Mosa masih dongkol bahkan di hari yang sudah berganti. Matahari sudah terbit dari ufuk timur menandakan pagi menyambut. Tidak ada kokok ayam bak di alam terbuka atau pun perkampungan. Ini komplek elite yang tenang dan asri meski berada di Jakarta yang banyak polusi. Di sisinya ada Prabu yang masih terlelap. Selepas sahur tadi, suaminya kembali bergelung dengan selimut karena hari ini libur. Tidak akan Mosa ganggu, hanya akan memandanginya saja. Ada perasaan bersalah yang bergejolak di d**a Mosa. Tapi Mosa menepisnya, enggan membawa perasaan itu terlalu dalam di saat semua rencananya sudah tersusun rapi. Hanya bisikan maaf yang tidak terucap dalam hatinya saja. "Daniah setuju kalau kamu mau tahu hasil dari pertemuan beberapa hari yang lalu." Mata Mosa berkedip dan mengalihkan pandanga

