74

1034 Kata
Alara udah nggak marah sama Gema. Cuma kalau kesal iya. Terutama pada omongan Gema yang mau ngatur kehidupan anak-anaknya nanti. Itu masih terngiang-ngiang hingga detik ini di kepala Alara. Rungunya jadi sensitif mengingat kalimat ini dan hatinya jadi kacau. Alara tuh paling nggak bisa kalau anaknya diatur-atur nyampe dikekang pula. Selama masih tahap wajar, Alara pribadi pengen anak-anaknya bebas kayak burung. Bisa terbang dan menjelajah alam raya. Gema kalau ngomong langsung nandes, membekas dan bikin d**a Alara sesak. Kalau beneran iya kayak gitu, artinya Gema sedang menciptakan neraka baru buat anak-anaknya. Lebih dari apa pun, Gema nggak mau belajar soal sakit mental yang Alara alami selama ini. Cuma butuh ambisi buat tercapai. Huh, mulut Alara inginnya mengumpat sekotor-kotornya, sumpah! Kalau nggak sadar dosa, ini spatula nyampe ke kepala Bachtiar Gema, Alara jabanin deh. Saking sakit hatinya, Alara sampai nggak percaya sama apa pun yang dirinya lihat. Terutama jika bersumber dari internet. Cuma rekayasa yang dibuat sama manusia gabut yang butuh duwit. Nggak peduli kalau itu bikin sakit hati di pembuat konten. Selama nggak masuk akal, Alara anggap itu cuma hiburan. Selama ini Delisha dianggap manusia dingin karena terlalu independen. Yang seolah-olah nggak butuh bantuan orang lain padahal lagi proses penyembuhan. Kenapa Alara bersikap demikian? Untuk menghindari rasa sakit yang akan didapatnya. Sayangnya manusia waras yang memberi dirinya nilai justru selalu merendahkan. Lalu Alara bisa apa selain mengabaikan? Marah dan mendiamkan Gema juga bukan gayanya. Alara ingin memberi toleransi kepada hatinya dan membiarkan saja. Toh masalah itu muncul juga dirinya yang memulai. Alara yang terlalu membesarkan masalah hingga meruncing seperti ini. Egois emang Alara ini. Gitu aja nggak mau maafin Gema yang sudah ngalah. Jika sudah urusan pribadi yang dibahas, sakral suka nggak terima. Dulu pernah Mosa mengatai dirinya, ikut campur masalahnya dan Alara sakit hati hingga berhari-hari. Karena Alara mengharhai apa pun keputusan Mosa dan berharap hal itu bisa Mosa lakukan kepadanya. Dasar manusia berhati dingin. "Yang!" Alara mendengkus mendengar teriakan Gema. Gendeng emang suaminya itu. Masuk ke rumah bukannya salam malah bikin kehebohan. "Masak apa?" tanyanya dengan wajah semringah tanpa dosa. Alara lirik sekilas dan kembali berkutat dengan tempe gorengnya di wajan. "Tadi Jasmine ngajakin aku buat batal puasa." "Terus?" Jasmine Atmojo emang ponakan sengklek. Alara jadi suka sama itu bocah. Gelengan Gema yang Alara dapati lewat ekor matanya cukup memberi tahu jika suaminya menolak. "Kenapa nolak? Tadi dia ke sini sama temennya, ikan kakapnya enak banget." "Makan di sini?" Alara angguki. "Ngapain? Kok dia kayak nggak bosen ketemu kamu tiap hari? Heran." "Aku ini Tante kesayangannya. Emangnya kamu yang jadi Om kolot sedunia." "Tunggu!" Gema letakkan tas kerjanya di meja makan dan melihat Alara dengan saksama. "Kenapa aku kalah sama kamu ya Yang? Kamu di mata keluargaku number one banget loh. Ini kenapa aku kayak anak tiri yang nggak dianggap?" Alara ngakak. Melupakan sejenak rasa sakit akibat kekesalan terhadap Gema beberapa hari yang lalu. Melihat wajah Gema yang melas, Alara makin menyombongkan diri kalau dirinya yang paling superior di mata keluarga Gema. "Hm, aku mantu kesayangan Mama, aku Tante kesayangan Jasmine dan kedua anak Mbak Ama juga sayang banget sama aku. Nggak kayak kamu." "Ini yang bikin aku bingung." Masih Gema usapi dagunya. "Jasmine ngajakin gosip apa Yang?" Gema tahu karena sering diperlihatkan isi chat Alara dengan Jasmine. Segala aktivitas yang Jasmine lakukan selalu dilaporkan kepada Alara. Rasanya, jika Gema boleh berkata, alih-alih menganggap Alara Tante, justru terkesan seperti Ibunya. "Mika kalau nggak sibuk kerja nggak bisa kayaknya. Anaknya sendiri diabaikan." Gema hela napasnya. "Mau dibilang serakah, kayaknya nggak pantes. Yang dia kerjakan juga buat masa depan Jasmine. Aku nyampe nggak bisa ngomong apa-apa lagi soal Mika." "Nggak perlu Abang nilai. Mbak Mika kalau nggak dikhianati nggak akan kerja sekeras ini. Tapi jadi ada hikmah dibaliknya. Meskipun single parents, dia nggak cuma nodong ke suaminya. Dia udah mandiri sebelum menikah bahkan setelah kehilangan suaminya. Abang harusnya bangga." "Jasmine kurang perhatian–" "Lebih dari apa pun kalau Abang mau tahu dia kesepian." Alara kecilkan api kompornya. "Abang sih nggak mau peka buat ngajakin dia ke sini atau kita yang sesekali ke apartemennya. Tahu nggak Bang, hidup di tempat mewah sendiri meski nggak terlalu luas kadang bikin kehampaan makin menjadi-jadi. Beda kalau Jasmine di kost." "Itu keputusan Mika soalnya Yang. Bukan maunya Abang atau urusan Abang–" "Kita mah sama-sama egois Bang." Alara memotong ucapan Gema sekali lagi. "Tapi tadi temennya curhat, sedang terjebak dihubungan toxic." Alara alihkan topiknya. Nggak mau bikin Gema pusing kepala dan moodnya anjlok. "Minta saran buat putus?" Alara menggeleng seraya membalik tempe gorengnya. "Terus apa dong Yang?" "Kenapa Abang nggak mandi? Bentar lagi buka." "Kasih tahu dulu kenapa?" Gema melihat arloji ditangannya. "Masih jam lima lebih dikit. Masih nyampe dengerin aktivitas kami hari ini." "Sekarang Abang jadi doyan ikutan gosip! Tadinya nggak mau eh sekarang ketagihan." "Gosipnya sama kamu mah nggak rugi Yang. Jadi tadi apa Yang isi gosipannya." Maksa banget ya Bund laki satu itu. Nggak sabar banget lagi. "Ya intinya orang yang ada dalam hubungan toxic lumayan nyusahin Bang. Mau bubar eh masih keingat soal perasaan. Nanti setelah selesai sama si ini aku gimana ya padahal udah lama bareng, udah biasa ngabisin waktu sama dia dan segala macem. Kayak nggak ada orang baru yang mau masuk ke hari-hari dia aja." Gema membulatkan bibirnya. Mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ngelepasin sesuatu yang udah bareng sama kita itu gampang-gampang susah Yang. Nggak usah kita lihat lama dan sebentarnya. Kalau emang kita nggak ada niat buat melepaskan, selamanya bakal stuck di situ doang. Tapi kalau kita mau berpikiran lepas, pasti lepas. Toxic itu penyakit, lucu kalau kita tetap bertahan di kondisi yang nggak sehat." "Kayak Abang sama Nora?" "Kayak kamu sama Prabu?" Baik Gema mau pun Alara sama-sama tertawa. Sadar atau tidak, keduanya pernah ada di posisi hubungan toxic. "Kita pernah melewati masa-masa sakit itu." Gema angguki. "Aku dulu g****k banget bisa-bisanya nangis pas Prabu milih Mosa." "Wajar, artinya kamu normal. Perasaan kamu tulis cuma nggak dibalas sama tulusnya aja." "Abang nangis juga?" "Bukan nangis tapi lebih kepada kecewa. Abang menyesali pilihan yang Abang buat dan keputusan yang Abang ambil. Tahunya dia bukan seseorang yang baik." "Aneh kayaknya kalau kita menentukan sebuah pilihan hanya karena dia harus jadi yang terbaik buat kita. Jatuhnya kita mengharapkan pencapaian yang lebih kepada orang itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN