Intinya pertemuan kedua keluarga di hari ini lancar. Obrolan ringan yang Jayanti dan Marini topikkan masih wajar dan sekadar soal acara syukuran yang akan Alara langsungkan. Mereka menentukan tanggal dan hari yang tepat sesuai adat yang para orang tua dulu percayai. Alara dan Gema mah ngikut aja. Nggak mau ribet dan terima beres. Sore menjelang, sudah selesai dengan pembahasan itu. Tersisa Alara bersama Gema yang bersantai di halaman belakang rumah. Sinar mentari sore yang hendak kembali ke peraduan masih terik-teriknya menyengat kulit. Alara berjalan pelan mengecek bunga mawarnya yang siap panen untuk Alara jadikan hiasan. Sedang Gema bersama tablet dan laptop yang ada di atas meja, mengurus pekerjaan. Ditemani secangkir kopi dan nastar yang telah Alara siapkan. "Punya Mbak Aira ya Bang

