Hidup itu pilihan.
Yang Alara Senja tahu sejak dulu seperti itu. Tapi Bachtiar Gema memang nggak ada akhlak.
Tengah malam begini saat Alara sudah dibuai oleh mimpi, dengan sopannya terus menggedor pintu kamar tamu di mana Alara tidur. Marah sih memang tapi setelah kalah dengan rasa kantuknya, Alara singkirkan egonya. Tidak lagi memikirkan perkara obrolan yang Gema dan Papanya bangun. Mungkin saja cara pendekatan Papanya ke Gema sebagai menantu memang begitu caranya.
"Yang."
Alara berdecak sebal dalam tidurnya. Gema berisik sekali dibalik pintu sana dan Alara terganggu total. Tidurnya tidak lagi nyenyak dan Gema penyebabnya.
"Abang laper."
Ya Tuhan! Kutuk saja Pangeran Kodok yang legendaris itu jadi tanaman hias mahal. Alara benci jika tidurnya terganggu.
Melongok jam yang ada di nakas, kekesalan Alara berkali-kali lipat. Pukul 00.49 dini hari dan Gema kelaparan? Bukan maen.
"Yang."
Sekali lagi dan Alara benar-benar terbangun. Terduduk dengan terpaksa, wajah masam lalu menghempaskan selimut yang menutupi tubuhnya asal hingga terjuntai ke lantai. Alara tidak peduli dan memilih melangkahkan kedua kakinya menuju pintu. Memutar kuncinya lalu menarik knopnya.
Cengiran yang Gema lemparkan membuat Alara mendengkus.
"Abang laper," katanya tanpa merasa bersalah. "Pengen ramen." Gema tunjukkan mie yang ada ditangannya. "Buatin ya Yang, pakai telur sama daun bawang. Minumnya es sirup melon."
"Sahur sekalian?" Alara ambil mienya dan bergegas menuju dapur. "Abang bisa masak sendiri kenapa ribut di depan kamar?!"
Mata Alara melotot tapi secepat kilat mengambil panci khusus membuat mie dan menuang air mentah ke dalamnya.
"Kalau nggak dari tangan kamu rasanya beda." Gema sudah terbiasa–lebih tepatnya bergantung ke Alara. "Aku nggak bisa makan masakan yang bukan dari tangan kamu."
"Abang ngerayu?" Respons Alara membagongkan. "Aku nggak butuh kata-kata kayak gitu." Intinya Alara masih kesal jam tidurnya terganggu dan bapernya belum sembuh. "Kayak nggak kenal aku aja Abang dih!"
"Maaf Yang." Gema garuk kepalanya yang nggak gatal. "Abang nggak tahu mesti jelasin apa lagi ke kamu."
"Abang buat salah ke aku?"
Rungkad! Serba salah dan Gema bingung harus mulai dari mana. Alara yang moodnya anjlok sulit ditebak. Nggak bisa dianggap enteng. Obatnya nggak Gema ketahui harus model gimana. Pokoknya serba bingung.
"Coba Abang bilang ke aku bakal pakai cara apa didik anak kita nantinya?"
Walaupun begitu, dalam hati Alara meringis. Alara benar-benar menyusahkan dirinya sendiri dengan mengikat kenangan masa lalu dipikirannya. Alara terjebak di dalamnya yang enggan keluar meski sudah ada kunci ditangannya.
"Maksudnya Yang?"
Gema tidak mengerti. Tahu tapi belum paham mengapa Alara ajukan tanya sekrusial itu. Kening Gema mengerut mencoba menelaah pertanyaan Alara. Namun sampai terdengar helaan napas dari sang istri, Gema masih kebingungan.
"Kadang aku mengasihani diri sendiri." Alara kecilkan api kompor dan membalikkan badan menatap Gema lekat-lekat. "Lahir dari keluarga sempurna tanpa cacat bikin aku sadar kalau Mama sekeras itu nuntut aku buat jadi orang. Tapi aku terlalu pembangkang buat ukuran kebebasan. Aku sesak tiap Mama bilang jangan temenan sama ini, jangan pergi main sama dia, jangan bergaul sama mereka yang nggak punya masa depan. Padahal yang dikatai nggak punya masa depan, justru mereka yang paling berhasil. Sedangkan aku?"
Alara berdecih membalikkan lagi tubuhnya ke hadapan kompor. Ada tangis yang sedang ditahannya. Alara enggan memperlihatkannya pada Gema.
"Orang tua pengen anak-anaknya sukses Yang. Bukan berarti kamu yang belum jadi apa-apa artinya gagal. Kamu hanya sedang menjelajahi dunia yang belum pernah mereka pijaki. Kamu yang terdepan, kamu yang duluan basah dan setelah kamu kering mereka mengikuti jejaknya. Yang … Abang mungkin salah. Abang terlalu pengen dekat sama keluarga kamu tanpa sadar itu bikin kamu sakit hati."
Gema juga nggak bisa ngasih penjelasan kenapa tiba-tiba hatinya mau terbuka untuk mendengarkan cerita dari Papa mertuanya atau memang jika itu urusannya tentang Alara Senja, Gema jadi lemah? Entah, mungkin saja begitu.
"Bukan masalah aku yang sakit hati. Kayaknya emang aku yang lagi baper banget. Moodku rusak entah karena apa."
Alara sedang overthinking–katakanlah begitu. Ada banyak hal yang sedang Alara pikirkan sehingga kembali melihat ke belakang. Padahal hidupnya sudah dinilai sempurna oleh beberapa orang tapi Alara sendiri merasa ini belum mencapai goalsnya.
Melihat teman-temannya sudah sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya, Alara merasa nggak berguna bagi diri sendiri. Alara menyesali setiap keputusan yang masa lalunya ambil. Alara membenci perjalanan hidup yang pernah diambilnya.
Luka-luka yang tak bisa disembuhkan oleh diri sendiri menyisakan bekas luka yang dalam. Alara berharap ada sedikit sinar matahari yang menyinari dan mengabadikan pilihan hidup yang telah diambilnya.
"Kalau Abang bilang buat ngedidik anak-anak kita sekeras mungkin, boleh Yang?" Gema tarik napasnya dalam-dalam. Beberapa jam ini banyak helaan napas yang Gema lakukan karena mood Alara yang anjlok. "Abang berambisi kalau dia harus berhasil."
Alara tatapi air matang yang bergerumul. Mengambil mie ramen dari bungkusnya dan memasukkannya.
"Hm, kalau itu bagus buat masa depan dia aku nggak masalah."
"Dia harus berteman sama yang setara dengan kita dan nggak boleh asal." Gema egois soal dirinya sendiri. "Aku nggak mau anak-anak kita berteman sama orang yang nggak berbobot. Lebih jelasnya aku nggak mau mereka punya pemikiran pendek dan nggak berkembang."
"Asal Abang bisa menerima konsekuensinya. Setiap aturan yang kita buat punya pro dan kontra buat mereka. Kita tahu, kita nggak bisa mengendalikan keinginannya tapi kita memaksa buat mereka menuruti kita."
"Abang nggak mau mereka punya jalan hidup yang buruk–"
"Maksud Abang kayak aku?" Alara sedikit ngegas. "Hidup aku buruk ya Bang karena jadi tulang punggung keluarga?"
Pada akhirnya ramen yang telah selesai di masak menganggur. Gema dan Alara debat kusir mengutarakan kekesalannya masing-masing.
"Ya, Abang nggak mau mereka punya luka batin."
"Aku baru tahu kalau Abang bisa berpikir sesedehana itu tentang aku."
Alara bukannya kecewa. Hanya baru menyadari jika Gema bisa mengatakan segamblang itu.
"Mie Abang." Alara letakkan di meja makan dan hengkang setelah membuatkan s**u hangat untuk Gema. "Ada nasi di rice cooker. Aku tidur lagi."
"Ra …"
Tungkai Alara tidak berhenti. Cepat-cepat pergi dari dapur dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Sedang Gema tidak lagi bernapsu untuk makan. Mengabaikan mienya yang masih mengepulkan asap dan mengikuti Alara menuju kamarnya.
"Yang, coba buka bentar. Kita mesti ngomong dan selesaiin ini."
Tidak ada sahutan dari dalam sana. Gema mengetuknya sekali lagi dan melakukannya secara berulang-ulang. Nggak peduli kalau penghuni lainnya terganggu.
"Yang, please."
Alara cuma duduk di tepian ranjang tanpa berniat untuk beranjak membuka pintu. Terkadang kata-kata tulis itulah yang paling menakutkan. Sadar atau pun tidak, Gema bertindak terlalu jauh dengan mengikuti omongan Papanya. Apa pun alasannya meskipun terdengar rasional, Alara benci.
"Yang."
Masih Alara abaikan dan mulai memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut. Mencoba memejamkan matanya tanpa peduli apa pun lagi. Akan Alara pikirkan besok bagaimana harusnya bersikap kepada Gema.
***
Mbak Ama dan Jasmine jadi penyelamat. Alara yang sedang duduk menikmati s**u hamilnya dan roti bakar buatannya dikejutkan oleh kedatangan keduanya. Nggak ada angin, nggak ada hujan.
"Aku libur Tante terus gabut," ucap Jasmine sebelum Alara bertanya. "Puasa tahun ini kampusku banyak acara, secara otomatis jadwal temu di kelas jadi berkurang. Akunya agak males ikut jadinya pulang ke rumah Oma."
"Kamu kapan nggak malesnya sih Jas?" Mbak Ama benar, Alara mengangguk setuju. "Selama ada donatur dari Papi kamu, kayaknya tingkah lakumu aman. Attitude yang katanya penting buat ditonjolkan bakal amblas selama ada orang dalam yang berperan."
"Dih Tante kudet banget. Ya kali aku ngandelin Papi. Cuma Papi doang mah nggak perlu aku jadiin orang dalam."
Setahu Alara, Jasmine nggak akur dengan Papinya. Tapi bukan berarti nggak akrab. Interaksi keduanya hanya terjalin seperlunya saja. Itu karena Jasmine yang membuat batas agar nggak ada yang terluka baik dirinya, Oma, mau pun Maminya.
"Durhaka banget kamu! Dikasih hak istimewa kok disia-siakan." Mbak Ama masih jadi provokator. Kedua tangannya sibuk memasukkan kue kering buatannya ke dalam toples kaca yang ditemukan di kabinet atas. "Kalau Tante tak pakai Jas. Bukan munafik, zaman sekarang punya koneksi itu penting. Kamu harusnya jangan nolak. Jangan mau kalah dari anak Papimu itu."
Ini juga yang jadi malasnya Jasmine berinteraksi lama dengan Papinya. Adanya keluarga baru yang sudah Papinya bina sedang Maminya harus bekerja ekstra untuk mencukupi kebutuhan Jasmine.
"Kasih tahu caranya biar aku bisa ngerebut Papi dari keluarga barunya, Nte."
Alara meringis dan matanya menyipit. Bahasa tubuh yang Alara perlihatkan jelas kikuk mendengar penuturan Jasmine. Seakan lupa jika Jasmine nggak bisa di provokatori.
"Yakin mau?"
Mbak Ama malah memberi tawaran menggiurkan yang langsung diangguki oleh Jasmine.
"Rugi dong aku kalau nggak sekalian aja di hajar. Sehebat apa sih istrinya yang sekarang sampai-sampai aku harus bersaing sama bayi yang baru lahir?"
Saat mengatakan itu, wajah Jasmine merah padam. Entah karena omongan Mbak Ama yang mengatakan untuk nggak kalah dari anak barunya atau memang ada rasa sakit yang Jasmine alami seorang diri. Kita nggak tahu seperti apa rasa sakit seseorang.
"Oke tapi nggak sekarang. Biar Tante pikirin dulu caranya. Jangan sampai lepas deh warisan Papi kamu jatuh ke tangan anak barunya juga. Walaupun masih bayi, 'kan bisa juga jadi pesaing di masa mendatang."
Mbak Ama nggak tanggung-tanggung. Jasmine diajarin balas dendam. Tapi wajar kalau posisi itu seandainya dialami Alara. Benar, Alara tidak tahu apa yang dialami Jasmine selama ini. Jadi Alara tidak bisa menghakimi apa yang ingin Jasmine lakukan.
"Tante udah minum vitamin?" tanya Jasmine kepada Alara yang baru memasukkan kue kering bawaan Mbak Ama. Alara menggeleng. "Kata Oma wajib di minum sesuai resep dokter."
"Oke, habis ini Tante minum."
"Kamu nurut kalau sama Jasmine." Gema datang dengan dengkusan dan duduk di sisi Alara. Melupakan kejadian semalam seolah baik-baik saja. "Tapi sama Abang ngelawan."
"Kualat yang ada."
Alara mencoba mencairkan suasana meski canggung. Nggak enak kalau pertengkaran mereka diketahui oleh Mbak Ama dan Jasmine.
"Hm, kamu kualat. Sama Abang berani ngebantah."
"Abang baper banget ya."
"Om Gema kalau nggak baperan nggak asik kayaknya Nte. Dia itu udah tua, bangkotan masih aja lebay. Heran." Jasmine mulutnya setajam silet. "Oh ya Om."
Gema langsung urung buat ngomong. Males ngeladenin Jasmine. Gema bakalan kalah di saat ada tiga wanita yang punya prinsip selalu benar.
"Apa?"
"Kok galak banget!? Kena sawan apa gimana nih?"
"Hm, kamu kalau habis perjalanan jauh tolonglah jangan buang jin ke rumah Om."
"Jinnya bikin Om kaya loh. Dikasih rezeki nolak, dosa!"
"Kamu tinggal ngomong ke intinya aja ngajak Om debat dulu. Belagak banget kamu tuh."
Nyenyenye. Jasmine mengejek dan menirukan cara Gema nyerocos.
"Kayak bebek! Gini Om, selama bulan puasa kuliah tatap mukanya bakal jarang. Dialihkan ke daring dan sebagian kunjungan ke beberapa persidangan. Tahu sendiri dong aku suka mager. Pasti Om pahamlah maksud aku."
"Enggak!" jawaban Arya bikin Jasmine elus d**a. Gema kok dilawan. "Buat kamu nggak ada Jas. Ikut kampus aja, nggak usah bikin Om susah."
"Aku?" Jasmine tunjuk dirinya sendiri. "Bikin Om susah?"
Andai bukan bulan puasa, sudah Jasmine guyur wajah Gema menggunakan s**u panas dalam cangkir Alara saat kepala Gema mengangguk dengan estetik.
"Kamu bikin ribet diri sendiri! Udah dikasih yang enak sama kampus malah nyari yang rumit. Berasa rugi kalau nggak bikin Om susah."
"Emang? Bayangin aja, aku ikut Om cuma butuh video doang. Nggak perlu dateng ke pengadilan buat lihat persidangan. Aku cukup minta filenya ke Lula dan selesai."
"b*****h! Om bisa sampai di puncak ini nggak males kayak kamu loh Jas. Kamu timbang belajar doang, ikut acara yang udah kampus siapin banyak banget alesannya."
"Percaya deh sama Om yang sukses dan namanya melejit. Tante nggak bisa ngerayu Om buat aku?"
Jasmine pegang tangan Alara–merayu.
"Jangan ya Yang." Gema memohon dengan mata berkedip-kedip lucu. "Biarin Jasmine belajar sendiri sesuai porsi yang udah disiapin."
"Duh Tante jadi bingung nih Jas." Ekspresi wajah Alara penuh tekanan. Melihat ke arah Jasmine lalu berganti menghadap ke Gema. Berkedip bak anak kucing dan berkata, "coba nanti Tante kasih kabar lagi."
"Yang!?"
"Horee. Makasih banyak Tan. Aku sibuk sama bisnis baru aku soalnya. Tahu apa Om soal bisnis anak muda?"
"Apa Om harus peduli?"
"Biadab!" Mbak Ama geplak kepala Gema. "Ponakan lagi belajar mandiri kamu harusnya mendukung. Bukan malah menjatuhkan."
"Mbak tahu nggak?" Gema elusi kepalanya. "Aku beneran anak pungut kayaknya." Mbak Ama mengangguk dengan kedua alis terangkat. "Dari tong sampah."
"Nggak heran kalau Abang bau."
"Ra!?
Alara tersenyum mengejek. Gila sih lingkaran hidup Bachtiar Gema itu. Malam dibuat pusing sama tingkat istrinya, paginya dipertemukan dengan Kakak dan ponakan yang sableng.
"Pengen nangis tapi malu sama umur."
Gema hengkang dari sana. Membuat Mbak Ama, Alara dan Jasmine tertawa kencang penuh kemenangan.
"Bisnis kamu apa Jas?" tanya Alara setelah tawanya mereda. "Mbak Ama lagi nggak puasa, 'kan? Mau aku buatin nasi goreng?"
"Nggak usah. Mbak udah makan tadi sama Jasmine di warung Padang."
"Kosmetik Tan. Masih kecil sih, baru berjalan beberapa bulan."
"Oh ya? Tante baru tahu kalau kamu punya bisnis. Boleh deh nanti kamu share linknya ke Tante biar Tante lihat."
"Aku minta modalnya dari Papi tanpa sepengetahuan Mami. Ya habis gimana? Kalau mau ngandelin duwit dari Mami, aku nggak bakal bisa mandiri sesuai goals yang aku mau. Toh nggak cuma aku aja yang punya bisnis jualan."
"Bener. Sekarang ini ide jualan lagi banyak dikejar. Selain untungnya yang lumayan, berdagang itu sistemnya jangka panjang yang bisa kita lakuin di mana aja dan kapan pun. Sampai kita tua juga nggak bakal rugi perkara jualan ini."
"Tante kalau mau join bisa kok. Dateng aja ke apartemen aku nanti tak kasih tahu caranya."
Mbak Ama dan Alara mengangguk. Alara nggak punya aktivitas tetap jadi bisa menjadi kesibukannya sebelum Gema mengajaknya ke kantor.
***
"Yang, masih marah?"
Gema hampiri Alara yang sedang duduk di teras belakang rumah. Hari ini Gema libur dan di rumah tanpa sibuk bersama dokumen. Alara setelah Mbak Ama dan Jasmine pulang langsung duduk di sini. Menikmati bunga-bunga yang dirinya tanam bersama semilir angin yang menyejukkan. Meski Jakarta selalu panas sih.
"Marah kenapa?"
Alara asik dengan serial drama barunya. Yang lagi booming Alara tonton. Dan kali ini emang seru, sesuai dengan ekspektasi.
"Soal semalam–"
"Kalau mau dibahas sampai malam juga nggak bakal rampung Bang. Nggak, aku udah nggak marah."
Terserah Gema jika ingin mendekatkan diri dengan keluarganya. Itu urusannya dan Alara nggak mau terlibat.
"Tuh kamu masih marah kok."
Tidak ada jawaban. Alara anteng dengan dramanya dan hengkang dari sana. Meninggalkan Gema yang melongo bingung.
Nggak tahu lagi mesti gimana. Alara dan moodnya yang sudah hancur butuh waktu untuk segera sembuh. Jadi Gema tunggu saja. Nanti kalau kepaksa harus diajak ibadah biar kelar, ya ibadah. Timbang diem-dieman kayak patung Pancoran.