Alara Senja nggak punya firasat apa pun. Bahkan seujung kuku untuk berpikir akan ada kejadian sebesar ini di kompleknya juga enggak. Pikiran Alara lurus-lurus saja dan yakin nggak ada apa-apa. Namun saaat kembali dari pantai petang itu, sekitar pukul tujuh malam, komplek rumahnya ramai. Yang biasanya sunyi dan senyap lantaran lelah akibat aktivitas satu hari penuh. Banyak warga yang berhamburan keluar bahkan ada mobil ambulans yang terparkir tak jauh dari sana. Begitu saja Alara masih anteng maksimal. Nggak punya firasat apa-apa. Setelah meyakinkan penglihatannya di mana letak kegaduhan tersebut, serangan panik mendadak menghampiri. Alara memelototkan matanya lebar-lebar kala di rumah siapa kejadian itu berasal. "Ada apa, Pak?" tanya Gema yang suaranya menyadarkan Alara dari keterkejuta

