Bahtiar Gema kembali ke keluarganya di hari sabtu dan minggu. Itu hari khusus untuk dirinya menikmati quality time. Yang tidak mau diganggu gugat apa lagi di riwehkan oleh t***k bengek pekerjaan. Maka seluruh aktivitas dan komunikasi yang bersangkutan dengan masalah para klien, akan langsung menghubungi asistennya—Alara Senja.
Dan ngomong-ngomong perihal Alara, perempuan itu sangat eksotis di mata dan merasuk dalam pikiran Gema. Gila, sih. Gema bahkan tidak percaya sama sekali. Perempuan seperti Alara—
“Om.” Panggilan dari arah sampingnya menyeret Gema dari lamunnya. “Di panggil nenek.”
Kepala Gema terangguk dan lekas beranjak setelah mengelus puncak kepala sang ponakan. Langkah kakinya sedikit berat. Berurusan dengan mamanya bukan hal yang pelik—sebenarnya—jika bukan pertanyaan semacam: cucu mama mana?
Aduh! Minta cucu seperti beli gula-gula di pasar malam sebelah lapangan komplek rumahnya sana. Tinggal bilang dan menagih.
“Ma.” Gema mendekat. Duduk di samping sang mama. Gazebo belakang rumahnya selalu jadi alternatif untuk berbincang sore seperti ini. Di temani segelas kopi dan cookies buatan kakaknya.
“Sudah ketemu?” tanyanya penuh harap.
Dapat Gema lihat binaran di mata sang Mama yang sudah senja. Meski meredup, setidaknya wanita berusia 65 tahun ini mengharapkan Gema segera memberi jawaban pasti dan tidak lagi berkelit.
“Mama nggak minta yang aneh-aneh padahal.” Tahu dan paham dari maksud diamnya sang putra. Marini tersenyum tipis. Tangan keriputnya meraih gulungan benang dan melanjutkan rajutannya. “Jangan hidup sendiri. Mama nggak capek buat ngomong kayak gitu setiap kamu balik ke sini. Mama sudah tua—”
“Ma …”
“Cukup kakak kamu yang bebal. Kamu jangan. Kamu butuh keluarga setelah hancur dan jatuh.”
Rumit. Gema akui itu. Bukan maunya Gema ingin bertahan dalam kondisi yang demikian. Hatinya belum siap terikat oleh hubungan seserius pernikahan. Sedang kegagalan pernah menjadi mimpi buruk di tiap malamnya. Andai semuanya semudah membalikkan telapak tangan. Ingin Gema lakukan. Memenuhi keinginan sang mama untuk segera membawa pasangan.
Maunya Gema bisa segera menemukan seseorang. Bisa dirinya peluk untuk melarikan lelahnya. Bisa menemani Gema menyelesaikan pekerjaannya. Bisa Gema jadikan tempat beradu cerita pada isi aktivitas kesehariannya. Dan mau menemani Gema selelah apa pun tubuhnya.
Tapi memang dasarnya Gema belum mau membuka hati, semuanya terasa sia-sia untuk di usahakan. Apa benar begitu? Bukankah dari kemarin sudah Gema gaungkan dalam hati ada Alara Senja yang mentahtai hatinya.
Perempuan 26 tahun itu bahkan mendadak mengambil alih seluruh atensi yang biasa Gema acuhkan. Merasuk dan merusak tatanan hatinya. Begitu saja masih Gema sangkal. Hati kenapa sangat munafik.
“Masa kamu nggak ada dekat sama cewek, dek?” Mamanya terus mengorek. Bahkan mengeluarkan panggilan kesayangan yang mampu meluluhlantakkan pertahanan Gema. “Asisten kamu itu cantik. Masih muda dan enerjik pula.”
Melotot mata Gema dengan estetik. Tenggorokannya kering kerontang. Mendengar mamanya membawa nama orang luar khususnya wanita … sudah was-was degupan jantung Gema.
Betul. Yang di maksud mamanya adalah Alara. Bertemu secara resmi dalam artian mengobrol lebih dalam mungkin belum. Hanya beberapa kali saja mamanya berkunjung ke kantornya dan mendapati Alara yang menyambut. Obrolan yang di bangun pun terkesan ringan. Sebatas berasal dari mana dan tinggal di mana.
“Oh.” Begitu responnya. Tidak sopan tapi Gema benar-benar menunjukkan ketidaktertarikannya—pura-pura—pada topik kali ini. “Ganti topik lah, Ma. Bentar lagi mau lebaran. Bisa kali ngebahas seragam apa buat tahun ini. Atau mau bikin kue apa dan mau masak apa.”
“Kenapa nggak bahas ‘mau sama siapa lebaran nanti?’” Di bahas lagi. Gema sampai mendesah kasar di tempatnya.
“Nggak mau buru-buru,” jawabnya. Tapi sedetik kemudian memori Gema mengingat sesuatu. Kenapa tidak dirinya jadikan ajang keuntungan saja? Bukankah Alara sudah mengungkapkan keinginannya? “Nanti aku bawa ke rumah kalau sudah pas waktunya.”
Ini pun Gema masih ragu-ragu. Oke, dirinya mungkin getol juga mencegah agar Alara jangan mundur. Namun melihat seberapa besar kebimbangan Alara, Gema tahu harus ada yang dirinya lakukan. Masih banyak warna abu-abu di diri Alara yang belum Gema lihat secara dekat. Dan itu harus dirinya kulik secepatnya.
“Berarti ada, 'kan, dek?”
Tidak ada jawaban selain hengkang dari sana.
***
Tidak banyak kegiatan yang Alara lakukan. Selain bergolek sana-sini di atas ranjang yang biasanya dirinya tempati bersama Gema. Hari ini, lelaki itu berpamitan untuk pulang ke rumah. Kangen mamanya, dalihnya begitu. Dan Alara iyakan saja.
Weekend ini meresahkan. Semua teman-temannya kencan tanpa ada yang free. Hanya Alara dan itu tanpa Gema yang mestinya mau menemani dirinya ke mana pun. Jadilah kegabutan yang hakiki—sejak dulu melekat di dirinya kambuh. Alara sungguh manusia nomor wahid dengn tingkat keanehan yang nggak kaleng-kaleng. Kadang, kerja saja bisa Alara rasakan bosan yang tak berkesudahan.
Oke, kembali pada topik kemageran Alara yang menjadi-jadi.
Ada banyak list film yang harus Alara maratonkan. Kali ini Mr. Hurt yang secara acak Alara pencet dan tonton. Jangan tanyakan bagaimana alur kisahnya. Karena hanya wajah dan matanya saja yang mengikuti setiap acara di film itu. Tapi otaknya traveling ke mana-mana. Bahkan nama pemainnya saja Alara tidak tahu dan tidak mau tahu.
“Kalau kau sedang jatuh cinta, serasa kau mengapung di awan. Tapi saat kau patah hati, kau jatuh dari langit dan semua tulang rusukmu patah. Kau mungkin terlihat baik-baik saja. Padahal setiap tarikan napas terasa sakit.”
Kata-kata itu terasa sangat benar. Sekali masuk ke rungu Alara dan membekas di hatinya. Lalu pikirannya melayang dan membenarkan apa yang barusan dirinya dengar. Terasa benar dan nyata sampai Alara tidak bisa menyimpulkan kira-kira apa yang sekarang ini dirinya rasakan?
Jatuh cintakah?
Patah hatikah?
Kecewakah?
Atau semata ekspektasi tinggi yang faktanya tak sesuai bayangannya selama ini?
Apa pun itu, Alara tidak bisa meraba rasanya. Terlalu kebas dan buram. Semuanya masih tertutup kabut tebal yang menyebalkan.
Sifat Gema yang jauh dari sempurna. Dan sikapnya yang arogan meski slowly.
Ah, molla!
Alara mengacak rambutnya gelisah tanpa sadar sepasang mata yang memandangnya geli. Serius, Alara lucu dan konyol dalam waktu bersamaan. Perpaduan sempurna seperti cokelat di seduh dalam kondisi dingin.
“Kenapa kamu.”
“Hih ngagetin!”
“Suruh siapa ngelamun.”
“Ngapain abang balik?!”
“Lah, kan rumah abang. Bebas dong!”
“Dih ngegas muluk. Darting tahu rasa anda!”
“Darting adalah?”
“Dasar tua!”
Gema mendecak sebal. Selalu begitu. Bertemu dan bersitatap dengan Alara Senja punya kekhususan tersendiri. Entah dari segi mulut yang beradu atau malah bibir yang saling terjang—eh?
“Apa cepat kasih tahu!”
“Maksa benar!”
“Cipok nih.” Ancam Gema.
“Nggak takut.” Balas Alara penuh ejekan.
Setelahnya, gerakan Gema yang mendekat menjadikan kewaspadaan untuk Alara. Matanya bergerak gelisah. Tubuhnya mundur teratur. Dan sebelum apa yang Gema ucapkan menjadi kenyataan, segera Alara embuskan napasnya perlahan.
Di sertai dengkusan, Alara menjawab, “Darting: darah tinggi.”
Tapi tetap saja, tubuh Gema yang sudah ada di depan wajahnya serta napasnya yang menubruk di pori-pori Alara tidak berhenti. Lelaki itu terus mendekat sampai Alara rasakan benda kenyal lembap menyapu bibir atas dan bawahnya.
Jika sudah begini, gimana bisa Alara hapuskan Bahtiar Gema dari otak dan hatinya?
Serta kala kedua kelopak matanya terpejam … sudahlah! Itu rasanya seperti kiamat. Yang artinya, Alara nikmati permainan bibir Gema. Meminta lebih—setan dalam hatinya meronta-ronta—boleh tidak, ya?
Woi, kon gini? Alara mau gogoakan di pojokan. Masa sikap dan bibirnya nggak mau sejalan.
“Bibir kamu manis,” bisik Gema. Permainan bibirnya menjelajah seisi wajah panas Alara dengan kekehan. Menggigit kuping Alara dan bermain lama-lama di ceruk lehernya. “Ini juga wangi. Bau tubuh kamu khas. Dan saya …” Alara terkejut ketika panggilan seformal itu diangkat ke permukaan. “Bisa tidur dengan nyenyak berkat harum tubuhmu. Bisa, kita selamanya berbagi ranjang dan mendekap satu sama lain?”
Ayo … Kita awali segala sesuatunya dari sini.