95

1818 Kata

Seandainya Gema tidak menghalangi, mulut Alara sudah tinggal jeplak aja kalau Mosa itu mandul. Tapi Gema terlalu jadi pahlawan untuk Alara yang sedang dendam. Akhirnya telenan dapur yang jadi korban. Pisau yang Alara pegang itu tajamnya ampun-ampunan. Mbak Imas aja ngelihatnya ngeri. Bulu kuduknya merinding melihat Alara yang diam memendam amarah. "Berengsek! Sialan! Suami sialan!" Umpatan demi u*****n bak lagu merdu di rungu Mbak Imas yang ketakutan. Mau negur, sadar diri kalau dirinya cuma pembantu di rumah ini. Nggak bisa ikut campur urusan majikannya atau apa pun yang majikannya lakukan. Tidak menegur, eta itu perut Alara mah udah gede pisan. Kalau kena terus nancep di sana mah kumaha? Sumpah, Imas horor maksimal. Tapi nggak punya keberanian sama sekali. Mbak Imas cuma bisa berdiri k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN