah. Sebelum nyampe ke arah yang lebih serius, saudara nyari informasi sedetail mungkin. Begitu tahu asal-usul calonnya nggak bagus, langsung hempas." Alara menghela napas dalam-dalam. Curahan para Ibu-ibu itu nggak bisa diabaikan begitu saja. Sebagai calon Ibu Alara juga harus selektif dalam memilih. Alara juga nggak mau masa depan anaknya buruk. "Emang gimana Bu?" "Anak yang lahir di luar nikah. Kabarnya lagi bukan sama suaminya yang sekarang jadi Bapaknya. Kayak gitu bakal turun-temurun Bu makanya sama saudara mending dipisahin aja." Bagi orang-orang terpandang, cinta itu nggak penting. Mereka lebih mengutamakan bisnis ketimbang perasaan. Mereka lebih memikirkan harga saham yang melonjak naik ketimbang kasih sayang. Mereka cuma butuh anak sebagai keturunan dan bukti kesempurnaan sebuah pernikahan ketimbang cinta yang ribet. Nggak aneh kalau hobinya selingkuh dan gonta-ganti pasangan. Nikah emang ribet. Batin suci Alara berkata demikian. Sembari mendengkus, Alara memberikan kebanggaan pada dirinya sendiri bahwa dulu pernah hampir nggak menikah. Sebelum bertemu Gema, Alara anti dengan pembahasan soal menikah. Bukan cuma patah hati penyebabnya namun juga bayangan tentang pernikahan yang berat perjalanannya. Menikah lalu punya anak. Mengurus suami dan keluarga dan setiap harinya cuma berkubang di situ-situ saja. Alara nggak bisa memikirkannya dan takut menjalaninya. Namun setelah melihat Gema dan diikat sedemikian eratnya oleh tali pernikahan, Alara paham jika ketakutannya tak semuanya benar. Gema memberinya pilihan bahwa hidup yang Alara miliki meski sudah berganti status, tetaplah menjadi miliknya. Alara bebas memilih mau seperti apa dan bagaimana. "Orang tua maunya yang terbaik aja buat anak. Nggak ada unsur melarang apa lagi nggak ngasih restu." Alara mendengar helaan napas yang kentara sesak. Entah Ibu yang mana yang ngomong, dirungu Alara itu seperti sebuah penyanggahan yang halus. Penolakan atas prinsip sebuah keluarga yang kolot bahwa hal tabu tersebut nggak seharusnya di bawa-bawa. "Keluarga saya terlalu kolot sih Bu. Mereka maunya ngebentuk keluarga yang sempurna yang dari awal jangan ada cacatnya. Saya paham itu konyol banget. Manusia nggak sempurna, punya kekurangan yang nggak ada habisnya kalau mau ngikutin maunya. Cuma karena demi anak dan masa depan, kita sebagai orang tua menyiapkan yang terbaik." Siapa juga yang mau anaknya hidup blangsak? Semua orang tua maunya anak-anaknya hidup dalam naungan yang secara finansial berlimpah dan secara perasaan tercurahi kasih sayang. Yakin bisa? "Apa pun prinsip keluarga Ibu-ibu itu kembali pada masing-masing pasangan. Karena gini loh Bu, katanya menikah itu tentang sebuah obrolan di masa depan. Obrolan tentang anak, edukasi, bahkan biaya sekolah sebelum si anak lahir pun kita sudah membicarakannya. Kita obrolan soal ke mana seharusnya dia melangkah, kita arahkan bakat apa yang paling menonjol di dirinya. Dan bagi sebagian orang karma memang berjalan. Mengikuti kita di setiap langkahan kaki. Nggak apa-apa Bu. Coba Ibu-ibu pikir, nggak semua yang berawal buruk akan berakhir dengan keburukan juga. Anak haram–istilah bekennya kayak gitu–misal dia tahu dia hasil hubungan di luar nikah, nggak semua hal buruk yang menimpa dirinya bakal dilakukan di masa depan. Selama kita bisa mengarahkan." Semuanya diam dan Alara yang jadi pendengar paham maksudnya. Bahwa meski lahir di luar nikah, dia tidak mau dianggap buruk di masa yang sekarang. Dan tidak mau menjadikan anak-anaknya mengalami hal yang serupa seperti dirinya. "Restu itu penting Bu. Sekarang ini menikah alih-alih soal perasaan yang diutamakan tapi juga satu frekuensi dalam pikiran. Seperti yang saya bilang, nikah itu tentang obrolan masa depan jadi harus yang satu frekuensi biar nyambung." Benar. Andai menikah dengan orang yang cuma mengandalkan perasaan tanpa ada logika di dalamnya, rumah tangga yang akan dibina akan jadi seperti apa? Teman-teman Alara banyak kok yang sudah menikah. Teman seangkatan semasa sekolah dulu, SMP dan SMA. Kebanyakan dari mereka memutuskan menikah muda. Alasannya, daripada zina mending nikah. Sisanya tentang cinta. Jadi pas laper dan nggak dikasih duwit sama suami, cukup makan dengan cinta udah kenyang sendiri. Mereka yang menikah dengan banyak persiapan diri terutama di ekonomi, perjalanannya baik-baik saja. Sedangkan yang menikah atas dasar cinta dan zina, hidupnya melarat. Suaminya doyan selingkuh eh ujungnya jadi TKW di negara orang. "Abang cariin juga ternyata di sini." Alara kedipkan matanya beberapa kali. Otaknya masih berpikir ke mana-mana, datang suaminya bikin kaget. Mulutnya yang lagi ganyem rengginang jadi berhenti. "Kenapa Abang?" tanya Alara polos. Bisik-bisik dibelakangnya bikin Alara menahan tawa. "Mau pulang?" "Kamu udah mau pulang?" Gema bertanya balik seraya mengambil rengginang dari tangan Alara. "Kalau mau pulang ya ayo nggak apa-apa. Besok Abang ada temu klien dadakan, mau ikut?" "Boleh." Alara mendengar soal kantor langsung semangat. Yang ada bau-bau tentang pekerjaan moodnya langsung naik. "Jam berapa Abang ke kantornya?" Besok weekend. Kalau sampai ketemu klien di hari khusus keluarga artinya masalahnya lumayan serius. "Agak siang, jam 10-an. Kamu bisa istirahat lagi setelah nemenin Abang sahur." "Ya udah kalau gitu. Yuk pulang." Tanpa peduli keadaan sekitar, Alara gandeng Gema menuju rumah Pakdhenya. Berpamitan pada sang mempelai dan hengkang dari sana. Sementara keterkejutan para Ibu-ibu yang baru mengetahui jika itu Alara Senja, syok berat. "Dari tadi kita ngegosip dan didengar langsung sama keluarganya?" "Saya pikir tamu siapa. Tapi Alara nggak gimana-gimana kok. Dia jauh dari keluarganya jadi aman." "Maksudnya nggak akrab gitu Bu?" Diangguki oleh di Ibu yang ngasih informasi. "Dia juga lagi isi ya?" "Iya, mau jalan berapa bulan gitu. Syukur banget kalau dia udah nikah sama orang yang tepat. Kalau saya lihat-lihat, suaminya kayak cinta banget." "Alara ada masalah apa sih Bu sama keluarganya?" Pertanyaan seumum ini nggak banyak yang tahu. Si Ibu ini orang pindahan jadi maklum. "Yang jadi suami Mosa sekarang ini, itu mantan Alara. Wajar kalau dia ngejauh dari keluarganya." "Kayaknya dari dulu Alara emang ngejauh dari keluarganya deh Bu. Selain kuliah dan kerja, dia melatih diri sendiri buat lebih mandiri. Hasilnya nggak mengecewakan sih timbang si Mosa yang serba diurus sama Bapak Ibunya." "Saya mah salut sama Alara. Dia temen sekolah anak saya sewaktu SD dulu. Baik dan pinter kalau dia mah. Tulang punggung keluarga pula. Cuma nasibnya aja yang pernah buruk." "Jangan menilai yang berlebihan ya Bu. Punten, bukan gimana-gimana, tapi kadang yang kita lihat nggak sama kayak aslinya." Si Ibu pindahan itu seperti melihat sesuatu. "Tiap pasangan dan rumah tangga yang dijalani punya jalannya masing-masing." Maksud si Ibu ini jangan menilai seseorang dari covernya saja. Mesra belum tentu langgeng, bukan artinya menilai pasangan Gema dan Alara bakal punya prahara. Cuma sekadar mengingatkan bahwa menilai yang terlalu berlebih bukan cara yang baik. Tahu seorang peselingkuh sikapnya gimana sama istrinya? Manis banget. Sebagai wanita siapa sih yang nggak meleleh? Sekali pun suaminya sendiri kita nggak bakalan berpikir yang macam-macam. Kadang sikap lelaki itu bikin kita bingung. Mereka kekurangan tapi karena sudah mendapat perhatian dari luar jadi seolah-olah sudah tercukupi. Padahal jujur nggak ada salahnya timbang ngasih bekas luka yang dalam hitungan tahun bisa langsung ilang. Emang nggak ada otaknya lama-lama. "Iya juga sih." Kedua Ibu-ibu yang di sana oke saja. Mereka cuma baper aja lihat perlakuan manis Bachtiar Gema kepada Alara Senja. Namanya juga mereka suami istri dan pengantin baru. *** "Papa nanyain kamu loh Yang," kata Gema sembari memutar kemudi keluar dari kompleks perumahan saudara Alara. "Terus?" Jawaban dan tanya yang Alara ajukan sudah Gema duga sehingga senyuman yang menghiasi bibirnya. Nggak kaget kalau respons Alara sedatar itu. Memang ya, kalau sakitnya sudah membuat ke tulang, dikasih perhatian model apa pun nggak mempan. "Abang ceritain aja semuanya." Gema jeda sebentar dan melanjutkan, "Kamu nggak rewel, nggak juga yang bikin Abang nyampe kesusahan. Pokoknya kehamilan kamu ini bukan sesuatu yang mengerikan kayak yang pernah Abang denger dari temen-temen. Dan Papa lega. Dia takut kalau kamu bikin Abang repot." "Kenapa kalau Abang tak bikin repot? Nggak terima?" Wajah Alara masam entah dibagian Wiratmo yang sungkan kalau-kalau Alara membuat Gema repot atau Gema yang enggan merepotkan diri mengurus masa ngidam kehamilan Alara. Tapi kalau boleh jujur dan berbangga diri, Alara memang nggak bikin Gema sudah. Alara bisa melakukannya sendiri saat menginginkan sesuatu. Zaman sudah canggih, pengen beli apa tinggal klik dan pesan maka dalam hitungan detik akan sampai di rumah. Tidak ada barangnya di rumah, langsung on the way ke supermarket. Kan kompleks rumah Gema dekat dengan pusat perbelanjaan yang lengkap. Jadi dibagian mananya Alara membuat Gema susah? "Abang oke aja kalau kamu mau bikin Abang susah. Kamu istri Abang dan ini anak Abang." Gema larikan tangannya mengusapi perut Alara yang buncit. "Wajar dan patut kamu melibatkan Abang." "Jadi konsep dari Bapak Wiratmo ngomong kayak gitu ke Abang apa? Cari perhatian banget kayaknya." "Heh!" Gema cubit bibir Alara sehingga si empunya mengaduh tak terima. Wajah Alara yang masam berganti cemberut dan kesal maksimal. "Nggak boleh gitu. Kita ini calon orang tua, ingat?" "Bang please." Alara memohon yang Gema angguki. "Aku nggak suka siapa pun itu ikut campur urusan kita. Abang sendiri yang paham betul kehidupan aku sebelum ini kayak apa." "Itu Papa kamu Yang, Papa kita. Wajar kalau dia nanya gimana kabar kamu, kondisi kehamilan kamu dan lainnya." "Abang ngelarang aku?" Serba salah. Gema bukannya melarang hanya mengarahkan. Tapi Alara sudah buta total sehingga kesulitan menahan kebenciannya. "Bukan ngelarang Yang–" "Tenyata sama aja. Abang nggak ada bedanya sama mereka." Langsung Alara potong nggak peduli Gema mau ngomong apa. "Percuma tahu nggak sih kalau ujungnya Abang juga sama aja. Dih nyesel aku!" "Nyesel kenapa Yang?" Gema paham ini hormon kehamilan Alara yang bekerja. Sehingga merusak mood dan mempengaruhi perasannya. Tapi Gema juga takut untuk mengatakan jika Alara sedang baper. Bisa berabe nanti urusannya. "Pikir aja sendiri!" "Kamu marah sama Abang?" Alara mendengkus. "Yang, kamu nggak lagi ngelawan Abang, 'kan?" Gema horor sendiri membayangkan andai Alara sedang memberontak dirinya. "Kenapa? Abang keberatan?" Bisa Gema lihat tatapan Delisha yang berbeda. Akan Gema ingat jika membahas keluarga Alara bukan sesuatu yang enteng untuk diangkat ke permukaan. "Maaf kalau Abang terlalu ikut campur. Abang cuma menyampaikan yang jadi kekhawatiran Papa." "Abang yakin dia khawatir?" Kepala Gema mengangguk dengan lugunya. "Abang nggak kenal keluarga aku gimana dan menilai kalau yang disampaikan Papa adalah bentuk rasa khawatir? Mungkin Abang kudu menukar waktu buat masuk ke masa di mana aku bener-bener terpuruk." Alara masih terngiang jelas yang dikatakan Ibu-ibu penggosip tadi tentang dirinya. "Abang nggak ada bedanya sama mereka. Nggak apa-apa, aku …" Alara gelengkan kepalanya dan membuang muka ke sisi jendela. Menghitung jumlah mobil yang berlalu lalang. "Lupain deh Bang. Aku baper banget kayaknya." Alara nggak suka jadi perempuan lemah yang berharap pada semua orang buat paham kondisi hatinya. Bertahun-tahun tidak dipedulikan sudah membuat Alara kuat. "Tadi Abang denger banyak gosip dari para tamu yang dateng." Alara masih diam. Gema menoleh dan melanjutkan, "Abang pikir mereka terlalu ikut campur." "Dari dulu, hidup kita selalu diikut campuri orang lain. Tabu hukumnya kalau kita nggak kepo." "Ini keluarga kamu Yang." Gema coba memahami isi hati Alara yang kadung sakit hati. "Abang emang nggak bisa ngerubah cara pikir kamu tentang mereka. Tapi Yang–" "Kalau mereka dijelek-jelekin dan dijadiin bahan omongan, itu salah aku ya Bang?" Alara memotong ucapan Gema lagi. "Mereka jadi bahan omongan karena ulah mereka sendiri. Kenapa harus ngebuat aib kalau nggak mau dijadiin bahan gunjingan? Sekelas kompleks elite aja kok bisa dijadiin bahan omongan berarti emang udah parah Bang. Nggak cuma satu kesalahan yang mereka buat tapi banyak. Lagian aku udah pernah bilang ke Abang kalau keluarga aku itu semuanya toxic." Hanya embusan napas Gema yang terhela. Malam ini kondisi jalanan lumayan padat. Suara bising klakson juga masuk ke rungu Gema. Dan Alara serta segala pemikirannya bukan sesuatu yang bisa Gema kendalikan. "Hm, sekarang Abang tahu gimana sakit hatinya kamu." "Bukan masalah sakit hati." Alara menoleh. "Tapi aku yang udah kehabisan cara buat nahan malu. Aku malu buat dikenal sama orang dekat dan berteman sama orang-orang yang aku mau. Pada akhirnya mereka tahu aku ini berasal dari mana dan kayak apa keluarga aku." Alara belum pernah membuka kisah ini. Bahwa saat salah satu keluarganya berselingkuh dan berniat bunuh diri bahkan hampir cerai, Alara di bully oleh teman satu kelasnya. "Aku kelas 2 SMA waktu itu. Aku pikir masalah ini nggak bakal nyampe ke telinga temen-temen aku tapi salah satu keluarga mereka ada yang tinggal di lingkungan yang sama bareng aku. Bukan aku pelakunya, bukan juga Mama dan Papa. Tapi saudara Mama yang selingkuh dan aku yang kena bully anak-anak sekelas. Aku dijadiin bahan omongan, aku dijauhi, dan aku dihindari seolah-olah aku penyakit menular. Abang pikir aku masih kudu waras?" Dan Alara punya Prabu yang b******n. Yang memilih Mosa hanya karena Alara nggak mau melakukan seks. Gila! Kenapa seks jadi alasan utama sebuah pembuktian cinta sih!? "Abang nggak tahu soal ini. Abang–" "Masa lalu aku yang kelam Abang nggak perlu tahu. Ini nggak penting sebenernya." Alara turun dari mobil tanpa peduli Gema yang masih bengong di belakang kemudi. Masuk ke rumahnya dan mengunci pintu kamar tamu. Mengabaikan Gema yang mengejar dan menggedor-gedor sekuat tenaga. Bodo amat! Mood Alara anjlok parah. Gema sialan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN