7

1097 Kata
Mata Alara mengerjap. Ini sudah lewat dari beberapa hari usai ciuman itu terajut. Sayangnya, semua yang terjadi di hari itu masih sangat membekas di memori Alara. Terlebih ucapan Gema yang tak Alara pahami maksudnya. Sama sekali Alara bodoh. Mirip keledai d***u yang di cucuk induknya. “Baju Abang mana?” Tersentak kaget dari lamunannya. Segera Alara mendekat ke pintu kamar mandi di mana kepala Gema menyembul. Dapat di pastikan, di balik pintu putih itu, tubuh Gema polos total. Dan entah mengapa, otak Alara traveling ke berbagai tempat di neraka. “Aku sudah masakin pesanan abang.” “Oke. Bentar lagi turun. Sama sambalnya juga, kan?” Kepala Alara mengangguk dan bergegas lari. Matanya melihat sesuatu yang yahud. Yang sebenarnya sah-sah saja karena mereka punya perjanjian untuk ‘memegang satu sama lain’. Yang artinya, Alara milik Gema dan Gema milik Alara. Itu mutlak dan paten tak terbantahkan. Mendadak Alara ingin mengumpati dirinya sendiri. Bisa-bisanya punya perasaan lebih atas apa yang Gema suarakan. Hanya karena mengajak berbagi ranjang bukan artinya lelaki itu sudah berubah total. Tidak seharusnya Alara terbawa perasaan sampai selarut ini. Karena nantinya ketika jatuh, yang repot adalah dirinya. Tolol tidak, sih, dirinya ini? Sudah tahu Gema sangat susah di taklukan. Masih sok paling bisa untuk meraih hati lelaki berstatus duda itu. Atau jangan-jangan, Alara ini sebenarnya cuma-cuma doang. Cuma penasaran, cuma pengen ngerti, cuma pengen tahu, cuma pengen … yang mestinya Alara cek lagi. Beneran suka atau cuma suka saja mainin perasaan? Oiit, tapi masa Alara kayak gitu?! Ini itu beneran sayang atau cuma sayang saja kalau diambil orang lain? Beneran takut kehilangan atau cuma takut saja kalau ditinggal sendirian? Wah, sindiran kalimatnya betul-betul menampar mental Alara. Bisa-bisanya mengajukan perjanjian sedang tentang dirinya sendiri dan hatinya saja tidak di raba sejak awal. Wah, ini nggak bisa dibiarkan atau Alara akan sakit pada galian lubangnya sendiri. Mundur mah percuma! Aduh bangke. Gaungan di kepalanya menyerobot keseluruhan saraf tubuhnya. Tamparannya nggak kaleng-kaleng, Hyung! “Kepala kamu kalau nggak ngangguk berarti geleng. Otak kamu nggak geser rupanya?” Demitnya datang. Alara mendengus maksimal. Sekali-kali jangan ngegetin kan bisa. Tapi memang dasarnya setan ya tetap gitu cara kerjanya. “Kopi Abang, Ra.” Pinta Gema yang langsung fokus dengan berita koran di tangannya. Sedang kopi yang sudah Alara sodorkan langsung di seruput lewat tangan kanannya. Lidahnya berdecak mencecap rasa. “Wah, kopi buatan kamu paling pas takarannya. Nggak kepahitan, nggak kemanisan.” “Itu pujian, ya, bang?” Dengan santai Alara menyerobot gelas Gema. Merasai kopi buatannya sendiri yang b aja sebenarnya. “Abang ini memang pemain ulung lah.” Ejeknya mencibir. Tawa Gema menggelegar. Di pagi hari seperti ini. Mirip titisan Dajjal dari j*****m. “Kita hidup cuma sekali ini saja, Ra. Selain menikmati apa yang Tuhan beri, apa lagi dong.” Tuturnya. “Abang nemu kata-kata dari buku catatan semasa kuliah dulu. Gini tulisannya: Kita hidup di dunia di mana rumah melambangkan karakter, strata, dan kekuasaan seseorang.” Di jeda sedang Alara tidak paham maksudnya. “Dari situ kamu harusnya pintar menilai seseorang.” OW-OWKEY. Cara pikir seseorang dengan umur matang dan pengalaman hidup memang tiada tandingannya. Nggak kaleng-kaleng dalam memaknai arti kehidupan. Yahud top-markotop lah istilah lebaynya Alara. “Bentar bang, otak aku buntu.” “Kamu cuma nggak peka.” Gema cocol ikan asapnya dengan sambal tomat buatan Alara. “Kalau kamu peka, kamu nggak lari kea bang.” “Maksudnya?” “Apa Abang bilang.” Ragu-ragu untuk Gema utarakan. Pasalnya, sekembalinya dari rumah dan pembicaraan dengan mamanya terus merasuki pikirannya. Ditambah kehadiran Alara yang 24 jam ada di sisinya, jangkauannya bahkan satu ranjang dengannya sangat mengusik. Perlahan namun pasti, hati Gema meleleh. Dan mendengar perkataan Gema, Alara bukannya tidak memahami. Lebih tepatnya kepada menutup diri dan berpura-pura tidak tahu. Karena hanya itu jalan satu-satunya baginya aman tanpa rasa sakit. Terkadang Alara heran dengan kondisi hatinya. Suasana moodnya juga sering terkontaminasi oleh pengaruh luar di mana saat ini sedang ngetrend nikahan. Di satu sisi sangat ingin Alara rasakan bagaimana mengarungi rumah tangga dan menjadi ratu dalam sehari. Sedang mengharapkan hal demikian kepada Bahtiar Gema adalah sebuah kemustahilan. Lelaki itu sudah mengarungi banyak luka sebelum bangkit tegak seperti ini. Alara sejatinya sudah mematikan hatinya sejak kesakitan terus menyambangi hidupnya. Alara sudah lebih dari hancur makanya bertahan juga percuma. Jadi, pilihannya hanya ini; sakit sekalian sebelum mencari ketenangan di kehidupannya yang baru. Benci ketika ada teman terdekatnya mengatakan hancur untuk kehidupannya seolah-olah dia yang paling menderita. Lalu apa kabar dengan Alara? “Memangnya abang.” Sarkas Alara membalas. “Pas di deketin macam ulet bulu yang jingkrak-jingkrak gitu—kelonjotan kepanasan.” Gema tidak terima. Matanya melotot. “Memang loh abang itu begitu. Aturan mah biasa saja bang. Masa pegang d**a aku sampai mulutnya kebuka tutup kayak ikan koi ngambil napas.” “Sembarangan!” “Halah! Nggak usah gengsi bos. Kecil-kecil cabe rawit gini, aku tahu lah kalau abang butuh banget belaian.” Kan main! Ejekan Alara tepat sasaran. Meski begitu tidak Gema benarkan. Hanya dengkusan yang dirinya tunjukkan. Bukan apa-apa. Gema sedang membuat keputusan besar untuk dirinya bawa ke depan keluarga. Jadi, ketimbang membuang waktu mengurusi omongan Alara, baiknya Gema siapkan mental dan hatinya. “Jumat sore kamu ikut abang pulang.” Alara terkesiap. “Itung-itung kamu kenalan sama keluarga abang dan para ponakan. Ada acara makan-makan di sana.” “Hubungannya sama aku apa?” “Kamu, kan, sudah setuju buat abang ikat.” “Kapan?” “Beberapa hari yang lalu. Kamu setuju.” “Nggak ada aku bilang mau.” “Iya kamu mau. Kamu diam artinya setuju.” Aduh, ingin sekali rasanya Alara berkata kasar. Tapi mengumpati Bahtiar Gema memang tidak ada akhlaknya alias percuma. “Bukan gitu Gusti.” “Di mana-mana diam berarti setuju. Sudah paten sejak zaman dahulu kala itu.” HNG! Alara kesal dan dongkol setengah hidup. “Teori dari mana, sih, bang?” “Ada. Banyak penganutnya—” “Ini tahun berapa coba? Pantas abang kolotnya nggak ada ampun.” Alara hengkang. Membawa piring kotor ke tempat cucian. Mendumel dalam hati sebelum kembali ke sisi Gema yang menatapnya intens. “Itu nggak ada di perjanjian kita bang. Ini kan cuma dua sampai tiga bulan.” “Abang rubah—” “Nggak seenak jidat abang dong.” Potong Alara lagi. Wajahnya merah padam menahan kesal. “Abung tuh ihh.” Gemas Alara hingga kedua tangannya terkepal dengan gigi saling bergesekan. Bukannya takut, Gema justru tertawa kencang. Sumpah, sejak ada Alara di rumahnya, pagi harinya berwarna. Tidak lagi sepi apalagi sunyi. Sejak Alara mengetuk pintu hatinya, entah sejak kapan, Gema rasakan getaran lain yang sempat menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN