73

1761 Kata
Radit Wicaksono mencintai Nora Bachtiar setengah mati, setengahnya lagi tentang napsu dan kebutuhan biologisnya. Radit nggak munafik hanya mencoba jujur jika sebagai lelaki memenuhi kebutuhannya memanglah wajib. Sebelum dipertemukan kembali dengan Nora di salah satu kelab malam, secara acak Radit akan membawa wanita sewaannya ke dalam apartemennya. Puas tidak puas, dipikiran Radit hanya tentang menyalurkan napsunya. Selebihnya hanya helaan napas yang Radit embuskan. Namun setelah malam itu, merasai kembali Nora dalam kondisi mabuk dan setelah bertahun-tahun berlalu. Radit makin menggila. Seolah hari esok akan kiamat, Radit hanya menginginkan tubuh Nora untuk dirinya lahap. Radit hanya butuh Nora untuk dirinya kendalikan seorang diri. Katakanlah Radit gagal move on. Pesona Nora tiada tandingan sehingga nggak gampang baginya yang bucin buat pindah ke lain hati. Berapa kali pun Radit dijodohkan oleh kedua orang tuanya, hasilnya akan selalu berakhir di ranjang untuk kemudian terjadi penolakan. Yang Radit butuhkan hanya Nora. Selain itu tidak ada lagi. Pernah Radit ditanyai soal perasaannya tentang Nora. Apakah masih utuh atau mulai memudar. Yang diberi jawab kekehan oleh Radit. "Konyol kalau gue harus lupain seseorang yang bertahun-tahun gue puja. Lo pikir gue pemain?" Masalahnya Radit memang nggak waras. Ketampanan dan harta yang dimilikinya cukup membuat semua perempuan tergila-gila sehingga gampang baginya mengatakan rayuan manis dan akan berakhir di ranjang. Setelahnya bubar jalan, kayak nggak ada apa-apa yang terjadi. "Salah kamu kenapa pakai perasaan." Itu yang akan Radit ucapkan kala dirinya diprotes oleh si perempuan yang Radit tiduri. Mulutnya pedas, sikapnya kejam dan Radit nggak peduli. Toh mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Tidak ada unsur paksaan apa lagi pelecehan seksual. Lebih dari apa pun, tidak adanya perjanjian dari Radit untuk si perempuan harus dinikahinya. Radit adalah lelaki bebas yang terbang ke sana kemari. Bukan maen! Lalu pagi ini ada yang berbeda. Saat kedua kelopak mata Radit terbuka, yang dirinya dapati adalah ranjang empuknya bersama selimut hangat yang membungkus tubuhnya serta nyawa hidup yang Radit peluk erat-erat. "Bangun Ra." Radit berbisik seraya menggigiti kuping Nora. "Hngg …" Nora menggeliat. Tidak mau membuka matanya dan kembali memeluk guling. "Sana dih. Bulan puasa bisa-bisanya lo m***m!" "Kalau bisa menyantap kamu, kenapa aku harus puasa." Memang sableng Radit Wicaksono tuh. Bukannya pergi malah kian mengeratkan pelukannya pada tubuh Nora. "Ya ampun!" Nora kesal tidurnya diganggu. "Gue bukan daging yang bisa lo makan!" "Yang sopan Ra. Aku ini calon suami kamu. Ganti dong panggilannya jangan lo gue lagi. Durhaka!" "Nggak peduli! Geser ih, gue masih ngantuk." "Ayo ke gereja Ra. Kamu ikut kepercayaan aku sekarang. Ayo mandi." "Nanti! Jangan maksa." Dari dulu Radit nggak berubah. Nora kesal. "Mie ayam dong Dit." "Ngidam?" tanya Radit absurd. "Perasaan belum aku bikin hamil deh." "Laper! Bisa-bisanya laper disangkutpautin sama bunting. Pengen banget kayaknya aku bunting." "Apa salahnya? Aku juga butuh bukti kalau aku ini unggul." "Halah, kamu unggul tanpa perlu pembuktian. Tapi aku belum siap hamil." Mata Nora terbuka, melihat wajah Radit yang semringah di pagi hari cerah. "Suatu pernikahan emang wajib banget ya harus ada anak? Kayaknya aku lihat beberapa temen aktris aku mutusin buat nggak punya anak. Dengan alasan yang kuat dan pasti." Radit diam sebentar. Napasnya terhela dan membenarkan yang Nora ucapkan. Tidak harus dalam sebuah pernikahan dihadirkan oleh seorang anak. Tapi hadirnya anak dijadikan sebagai ahli waris. "Kalau harus egois, aku nggak mau ada anak. Tapi siapa yang bakal lanjutin perusahaan aku ke depannya?" Mata Nora berkedip polos. Sejak dulu dirinya memang egois tidak mau memahami orang sekitar. Tapi anak … "Kamu harusnya cinta sama orang lain Dit. Bukan sama aku." "Sayangnya aku ini korban gagal move on. Banyak yang udah aku kencanin, tetep aja baliknya ke kamu lagi. Ingetnya cuma kamu doang. Pesona kamu nggak ada tandingan Ra." "Kamu nyusahin diri kamu sendiri. Atau kita nyari rahim sewaan aja." "Yang bener aja Ra!" Radit langsung terbangun dan matanya melotot horor. Nora tertawa melihatnya. "Kita nikah aja dulu. Kalah nggak cocok, kamu boleh tinggalin aku." "Tanpa cerai?" tanya Nora memastikan. "Mau kawin kontrak? Jangka berapa lama Ra? Sebulan, dua bulan, tiga bulan atau enam bulan?" Tidak ada suara yang keluar dari mulut Nora. Radit duduk membelakangi Nora dengan menjuntaikan kaki panjangnya ke lantai. Ada sesak yang Radit rasakan dan sengatan panas di kedua matanya. Sudah terlalu lama menahan bagi Radit sehingga rasa sakit itu bergerumul tanpa bisa dirinya tahan. "Aku juga nggak tahu mau berapa lama? Kita nyoba dulu bisa nggak sih Dit?" Radit masih terdiam bahkan saat Nora menempelkan tubuhnya pada Radit. Rasanya masih tetap sesak tapi Radit tetap diam. "Hm, kita nyoba dulu. Mungkin emang kayak gitu jalannya." "Makasih banyak Dit." Nora tersenyum lebar seraya mengecup pipi Radit lama-lama. Dalam hati Radit berbisik jika manusia serakah dan egois. Mereka adalah manusia sampah yang gak lebih baik daripada anjing. *** "Om, nggak boleh ikut ya?" Adalah Jasmine Atmojo yang mengirimkan pesan teks kepada Bachtiar Gema. Wajah Jasmine masam maksimal dan hatinya dongkol total. Cuaca hari ini panas, sepanas hati Jasmine yang ingin terus mengumpat. "Nggak!" Balasan Gema bikin otak Jasmine kepanasan. Bedebah! Jasmine ngamuk-ngamuk dalam hati. Nggak peduli kalau di depan kelas sana sedang berlangsung video tayangan sebuah persidangan internasional dari salah satu pengadilan di luar negeri. Intinya Jasmine gabut parah. "Nggak guna banget sih Om!" Jempol Jasmine nggak ada filternya. Jadi nggak bisa di rem secara dadakan. Kalau soal Gema, Jasmine pengennya ngomong kasar muluk. "Kamu nggak penting!" Jasmine remas-remas kertas kosong yang ada dihadapannya. "Nasi Padang yok Om. Pakai ikan kakap." Jasmine lapar. Mending makan, biarin puasanya batal. Timbang ngomong kasar yang nggak ada akhlak. Di pendam pula. Kan sakit. "Puasa." Balasan Gema masuk. "Mokel aja deh Om." Secepat kilat Jasmine membalasnya tanpa pikir panjang. "Jas?" Rambut panjang Jasmine yang terurai ditarik oleh temannya dari belakang. Membuatnya mau nggak mau menoleh dengan ringisan. "Sorry." Eno namanya. Perempuan berjilbab yang meringis juga seperti Jasmine. "Ada waktu nggak?" "Kenapa No?" "Mau cerita sesuatu." Eno tidak terlalu dekat dengan Jasmine begitu juga sebaliknya. Namun jika ada sesuatu yang penting untuk dikatakan, Eno nggak segan-segan mencari Jasmine. "Ada apa?" Ragu-ragu Eno hendak mengatakan. Bibir bawahnya digigit kuat-kuat sebelum akhirnya berkata, "Gue gabut." "Sialan!" Jasmine menghadap ke depan. Mengabaikan tawa yang Eno suarakan. "Jas, jangan marah." "Kesel gue anjir. Gue pikir ada apaan." "Ya kali gue curhat di sini. Nanti aja deh." "Soal pacar lo lagi?" "Emang cuma lo yang paling ngertiin gue sih Jas." "Jijik gue." "Cinta lo banyak-banyak Jas." "Bangke! Diperjelas dong." Jasmine mendengar Eno menghela napasnya. Pikirannya kembali fokus menatap ke depan sebelum Eno berbisik, "Lo pernah nggak sih berantem sama pacar lo Jas?" Lah si bangke! Jangankan berantem, ini pacar aja kagak punya. "Gue capek ada di posisi toxic ini. Tiap hari berantem muluk padahal cuma masalah sepele. Gue jadi takut sendiri." "Kenapa nggak putus aja?" Jasmine menoleh untuk melihat ekspresi wajah Eno dan kembali menghadap ke depan. "Lo punya hak buat bebas." "Andai ngomong seenak itu Jas." Eno tarik napasnya dalam-dalam. "Sayangnya gue nggak bisa." "Sekiranya lo nggak mampu buat bertahan, selesai jalan keluarnya. Tapi kalau lo sanggup … semua keputusan balik ke lo sih." Eno membenarkan omongan Jasmine. Sayangnya, dari dulu antara teori dan praktik selalu lebih mudah teorinya. Menjalani bukan suatu perkara yang gampang bak kedipan mata. "Gue g****k banget." Eno mengakui kebodohannya. "Gue lemah dan nggak bisa ambil keputusan. Cuma karena cinta." Cinta emang buta. Jasmine juga punya kisah cinta yang kelam bersama orang yang Jasmine suka. Namun seolah sudah hilang bersama bumi, Jasmine abaikan hatinya yang mulai berkembang untuk sambutan cinta yang baru. Soal cinta, Jasmine sudah malas. Setelah melihat Papinya yang bercerai dari Maminya. Jasmine terjebak di dalamnya. Yang entah harus menuju ke mana keluarnya. "Om, beneran nggak mau nasi Padang?" Masih Jasmine rayu untuk Gema mokel alias batal puasa. Membalas pesan yang sudah cukup lama Jasmine abaikan. "Nggak! Alara bisa ngamuk kalau tahu Om nggak puasa." "Dasar bucin." Jasmine mencibir tanpa peduli. Lalu menoleh ke belakang. Eno nyengir. "Mau nasi Padang nggak? Ikan kakap. Curhat entar di sono. Lo kayak tertekan banget." "Gila ini orang. Bolehlah, yuk. Makasih Jas." Lah! Otak Eno pindah tempat. Tanpa pikir panjang langsung setuju. Mau heran tapi ini Eno. "Oke." Jasmine kembali fokus pada video di depan kelas. Meski mengantuk dan bosan, karena Gema nggak mau membantu Jasmine dengan cara yang instan. Mau gimana lagi, 'kan? *** Mosa lihat hasilnya dan masih negatif. Garis satu. Mau kecewa tapi udah biasa lihat hasil garis satu. Mau nangis, udah mati rasa juga. Jadi Mosa harus gimana? "Nggak apa-apa." Yang dikatakan Prabu selalu begitu. Setiap bulannya, selalu sampai muak. Ini karma yang harus Mosa bayar ya? "Kamu nggak mau nikah lagi?" Prabu mengerutkan keningnya. Mengecup pipi Mosa dan beranjak bangun. "Mau buka puasa di luar nggak?" Mosa merengut. Wajahnya masam maksimal. Prabu nggak menggubris pertanyaannya. "Biar aku cariin kandidat. Aku nggak mau Mama kamu kecewa sama aku." "Bebek panggang mau? Aku dari kemarin pengen makan itu." "Dia cantik dan berkompeten. Seenggaknya–" "Aku nggak butuh anak dan apa pun itu namanya. Kalau kamu belum hamil apa harus aku nikah?" "Kamu bakalan butuh. Kamu pikir siapa yang bakalan lanjutin bisnis kamu, perusahaan kamu kalau bukan anak kamu?" "Jangan keras kepala Sa, please. Ini bukan perkara gampang kayak kita balikin tangan. Aku milih kamu, aku mau sama kamu bukan pas kamu lagi sehat doang. Kita udah pernah bahas ini. Kapan kamu mau ngertiin aku?" "Aku pengen punya anak." "Kita adopsi–" "Nggak! Jalan satu-satunya cuma kamu yang harus nikah lagi. Aku nggak apa-apa, kamu bisa kawin kontrak sampai anak itu lahir." "Pandangan kamu sesimpel itu ya Sa. Kamu cuma mikir soal anak tapi kamu nggak bisa bayangin gimana jalannya setelah itu. Wanita mana yang mau di madu? Siapa yang mau jadi madu? Perkara hamil dan melahirkan kelihatannya gampang tapi hati …" Prabu gelengkan kepalanya. Merasa kecewa dengan ucapan Mosa yang nggak pernah berubah. "Dia mau kamu, maksud kamu itu, 'kan? Kalau gitu aku harus siap berbagi. Aku harus menyiapkan diri untuk kemungkinan kalau aku bakalan diabaikan. Dia yang sempurna dan aku yang cacat udah biasa bakal disakiti bukan disakiti tapi dilupakan. Setidaknya aku pernah memiliki kamu. Dan untuk sementara hanya meminjamkan kamu ke orang lain." Prabu makin nggak ngerti. Mosa udah nggak waras. Dirinya dianggap barang yang bisa dilempar ke sana kemari. Yang bisa dipakai kapan pun dan dibuang jika sudah nggak ada manfaatnya. "Kamu egois! Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri tanpa mikirin aku," protes Prabu. "Kamu cuma butuh pencapaian dalam hidup kamu tanpa mikir gimana aku." "Manusia itu serakah. Apa salahnya kalau aku minta lebih dari kamu. Rasanya aneh kalau suami istri nggak punya keturunan." Sudah, Prabu nggak mau memperpanjang masalah ini. Biar sesuka harinya Mosa saja gimana. Prabu lelah mendengar rengekan Mosa soal dirinya yang harus menikah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN